Seandainya dulu sudah ada indie publishing, saya pasti sudah menerbitkan buku-buku sendiri. Sebagai seorang penulis pemula, saya juga gemas dan geregetan karena naskah ditolak terus oleh penerbit. Padahal, menulisnya butuh perjuangan. Terlebih saya belum punya komputer. Saya baru punya komputer saat sedang menyusun skripsi di tingkat akhir kuliah. Itu pun komputer bekas. Jadi, betapa antusiasnya saya mengirimkan naskah ke penerbit. Kala itu, ada empat penerbit yang saya incar: Mizan, Syaamil, Era Intermedia, dan Gema Insani Press. Semua penerbit Islam, karena memang tulisan-tulisan saya bernuansa islami. Beberapa novel, kumpulan cerpen, dan serial, telah saya selesaikan. Setelah berpengalaman menembus Majalah Annida, saya memiliki kepercayaan diri untuk menembus penerbit.
Friday, July 22, 2011
Wednesday, July 20, 2011
Info Lomba: Novel Republika
Persyaratan :
-Mengisi formulir pendaftaran ( Download di sini :http://www.republika.co.id/iklan/novel/novel.html )
-WNI dan melampirkan fotokopi kartu identitas (KTP/KTM/Kartu Pelajar/Paspor);
-Karya asli, bukan saduran,bukan terjemahan,bukan jiplakan(menyertakan surat bermeterai Rp6000 yang menyatakan karya yang dikirim adalah karya asli
-Karya belum pernah dipublikasikan atau disertakan dalam lomba sejenis
-Tema novel bebas,menghadirkan materi yang menggugah
-Novel bernapaskan Islam rahmatan lil alamin
-Tidak bermuatan pornografi
-Naskah diketik dengan format MSWord 2000, dengan jumlah halaman minimal 150 halaman, dan diketik dengan spasi 1,5 dan diprint-out di kertas berukuran A4,menggunakan font Times New Roman, ukuran 12 dan diberi nomor halaman;
-Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya
-Naskah dijilid sebanyak tiga buah dan dimasukkan dalam amplop tertutup yang ditujukan kepada
Panitia Lomba Penulisan Novel Republika 2011
Jl.Warung Buncit Raya No 37. Jakarta Selatan, 12510
-Sepuluh peserta finalis akan diminta mengirimkan naskah dalam bentuk softcopy kepada panitia;
-Tiga naskah terbaik akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Republika;
-Tujuh naskah finalis lainnya akan dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Republika
HADIAH
1.Karya terbaik pertama akan memperoleh uang saku sebesar
Rp.25 juta+piala ( belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku );
2.Terbaik kedua berhak atas hadiah uang saku sebesar
Rp.20 juta + piala (belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku );
3.Terbaik ketiga memperoleh uang saku
Rp.15 juta + piala (belum termasuk royalti dari penerbitan dalam bentuk buku );
Karya kami terima paling lambat 15 Oktober 2011 (Cap Pos)
Info Lomba: Rohto Mentholatum
Lomba Menulis Fiksi Paling Bergengsi
LMCR
KEMBALI MENGUNDANG ANDA UNTUK BERPRESTASI
Raih Hadiah Total Rp 95 Juta
ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD
Syarat-Syarat Lomba
Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia atau mereka yang sedang studi/bertugas di luar negeri
Lomba dibuka 21 April 2011 dan ditutup 21 September 2011 (stempel pos)
Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta aneka rona kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, kekecewaan, harapan, kegagalan, cita-cita, persahabatan, pengalaman unik, petulangan maupun perjuangan hidup)
Judul bebas, tetapi mengacu pada tema Butir 3
Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul. Judul boleh menggunakan bahasa asing
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar dan indah (literer). Bahasa daerah, bahasa prokem, bahasa gaul dan bahasa asing boleh digunakan untuk dialog (bukan narasi)
Naskah yang dilombakan harus asli, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan
Ketentuan naskah:
Ditulis di atas kertas ukuran kuarto atau A-4, ditik berjarak spasi 1,5 spasi, huruf 12 font Times New Roman, margin kiri-kanan rata maksimal 3Cm
Panjang naskah 6 (enam) – 10 (sepuluh) halaman, diprint 3 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD
Naskah disertai sinopsis, biodata singkat pengarang dan foto dalam pose bebas ukuran postcard. Lampiran lainnya: Fotocopy KTP/SIM atau Kartu Pelajar/Mahasiswa dan Kartu Keluarga (pilih salah satu)
Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri 1 (satu) kemasan LIP ICE jenis atau saja atau segel SELSUN jenis apa saja
Naskah yang dilombakan beserta lampirannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2011 sesuai dengan kategorinya pada bagian kanan atas amplop
Naskah dan persyaratan (Butir e) dikirim ke alamat:
Panitia LMCR-2011 ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD
Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City
Bogor 16810 – Jawa Barat
Hasil lomba diumumkan 15 Oktober 2011 melalui website: www.rayakultura.net danwww.rohto.co.id
Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat
Naskah yang masuk ke Kotak Pos Panitia LMCR-2011 menjadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya
Informasi lebih lanjut silakan e-mail ke: lmcr.kelima@gmail.com
Hasil Lomba dan Hadiah Untuk Para Pemenang
Pajak hadiah para pemenang ditanggung PT ROHTO Laboratories Indonesia
Kategori A (Pelajar SLTP)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
Pemenang III – Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
5 (lima) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
15 (lima belas) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1 (satu) Unit TV
Kategori B (Pelajar SLTA)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
Pemenang III – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
5 (lima) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
15 (lima belas) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
50 (lima puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1(satu) Unit TV
Kategori C (Mahasiswa/Guru/Umum)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 7.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
Pemenang III – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
20 (dua puluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dariPT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
200 (dua ratus) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM
Seluruh pemenang mendapat Antologi LMCR-2011 dan Buku TELAGA INSPIRASI MENULIS FIKSI karya Naning Pranoto
Info Lomba: Dumalana.com
Dalam rangka memperkenalkan dumalana.com, bersama Dumala Pustaka Publisher Dumalana mengadakan Fiction Competition 2011/2012. Lewat lomba ini, para penulis diundang mengikuti lomba penulisan dalam blog dumalana.
Dumalana menyediakan hadiah berupa uang senilai total Rp 11.250.000 (sebelas juta dua ratus lima puluh ribu rupiah). Untuk mengikuti lomba ini, cukup kirim tulisan di Dumalana dengan tag “Fiction-Competition”. Informasi selanjutnya bisa dibaca di Ketentuan Lomba.
Jadwal Lomba
Lomba menulis fiksi berlaku setiap periodenya selama 1 bulan dengan selang waktu tiap periode lebih kurang 2 bulan. Total hadiah dimaksud untuk total 5 Periode.
- Periode Pertama penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Juli s.d 10 Agustus 2011. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 September 2011
- Periode Kedua penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Oktober s.d 10 Nopember 2011. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Desember 2011
- Periode Ketiga penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Januari s.d 10 Februari 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Maret 2012
- Periode Keempat penulisan Fiction Competition: tanggal 11 April s.d 10 Mei 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 Juni 2012
- Periode Kelima penulisan Fiction Competition: tanggal 11 Juli s.d 10 Agustus 2012. Total Hadiah Periode ini Rp 2.250.000 | Pengumuman Pemenang: 10 September 2012
Ketentuan Lomba
Ketentuan Umum
- Lomba terbuka untuk masyarakat umum, jurnalis, mahasiswa/pelajar, penulis, dan penggiat media online. Untuk mengikuti lomba, calon peserta harus memiliki akun Dumalana.
- Karya lomba tidak melanggar ketentuan tentang SARA dan norma kesusilaan.
- Karya lomba harus hasil karya pribadi (orisinal), bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide karya yang pernah dibuat.
- Karya Lomba bersifat baru dan belum pernah ditayangkan di media manapun atau diikutsertakan pada kompetisi lainnya.
- Karya yang melanggar Ketentuan Umum akan didiskualifikasi dan dinyatakan gugur.
- Tulisan peserta kompetisi langsung tayang dan bisa dibaca dan ditanggapi di Dumalana.
- Semua tulisan yang diikutsertakan dalam Dumalana “Fiction-Competition”menjadi milik Dumalana.com
Ketentuan Teknis
- Peserta telah terdaftar sebagai member Dumalana/Dumalanizer. Peserta yang belum menjadi member bisa mendaftarkan diri secara gratis terlebih dulu di dumalana.com.
- Karya lomba ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya bahasa bebas, dengan batas minimal 500 kata.
- Peserta diperbolehkan mengirim lebih dari satu tulisan
Hadiah
Tiga tulisan terbaik pada tiap periode masing-masing mendapatkan Uang.
Tiga tulisan terbaik pada tiap periode masing-masing mendapatkan Uang.
- Pemenang Pertama Rp 1.000.000. (satu juta rupiah)
- Pemenang Kedua Rp 750.000 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)
- Pemenang Ketiga Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah)
Setiap tulisan, meskipun tidak menjadi pemenang lomba, berkesempatan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Dumala Pustaka Publisher dengan ketentuan terpisah.
Untuk pemenang tidak dijamin akan diterbitkan dalam buku oleh Dumala Pustaka Publisher.
Semua pajak hadiah ditanggung oleh Dumalana.com
Lain-lain
Semua Keputusan Hasil Penjurian oleh Dumalana.com adalah mutlak. Kami tidak melayani gugatan atau protes dari peserta lomba baik melalui telepon, Fax, SMS, maupun email.
Selamat mengikuti
Info Lomba: Cerpen dan Cerber Femina 2011
Sayembara Cerpen & Cerber Femina 2011
Syarat Umum
• Peserta adalah Warga Negara Indonesia.
• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik & benar dan menggunakan ejaan yang disempurnakan.
• Naskah harus karya asli, bukan terjemahan.
• Tema bebas, namun sesuai untuk majalah femina.
• Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik & online dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
Monday, July 18, 2011
Nonfiksi: Taaruf, Keren! (4)
Bab 4
Siapa Saja yang Menjadi Perantara Taaruf?
1. Orang Tua
Kalau ingat cerita Sitti Nurbaya, pasti kita akan mengatakan, “sekarang udah bukan zaman Siti Nurbaya lagi, Nyak,” ketika orang tua mencoba menjodohkan kita. Padahal, tidak banyak yang tahu, bahwa salah satu tugas orang tua (terutama terhadap anak perempuan) adalah mencarikan jodoh. Nah! Jadi, kenapa pula kita harus menolak ketika orang tua bermaksud menjodohkan kita dengan pilihan mereka? Mungkin di mata
Novel: Cinta Buat Chira (8)
8
“CIRA!!! BURUAN!!!” teriak Rana, kencang dari dalam mobil pick-up bang Romi. Bang Romi langsung menutup telinganya.
“Nggak usah teriak-teriak gitu, Ran!” omelnya.
“Cira itu kalau nggak diteriakin nggak bakalan denger!” sahut Rana.
“Kok lama amat sih dia?” Bang Romi mulai kesal. Rana angkat bahu. Tak lama Cira datang dengan mimik wajah yang kesakitan dan sambil memegangi perutnya. Rana dan bang Romi bertatapan.
“Lu kenapa, Ra?” tanya Rana, heran.
“Gue…mencret-mencret, nih. Aduuh….” Jawab Cira, mengejutkan. Rana dan bang Romi bertatapan.
“Kok bisa? Emangnya lu semalem makan apa?” tanya Rana, heran. Cira menggeleng lemah.
“Lu makan rujak malem-malem, sih.” Cetus bang Romi. Cira merengut.
“Aduh…enggak….” Rintihnya.
“Sekarang, lu mau sekolah kagak?” tanya Rana. Cira merintih lagi.
“Maunya sih enggak, tapi gue ada ulangan hari ini….” Keluhnya. Rana dan bang Romi berpandangan.
“Udah deh, lu nggak usah sekolah aja. Ntar lu kenapa-napa lagi.” Rana menyarankan. Cira menggeleng.
“Gue harus sekolah.” Katanya, mantap. Rana dan bang Romi berpandangan lagi.
“Terserah deh.” Kata keduanya serempak. Hasil dari kenekatan Cira adalah sepanjang jalan Rana dan bang Romi harus mendengar rintihan Cira yang menyayat hati.
***
Putty menghela napas. Bu Susi, guru Geografi sudah dari tadi masuk kelas, tapi kok Cira nggak datang-datang juga. Heran. Ke kamar mandi lama amat! Tak lama, Cira yang ditunggu pun datang. Sikapnya masih sama seperti tadi pagi. Memegangi perutnya yang entah kenapa.
“Lu kenapa sih, Ra?” tanya Putty saat Cira sudah duduk di bangkunya.
“Gue…sakit perut. Aduuuuh….” Cira merintih lagi. Putty melengos.
“Gue juga tahu. Kalo orang megangin perutnya itu berarti sakit perut. Tapi kenapa? Perasaan kemaren lu nggak kenapa-napa.” Tanyanya.
“Gue…aduuuh…mulai lagi, nih. Gue ke belakang dulu ya.” Cira langsung melsat ke kamar mandi, bahkan tanpa ijin bu Susi! Jelas saja beliau dan teman-teman sekelas geleng-geleng kepala melihatnya.
***
“Aduuuh…gue nggak tahu, deh. Kenapa reaksinya sehebat ini? Aduuh….” Cira merintih lagi saat Putty menanyakan penyebab sakit perutnya pas jam istirahat.
“Iya, tapi karena apa elu jadi begini?” tanya Putty, sebal. Habis, pertanyaannya dari tadi nggak dijawab-jawab, sih!
“Gue minum…Miring!” jawab Cira sambil merintih lagi. Kening Putty berkerut.
“Miring?”
“Iya. Miring, badan jadi langsing, muka lebih cling!” jawab Cira. Putty tak dapat menahan tawanya.
“Cira…Cira…elu tuh udah KETIPU!” teriaknya, kencang. Cira melongo melihatnya.
“Ah…Putty…jangan gitu, dong. Aduuh….” Cira memegangi perutnya lagi. Putty menutup mulutnya dengan tangan.
“Cira…elu kemakan iklan banget, sih….” Gelaknya. Cira merengut. Ia merasa mulai tak beres lagi.
“Aduh, Put. Gue ke belakang lagi, ya.” Katanya sambil berlari meninggalkan Putty yang masih tertawa.
***
“Udah deh, Ra. Lu tuh nggak usah mimpi mau kurus lagi. Lu tuh udah dari sananya begitu. Ngapain sih elu cari mati? Liat tuh, muka lu pucat banget.” Nasehat Putty setelah jam istirahat usai. Cira mendengarkan nasehat itu sambil merintih.
“Lu udah kayak Farhan aja, sih….” Keluhnya. Putty tertawa.
“Heh, Cira. Lu kenapa sih? Dari tadi lu bolak-balik ke kamar mandi terus?” tanya Milly, penasaran.
“Dia tuh….” Cira segera menutup mulut Putty. Putty menepis tangannya. “Kenapa sih, Ra? Milly kan pengen tahu?” tanyanya, sebal.
“Habis, dia kan comel. Ntar dia ngomong macam-macam lagi.” Sungut Cira sambil melirik Milly, sinis. Milly melotot.
“Ih! Lu gitu amat, sih! Ya udah!” sungutnya sambil berbalik. Cira terkekeh melihatnya.
“Aduuuh….” Ia merintih lagi.
“Tuh, kan! Sukurin!” maki Milly.
“Hus! Milly!” seru Putty.
“Put…gue mau ke belakang lagi!” kata Cira sambil berlari menuju kamar mandi (lagi). Putty geleng-geleng kepala.
“Lu gue anterin pulang, ya?” kata Putty sambil memapah tubuh Cira yang sangat lemas ketika sekolah telah bubar.
“Aduh…Put. Gue jadi ngerepotin….” Rintih Cira.
“Nggak pa-pa. Gue kan dijemput sopir. Kalo lu naik angkot, ntar lu repot lagi.” Putty tersenyum.
“Tapi, Put…lu jadi bolak-balik deh.” Cira manyun. Ia menyesal telah merepotkan Putty karena memang rumah mereka beda arah.
“Nggak pa-pa. Lu kan sahabat gue.” Putty merangkul Cira. Tiba-tiba….
“Aduh, Put….” Cira langsung berlari menuju kamar mandi. Putty memukul jidat.
“Cira…Cira….”
***
Aduuuh…beneran deh. Gue kapok makan nih pil. Emang sih gue sendiri yang keterlaluan. Gue over dosis! Harusnya pil ini cuma diminum sebelum tidur, tapi tadi pagi gue juga minum. Udah gitu gue nggak sarapan lagi. Udah gitu minumnya ngelebihin dosis lagi. Harusnya kan minumnya cuma lima pil sekali minum, eh gue minum 10 pil sekali minum. Reaksinya hebat banget. Gue jadi mencret-mencret. Sebel! Menderita banget gue!
“Ra! Cira! Bangun!!!” teriak Rana, tepat di telinga Cira. Cira membalikkan tubuhnya. Rana terkejut melihat wajah kakak satu-satunya itu pucat seperti tak ada darah yang mengalir sama sekali.
“Lu kenapa, Ra? Sakit? Sekolah nggak lu?” tanyanya, beruntun. Cira menggeleng lemah.
“Badan gue lemes banget nih. Nggak tahu kenapa.” Rintihnya.
“Nggak tau? Kalo lu sakit mustinya lu tau dong apa penyebabnya.” Rana melotot.
“Tau, nggak? Tadi tuh gue udah agak baekan, tapi pas liat muka lu tuh, gue jadi sakit lagi….” Rintih Cira. Rana merengut.
“Dasar! Ya udah. Gue panggilin nyokap deh. Lu nggak usah sekolah, ya.” Katanya sambil pergi meninggalkan Cira.
“Cira! Lu kenapa?!” tanya Emaknya Cira yang datang tergesa-gesa.
“Mak…Cira nggak enak badan, nih….” Rintih Cira. Emaknya langsung meraba dahinya.
“Kagak apa-apa luh!”
“Bukan itu yang sakit…perut Cira, nih….” Cira memegangi perutnya. Emaknya latah memegangi perutnya.
“Cira mencret-mencret, Mak!” seru Cira.
“Lu makan apa, sih?” tanya Emaknya, gemas. Cira ragu-ragu menjawab. Ntar dia dimarahin lagi. Tapi akhirnya dia menunjuk pil yang tergeletak di mejanya. Emaknya langsung mengambilnya.
“Ya Allah! Pil pelangsing! Macem-macem aja sih lu, Ra?” Emak geleng-geleng kepala.
“Ya abis….”
“Heh, elu tuh udah dari sananya gendut. Kita kan emang keluarga gendut. Liat aja si Rana juga gendut, yah emang sih lebih gendutan elu. Tapi kita tuh emang udah dari sononya, Ra. Lu kagak usah macem-macem, kenapa? Kalo lu sakit, kan Emak juga yang repot.” Omel Emak. Cira merengut. Bukannya diobatin, malah diomelin. Sebel!
“Ya udah deh. Lu kagak usah sekolah. Sekarang Emak panggilin pak Haji, dah!” kata si Emak sambil ngeloyor pergi. Kening Cira berkerut. Kok pak Haji sih yang dipanggil? Harusnya kan Dokter. Emak, nih!
***
Cira membuka matanya. Matahari siang membuat matanya silau. Setengah hari terbaring di tempat tidur benar-benar membuat badannya sakit.
“Sudah bangun, Ra?” tanya seseorang , tiba-tiba. Cira kenal betul suaranya, tapi yang pasti ini bukan suara Rana atau Emak.
“Putty?!” ia terkejut. Putty mengangguk.
“Ada juga Milly, Juli, Fera, June dan…kak Naila.” Ia menambahkan. Cira terkejut. Andai ia bisa bangun, ia pasti bakalan langsung berdiri mendengar nama yang satu itu. Mbak Naila?
“Assalamu’alaikum, Cira.” Kata Naila, lembut. Cira tersipu malu. Aduh…jangan sampai deh mbak Naila tahu kalau ia sakit gara-gara minum pil pelangsing.
“Wa’alaikumsalam, Mbak.” Jawabnya, malu. Naila tersenyum. Putty mendekatinya.
“Eh, Farhan dan cowok-cowok Rohis lainnya juga dateng. Tapi di luar.” Bisiknya. Wajah Cira makin merah mendengarnya.
“Kamu sudah baikan, Ra?” tanya Naila. Cira mengangguk, pelan.
“Yah, alhamdulillah sih, Neng. Tadi udah dimantrai sama pak Haji trus dibeliin obat warung juga.” Kata Emaknya Cira. Semua yang hadir bertatapan. Dimantrai? Cira merengut. Ih, Emak! Nggak tahu banget kalau tema-teman Cira orang intelek! Masa’ dimantrai sih?!
“Iya, Neng. Dibaca-bacain doa, trus diminumin air putih deh. Pak Haji itu biasa ngobatin dengan cara begitu.” Jelas Emak. Naila tersenyum mendengarnya.
“Oh…kalau itu sih emang sering dilakukan oleh Rasulullah. Namanya Ruqyah.” Katanya. Semua manggut-manggut. Naila mendekati Cira sambil memegang tangannya.
“Cepat sembuh ya, Ra. Sebentar lagi kan ujian. Terus, sebaiknya obat pelangsing itu jangan diminum lagi. Kalau efeknya bikin mencret-mencret, akibatnya kamu jadi dehidrasi. Alhamdulillah nggak terlalu parah. Memang, kita manusia lebih suka berkorban untuk kecantikan luar, tapi jarang yang mau berkorban untuk kecantikan dalam. Padahal, kecantikan hati kita itulah yang lebih penting.” Nasehatnya. Lembut. Cira terpana mendengarnya. Ia seperti pernah mendengar kata-kata ini.
“Makasih, Mbak.” Ucapnya, lemah. Naila tersenyum.
“Sekarang kita pulang dulu, ya. Sudah sore.” Naila menyalami Cira. Yang lain bergantian menyalami.
“Farhan dan ikhwan-ikhwan lainnya di luar tuh. Mereka juga mendoakan Cira semoga cepet sembuh.” Kata Naila sebelum pergi meninggalkan Cira. Cira termangu. Farhan…aduh…dia jadi pengen nangis. Demi Farhan dia rela begini. FARHAN!!!
***
Klik di sini untuk baca kelanjutannya yaa
Subscribe to:
Posts (Atom)

