Tuesday, December 3, 2013

Menulis Novel Berdasarkan Pengalaman Orang Lain


Dari mana mendapatkan ide menulis? Pertanyaan ini sering saya dapatkan dari calon penulis. Ide menulis bisa datang dari mana saja, termasuk dari kisah orang lain. Saya sudah sering menyelipkan adegan-adegan yang diambil dari pengalaman orang lain ke dalam novel-novel saya, tapi baru kali ini saya memasukkan nyaris 80% pengalaman pribadi seorang teman ke dalam novel saya. Ceritanya sekitar tiga tahun lalu, seorang teman kuliah menghubungi saya setelah lama tidak kontak. Dia pernah beberapa kali membeli novel saya, bahkan mengikuti perjalanan karir kepenulisan saya. Ketika masih kuliah, dia menyaksikan sendiri bagaimana saya mengetik dan mengeprint naskah di tempat rental komputer. Rupanya dia memendam keinginan agar kisahnya dinovelkan oleh saya.


Kisah tentang pencarian jodoh sebenarnya biasa ya, apalagi bagi para lajang yang merasakan galau karena belum mendapatkan jodoh. Saya sudah sering mendengarkan curhatan teman-teman yang masih lajang, bahkan ada yang minta dicarikan jodoh, tetapi baru kali ini ada yang minta kisahnya dinovelkan. Awalnya saya tidak  begitu bersemangat menuliskannya, karena kisahnya biasa saja. Namanya juga gadis belum menikah di usia yang matang, klise saja: dicemooh orang-orang di sekitarnya, berulang kali gagal mendapatkan jodoh, dan lain sebagainya. Saya tetap menuliskan kisahnya, meski tidak tahu hendak dikirimkan ke mana ya naskahnya nanti.

Bagaimana caranya menuliskan pengalaman orang lain ke dalam novel kita? Berhubung teman saya itu yang meminta kisahnya dinovelkan, jadi dia menceritakan semuanya secara lengkap. Bahkan, dia juga yang menentukan endingnya, hehehe…. Namun, karena ini novel, saya tidakmenuliskannya persis sama seperti yang diceritakan. Harus ada tambahan imajinasi dari saya. Termasuk juga karakter si tokoh dan kejadian-kejadian di dalamnya. Teman saya itu tinggal di Semarang, sedangkan saya di Jakarta. Komunikasi berlangsung memalui inbox. Menuliskan novel ini mudah saja, saking jalan ceritanya sudah ditentukan oleh teman saya.

Mengapa dia tidak menuliskannya sendiri? Inilah untungnya, tidak semua orang bisa mengeluarkan pikirannya ke dalam tulisan, lho. Walaupun sebenarnya itu bisa dipelajari, tapi ada saja orang yang kesulitan. Dia mempercayakan ceritanya kepada saya, bahkan membolehkan untuk dipublikasikan. Bahkan dia berharap sekali novel itu kelak dipublikasikan. Setelah jadi, saya mengirimkan novel ini ke sebuah majalah untuk rubrik cerita bersambung (karena jumlah halamannya sedikit). Tidak dimuat, tentu saja, karena belakangan rubrik cerbung itu dihapuskan, hahaha….. begitulah, akhirnya naskah ini terpendam lama di dalam komputer saya. Hingga di akhir tahun 2012 ini, saya memutuskan untuk merevisinya dan mengirimkannya ke sebuah penerbit.

Yap, saya harus menambah jumlah halamannya berpuluh-puluh lagi untuk layak disebut novel. Dan karena akan dikirim ke penerbit Islam, saya harus memasukkan banyak unsur islaminya. Alhamdulillah, ternyata jodoh naskah ini tidak sulit. Langsung diterima dengan revisi. Saya harus menguatkan setting novelnya, konflik yang ada, dan beberapa revisi kecil.

Konflik. Nah, ini dia. Sebenarnya konflik dalam kehidupan sehari-hari itu lebih ringan daripada di dalam novel yang benar-benar fiksi. Di dalam novel, kita bisa dapati seseorang begitu menderitanya: kecelakaan parah, keluarga meninggal mendadak, dibunuh oleh orang dekat, dan lain-lain. Memang sih, di berita-berita kriminal kita sering membaca kejadian-kejadian mengerikan, tetapi porsentasenya sedikit dibandingkan kehidupan normal di sekeliling kita. Begitu juga kisah teman saya ini, tidak begitu luar biasa. Konfliknya datar, begitu kata sang editor. Otomatis, saya harus menambahkan lagi konfliknya agar tajam, dan itu berarti memasukkan unsur imajinatif.

Kalau teman saya membaca novel ini, dia akan menyadari betapa kisahnya sudah berbeda jauh dari yang dia ceritakan kepada saya, hahaha… Ya itulah bedanya novel dengan buku biografi. Di dalam buku biografi, yang ada adalah kenyataan. Di dalam novel, ada percampuran kenyataan dan fiksi. Setidaknya novel ini jadi lebih berisi daripada draft awalnya. Jadi, sebenarnya novel ini bercerita tentang apa? 

Berikut sinopsisnya:

Setiana risau akan jodohnya. Di usia 29 tahun, dia belum juga menikah, sementara perjodohan-perjodohan yang dijalaninya selalu mengalami kegagalan. Orang-orang di sekitarnya sudah banyak mencemooh: keluarga, teman-teman kantor, dan tetangga sebelah rumah. Dia masih berharap bisa berjodoh dengan Edo, teman kuliahnya yang sudah terpisah pulau. Apalagi tiba-tiba Edo menghubunginya ketika dia sedang risau memikirkan jodoh. Akan tetapi, kenyataan pahit harus diterimanya manakala Edo mengabarkan bahwa dia sudah menikah. Lalu, dengan siapa  jodoh Setiana berlabuh?

Curahan hati Setiana:
Semakin banyak saja temanku yang menikah. Mungkin hanya akan menyisakanku seorang. Bukan hanya sendiri gundah ini kurasakan. Namun juga orang-orang di sekelilingku yang peduli kepadaku. Bukan aku hendak menunda pernikahan, tetapi memang begini adanya. Semua lelaki yang dikenalkan padaku, mundur teratur setelah bertemu denganku. Apakah aku tidak pantas menjadi istri salah seorang di antara kalian, Para Lelaki?
Menikah. Ah, mengapa kata itu semakin memberatkan semua indra tubuhku dari hari ke hari? Aku juga ingin cepat menikah, tetapi entah mengapa jalan ke sana begitu jauh.
Aku masih ingat kapan terakhir kali menatap iri pada gadis-gadis bertubuh molek yang berseliweran di sekitarku. Lalu, mengandaikan bilamana aku dikaruniai tubuh seindah mereka. Yang tinggi, ramping, berkulit putih, berhidung mancung, dan bersuara lemah lembut. Yang selalu menjadi buruan para lelaki. Mengapa fisik masih menjadi faktor utama memilih jodoh? Ah, tak bisa kumungkiri aku pun tertarik kepada lelaki yang memiliki fisik menarik. Itu hal yang manusiawi, aku sadar itu. Salahkah aku mengharapkan seorang lelaki yang menerimaku apa adanya?

Quanta, Elex Media (Desember, 2013)


23 comments:

  1. Saya pernah membaca novel Kulepas Dia dalam Dekapan karya Agustrijanto yang konfliknya kuat. Katanya juga dari kisah nyata ya mbak?

    ReplyDelete
  2. waah menarik ini, karena saya suka mengamati kehidupan orang...rupanya bisa dicuplik jadi novel ya.

    ReplyDelete
  3. Waaah udah terbit aja lagi. Yang Jakarta Fankfrut aja blm beli. Duh kok bisa ya punya stok draft novel begitu. Keren. Jadi kalau mau kirim tinggal revisi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih ada banyak stok naskahku, Mba Lina. Nunggu direvisi semua :D

      Delete
  4. Keren mbak Leyla ini, karyanya sering saya lihat di toko buku hehe.

    ReplyDelete
  5. Subhanallohhh..bagus banget ini. Kayaknya hampir semua wanita mengalaminya, ketika dia belum menemukan jodoh....

    Bacaan bermutu, gak bisa dilewatkan begitu saja, semoga saya punya kesempatan membacanya..aamiin

    ReplyDelete
  6. heummm,,,,jempol banyakkkk,dari yang sederhana bisa jadi luar biasa ya ditangan penulis keren^^.sukses buat bukunya mbk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aiiih... pinjem jempol siapa tuuh? Makasih, Mba Hanna :-)

      Delete
  7. aku mau juga ah nulisin kisah nyata menjadi novel :D

    ReplyDelete
  8. Mbak Leyla produktif banget! Baru aja ngeluarin Frankfurt 2 jakarta udah ada yang baru lagi ^^

    ReplyDelete
  9. wah bagus juga ceritanya, salam kenal ya mbak

    ReplyDelete
  10. first visit, read the article while carrying android full version games FREE download

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Hebat ya bunda bisa berkarya sambil tetap mengurus rumah, pengen kaya mba

    ReplyDelete
  13. Mak Leyla ini keren sangaath! saya termotivasi lebih banyak menulis melihat status fb dan karya2 mak Leyla ^.^
    Kisahnya mirip kakaku ih :D kemarin saya liat novel duet mak yang frankurt itu, kumasukin list beli bulan ini insya Allah ^.^
    Sukses yah, maak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, makasih Mak Ranny. Aaamiin... doa yg sama utkmu ya :D

      Delete
  14. Ide ternyata ada dimana-mana ya mbak. Bagi seorang penulis produktif spt mbak, curhatan seseorang bisa jadi sebuah novel.
    Keren sekali.

    ReplyDelete
  15. kalau sudah terbiasa menulis bisa ambil ide dari manapun ya mbak

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....