Thursday, March 21, 2013

Penulis Tanpa Laptop


Laptop, menjadi benda yang kuinginkan tahun ini. Sebagai seorang penulis, tentu saja Laptop adalah benda yang paling berharga. Ibarat prajurit yang berperang harus membawa pedang, penulis berjibaku dengan tulisan harus punya laptop. Harus?


Jika mengingat belasan tahun lalu ketika aku baru merintis jalan sebagai penulis, aku malah hanya punya kertas dan pulpen. Seorang temanku yang punya mesin tik, menawarkan bantuan untuk mengetikkan naskah-naskahku tanpa dibayar. Ketika almarhumah Mama menyadari bahwa putrinya sangat suka menulis, beliau mengorbankan sebagian uang belanjanya untuk membelikanku laptop bekas. Harganya waktu itu Rp 800.000. Jumlah yang sangat besar bagi perekonomian keluarga kami. Laptop bekas yang sangat kucinta, meski sering rusak, dan parahnya lagi: menghilangkan 3 file naskah novelku gara-gara mati mendadak!

Sejak itu, aku selalu buru-buru menyimpan ketikanku, meskipun baru satu kalimat, dengan tombol ctrl-s, lalu kusimpan di disket. Waktu itu belum ada flashdisc. Koleksi disketku berjibun, sampai kusadar disket-disket itu telah rusak, sehingga naskahnya juga hilang T_T.

Setelah kuliah, almarhumah Mama kembali membelikanku komputer bekas, itupun menjelang skripsi. Jadi, selama belum punya pengganti laptop, aku mengetik di rental komputer di dekat kampus. Tentu saja agak menyulitkan, karena aku tidak bisa mengetik malam-malam. Tidak mungkin menginap di rental komputer, tutupnya saja jam 5 sore.

Komputer bekasku itu juga selalu bermasalah. Pernah aku berjuang membawa-bawa komputer gede naik becak ke tukang servis, dan hanya dapat jawaban: tidak bisa diperbaiki. Kalau mau diperbaiki, biayanya Rp 500 Ribu. Di masaku dulu (tahun 2001), uang 500 ribu juga sangat besar, karena biaya kuliahku per semester saja hanya Rp 250 ribu. Ternyata tukang servis membohongiku. Begitu pindah ke tukang servis lain, komputerku hanya perlu diinstal ulang karena kena virus, dan biayanya Rp 25 Ribu.

Begitu baiknya almarhumah Mama, komputerku diberikan kepada sepupuku, supaya dia bisa menyelesaikan skripsinya, setelah aku lulus kuliah. Sungguh, aku sangat sedih, karena aku membutuhkan komputer tak hanya untuk tugas kuliah. Aku kan sudah jadi penulis. Novelku baru saja memenangkan sayembara menulis di sebuah penerbit. Almarhumah Mama menjanjikan akan membelikan komputer baru.

Ternyata Mama memang menepati janji, meski lagi-lagi komputer bekas, dia menemaniku dengan setia. Sampai aku menikah, komputerku dijual oleh suamiku, dan dia membelikan komputer baru. Hanya setahun aku bisa menikmati komputer baru, petir menyambar dan komputerku rusak lagi. Sedih bukan kepalang. Untung masih ada garansi Mother Board yang hangus, suamiku harus ke Roxi Mas untuk mengambil MB yang baru. Syukurlah, ada tukang servis baik hati yang mau membantu memasangkan MB dengan biaya servis terjangkau Rp 75 Ribu. Namun, komputerku tak dapat berfungsi maksimal. Suara dengungannya begitu mengganggu. Keyboardnya sering mati. Ketika aku sedang menulis, tiba-tiba keyboard mati. Settingan jam dan tanggalnya pun kacau, mungkin baterainya sudah soak. Dan komputer setiaku ini tak bisa dipakai berlama-lama, hanya dua jam saja, lalu hang.

Saat ada rezeki dari menulis (yang datangnya tak menentu karena aku penulis lepas), aku segera membeli notebook. Naas, notebook itupun mati total dan aku harus mengeluarkan uang Rp 1,6 juta untuk membeli Mother Board baru. Ah, uang segitu bukannya tak ada. Iya, aku punya, jika royalty sedang lancar, tapi masih banyak  kebutuhan mendesak, seperti membantu pengobatan ayahku yang terkena diabetes dan komplikasi penyakit lain, melunasi hutang belasan juta kepada seorang kerabat yang dulu uangnya digunakan untuk mengobati penyakit kanker almarhumah Mama (walaupun sudah maksimal, Mama tetap dipanggil Allah), dan membantu kebutuhan rumah tangga.

Maka, kini, aku berharap bisa mendapatkan laptop dari kuis-kuis dan lomba menulis. Semoga saja keinginanku itu tercapai di tahun ini. Aamiin….    

Komputer tuaku dan dua buku yang kutulis dengannya

17 comments:

  1. Moga laptopnya sgera hadir di pangkuan Mb Ela..
    Mgkn klw mesin cucinya sukses terjual, bs beli laptop yg cuanggih.. :)

    ReplyDelete
  2. amiiin mbak leyla..
    sungguh mengaminkan doamu
    entah dari rejeki mana saja, tak hanya kuis dan lomba menulis... toh pintunya banyaaak.. kenapa harus mempersempit doan ttg jalan rezekinya?
    saran saya doanya harus diubah : semoga mendapatkan laptop dari rezeki mana saja yang dikehendaki Gusti Allah.. bisa jadi rezeki dititipkan sama mamasnya gitu loh ^^


    ReplyDelete
  3. perjuangan mbak leyla.. hebat mbak.. perlu dicontoh usaha dan kegigihan mbak :)

    ReplyDelete
  4. Amin, semoga bisa terkabul doanya..

    ReplyDelete
  5. Salut dg perjuangannya mbak, moga doa-doa nya segera dikabulkan allah, aamiin :) eh tahun 2001 aku masih rempong punya anak batita, mb Ela sudah menjadi penulis :D

    ReplyDelete
  6. ntar lagi pasti dapet laptop baru, yakiiiin :)

    ReplyDelete
  7. amiiin mbak, moga novelnya laris manis dan royaltinya bisa ngasih laptop paling mutakhir minimal 4 biji :)

    ReplyDelete
  8. Kalau saya malah paling gak bisa nulis dan kerja pakai laptop. Maunya pakai PC, kalau perlu yang layarnya lebar. Kalaupun terpaksa pakai laptop, pasti kudu pakai mouse, gak sabar soalnya, hehe...

    ReplyDelete
  9. bisa.. penerawanganku mengatakan bentar lagi Leyla bakal bisa beli laptop karena kian lama kian sering menang lomba

    ReplyDelete
  10. semoga dimudahkan jalan rizkinya...amin O:)

    ReplyDelete
  11. insyaallah.....laptopnya segera ada dipangkuan ya mba ley...terus berkarya dan menginspirasi ya mba:)

    ReplyDelete
  12. Insya Allah akan segera mendapatkan laptop :)

    ReplyDelete
  13. Semoga cepat dapat laptop mbak...
    Aku juga kepengen sekali punya laptop... :D

    ReplyDelete
  14. WOW, mbak-nya sungguh hebat,,, berkarya dalam tulisan itu seru lho...

    btw, Salam kenal ya... :D

    ReplyDelete
  15. semoga do'a nya di kabulkan yaa :)

    ReplyDelete
  16. sejak laptop di rumah dibawa kakak kuliah, aku jadi fakum menulis. semua garapan novel terbengkalai...
    kalaupun seandainya saya cuma punya komputer butut di rumah, saya bakalan bersyukur banget... ya, kumpulin uang dari sekarang biar bisa beli kamputer. syukur-syukur kalo bisa beli laptop. seenggaknya nasib mba leyla masih lebih beruntung dari saya, hehehe

    ReplyDelete
  17. aku juga pengen punya laptop lagi. hiks :')
    semoga segera tercapai dalam 1 bulan ini ya, bun :D

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....