Saturday, May 28, 2016

Ingin Memperingatkan, Malah Dituduh Memfitnah

Assalamu'alaikum. Dini hari ini saya mau curhat. Unek-unek yang mengendap di dalam hati, yang sebenarnya sudah lama saya tahan demi menjaga nama baik seseorang. Akan tetapi, agaknya saya sulit untuk menahannya lagi. Dengan tetap menyimpan nama-nama yang bersangkutan, saya mau mencurahkan perasaan hati ini. Betapa beratnya menjadi pendiri sebuah komunitas yang mempertemukan anggota-anggota dari  berbagai daerah, bahkan banyak pula yang berasal dari luar negeri. 


Saya pernah menemukan kutipan yang bunyinya seperti ini: "Kita baru mengenal baik buruknya seseorang kalau sudah berurusan dengannya dalam perkara UANG." Kini, saya menyadari kebenaran kutipan tersebut. Ya, uang. Uang adalah benda yang sangat dibutuhkan oleh seluruh penduduk dunia, kecuali bila Anda masih bertransaksi dengan cara barter. Uang bisa membawa kebaikan, bisa juga keburukan. Mau tidak mau, uang memang penting untuk keberlangsungan hidup kita. 

Namun, jangan sampai kita terpenjara apalagi menderita oleh uang. Kita harus bisa mengelola keuangan dengan baik dan amat sangat disarankan untuk menghindari UTANG. Ya, sebisa mungkin menjauhlah dari utang. Namanya juga manusia, siapa yang bisa terhindar dari utang? Saya sendiri masih punya utang. Utang kepada seorang kerabat karena dulu butuh biaya untuk pengobatan penyakit kanker ibu saya yang sangat besar. Untungnya, kerabat saya itu tidak lain adalah adik ibu saya sendiri, jadi dia tidak begitu mempersoalkannya karena dimaksudkan untuk membantu kakaknya sendiri. Walaupun demikian, saya masih menyicil membayarnya. 

Di luar itu, saya berusaha untuk menjauhi utang. Satu-satunya utang yang ada adalah cicilan sprai di tetangga. Maksudnya, saya bayarnya menyicil tiap bulan selama 10 bulan. Sebenarnya saya tidak mau membeli, tapi tetangga memaksa terus. Dari mulai menawarkan jilbab, tas, baju batik, semuanya saya tolak. Kan tidak enak. Begitu dia tawarkan seprai, ya sudah dia ambil. Yang menyuruh menyicil juga dia, dan alhamdulillah saya masih bisa membayar cicilannya. Lagipula, cicilannya juga murah. Kalau cicilan itu belum habis, saya belum mau ambil barang lagi. 

Kepada suami, saya juga pernah meminta agar dia tidak mengambil cicilan apa-apa dulu, kalau cicilan sebelumnya belum lunas. Saya stres memikirkan cicilan tiap bulan. Belum selesai yang satu, sudah muncul yang lain. Alhamdulillah, suami mau mengikuti keinginan istrinya. Malah sekarang dia berusaha menabung daripada berutang. Ya itulah, utang sama sekali tidak akan membawa kita kepada ketenangan. Bahkan saat kita pertama berutang pun, bukannya senang karena ada uang di tangan, tapi sudah pusing memikirkan bagaimana membayarnya nanti. Pengalaman saya berhubungan dengan orang yang suka berutang, lama-lama perilaku itu menjadi kebiasaan. Menjadi penyakit. Kalau terdesak sedikit, solusinya utang. Ya, bagaimana utangnya bisa lunas? 

Utang itu berat tanggungannya. Tanggungan di dunia dan di akhirat. Di dunia tidak tenang, di akhirat apalagi. Bagaimana bisa di dunia jadi tidak tenang karena banyak utang? Ya, contohnya saja, kita jadi menghindari bertemu dengan orang yang kita utangi karena takut ditagih. Kalau di dunia maya, kita nonaktifkan semua media sosial yang kita miliki supaya tidak ditagih. Itulah yang terjadi pada kasus yang membuat saya sakit hati ini. 

Saya adalah pendiri sebuah komunitas di mana orang yang berutang dan orang-orang yang diutangi itu bertemu. Mereka berinteraksi dengan dekat seolah-olah seperti sahabat. Saling curhat, hingga ke masalah keluarga, dan ujung-ujungnya... pinjam uang. Saya baru mengetahui kasusnya setelah si orang yang berutang ini lenyap dari media sosial. Kemudian, beberapa orang yang diutangi pun menghubungi saya dan menceritakan kasusnya. 

"Tolong dong, Leyla, kalau kamu bertemu dia, minta dia untuk membayar utangnya. Saya kenal dia dari komunitas yang kamu dirikan, makanya saya percaya sekali sama dia....."

JLEEEBBBB!!!! 

Mending yaaa.... mending kalau utangnya itu hanya ratusan ribu. Itu mah keciiil.... Saya bahkan mengikhlaskan uang Rp 600.000 yang saya tanam di usaha yang orang itu usulkan, dan akhirnya saya minta diganti dengan produk dari usaha tersebut, yang ternyata susah diuangkan lagi. Produknya masih menumpuk di rumah saya. Tapi, bagaimana dengan yang lain? Yang sudah diutangi hingga puluhan juta dan orangnya menghilang? Juga investasi teman-teman lain yang hingga belasan juta? Semua belum ada yang kembali sepeser pun. Dan saya baru tahu kasusnya! Ke mana saja saya?! Setelah jadi masalah, baru saya diminta ikut bertanggungjawab. 

Untuk menghindari orang itu berutang lagi dan saya diseret lagi ke dalam kasusnya hanya karena saya adalah pendiri komunitas yang mempertemukan mereka, maka saya membuat peringatan di grup tertutup. Ingat ya, ini grup tertutup. Hanya orang-orang tertentu saja, orang yang sering berinteraksi di komunitas tersebut. Intinya, saya memberitahu jika ada teman dari komunitas ini yang meminjam uang dalam jumlah besar, diharapkan membuat perjanjian di atas materai dan memberikan barang jaminan, entah surat kendaraan atau surat rumah. Apa pun, bukan hanya surat bermaterai. Apalah arti surat bermaterai kalau kita tidak mau memperkarakannya ke pihak berwenang dengan alasan kasihan dan sebagainya. Kalau surat kendaraan kan jaminannya bisa langsung kita ambil. Saya tidak mau nanti diseret lagi. Kemudian saya tanyakan kembali kepada orang-orang yang diutangi, apakah ingin menyelesaikan kasusnya dibantu oleh saya dan teman-teman? Ternyata, mereka memilih mengikhlaskan dan menunggu si orang itu membayar utangnya. Oke, deh, asal jangan bawa-bawa saya dan komunitas saya lagi ya. 

Saya sudah merasa cukup memberi peringatan, karena urusan selanjutnya terserah kepada yang bersangkutan. Ada yang sudah mengikhlaskan uangnya, ada yang masih menunggu dengan sabar. Yang penting jangan sampai ada orang yang diutangi lagi dari komunitas saya, karena itu tidak baik juga untuk orang yang berutang. Masalahnya tidak akan selesai-selesai. Lunasi dulu utang yang masih membelit itu, hingga banyak yang berprasangka kepadanya. Namanya juga hidup ya, semua orang juga mengalami kesulitan. Tergantung bagaimana kita menghadapinya. Tapi benar deh, sebisa mungkin jauhilah utang. Kalaupun berutang, menyicillah perlahan. Jangan ditambah utang baru. 

Hidup saya bukannya tidak lepas dari utang. Makanya saya berusaha hidup dengan penuh perhitungan dan menyesuaikan diri dalam berbagai kondisi. Kalau sedang senang, saya tidak boros. Kalau sedang sulit, apalagi. Saya berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan dan kemampuan. Saya berusaha memaksimalkan segenap potensi yang ada, misalnya dengan menulis ini. Selama kita masih kuat dan mampu, bekerjalah. Dan ingat, berusahalah untuk tidak berutang, kecuali kamu merasa sanggup membayar cicilannya setiap bulan. Kalau kita berutang di bank saja, kita akan diminta slip gaji. Bank akan mempertimbangkan berapa gaji kita, apakah kita sanggup membayarnya setiap bulan? Kalau kita dirasa tidak sanggup membayar, ya permohonan utang kita tidak akan disetujui.

Berbeda memang kalau kita berutang di teman-teman dekat. Mereka tidak memperhitungkan berapa pendapatan kita. Yang ada hanya rasa percaya. "Saya percaya kamu bakal bayar utangmu," begitu katanya. Padahal, dia tidak tahu kalau kamu sebenarnya tidak akan bisa membayar karena penghasilanmu tidak mencukupi. Yang jadi masalah adalah kalau utangmu itu membuat orang-orang yang berada di luar kasus, ikut kecipratan. Contohnya, saya. Ini yang saya sebut, "Ingin Memperingatkan, Malah Dituduh Memfitnah."

Tiba-tiba, setelah lama kasus itu saya biarkan karena orang-orang yang diutangi sudah ikhlas, eh salah satu orangnya kembali menghubungi saya. Mana saya sedang ada di jalan menuju ke lokasi acara, terkena macet, dan nyasar. Saya diperingatkan supaya tidak lagi membawa dia dalam kasus tersebut dan tidak menyebutnya sebagai korban karena dia sudah mengikhlaskan uangnya. LAH?!! Apa pula ini? Kasusnya sendiri sudah saya tutup, karena mereka sudah ikhlas. Untuk apa saya diperingatkan? BETE-lah saya. Rupanya, orang ini dihubungi oleh orang yang berutang. yang sudah mendengar bahwa dia sedang diperbincangkan. Si orang yang berutang ini tidak senang dirinya dijadikan semacam peringatan.

Dalam pikiran saya, mestinya kalau orang yang berutang itu memiliki MALU, ketika dia menghubungi salah satu orang yang diutangi itu, bukan untuk mengintimidasi tapi untuk membayar utang. Walaupun utangnya sudah diikhlaskan, mestinya dia berpikir mengapa kasusnya masih dipermasalahkan? Katanya sudah ikhlas, kok dia masih diperbincangkan? Nah, harusnya di situ dia mikir. Oh, berarti saya seharusnya tetap membayar utang. Ketika menghubungi seharusnya orang yang berutang itu meminta maaf, kemudian bilang bahwa dia akan membayar utangnya. Entah kapan, terserah. Bukannya seperti mengintimidasi agar orang yang diutangi itu tidak lagi membicarakan utangnya. 

Lalu, seolah-olah saya dianggap memfitnahnya dan disuruh tabayyun. Mengapa pula saya harus tabayyun (mencari kejelasan)? Yang pertama mengadukan soal utang piutang itu kepada saya, siapa? Ya, orang-orang yang diutangi itu. Ketika saya bilang akan mencari kejelasan dengan menghubungi si orang yang berutang, eh orang-orang yang diutangi malah bilang kalau sudah ikhlas dan akan menunggu saja dengan sabar. Ya sudah to? Ngapain saya memikirkan uang orang lain. Kalau mereka sudah ikhlas dan akan sabar menunggu utangnya dibayar, berarti urusan saya sudah selesai. Yang penting: saya sudah memberikan peringatan kepada teman-teman lain di dalam komunitas itu. Jika ada orang yang berutang dalam jumlah besar, minta jaminannya. Kalau ada masalah, jangan bawa-bawa saya, apalagi menyalahkan komunitas yang saya dirikan.

Lah, ternyata benar ya, orang yang berutang itu seringnya lebih "galak" daripada yang diutangi. Soal galaknya ini bisa beda-beda pengungkapan. Ada yang "galak" dengan marah-marah, ada pula yang "galak" dengan bersimbah air mata. Saya jadi ingat kasus pembunuhan yang terjadi di Depok. Kasusnya pernah masuk televisi juga. Seorang lelaki dibunuh di rumahnya. Ternyata lelaki itu adalah orang yang diutangi dan yang membunuh adalah orang yang berutang. Orang yang berutang ini kesal karena ditagih terus. Aduh, seram ya. Jangan sampai begitu dong. Sudah berutang, cobalah untuk melunasinya. Tapi, tentunya, orang yang berutang itu, yang saya bicarakan di postingan ini, tidak  begitu. Saya yakin kamu masih punya kewarasan dan kesalihan. Saya yakin kamu masih bisa merayu Allah agar meringankan hutangmu. Cobalah cari akar masalahnya, apa penyebab sehingga utangmu bisa membelit seperti itu. 

Maafkan saya kalau saya sudah tegas memberi peringatan kepada teman-teman di komunitas, juga tegas di tulisan ini. Sengaja saya tulis di sini, karena kamu tidak juga menghubungi saya untuk memberikan penjelasan. Saya tidak mau mencari penjelasan karena toh orang-orang yang diutangi itu sudah ikhlas dan masih sabar menunggu kamu membayar utangmu. Kalau kamu menyadari kesalahanmu, mestinya kamulah yang menghubungi saya dan menjelaskan semuanya.  Jangan sia-siakan kepercayaan mereka. Kepercayaan yang mereka berikan itu karena mereka sayang dan cinta kepadamu, sehingga mau ikut menanggung bebanmu dengan memberikan utang yang tidak sedikit. Bahkan tidak ada bunga yang harus kamu bayar bila dibandingkan dengan meminjam di bank. Mungkin rumahmu sudah disita kalau pinjam ke bank.

Saya hanya bisa berdoa semoga Allah meringkankan bebanmu dan memberikanmu jalan keluar.


27 comments:

  1. Iya, Mbak. Yang dihutangi lebih galak dari yang menghutangi. Sebeeeel. Waktu mau hutang, janji manis bak perayu kelas kakap. Langsung bayar kalau gajian. Langsung bayar awal bulan. Setelahnya ngilang...

    ReplyDelete
  2. Saya setuju Mbak. Kalau sekali terjerat hutang pasti lagi lagi lagi hutang Mbak.

    ReplyDelete
  3. Padahal punya hutang itu termasuk yg menghambat kita masuk surga ya, Mbak...

    Semoga Mbak Leyla tetap sabar ya...

    ReplyDelete
  4. Mba Leyla, serba salah ya dalam posisi seperti mba.
    Smoga semuanya segera terselesaikan dengan baik ya mba. Amin

    ReplyDelete
  5. dulu saya kena 1 juta mbak..gak balik

    ReplyDelete
  6. iya bener banget, kadang lebih galak yang punya hutang. Padahal kan niat kita mau nolong.
    Kesini sininya kalo ada minta pinjeman, saya lebih prefer ke nominal yang bisa diikhlasin.
    Ga full dari nominal yang diminta, trus kalo kitanya lagi kurang atau ngepas ga maksain buat kasih pinjem. Buat jaga jaga aja.

    ReplyDelete
  7. yang berhutang lebih galak dari yang diutangi, saya pernah juga mengalami ini mbak. ngeselin banget rasanya ketika kita yang sebenarnya nggak kaya raya tetap berusaha membantu teman dengan meminjaminya uang tapi ternyata yang berhutang justru bersikap galak.
    yang sabar ya mbak Leyla, semoga semuanya segera teratasi dan si pengutang segera sadar, aamin.

    ReplyDelete
  8. Duhh..pengalamannya ngenes banget ya Mba.. bermaksud memperingatkan malah kita yang difitnah.. Kalo pengalamanku, aku paling takut ngutang ke orang.. Kalaupun terpaksa waktunya sebentar.. Yang paling sering tuh malah aku yang dijadikan tempat ngutang.. Bahkan ada orang yang tampilannya berada koq malah ngutang ke aku..malah bayarnya seret lagi.. Makanya dalam keseharian aku lebih sering tampil sederhana agar terhindar dari orang2 yang mau ngutang..

    ReplyDelete
  9. Punya utang, kepada orang maupun bank memang membuat pikiran melayang-layang. Enak waktu pinjam, galau waktu bayarnya.
    Dalam suatu Komunitas memang suka ada member yang nyeleneh sehingga merepotkan orang lain.
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
  10. Memang kalau sudah urusan uang sensitif . Tak hny dg org lain bahkan dg saudr kandung seperti yg pernh sy alami

    ReplyDelete
  11. Dengar, tidak ada pemberi pinjaman di sini adalah bersedia untuk membantu Anda, bukan mereka hanya di sini untuk merobek Anda uang Anda sulit diperoleh. Suami saya dan saya mencari pinjaman dari kreditur online yang berbeda tetapi pada akhirnya, kami ditipu dan merobek uang kita dengan pinjaman perusahaan yang berbeda secara online.
    Kami bahkan meminjam uang untuk membayar pemberi pinjaman online tapi pada akhirnya, kami punya suami nothing.My dan saya berada di utang, dan kami memiliki satu ada untuk menjalankan untuk membantu, bisnis keluarga kami hancur dan kami tidak bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai seorang teman saya memperkenalkan kita kepada emamllualoanfirm? yang membantu kami dengan menawarkan kita loan.For tanpa jaminan hanya 2% untuk informasi lebih lanjut tentang cara untuk mendapatkan kontak pinjaman Anda Emamllualoanfrim@gmail.com

    ReplyDelete
  12. Sereem soal uang Mbk, gak kenal saudara deh, suami pernah kok kena gitu, makanya kini wanti2 gak berani sembarang ngutangin

    ReplyDelete
  13. paling pas memang semuanya tertulis dan ada jaminan, biar merasa aman,
    tapi orang yg seperti itu menghilang tiba2, kalau dia balik ke komunitas apa ada yg mau nemenin

    ReplyDelete
  14. Beuh, ceritanya serem amat Mbak Leyla. Urusan hutang piutang emang selalu bikin ribet yak.

    ReplyDelete
  15. Banyak lho berita-berita pembunuhan yang terjadi karena hutang. Yang dibunuh malah yang memberikan pinjaman, duh serem ya mbak. Niat baik, malah dapat celaka.
    Aku pun karena orangnya sungkanan, nggak tega nagih, jadi beberapa kali mengikhlaskan uang yang kupinjamkan ke teman, tapi jumlahnya nggak seberapa banyak, cuma ratusan ribu aja. Teman-teman lama yang tiba-tiba muncul dan ujung-ujungnya pinjam uang, eh setelah itu menghilang tanpa kabar berita.

    ReplyDelete
  16. Makin sebel kalo yg gak tau apa2 tau2 diajak2 sama yg terlibat hutang piutang. Pengen nelen org deh rasanya...

    ReplyDelete
  17. jadi inget kata-kata alm WS Rendra...Maksud baik, kadang tidak tersampaikan dengan baik
    nah hati2 dengan ini, tidak hanya hati2 berhutang dang mengutangi tapi juga berbuat baik sekarang harus hati-hati ya
    ah, lelah hati ini menghadapi orang2 di aneh

    ReplyDelete
  18. Leyla... sudah ikhlas dan sabar nunggu itu 2 kejadian yang berbeda. Jamgan pake kata dan tapi pake kata ada juga aja.
    Hehehe..malah bahas kata sambung. Soalnya siapa tau orang yg disindir baca tulisan ini dia jadi tau, bahwa ada yg sudah mengikhlaskan tapi yang lain cuma sebatas menunggu aja dengan sabar karena percaya yg berutang pasti membayar.
    Semoga yg berutang dimurahkan rejekinya utk membayar hutang. Aamiin.

    ReplyDelete
  19. Leyla... sudah ikhlas dan sabar nunggu itu 2 kejadian yang berbeda. Jamgan pake kata dan tapi pake kata ada juga aja.
    Hehehe..malah bahas kata sambung. Soalnya siapa tau orang yg disindir baca tulisan ini dia jadi tau, bahwa ada yg sudah mengikhlaskan tapi yang lain cuma sebatas menunggu aja dengan sabar karena percaya yg berutang pasti membayar.
    Semoga yg berutang dimurahkan rejekinya utk membayar hutang. Aamiin.

    ReplyDelete
  20. berhubungan dengan meminjam uang atau utang aku rada rada ngeri dan nyeri Mbak Leyla, apalagi hutang sama temen ya, duh semoga kalaupun lupa aku segera diingatkan y, sereeem

    ReplyDelete
  21. Uang Mudah di Dapat tapi Sulit di pertahankan. Karena adanya kebutuhan yang menarik Saku agar uang segera keluar. ya kan mbak??

    ReplyDelete
  22. bener ya urang yang ngutang suka lebih galak hehehe..

    ReplyDelete
  23. Semoga cepat selese, saya jadi ingat nasihat bunda Lahfy.. Urusan uang, yang awalnya sahabat / saudara bisa jadi musuh, mengerikan ya mbak..

    Sampean nulisnya penuh emosi, saya bisa merasakannya :)

    ReplyDelete
  24. Itulah mengapa saya lebih suka berbisnis dengan pebisnis yg memang sy cari, ogah dg teman sendiri, apakah sbg partner atau cuma tanam modal karena susah kalau mau tegas. Semoga Allah memberinya hidayah.

    ReplyDelete
  25. Bener banget. Klo udah utang-piutang sama teman, susah. Malah ruwet. Aku juga punya piutang mbak.dulu ditawari invest ke usahanya, taxi motor. Ternyata bisnisnya nggak jelas...pdhl temen kuliah..lah dia sekarang di penjara. Kena kasus Korupsi KPU Jogja... Payah kan.

    ReplyDelete
  26. Seram bacanya ela semoga si pengutang tergerak hatinya dan dimudahkan rejekinya untuk membayar utang aamiin

    ReplyDelete
  27. "Kita baru mengenal baik buruknya seseorang kalau sudah berurusan dengannya dalam perkara UANG"

    Kalimat di atas adalah kalimat angker, euy ..

    Btw ngomongin hutang memang rasa nano nano. Penyedia hutang must be sabar menghadapi yang minta hutangan. Fakta.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....