Saturday, August 15, 2020

Review Film Zombie Terbaru 2020: Alive vs Peninsula

Tahun 2020 dibuka dengan tayangnya dua film zombie asal Korea Selatan, Alive dan Peninsula. Seperti pas sekali dengan kondisi saat ini yang sedang dilanda wabah virus corona. Boleh nggak sih saya bersyukur karena wabah virus corona ini tidak semenakutkan wabah zombie? Setidaknya, kita masih bisa beraktivitas seperti biasa, tidak takut dikejar mayat hidup yang menularkan virusnya melalui gigitan. Walaupun begitu, virus corona juga harus dijauhi ya, Gaes. Patuhi protokol kesehatannya.

Meskipun sedang dilanda virus corona, Korea Selatan adalah negara yang tidak memberlakukan lockdown, sehingga aktivitas membuat film dan drama korea pun masih jalan. Jadi, awal pertengahan tahun ini, kita disuguhkan dua film zombie yaitu Alive dan Peninsula. Saya suka banget menonton film zombie yang bagus, karena seru dan menegangkan. Tiga favorit saya itu adalah Train to Busan, World War Z, dan film seri Netflix berjudul Kingdom yang juga diangkat dari film berjudul sama.


Saya menonton Alive dan Peninsula dalam waktu semalam saja. Ya begitulah kalau menemukan referensi film zombie, pasti tidak mau dilewatkan. Nah, saya mau membandingkan kedua film ini yaa. Review dibuat berdasarkan penilaian subyektif, karena saya bukan orang film. Jadi reviewnya sesuai selera penonton saja, yaitu saya.

Alive
Ini film zombie yang pertama saya tonton, karena ada Park Sin Hye sebagai Yoo Jin. Saya termasuk penggemarnya nih. Aktingnya di beberapa drakor dan film yang saya tonton tuh tidak mengecewakan. Jalan cerita Alive mirip webtoon berjudul Dead Days, yaitu seorang anak laki-laki yang terjebak di dalam rumahnya karena di luar rumah sudah banyak orang terinfeksi virus zombie. Si anak laki-laki ini sempat kelaparan, tapi lalu mendapatkan teman perempuan yang tinggal di apartemen seberang.

film Alive

Walaupun mirip, tapi kisah Alive dan Dead Days tidak sama 100% ya. Di film Alive, ada Yoo Ah In yang berperan sebagai Joon Woo, si anak laki-laki yang terjebak di dalam rumahnya. Dia baru bangun tidur, lalu bermain game. Tiba-tiba temannya mengabarkan kekacauan di luar sana. Dia pun melihat ke jendela apartemen dan di bawah gedung apartemennya, banyak orang berlarian menghindari virus zombie. Joon Woo pun terkurung di dalam rumahnya, karena tidak berani keluar rumah. Orangtua dan kakak-kakaknya sedang di luar rumah.

Joon Woo berusaha bertahan hidup di dalam rumah sendirian dengan stok makanan seadanya. Pintu rumah diganjal dengan kulkas besar, supaya tidak bisa didobrak oleh zombie. Sepertinya semua orang sudah menjadi zombie. Koneksi internet sudah mati, bahkan sinyal telepon juga hilang. Joon Woo berusaha menelepon orangtuanya dengan naik ke balkon. Begitu berhasil menelepon, justru dia harus mendengar orangtuanya sedang dikejar zombie.

Joon Woo frustasi. Dia sudah kelaparan. Air dan listrik juga sudah mati. Ketika akan bunuh diri, ada sinar laser merah yang menyorot ke arahnya. Sinar itu berasal dari apartemen di seberang. Joon Woo melihat seorang gadis yang masih bertahan seperti dirinya, yaitu Yoo Jin. Mereka berkenalan dan akhirnya membuat janji untuk bekerjasama melarikan diri dari apartemen tersebut.

Film ini seru dan menegangkan. Para pemeran utamanya enak dipandang, di tengah banyaknya mayat zombie yang menyeramkan. Jalan cerita sederhana, akting Park Sin Hye dan Yoo Ah In juga tidak mengecewakan. Seperti biasa, Park Sin Hye memang bisa membuat saya betah menonton filmnya. Walaupun begitu, film ini pada akhirnya mengambil ending yang biasa saja, tidak mengejutkan, dan ternyata mirip dengan Peninsula. Intinya, film ini seperti keripik yang enak dikunyah tapi tidak meninggalkan bekas mendalam karena sekadar snack biasa saja.

Peninsula
Peninsula ini adalah film yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar Train to Busan. Kelarisan Train to Busan membuat penonton berharap ada sekuelnya. Sejujurnya, jarang lho sekuel film laris itu bisa menyamai kelarisan film pertamanya, kecuali Harry Potter. Harry Potter itu biarpun dibuat berseri-seri, tetap saja penontonnya menagih terus. Peninsula ini sepertinya tidak bisa menyamai kelarisan Train to Busan, karena ceritanya biasa saja dan mengikuti pakem Hollywoon pada umumnya.

film Peninsula

Cerita dibuka dengan tokoh utama, Jung Suk yang sedang melarikan diri dari Korea Selatan bersama kakak dan anak lelakinya dengan menaiki kapal menuju Hong Kong. Saat itu, Korea sedang dilanda wabah mengerikan yang membuat penduduknya menjadi zombie. Di jalan, Jung Suk bertemu satu keluarga yang minta ikut naik ke mobil, tapi dia tidak mau menolong. Naas, setelah masuk ke dalam kapal, malah ada penumpang yang sudah terkena wabah sehingga menulari seluruh penumpang, termasuk kakak dan keponakan Jung Suk. 

Empat tahun kemudian di Hong Kong, Jung Suk disuruh kembali ke Busan oleh bosnya, untuk menemukan harta karun. Kalau tidak mau, maka dia tidak akan dilindungi lagi untuk tinggal di Hong Kong, karena dia adalah pengungsi ilegal. Jung Suk pun terpaksa memenuhi permintaan bosnya. Awalnya terlihat aman-aman saja, mereka berhasil menemukan harta karun itu di tengah reruntuhan kota Busan dan banyaknya mayat hidup yang meneror.

Namun, begitu akan menuju kembali ke kapal, ada letusan petasan yang membangunkan zombie-zombie dan langsung menyerang Jung Suk beserta teman-temannya. Jung Suk diselamatkan oleh anak perempuan dari keluarga yang dulu minta pertolongan kepadanya saat dalam perjalanan ke Hong Kong. Keluarga masih hidup sambil terus menghubungi bantuan dari radio seadanya. 

Menurut saya, ide cerita Peninsula ini teramat biasa. Berhubung latar ceritanya adalah kota Busan yang sudah porak poranda, jadi kita tidak bisa menyaksikan gambar-gambar indah selain gambar kerusakan di mana-mana. Kesannya suram sekali. Kang Do Won sebagai Jung Suk juga tidak terlihat tampan di sini, melainkan kusam, gelap, dan tidak se-charming Gong Yoo. Ya memang kondisinya sedang dikepung zombie sih ya. 

Kalau ditanya lebih enak ditonton yang mana antara Alive dan Peninsula, maka saya jawab lebih enak menonton Alive. Meskipun suasana kota juga porak poranda karena serbuan zombie, tapi gambarnya lebih indah dilihat. Apalagi para pemainnya tetap memukau, alias tetap terlihat cantik dan ganteng tanpa mengabaikan setting zombienya. Yah, setidaknya nggak kusam-kusam amat seperti Kang Do Won di Peninsula. 

Dari segi keseruannya juga, Alive tidak membosankan meskipun beberapa adegannya mirip dengan komik Dead Days di webtoon, yaitu soal Yoo Jin dan Joon Woo yang terjebak di kamar masing-masing karena zombie, Yoo Jin memberikan bantuan makanan kepada Joon Woo melalui benang yang dibentangkan antara kamar apartemen mereka, mereka berbinscang dengan saling mengirim surat di kertas, dan perjuangan ke atap gedung untuk menunggu bantuan helikopter. Entah apakah Alive memang terinspirasi dari film Dead Days, tapi menonton film Alive memang mengingatkan saya pada Dead Days. 


Pihak Alive sendiri mengklaim bahwa film Alive mengadaptasi script film Alone oleh Matt Naylors yang diproduksi oleh USA, yaitu tema bertahan hidup oleh dua tokoh utamanya. Memang di dunia ini tidak ada ide yang benar-benar baru. Bisa jadi ada kemiripan-kemiripan yang tidak disengaja.  
 
Sedangkan film Peninsula, beberapa adegannya mirip dengan sebagian besar film Hollywood, dari mulai cerita kembalinya si tokoh utama karena ingin mencari harta karun, gangguan zombie-zombie, pertandingan di arena gladiator bersama zombie, juga adegan melarikan dirinya. Seperti tidak ada adegan yang baru. Di pertengahan film, mulai terasa membosankan. 

Untuk endingnya, film Alive dan Peninsula mengambil akhir yang sama dan sangat mudah ditebak. Mungkin memang susah ya mencari ending penyelamatan dari para zombie. Tak heran jika kedua film ini kurang begitu dibicarakan. Tidak seperti Train to Busan yang mengambil ending di luar dugaan, sehingga menjadi bahan pembicaraan terus menerus. Kedua film ini tidak menjawab dari mana virusnya berasal, karena hanya fokus pada usaha menyelamatkan diri dari pada tokoh-tokohnya.
 
Walaupun begitu, bagi kita yang suka menonton film bertema zombie, it's okay lah menikmati kedua film ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Sekadar menikmati keseruan para tokohnya yang sedang dikejar-kejar zombie. Untuk film zombie juara saya masih tetap Train to Busan, World War Z, dan Kingdom.






5 comments:

  1. Saya sudah nonton Alive tapi belum yang peninsula. Kalau berdasarkan pengamatan saya Ending film zombie biasanya ada yang selamat gitu tapi zombienya nggak tahu harus diapain. Iya nggak, mbak? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa... Memang fokusnya cuma ke penyelamatan diri aja. Zombienya masih berkeliaran.

      Delete
  2. Aku td Nemu yg alive di aplikasi drakor id+ mba. Tapi yg peninsula g ada. Cm Krn menurut mba peninsula jg rada boring, ya udahlaaah aku tonton yg alive aja :).

    Sbnrnya akutu suka ragu kalo nonton ttg zombie gini. Train to Busan aja aku mewek hahahahha. Liat si bapak yg bawa anak dan suami yg istrinya hamil akhirnya berubah jd zombie. Duuuuh ga tegas :(. Gitu aku tuh. Suka terlalu kebawa film kalo udh nonton :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Train to Busan banyak dramanya..kalo yang dua ini gak begitu drama..

      Delete
  3. Membaca ulasan seru dari Mba Leyla, jadi bikin pengen nonton film horor padahal sebenernya takut dan kalau bisa skip aja ;)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....