Wednesday, June 11, 2014

Kenapa Penulis Harus Mempromosikan Bukunya?


Gambar dari sini
Kemarin saya baru dapat informasi dari seorang editor mengenai waktu tayang sebuah buku di toko buku. Ternyata, sebuah buku baru hanya mendapatkan waktu SATU bulan untuk dipajang di meja depan dalam posisi buku terlihat semuanya. Di bulan kedua, buku sudah dipindahkan ke lemari bagian tengah atau atas, dengan posisi terlihat depan atau menyamping. Di bulan ketiga, buku pindah tempat lagi ke lemari bawah, yang barangkali hanya orang yang sedang iseng berjongkok saja yang bisa melihatnya. Di bulan keempat, buku sudah kembali ke gudang.


Wow! Jujur, saya baru tahu kenyataan itu. Hiks. Jadi, saya, kita—para penulis—hanya punya waktu sebulan untuk berpromosi dengan gencar, supaya buku kita disambar pembeli. Lebih dari itu, pembeli sudah kesulitan mencari buku kita di toko buku besar. Kalau toko buku kecil yang pergerakan bukunya gak secepat toko buku besar, mungkin buku kita masih bisa ditemukan. Tapi, buku-buku baru juga tidak bisa cepat masuk ke toko buku kecil, karena pergerakan mereka cukup lambat.

Padahal, saya baru mulai woro-woro promosi buku setelah bukti terbitnya sampai ke tangan saya lho. Barangkali saat itu, buku saya sudah ada sekitar dua mingguan di toko buku. Berarti, waktu saya semakin sempit untuk mempromosikan buku! Mengapa toko buku begitu cepat mengubah susunan buku? Karena eh karena, sekarang ini banyak sekali buku yang diterbitkan. Beda dengan zaman dulu di mana penerbit kekurangan naskah dan toko buku sibuk memburu buku baru. Kini, penulis berbondong-bondong menerbitkan buku dan tidak diimbangi dengan daya beli yang meningkat.

Setidaknya, begitulah keterangan dari editor saya. Penjelasan ini menjawab pertanyaan, “kenapa sih penulis sekarang ini heboh banget mempromosikan bukunya?” Beberapa waktu lalu, ada penulis yang nyetatus kalau dia sebenarnya males mempromosikan bukunya karena gengsi. Gengsi nyuruh-nyuruh orang untuk membeli bukunya. Penulis yang lain, berpendapat sebaliknya. Dia rajin mempromosikan bukunya, karena kalau bukan dia ya siapa lagi?

Saya pernah mendengar keluhan teman facebook tentang penulis yang terlalu sering promo. Bikin penuh beranda facebook saja, hehe… Nah, kalau begitu, kita harus cari trik promo yang halus, supaya gak bikin bĂȘte orang. Menulis itu bukan pekerjaan sehari-hari. Bahkan bisa jadi bertahun-tahun. Belum menerbitkannya. Seperti novel saya yang terbaru, “Aku, Juliet.” Perlu waktu tiga tahun untuk bisa membuatnya tercetak dan dipajang di toko buku. Proses penulisan dan penerbitannya, nanti kapan-kapan deh saya ceritakan. Masih dalam serangkaian tulisan untuk promosi “Aku, Juliet,” kok. :D

Apakah kita mau tulisan yang sudah bertahun-tahun kita coba wujudkan dalam bentuk buku itu akhirnya hanya kembali ke gudang dan tak dibaca orang? Kalau saya sih  gak mau. Kita nulis kan bukan hanya untuk royalty, tapi akan lebih senang lagi kalau tulisan kita dibaca orang dan menginspirasi. Intinya, jangan sampai deh buku kita masuk ke gudang lagi dan akhirnya diobral, huhuhu….. Yah, begitulah perjuangan penulis masa kini. Tak hanya berusaha naskahnya selesai dan diterbitkan, tapi juga bagaimana bisa menjual buku itu. Waduuh, berat yaaaa…..

 Dan, karena itulah akhirnya sekarang saya (terpaksa) ngasih tau kalau novel “Aku, Juliet” sudah mulai diedarkan di toko-toko buku dan bisa dipesan melalui toko buku online berikut ini:


Barangkali juga tersedia di toko buku online lainnya.

Harganya terjangkau, hanya Rp 39 ribu, dapat diskon 15% pula. Siapa mau? Uhuk..uhuk…. :D














7 comments:

  1. Oh ini ya sebabnya penulis promo bukunya terus. Ulala pantesan beranda facebook dan twitterku selalu penuh. Abis kebanyakan temenan ma penulis sih.

    Tapi salut sama kalian. Yang dengan gencarnya promo. Kata seseorang, hitung" bantu penerbitnya juga hihi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. gadang saya juga diandalin mereka buat promo di blog2 dan juga di majalah online :v

      Delete
  2. Eh baru tahu ternyata begitu, ini mungkin efek kebanyakan naskah masuk ya salah satunya. Karena penulis udah berjibun. Tapi bisa jadi trend pasar bakalan berubah ke arah ebook nih. :)

    ReplyDelete
  3. Wah ternyata perjusngan penulis berat jg ya mbak...semoga buku barunya larid manis ya.insyaallah aku cari kl pas ke tobuk ;)

    ReplyDelete
  4. waaw.. aku juga baru tau ini ttg brpa lama buku nongkrong di toko buku..
    ternyata yah.. jadi penulis itu bukan cuma nulis aja..
    Btw, semoga lariiis manisyaah mak bukunyaa :D

    ReplyDelete
  5. jadi tahu seluk beluk penerbitan buku

    ReplyDelete
  6. Oh baru tahu begitu aturan penjualan dalam toko buku besar. Rupanya menuntut penulis agar jago marketing juga :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...