Friday, February 5, 2016

Gelang Harapan dan Film I am The Hope, Penyambung Harapan Penderita Kanker



Tanggal 4 Februari lalu adalah Hari Kanker Sedunia.  Setiap kali mengenang kanker, saya pasti teringat kenangan pahit sembilan tahun lalu, ketika ibu saya meninggal dunia karena kanker. Kanker telah menjadi momok menakutkan bagi semua orang. Seolah-olah mereka yang terkena kanker, hanya tinggal menghitung hari untuk menyambut kematian.



Ibu saya berjuang selama tiga tahun demi melenyapkan penyakit itu dari dalam tubuhnya. Tak sedikit biaya yang sudah dikeluarkan, tetapi pada akhirnya beliau harus menyerah. Kondisi ekonomi kami tak lagi bisa membiayai pengobatan kanker ibu saya. Tanah warisan, rumah tabungan, sampai simpanan perhiasan ibu saya sudah terjual semua untuk pengobatan. Hanya tinggal rumah yang kami tempati saja yang tersisa. Ibu saya tak mau rumah itu dijual juga untuk biaya pengobatan, sehingga beliau pasrah meregang nyawa karena pengobatan yang tak tuntas. 


Kanker bukan penyakit yang sepele. Kanker merenggut impian, bukan hanya impian orang yang terkena kanker, tetapi juga impian keluarganya. Ibu saya bermimpi melihat pernikahan putri sulungnya, pernikahan pertama di dalam keluarga kami, pernikahan saya. Pernikahan yang akan diselenggarakan dua bulan lagi. Apa daya, ibu saya tak sanggup lagi menunggu. Kanker itu memutus impian ibu saya untuk melihat kebaya jahitannya melekat di tubuh saya saat akad nikah. Kanker juga merenggut impian saya. Impian bersanding di pelaminan dengan ditemani oleh ibunda tercinta. Impian mendapatkan wejangan-wejangan selama menjalani pernikahan. Impian ditemani ibunda menjalani hari-hari yang sulit saat akan menjadi ibu: hamil dan melahirkan. Impian memperlihatkan cucu-cucu laki-laki, karena ibu saya tidak punya seorang pun anak laki-laki. 

Bila kanker menyerang seorang wanita yang sudah memasuki usia lima puluh tahun saja sudah memutus sekian banyak impian, bagaimana bila menyerang wanita yang baru berusia dua puluhan dengan deretan impian yang jauh lebih banyak? Tentu rasanya jauh lebih pahit. Sebagaimana yang dialami oleh Mia, tokoh utama dalam film I am The Hope, yang disutradari oleh Adilla Dimitri berdasarkan skenario yang juga ditulis oleh Adilla Dimitri dan Renaldo Samsara. Film ini diproduksi oleh Alkimia Production. Teasernya dapat dilihat pada video di bawah ini.  


Mia, usianya baru 23 tahun. Usia yang sangat muda dan produktif. Saat seusia Mia, saya baru lulus kuliah dan akan memasuki dunia kerja demi mewujudkan cita-cita. Begitu pula halnya dengan Mia, yang bercita-cita membuat pertunjukan teater. Penyakit kanker yang diidapnya, menjadi batu halangan. Membuatnya harus berhenti sejenak menjalani pengobatan kanker yang menyita waktu, tenaga, dan uang. Semula Mia berasal dari keluarga yang berkecukupan, tetapi harta benda keluarga mereka terus berkurang untuk mengobati penyakit kanker ibunda Mia yang akhirnya meninggal juga. Kini, Mia juga divonis kanker. Biaya pengobatan sudah tentu akan kembali menggerogoti perekonomian mereka yang sudah terpuruk. Dan yang paling menyesakkan dada, Mia harus menghentikan mimpinya. 

Memang, seperti itulah yang terjadi kepada semua pasien kanker. Mereka harus menyediakan dana yang tak sedikit untuk membiayai pengobatan. Sampai-sampai menjual tanah warisan, rumah investasi, dan sebagainya. Ketika sudah dirasa tak mampu membayar biaya berobat, mereka memasrahkan diri kepada malaikat pencabut nyawa. Dalam kondisi sakit, pasien kanker biasanya sudah kehilangan semangat untuk melakukan sesuatu kecuali orang-orang di sekitarnya terus memberi harapan bahwa mereka pasti sembuh. Sama seperti almarhumah ibu saya yang semula sudah menyerah akan penyakitnya. Lalu, ketika kondisi fisiknya sedikit membaik setelah kami membawanya berobat, semangat ibu saya bangkit lagi. Beliau bahkan menyempatkan membuat kebaya pengantin untuk saya. Sayang, kami tak sanggup lagi membiayai pengobatan ibunda, sehingga penyakit kanker itu belum tuntas dan kembali menggerogoti tubuh ibu saya. 

Mia, mendapatkan semangat dari seorang perempuan bernuansa pelangi (siapa perempuan ini? itu akan terjawab di dalam filmnya), yang terus mendampingi Mia menjalani pengobatan sembari mempersiapkan pertunjukan teater. Dalam sebuah pertunjukan teater, Mia berkenalan dengan seorang pemuda, David, yang sempat menyita perhatiannya sebagai aktor dalam pertunjukan tersebut. David pulalah yang mendukung Mia mewujudkan mimpinya, menawarkan naskah kepada seorang produser. Namun, kanker kembali menghalangi cita-cita Mia. Ia kembali terpuruk di atas tempat tidur rumah sakit, demi menjalani pengobatan untuk memusnahkan sel-sel kanker yang telah menggerogoti tubuhnya. Apakah Mia berhasil meraih impiannya? Atau dia mengikuti jejak ibundanya yang menyerah pada penyakit mematikan tersebut? 

Jawabannya ada di dalam  I am The Hope The Movie yang akan mulai ditayangkan di bioskop tanggal 18 Februari 2016. Saya sendiri sebagai peserta kompetisi blog #IAmHopeTheMovie yang saya dapatkan informasinya dari Uplek.com diminta untuk ikut menentukan endingnya. Sebagai anak dari seorang penderita kanker yang telah meninggal dunia, saya ingin endingnya berakhir baik. Saya ingin ibu saya terselamatkan. Saya ingin ibu saya mewujudkan impiannya, sesederhana apa pun itu. Terlebih lagi seorang Mia yang masih muda dan memiliki banyak mimpi. Saya berharap Mia dapat menang melawan kanker. Apalagi dengan keberadaan Gelang Harapan dan para pejuang dan relawan Warriors of Hope, yang dapat  membangkitkan semangat para penderita kanker untuk terus memperjuangkan hidupnya. Gelang Harapan dibuat dari sisa kain seorang desainer ternama Indonesia, Ghea Panggabean, berupa gelang bernuansa pelangi, yang dapat dibeli dan hasilnya disumbangkan untuk biaya pengobatan penderita kanker. 

Gerakan Gelang Harapan atau Baracelet of Hope digagas oleh tiga selebritis Indonesia: Wulan Guritno, Janna Soekasah Joesoef, dan Amanda Soekasah. Ditujukan untuk misi mulia: membantu pasien kanker yang tidak mampu beserta keluarganya di seluruh tanah air. Gerakan Gelang Harapan percaya bahwa di setiap situasi dalam kehidupan, selalu ada harapan. Tentunya gerakan ini sungguh-sungguh menjadi harapan bagi para penderita kanker yang kesulitan memperoleh biaya pengobatan. Para donatur dapat ikut menyumbang dengan membeli gelang harapan, yang hasil penjualannya akan didonasikan untuk para penderita kanker. Semoga dengan begitu, akan lebih banyak lagi penderita kanker yang tertolong. 

Ya, ending yang saya inginkan adalah ending yang diinginkan oleh semua penderita kanker beserta keluarganya. Mia dapat terselamatkan dan kembali menapaki jalan untuk meraih mimpinya bersama seorang pemuda yang telah menenangkan hatinya, David. Mari kita wujudkan impian Mia dan para penderita kanker lainnya dengan menonton film ini sekaligus membeli gelangnya. PRE SALE @IAmHopeTheMovie yang akan tayang di bioskop mulai 18 Februari 2016. Dapatkan @GelangHarapan special edition #IAmHope hanya dengan membeli pre sale ini seharga Rp 150.000 (untuk 1 gelang dan 1 tiket menonton) di http://bit.ly/iamhoperk dari #BraceletOfHope 100% dan sebagian dari profit film ini akan disumbangkan untuk yayasan dan penderita kanker sekaligus membantu membangun rumah singgah. 


Follow Twitter @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Follow Instagram @Gelangharapan dan @iamhopethemovie
Follow Twitter @infouplek dan Instagram @Uplekpedia
#GelangHarapan #IamHOPETheMovie #BraceletofHOPE #WarriorOfHOPE #OneMillionHOPE #SpreadHope

Semoga ending film ini sama dengan ending yang saya inginkan. Sebagaimana soundtrack film ini yang sangat menyentuh hati.


Hidup terkadang sulit diterka
Akan ke mana membawa kita
Bila saja segala rencana
Berjalan apa adanya
Walau tak mudah untuk bertahan
Kumenolak kalah oleh keadaan
Meski tiada yang jamin ku di sini
Esok masih melihat mentari
Harapan tak kan mati
Kutak sendiri
Kupercaya dalam gelap
Sinar kan menyala, harapan kan ada
Berhentilah berputus asa
Kupasti bisa….

29 comments:

  1. Penderita kanker cukup susah mengalami masa-masa sulit. Semoga film ini menginspirasi :)

    ReplyDelete
  2. agrrrrkkk jadi sedih baca cerita mba ela, tentang ibunya.aku jadi kangen ibuku..semoga ibu di Jannah Allah SWT ya mba, aamiin
    lucky untuk lomba ini, aku belum memutuskan untuk ikut atau gak. kapan ya Dl'nya?

    ReplyDelete
  3. Liat cuplikannya aja udah sedih yah, Mak. Filmnya inspiratif nih. Harus didukung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, karena hasil jualan gelang harapan ini memang utk penderita kanker.

      Delete
  4. Lagunya bagus, wajib ditonton nih filmnya :)

    ReplyDelete
  5. belum nonton aja aku udah berkaca2 mbak, soalnya dua bibi ku sudah terkena kangker, yang satu meninggal karena kangker rahim, satu lagi sedang kemo karena kangker payudara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, turut berduka cita, Ev. Harus waspada ya kita.

      Delete
  6. kalo udah cerita kanker aku jadi ingat beberapa saudara yang meninggal krn kanker, mudah2an di film ini Mia segera pulih

    ReplyDelete
  7. semoga ibu mba Leyla diterima amal ibadahnya dan bangga pastinya melihat anaknya mba Leyla begitu menyayanginya dalam setiap doa. terharu dan menyentuh sekali.

    ReplyDelete
  8. Aduh..nggak kebayang deh nanti nonton filmnya, pasti sedih banget..

    Bagus mbak tulisannya..

    Semoga ntar bisa nonton juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sedih nih Laa.. Apalagi ada kisah nyatanya.

      Delete
  9. aku selalu sedih lihat penderita kanker hiks.... ya Robb jadi kangen ibu juga. semoga ibunya Mbk Ella akan mendapatkan yang terbaik di sisi Allah. Semoga menang ya, mbk.

    ReplyDelete
  10. Jadi ingat dan kangen mama juga jadinya T-T. Mbak Leyla, yuk nobar :)

    ReplyDelete
  11. So touching... Ibu saya juga sakit berat sebelum wafatnya. Semoga kelak Allah kumpulkan lagi kita semua dlmbjannahnya ya..

    ReplyDelete
  12. Banyaknya yang nulis tentang ini. Makin penasaran deh dengan filmnya. Gak sabar nunggu tayang

    ReplyDelete
  13. sepakat! Ane juga pengen banget Endingnya Menyenangkan.
    Mia Sudah berjuang, dan Karena itu dia Berhak untuk hidup

    smoga film ini bisa memenuhi harapan kita semua. keren artikelnya mbak :)

    good luck dan salam bloggerhoki

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....