Wednesday, March 20, 2013

Musik dan Pertamax, Mengharmonikan Hidup Saya


Musik dalam Hidup Saya

Malam selalu panjang di waktu aku merindukanmu
Kau bisa menjaga aku hingga diriku merasa teduh
Aku seperti kamu menginginkan dan memerlukanmu
Karena kita tak mampu untuk selalu pergi menjauh
Kaujadikan aku ini wanita yang kaupilih untuk jadi kekasihmu
Dan kau pun tlah aku minta setia sepertiku hingga waktunya tiba
Aku percaya penuh kau kan buatku bahagia
Karena cinta tercipta datangnya dari dalam hatiku
Kaujadikan aku ini wanita yang kaupilih untuk jadi kekasihmu
Dan kau pun tlah aku minta setia sepertiku hingga waktunya tiba[1]


Merdu lantunan suara Rossa, salah satu Diva Musik Indonesia, menyelusup ke dalam gendang telinga Safir. Entah kapan tepatnya, ia jadi suka mendengarkan lagu-lagu romantis yang diputar di salah satu stasiun radio di Depok. Terlebih usai lagu diputar, suara penyiarnya tak kalah membelai naluri lelakinya. Safir tak kuasa menahan bibirnya untuk senyum-senyum sendiri. Untung saja tak ada yang melihat aksi noraknya, sebagai seorang lelaki yang sedang jatuh cinta.

“Sobat Muda, itu lagu terakhir dari Key. Lagu yang pernah hits di sekitar tahun 2005. Buat kamu, cewek-cewek yang masih jomblo, mudah-mudahan dalam waktu dekat ada cowok yang serius memilihmu yaw…. Itu doa buat Keysa juga, lho….. Hiyaaa… kasian banget ya nih penyiar… hihihihi…. Oke, deh, berhubung sudah jam sembilan malam, Key juga harus pulang. Good night and sweet dreaaam….”

Suara Keysa terdengar begitu indah, meskipun sedikit cempreng dan manja. Justru itu yang membuat Safir kerap kali menahan tawa saat mendengar suaranya.  Ia menghela napas berat, tak ingin berpisah dengan suara yang setia menemaninya setiap malam itu. Di siang hari, Keysa juga siaran lagi dalam acara berbeda. Dan ia tak pernah mau melewatkannya, meski sedang dalam suasana sibuk. Keysa telah mengambil dunianya, sejak ia tahu bahwa si penyiar radio itu adalah juga gadis yang mengambil hatinya pada suatu masa. Sayang, ia hanya bisa menjadi pengagum rahasia si penyiar radio Green FM itu. 

***
Cerita di atas adalah penggalan novel saya yang sudah lama saya tulis, sejak masih bekerja di sebuah kantor penerbitan. Dulu, selain sebagai Editor (Junior Editor, tepatnya), saya juga menyambi kerja sebagai novelis. Saat itu, kurang lebih 12 novel sudah diterbitkan. Sebuah pencapaian yang harus saya syukuri, mengingat saya baru mulai mengirimkan novel ke penerbit, menjelang akhir kuliah.

Saya bekerja dari jam 9 pagi sampai 5 sore. Kantor saya hanya sebuah ruangan kecil yang disekat tiga, di atas sebuah rumah baca di kawasan Depok. Iya, penerbit tempat saya bekerja memang masih muda usianya, karyawannya pun hanya ada empat orang, termasuk saya. Menjadi Editor, hanyalah sebuah usaha untuk menyenangkan orang tua yang ingin anaknya bekerja kantoran, Namun, passion saya adalah menulis. Mengedit dan menulis memang saling berhubunga, tapi tetap saja lebih enak menulis. Saat menjadi Editor, saya dicekam kebosanan karena harus membaca ratusan naskah kiriman penulis, lalu memelototi jalinan kata dan membenarkan yang salah. Yang ada ngantuk, deh.

Supaya gak ngantuk, saya menyetel musik dari Winamp di komputer kantor. Pada jam kerja, suaranya ya kecil saja, yang penting ada suaranya.  Rasanya enjoy kerja sambil mendengar musik. Begitu juga saat tiba waktunya untuk menulis. Yap, benar, kebetulan dulu bos saya sangat tegas. Dilarang melakukan pekerjaan lain pada jam kantor, termasuk menulis. Walaupun naskah yang saya tulis, kelak bakal diterbitkan oleh penerbit itu juga, tetap saja saya harus memisahkan antara pekerjaan kantor (mengedit) dan pribadi (menulis). Lagipula sama saja dengan korupsi waktu ya, kalau kita mengerjakan pekerjaan lain pada jam kantor. Apalagi menggunakan fasilitas kantor.

Eit, kalau menggunakan fasilitas kantor untuk menulis, Alhamdulillah bos saya mengizinkan. Tapi hanya beberapa saja, diantaranya komputer, tempat duduk, internet, minum, dan listrik. Berhubung saya dan kawan saya tinggal di kantor (ada kamar yang disediakan untuk karyawan, sekalian nunggu kantor juga, irit biaya satpam :D), saya dan kawan saya itu sering menggunakan fasilitas kantor untuk menulis di malam hari. Oya, kawan saya yang editor senior itu juga suka menulis, tapi lebih banyak menulis di blog, sedangkan saya menulis novel.

Biasanya kami menulis setelah jam pulang kantor. Berhubung bos saya workaholic, jadi pulang kantor pun gak langsung pulang. Kadang beliau pulang di atas jam 9 malam. Rumahnya kan hanya beberapa rumah dari kantor. Jadilah saya gak bebas mau menulis. Saya memilih menulis di lantai bawah, tempat perpustakaan. Perpustakaan juga punya sebuah komputer, saya sering meminjamnya. Sambil menulis, saya menyetel musik di Winamp komputer. Ternyata, menulis novel sambil mendengarkan musik itu dapat mendatangkan inspirasi!

Iya, lho, saya membuktikan sendiri. Berhubung novel yang saya tulis beraroma romantis, saya stel musik romantis. Zaman saya dulu, musik yang romantis itu keluar dari bibir Rossa, Ungu Band, Ada Band, Padi, Audi, dan tentu saja Melly Goeslaw. Soundtrack film AADC (Ada Apa dengan Cinta) melempar saya ke dunia percintaan remaja, pas dengan novel yang saya tulis. Nah, termasuk juga novel yang penggalannya saya tulis di atas. Berhubung novel itu bercerita tentang Penyiar Radio, jadi deh ada selipan beberapa lagu romantis yang terkenal. Saat menuliskannya, saya juga mendengarkan lagu-lagu itu. Alkisah, novel itu pun bisa selesai dalam waktu sebulan!

Begitu hebatnya pengaruh musik dalam proses kreatif saya. Saya yakin, novelis lain pun suka mendengarkan musik di saat menulis, terutama musik yang sealiran dengan genre tulisan mereka. Tidak mungkin menulis novel romantis, tapi mendengarkan musik rock. Ngomong-ngomong, definisi musik itu sendiri adalah suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan, terutama suara yang yang dihasilkan dari alat-alat yang mengandung bunyi-bunyian. Musik telah dikenal sejak 180.000 hingga 100.000 tahun yang lalu, sejak terjadinya evolusi otak manusia yang membedakannya dengan binatang. Dari kehidupan sehari-hari mereka menemukan bahwa benda-benda tertentu dapat mengeluarkan bunyi-bunyian yang indah. 

Musik memang telah menyatu dengan kehidupan manusia. Secara naluriah, kita punya kecenderungan untuk bermusik. Bahkan janin di dalam rahim pun bisa membedakan suara biasa dengan suara musik atau nyanyian yang berirama. Saat saya  hamil anak pertama, janin di dalam  perut akan bergerak-gerak ketika saya perdengarkan suara yang berirama, baik itu musik lembut maupun ayat-ayat suci Al Quran yang dibaca dengan indah. Bidan saya dulu mengatakan bahwa saya harus terus memantau pergerakan janin. Kalau janin tidak bergerak dalam waktu 12 jam, harus segera dibawa ke dokter. Saking cemasnya (maklum, baru anak pertama), saya langsung memasangkan headphone ke perut saya, bila janin tidak bergerak. Di handphone memang saya pasangkan ayat-ayat suci Al Quran yang dibacakan dengan indah, serta musik-musik lembut. Seketika, janin di dalam perut menggeliat-geliat dan saya pun tenang.

Kita tidak bisa menafikkan kehadiran musik dalam hidup ini, sebab kita sendiri adalah sumber musik. Coba dengarkan denyut jantung melalui stetoskop, bunyinya tak sekadar, melainkan berirama. Begitu juga bila kita bisa mendengarkan aliran darah yang mengalir di seluruh tubuh, Janin di dalam rahim pun mendengarkan detak jantung, suara pergerakan usus, aliran darah ibunya dengan gerakan berirama. Akustik, suara, vibrasi, dan fenomena motorik sudah ditemukan sejak ovum dibuahi oleh sperma. Konon, katanya, musik klasik dapat mencerdaskan otak bayi di dalam kandungan. Sebenarnya belum ada penelitian yang jelas mengenai hal ini, tetapi pada trimester kedua, janin memang sudah berkembang pesat, termasuk pendengarannya. Janin sudah bisa mendengar suara dari luar perut ibunya, lho!

Musik klasik, dengan tempo dan struktur nada yang teratur, dapat membuat bayi tertidur dengan tenang. Nah, otak bayi akan berkembang pesat di saat tidur! Itulah yang menyebabkan suara musik yang tenang, dapat membantu menstimulasi otak bayi. Makanya, tidak semua jenis musik dapat diperdengarkan kepada bayi di dalam kandungan. Saya juga pernah ada pengalaman dengan ini. Waktu hamil anak pertama, saya pernah menghadiri acara pernikahan. Usia kehamilan sudah 7 bulan, jadi janin sudah bisa mendengar suara-suara dari luar. Di acara pernikahan itu, ada organ tunggal yang suaranya kencaaang banget, mana dangdutan pula. Ternyata, gak cuma saya  yang terganggu, bayi di dalam perut pun terganggu! Dia menendang-nendang dengan kencang, sampai saya kesakitan. Pola gerakannya berbeda kalau saya sedang memperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran yang berirama dan lagu-lagu lembut.

Musik dan Pertamax, Mengharmonikan Hidup Saya
Lhooo… kok tiba-tiba ngomongin Pertamax? Iya nih, ternyata antara musik dan Pertamax itu ada persamaannya lho. Udah tahu kan apa itu Pertamax? Pertamax adalah salah satu produk andalan Pertamina, bahan bakar minyak dari pengolahan minyak bumi, yang mendapatkan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannya di kilang minyak. Produk-Produk Pertamina itu diantaranya SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum), Oil dan Pelumas, Gas untuk kendaraan, dan Gas untuk memasak. Nah, produk-produk yang dijual di SPBU, adalah produk-produk yang digunakan untuk bahan bakar kendaraan, diantaranya: Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Dex, dan Bio Solar.

Sebagian besar masyarakat kita memilih menggunakan Premium sebagai bahan bakar kendarannya. Iya jelas ya, harga Premium lebih murah daripada Pertamax, karena mendapatkan subsidi dari Pemerintah. Udah tahu kan apa itu subsidi? Setiap anggaran pemerintah, ada subsidi yang dikeluarkan untuk kepentingan masyarakat, salah satunya adalah subsidi BBM. Masalahnya, seharusnya subsidi itu digunakan untuk masyarakat bawah yang lebih membutuhkan. Sayangnya, golongan menengah ke atas pun ingin juga mencicipi subsidi, dengan mengisi mobil mewahnya dengan Premium. Musik dan Pertamax sama-sama mengharmonikan hidupku, gak percaya?


Musik dan Pertamax Sama-Sama Membangkitkan Semangat
Di awal tadi saya sudah cerita, betapa proses kreatif saya dalam menulis salah satunya dibantu dengan mendengarkan musik. Kalau musik dapat membangkitkan semangat saya dalam menulis cerita, Pertamax dapat membangkitkan semangat kendaraan dalam melaju kencang menembus jalan raya ibukota. Iya dong, kandungan oktannya yang tinggi menyebabkan Pertamax membuat mesin kendaraan bekerja lebih baik. Pertamax bisa menerima  tekanan pada mesin berkompresi tinggi, sehingga dapat bekerja dengan optimal pada gerakan piston. Tenaga mesin pun menjadi lebih maksimal, karena pemakaian BBM-nya optimal. Berbeda dengan mesin yang menggunakan Premium. BBM akan terbakar dan meledak, tidak sesuai dengan gerakan piston (knocking/ ngelitik).


Musik dan Pertamax Sama-sama Memberikan Ketenangan
Kalau musik bisa menstimulasi otak bayi dengan efek tenang, Pertamax juga demikian. Pertamax tidak mengandung timbal, logam berat yang sifatnya beracun. Timbal ini salah satu bahan yang ada di dalam bahan bakar bensin. Timbal dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air yang tercemar timbal. Keracunan akibat kontaminasi timbal, dapat menghambat aktivitas enzim yang membentuk hemoglobin, meningkatkan kadar ALAD dan prothoporphin dalam sel darah merah, memperpendek umur sel darah merah, dan menurunkan jumlah sel darah merah. Tingginya kandungan timbal dalam darah, akan menurunkan kecerdasan intelektual. Hadeuuh… gak tenang banget ya pakai bensin yang mengandung timbal. Makanya pakai Pertamax yang bebas timbal.


Pertamax juga bikin tenang kantong. Terbuat dari bahan berkualitas tinggi dengan kadar oktan yang tinggi (92), Pertamax memastikan mesin kendaraan bermotor kita dapat bekerja lebih baik, lebih bertenaga, rendah emisi, dan tentu saja hemat bahan bakar. Iyalah, meskipun harganya dua kali lipat dari Premium, tapi kan hemaat…. Mesin kendaraan tidak mudah rusak, yang berarti gak perlu bolak-balik ke bengkel. Apalagi untuk mesin kendaraan yang memang hanya cocok memakai Pertamax, yaitu kendaraan yang telah menggunakan teknologi setara dengan Electronic Fuel Injection dan Catalytic Converters. Nekat pakai Premium, terima risiko bolak-balik ke bengkel.

Musik dan Pertamax Sama-Sama Baik Untuk Kesehatan
Ternyata dalam dunia pengobatan, ada yang namanya terapi musik. Yap, musik dapat digunakan sebagai terapi pengobatan penyakit tertentu. Terapi musik adalah proses interpersonal yang menggunakan musik untuk membantu pasien dalam meningkatkan atau mempertahankan kesehatan mereka. Terapi musik digunakan untuk berbagai usia, dipercaya dapat mengatasi gangguan kejiwaan, cacat fisik, masalah medis, gangguan sensorik, cacat perkembangan, penyalahgunaan zat psikotropika, gangguan komunikasi, masalah interpersonal, dan penuaan. Musik dapat meningkatkan konsentrasi belajar, harga diri, mengurangi stress, mendukung latihan fisik, dan aktivitas lain yang berkaitan dengan kesehatan.

Al Farabi, disebutkan sebagai orang pertama yang mempopulerkan terapi musik. Musik digunakan sebagai terapi jiwa dan mengatasi emosi. Dalam Kekaisaran Utsmaniyah, penyakit mental diobati dengan musik. Susunan interval dan ritme musik memiliki refleksi khusus yang dapat merangsang sel-sel sarag sehingga perasaan manusia bisa diperlemah, diperkuat, maupun dialihkan. Musik terbukti berpengaruh pada sistem saraf sensorik-motorik, saraf sadar, dan saraf lainnya. Haasil Penelitian Lembaga Aplikasi Musik di Iran menunjukkan bahwa terapi musik dapat menyembuhkan gangguan mental di kalangan anak-anak cacat mental. Musik dapat meningkatkan rasa percaya diri dan mengontrol tindakan hiperaktif mereka.

Para  terapis, membedakan jenis terapi musik sesuai dengan musiknya. Musik berirama riang digunakan untuk menyembuhkan orang-orang yang menderita tekanan mental atau stress. Musik melankolis digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri. Musik berirama tenang digunakan untuk relaksasi. Musik dengan irama cepat dan semangat, digunakan untuk meningkatkan semangat bekerja dan gairah hidup. Jadi, sebelum melakukan terapi musik, harus tahu dulu musik mana yang cocok untuk penyakit yang kita derita. Jangan sampai salah pilih, karena bisa berdampak sebaliknya.  Misalnya, kita sedang dalam tekanan stress, galau abi, eh mendengarkan musik melankolis, ya tambah-tambah deh galaunya.

Nah,  begitu juga dengan Pertamax yang bebas timbal, baik untuk kesehatan. Pertamax juga rendah emisi, sehingga tidak mencemari lingkungan. Udara yang kita hirup masih tetap segar, karena tidak terpengaruh pencemaran udara akibat buangan BBM. Tetangga di belakang rumah saya pernah bercerita, dulu mereka tinggal di kota yang padat penduduk dan penuh hilir mudik kendaraan. Akibatnya, anak bungsunya sering sakit-sakitan, terutama asma dan gangguan paru-paru. Setelah pindah ke komplek perumahan kami (yang letaknya di kampung, masih banyak pohon, belum banyak penduduknya), penyakit anaknya berangsur sembuh dan kini sudah tidak kambuh lagi. Itu karena sehari-hari menghirup udara segar dan bebas polusi.

Buat kamu yang tinggal di kota besar, penuh kendaraan, dan gak punya tempat untuk lari ke kampung, mendingan beralih ke Pertamax, supaya udara di sekitarmu dapat berkurang polusinya, karena Pertamax rendah emisi.

Pilih-Pilih Musik, Pilih-Pilih Bahan Bakar Kendaraan
Gak semua musik bisa memberikan efek positif pada jiwa kita. Ada musik yang bernada tenang, ada yang sebaliknya: mengentak-entak dan keras. Musik klasik dan lembut dapat meningkatkan perkembangan otak bayi, tetapi musik rock, punk, atau semua musik yang keras, sebaliknya, dapat berpengaruh negatif bagi pendengarnya. Musik yang keras dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung. Waduh, bisa-bisa nanti malah jantungan. Bahkan, dapat mempengaruhi kejiwaan pendengarnya. Kalau suka mendengarkan musik yang lembut, insya Allah hatinya juga lembut. Sebaliknya, kalau suka mendengarkan musik keras, lama-lama kita akan terbawa kerasnya.

Syair musik pun harus dipilih-pilih. Ternyata tidak semua syair lagu itu bagus untuk pendidikan. Beberapa syair lagu berisi ajakan negatif, seperti memuja setan, melakukan bunuh diri, jatuh cinta berlebihan, mabuk-mabukan, terlalu mencintai uang, seks bebas, dan lain-lain. Mendengarkan  musik seperti itu bisa bikin kita terpengaruh untuk melakukan seperti yang terlantun. Jadi, mendengarkan musik pun harus pilih-pilih.

Begitu juga dengan BBM. Gak semua bensin itu baik untuk kendaraan kita. Sudah disebutkan di atas, bahwa Pertamax tidak mengandung timbal, baik untuk kesehatan dan lingkungan. Kandungan oktannya yang tinggi  juga meningkatkan kerja mesin dan hemat bahan bakar. Jadi, kalau ada Pertamax, kenapa pilih yang lain?

Kalau Bisa Nonton Konser Musik, Kenapa Gak Bisa Beli Pertamax?
Saya takjub setiap membaca berita mengenai konser musik yang diadakan di Indonesia, baik itu konser musik penyanyi luar negeri maupun dalam negeri. Selalu saja tiketnya habis terjual, padahal harga tiketnya gak main-main. Contohnya saja konser musik Super Junior, salah satu band terkenal di Korea, yang diadakan tanggal 9 Maret 2013 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Tiket Pre-Booking sudah habis lebih cepat dari jadwal yang direncanakan, yaitu tanggal 24 Desember 2012. Jumlah tiketnya pun ditambah untuk memenuhi permintaan yang membludak! Eh, emangnya berapa harga tiket konser musik Suju? Lima puluh ribu, cukup gak? Eleuuuh… mana ada harga tiket konser penyanyi kelas dunia cuma 50 ribu? Kalau Pertamax satu liter, hanya sekitar Rp 10.500, harga tiket konser untuk sekali nonton berkisar antara Rp 500.000 s/d Rp 2 Juta, tergantung kelasnya.

Lihat nih orang-orang yang antri tiket Suju
Gambar dari sini

Wah, kaya juga dong masyarakat Indonesia, bisa beli tiket konser semahal itu?  Memang, ketimpangan pendapatan masyarakat Indonesia relatif besar. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Apalagi kalau orang kaya masih suka makan subsidi untuk orang miskin. Subsidi pemerintah itu kan gak hanya untuk BBM. Ada untuk pendidikan, kesehatan, listrik, dll. Miris ya melihat orang miskin kesulitan mendapatkan akses kesehatan, beberapa kali saya membaca berita di mana mereka harus meregang nyawa karena ditolak berobat di Rumah Sakit akibat ketiadaan biaya. Iya memang, pemerintah memberikan subsidi kesehatan. Ada Jamkesmas agar si miskin dapat berobat, tapi apa boleh buat. Pihak Rumah Sakit juga mengeluhkan pemerintah yang tidak mau membayar tunggakan Rumah Sakit, padahal kan obat-obatan, biaya operasional, dan biaya dokter itu gak gratis!

Itu soal kesehatan. Soal pendidikan pun, masih banyak kekurangannya. Lihat tuh berita di televisi, sekolah-sekolah negeri yang ambruk karena tidak ada biaya pembangunan. Anak-anak di pedalaman, berangkat ke sekolah dengan menyeberangi sungai, tanpa alas kaki, dan berjalan berpuluh-puluh kilometer, saking jauhnya lokasi sekolah mereka. Kita yang tinggal di kota besar, gak akan merasakan hal demikian, karena udah dimanjakan dengan fasilitas. Coba deh sebulan aja tinggal di pedalaman dan merasakan penderitaan mereka, kita pasti akan berteriak-teriak meminta pemerintah memperhatikan nasib kita.  

Oke, terlepas dari oknum koruptor yang ikut memakan anggaran pemerintah, kita lihat juga subsidi BBM. Bisakah sebagian dari subsidi BBM dialihkan untuk subsidi kesehatan dan pendidikan? Tentu saja bisa, jika golongan menengah ke atas atau mampu, mau beralih dari Premium ke Pertamax. Iya lah, soalnya Premium itu kan mendapatkan subsidi, makanya murah. Tapi, kalau kita memang mampu memakai Pertamax, kenapa masih pakai Premium?  Jadi, Premium digunakan untuk kelas bawah saja, seperti supir angkot, bus, dan transportasi umum lainnya. Kalau kamu masih mau pakai Premium, ya naik angkutan umum saja, jangan naik mobil pribadi. Ayo dong, beli tiket konser musik saja bisa, masa beli Pertamax gak bisa?

Nah, itulah alasan-alasan mengapa musik dan Pertamax sama-sama mengharmonikan hidup saya. Hidup kamu juga, dong! Yuk, beralih ke Pertamax, untuk hidup yang lebih baik. Suatu kali, saya pernah ke sebuah toko buku di kawasan Depok. Saat masuk ke dalamnya, ada tulisan cukup besar di tengah ruangan: "Jadikan Membaca Buku Seasyik Mendengarkan Musik." Wah, slogan yang keren. Ya, kita lihat saja bagaimana musik telah menjadi salah satu hobi yang memasyarakat, dibuktikan dengan konser-konser musik yang selalu ramai. Audisi-audisi pencarian bakat di televisi pun didominasi oleh calon musisi. Slogan itu juga bisa berlaku untuk Pertamax. Bunyinya: "Jadikan Memakai Pertamax Seasyik   Mendengarkan musik." Bagaimana agar Pertamax juga memasyarakat sebagaimana musik? Ini ide saya:


  1. Pertamax mesti menunjuk musisi terkenal yang sedang naik daun sebagai Brand Ambassador dalam iklan-iklan dan kampanye Pertamax, kalau bisa sih Super Junior (dijamin POLL), tapi tentunya lebih afdol kalau musisi dalam negeri. Kalau mau yang up to date, pakai deh calon musisi dari ajang kompetisi The X Factor. Setiap tayangan X-Factor dimulai, time line Twitter saya pasti penuh dengan tweet-tweet following yang sedang menonton X-Factor. Itu untuk musisi pendatang barunya. Tokcer juga memakai musisi senior yang konsisten dalam bermusik. 
  2. Pertamax mesti gencar menjadi sponsor dalam acara-acara musik off air dan on air. Acara-acara itu selalu banyak peminat. Sebagaimana iklan rokok yang identik dengan konser musik, kenapa tidak Pertamax (yang lebih positif) juga identik dengan konser musik? Masyarakat akan tersugesti bahwa: ingat musik, ingat Pertamax! 
Ciptakan rasa bangga memakai Pertamax, sebagaimana kita bangga bermusik!

Struk Pembelian Pertamax saya


Referensi:
Wikipedia
Pengaruh Musik Terhadap Jiwa Manusia
www.pertamina.com



[1] Wanita yang kaupilih—Rossa 


Tulisan ini disertakan dalam Blog Competition #ApaIdemu @PertamaxIND

13 comments:

  1. wowwww panjaaang dan komplit.
    aku ngga dengerin musik ke bayiku mbaa, heran sejak hamil aku ngga suka dengerin musik. Lebih nyaman dengerin alQur'an, dan kayaknya bayiku juga suka tuh, apalagi kalau mau tidur :D

    ReplyDelete
  2. Ternyata ada kedekatan juga yah Mbak antar musik dengan produk pertamina yakni pertamaz itu sendiri hehe :)

    ReplyDelete
  3. komplit dah :D btw pertamax emang mahal, cuman lebih baik kualitasya.. tetapi katanya pertamax pertamina shell super yang oktannya sama tetep bagusan shell mungkin pertamax manipulasi ya? cinta produk negeri aja dah :D
    salam kenal, mampir blog saya yak kalau sempet :D

    ReplyDelete
  4. selamat mbak, blognya juara! :D
    saya blm berhasil, masih kalah jauh komplitnya dari mbak haha. Sukses mbak :)

    ReplyDelete
  5. Bener2 keren nih tulisannya.. Ga heran jadi jawara..
    Selamaaattt ya, Mbak..

    ReplyDelete
  6. Keren banget siiih tulisannya, ajarin dooonk :-)

    ReplyDelete
  7. g pelit lah sesekali manjain motor pake pertamax....mb ell menginspirasi sekali...pas runtutan tulisannya,g tergesa2 (mengingat ini tulisan untuk GA),,,,T.O.P deh bwt mb ell

    ReplyDelete
  8. bun, kemaren nemuin buku bun d ibf bandung :))

    ikutan ini yuk bun http://vanisadesfriani.blogspot.com/p/blog-page_19.html :)

    ReplyDelete
  9. SubhanaAllah, panjang banget mbak. Pantes banget jadi pemenang

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....