Saturday, March 31, 2018

Aman dan Nyaman dengan KB IUD



"Sakitan mana, melahirkan atau pasang spiral?" 

Pertanyaan itu selalu terngiang di telinga saya, sesuatu yang menggerakkan saya untuk akhirnya menggunakan KB IUD atau sering disebut Spiral. Sebenarnya, Spiral hanya salah satu bentuk KB IUD. KB IUD ada 2 bentuk: Spiral dan T. KB IUD adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam saluran rahim. Berupa plastik yang di ujungnya terdapat benang. Plastik ini ada yang diselimuti tembaga, ada yang mengandung hormon progestoren.



Cara kerjanya adalah menghalangi sperma bertemu dengan sel telur sehingga tak terjadi kehamilan. Sedangkan IUD yang berisi hormon progesteron juga berfungsi membuat keadaan rahim tidak mendukung hidupnya sperma dan telur. Masa waktu pemakaian alat KB IUD antara 5-10 tahun. 

Setelah kelahiran anak kedua yang hanya berjarak setahun dengan anak pertama, saya baru terpikirkan untuk KB. Dari awal menikah, suami melarang KB karena mau punya 10 anak. Ternyata setelah punya 2 anak dengan usia berdekatan dan rasanya berat, saya merasa bahwa saya harus KB. Tadinya memang agak terpengaruh dengan dogma agama seperti Rasulullah menyuruh kita untuk punya banyak anak, larangan memakai alat kontrasepsi buatan karena sama saja membunuh anak, dll. 

Namun, coba pikirkan. Banyak ibu yang membunuh anaknya karena stres, lelah fisik dan pikiran, dan lain-lain. Kebanyakan pelaku memiliki anak lebih dari satu yang usianya berdekatan. Apakah itu tidak lebih berbahaya daripada ibu yang menggunakan alat kontrasepsi? Lebih baik mencegah daripada setelah lahir eh disia-siakan karena saya menyadari batas kesanggupan diri saya dalam mengasuh anak.

Menggunakan alat KB ini bukan karena takut akan rejeki. Saya yakin setiap anak ada rejekinya. Alhamdulillah rejeki keluarga kami juga terasa cukup. Rumah sudah punya, mobil juga ada, biaya sekolah anak-anak bisa dibayar. Jadi soal rejeki kami yakin Allah tak pernah luput memberikan kepada hamba-Nya yang bersyukur. Pertimbangan ber-KB hanya agar kami bisa menjaga amanah-Nya dengan baik. Sebab, anak bukan hanya untuk dilahirkan tapi juga dididik dan diurus dengan baik. Bayangkan jika ibu menjadi pemarah karena memiliki banyak anak dengan usia berdekatan? Apakah ibu tersebut dapat mendidik anaknya dengan baik?

Baca Juga: 5 Kekuatan Rumah Zaman Now 

Suami pun akhirnya setuju ber-KB setelah melihat bahwa saya sudah cukup repot dengan dua anak selisih usia setahun. Daripada istri stress lalu bunuh anak, ya sudah disepakati ber KB bukan untuk membatasi kelahiran tapi memberi jarak kelahiran. Saat itu saya masih takut pakai KB IUD walaupun tetangga sudah ngomong begitu. Lebih sakit mana melahirkan atau pakai spiral? 

Saya coba pakai KB Suntik 3 bulan sekali yang hanya bertahan sampai 1 tahun. Saya hentikan karena efeknya tidak bagus untuk tubuh. Saya jadi tidak haid, badan pegal-pegal, dan menggemuk. Kata suami,  kalau haid nggak dikeluarkan apa nggak bahaya? Akhirnya saya berhenti suntik KB. Setelah berhenti pun, baru 9 bulan kemudian saya haid. Wow, bahaya ya menurut saya suntik KB ini bisa sampai nggak haid bertahun-tahun. Tentu saja efek tersebut bisa  berbeda bagi setiap wanita. 

Suntik KB dan Pil KB yang mengandung hormon memang akan mempengaruhi sejumlah fungsi tubuh. Wanita yang berisiko terkena kanker, dilarang menggunakan keduanya karena bisa memicu kanker. Wajah juga bisa timbul flek hitam jika dipakai lebih dari 2 tahun. Sedangkan alat kontrasepsi seperti kondom, tidak nyaman menggunakannya. Hm, tinggal satu pilihan: KB IUD.


KB IUD. Sumber foto: Bidanku.com

Banyak wanita yang takut memakai KB IUD karena khawatir sakit. Saya juga. Berhubung saya ingat ucapan tetangga, saya paksakan diri ke bidan yang masih adik ipar suami. Mungkin karena Allah masih mempersiapkan calon anak ketiga buat kami, percobaan pertama itu gagal. Kata adik ipar, rahim saya pendek jadi alat IUD tidak bisa masuk. Sewaktu dimasukkan alat itu juga rasanya ngilu. Ternyata benar rasanya memang sakit. Itu karena saya memasangnya saat sedang tidak haid. Berhubung adik ipar ada di Garut jadi saya pasang saat sedang ke sana. Ternyata tak bisa dipasang saat tidak haid. 

Saya tak jadi pasang KB IUD. Suami pun menggunakan KB Azl alias KB yang disarankan oleh Rasulullah yaitu mengeluarkan sperma di luar rahim. KB ini memang mengurangi kenikmatan hubungan suami istri dan berisiko kebablasan yaitu suami tak segera mengeluarkan Mr. P nya saat ejakulasi. Untuk beberapa bulan kami aman memakai cara itu sampai suami berkata, 

"Yuk kita punya anak lagi. Satu aja. Perempuan." 

Saya pun hamil lagi. Mungkin memang sudah ditakdirkan ada anak ketiga yang laki-laki lagi. Mau punya anak perempuan tapi dikasihnya laki-laki lagi. Ya sudah tidak apa-apa. Proses kehamilan dan melahirkan yang berat membuat saya mantap berpikir. Pokoknya harus KB. Saking kesalnya, saya membuat perjanjian dengan suami. Anak ketiga itu harus diurus oleh suami. Saya hanya bertugas menyusui. Suami setuju. 

Salim saat bayi

Pada kenyataannya ya boro-boro. Tetap saja saya yang mengurus. Namanya juga insting seorang ibu hahahahaa.... Jadi, anak ketiga lahir saat saya sedang masa repot mengantar kedua kakaknya masuk TK. Bayangkan, mengantar 2 anak balita ke TK sambil mendorong stroller berisi bayi. Pemandangan itu sangat langka di masa sekarang di mana ibu-ibu baru punya anak kedua setelah anak pertama berusia 5 tahun. Tak heran kalau saya selalu mendapatkan pertanyaan mengenai usia anak-anak saya. 

Ketika ibu merasa sendirian mengasuh anak-anak, lelah, stres, demi kebaikan ibu dan anak... saya sarankan KB. Saya juga sadar, suami bekerja dari pagi sampai malam. Ya mana sempat membantu mengasuh anak. Awalnya saya sering membandingkan suami dengan tetangga sebelah yang suka mengajak anak-anaknya naik motor pada pagi hari. Tapi suami saya tak sempat karena tanpa melakukan itu pun dia sudah sering ditegur kantor akibat datang terlambat. Efek kantor di Jakarta, rumah di Bogor. 

Pembantu rumah tangga zaman sekarang pun resehnya minta ampun. Tak mau bekerja di rumah yang anaknya banyak. Sering juga mengomentari majikan dan anak-anak. Coba mana ada pembantu zaman dulu yang berani bilang, "Ibu gendut banget deh." Ya gendut wong habis melahirkan. Wuasem. Pada akhirnya ya memang seorang ibu harus mengurus semuanya sendiri. Dengan keadaan yang tidak mendukung saya untuk punya anak banyak, maka saya kembali memberanikan diri menggunakan KB IUD.

Rahim pendek? Ah, coba dulu deh. Sebulan setelah melahirkan, saya kembali datang ke rumah adik ipar. Saat itu masih masa nifas. Ternyata... alhamdulillah bisa! Malah mudah sekali dan tak terasa sakit. Rupanya memang alat KB IUD sebaiknya dipakai saat masa akhir haid. Jadi, saat haid sudah berupa flek-flek itu baru dipasang KB IUD. Rahim masih lunak, sehingga tak terasa sakit. Berapa biaya pasang? 

Di Puskesmas, biayanya gratis. Di bidan, saat itu untuk alat KB yang saya pakai harganya hanya Rp 50.000 untuk masa waktu 8 tahun. Kalau di dokter umum, harganya di atas Rp 300.000. Saya tidak tahu apakah BPJS mengganti biaya pemasangan alat KB. Kalau kantor suami saya sih tidak. Berhubung pasangnya di adik ipar, dia nggak mau dibayar walaupun saya memaksa mau bayar. 

Apakah selesai sampai di situ. Tidak. Awal-awal pemasangan yang saya rasakan adalah tidak enak karena ada alat di rahim. Benangnya itu masih bisa saya pegang saat sedang cebok sehabis buang air. Saya juga tidak bisa mengangkat barang berat karena akan mengalami sakit di rahim atau disebut turun bero'. Kalau sedang sakit, saya atasi dengan berbaring sambil menaikkan kaki ke atas dinding.

Saya hampir melepas alat KB IUD itu karena pendarahan lebih dari sebulan. Saya pikir haid tapi kok lama sekali. Saya menunggu waktu ke Garut lagi. Maju mundur mau lepas KB. Kata adik ipar sih itu tak masalah karena masih penyesuaian dengan rahim. Tapi penyesuaian kok lama ya sampai hampir setahun. Saya takut kenapa-kenapa.

Eh setelah tiba waktunya ke Garut dan melepas KB IUD, pendarahannya berhenti. Oalah. Saya tak jadi lepas IUD sampai sekarang sudah 5 tahun berjalan. Alhamdulillah sudah tidak ada keluhan seperti di awal. Alat KB memang cocok-cocokan. Untuk sekarang, KB IUD ini cocok untuk saya karena:

  1. Tak perlu sering ke puskesmas lagi seperti kalau suntik KB.
  2. Tak perlu takut lupa minum pil KB.
  3. Bebas berhubungan suami istri seperti pada masa pengantin baru tanpa takut hamil. 
  4. Aman dan nyaman setelah lewat tahun pertama pemakaian, seperti orang yang tidak pasang alat KB. 
  5. Masih bisa bekerja seperti biasa setelah tahun pertama pemakaian. Kerja berat pun sudah tak jadi masalah. 
  6. Hubungan suami istri normal saja, suami juga katanya tidak merasakan ada penghalang saat berhubungan.
  7. Biaya pemasangan lebih murah daripada harus minum Pil dan suntik KB terus menerus. 
Setelah memakai KB IUD ini, apakah saya jadi tak ingin punya anak lagi? Tentu saja tidak. Saya sadar bahwa alat KB hanya ikhtiar. Kalau Allah ingin memberi kami anak lagi, pasti diterima dengan senang hati. Alat KB IUD juga tak 100% melindungi dari kehamilan. Banyak kasus wanita yang bisa hamil meskipun menggunakannya. Jadi kalau memang sudah ditakdirkan hamil, ya harus menerima dengan pasrah karena setiap takdir adalah baik.

Saya menuliskan pengalaman ini sebagai referensi ibu-ibu yang ingin memilih alat KB. Berdasarkan informasi yang saya baca, alat KB ini hanya bisa digunakan oleh wanita yang sudah melahirkan. Wanita yang belum pernah melahirkan tidak bisa memakainya karena akan berisiko kram, sakit perut, dll. Beberapa waktu lalu juga ada seorang ibu yang menanyakan alat kontrasepsi yang saya pakai, jadi semakin kuatlah niat untuk berbagi cerita walaupun tetap saja alat KB itu cocok-cocokan.


Bagi ibu-ibu yang mau menggunakan alat kontrasepsi sebaiknya juga atas ridho dan persetujuan suami. Suami memang harus mendukung penuh soal kontrasepsi ini. Saya baru berhasil memakainya setelah anak ketiga lahir, suami baru benar-benar mendukung. Akhirnya berhasil. Jadi, komunikasikan dulu dengan suami secara baik-baik. 

17 comments:

  1. semangat punya anak lagi hehe

    ReplyDelete
  2. Aku masih takut pake IUD. Geli gitu bayanginnya. Di situ gitu lho. Aku pakenya implan. Hahahaha... padahal sama aja, ya. :)))

    ReplyDelete
  3. Kemarin setelah lahiran aku ditawari langsung pasang KB IUD ini mba. Cuma aku takut, yasudlah KB Kalender lagi aku.

    ReplyDelete
  4. Aku pakai KB pil sampai sekarang. Alhamdulillah nggak pernah lupa minumnya.

    ReplyDelete
  5. Terima kasih sharingnya mbak leyla.

    ReplyDelete
  6. Saya juga takut mbak pakai iud akhirnya pakai kb suntik tapi sudah nggak suntik lagi sejak anak umur setahun. Belum haid juga euy nggak tahu nih kapan bakal haid lagi

    ReplyDelete
  7. Di sekitarku punya anak banyak masih banyak Mbk, mana heboh kalau pengajian bawa anak-anak hihi.... ini masih belum pakai KB sih, baca ini lumayan dapat info mengenai KB IUD

    ReplyDelete
  8. Program lagi mba,,, bir ada yang nemenin, alhamdulillah dah lama pakai IUD selama ini aman dan terkendali��

    ReplyDelete
  9. Aku ga pake KB apa pun dr kelahiran anak pertama, alasannya bingung mba mau KB apa, sempet kepikiran pasang spiral, tp pengalaman ibu ku malah kebobolan. Tp penyebabnya mungkin krn udah lebih dr 10 th pasang ga di ganti barangkali ya.

    ReplyDelete
  10. sepupuku pasang spiral terus nyangkut mba. lalu akhirnya dioperasi. itu karena ia ga pernah kontrol setelah pasang spiral. padahal kan ada jadwal kontrolnya ya

    ReplyDelete
  11. Hahaha seru bacanya. Berani benar si mba bilang ibu gendut. Untung mba leylahana baik, Saking akrab dengan mba ,dianggap bukan lagi seorang pekerja kasar tapi keluarga yg membantu di rumah

    ReplyDelete
  12. Aih,, baca mengenai pasang spiral kok saya langsung mulas ya :( ingat kontraksi saat melahirkan,, saya pilih pil kb mba yg lebih praktis

    ReplyDelete
  13. 10 anak? Hihihi. Aku masih maju mundur pakai IUD begini.
    Btw Salim dari bayi wajahnya ga berubah sampai sekarang. Tingkahnya aja kali ya yang jadi banyak. Hehe

    ReplyDelete
  14. makasih buat sharing-sharingnya mba jadi bisa tau mengenai kb iud

    ReplyDelete
  15. Huaaah apa jadinya kalo beneran sampe 10 anak mak.. Gak kebayang.. hihihi.. Aku maju mundur buat KB IUD, masih belum siap.. Tapi emang cocok-cocokan katanya ya Mak Ela.. Aku baru pernah KB suntik..

    ReplyDelete
  16. Aku masih kurang paham dengan pil KB. Tapi informasinya bisa menjadi referensi buat aku nantinya.

    ReplyDelete
  17. IUD aku masih ngeri2 sedap hihihi.. tapi belum rencana pakai maybe next time kalau anaknya wes akeh

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....