Monday, January 25, 2016

[Wisata Bahari] Belajar Sabar dari Nelayan Pantai Santolo



Udara panas membuat mataku tak bisa memejam. Kipas angin yang tergantung di langit-langit kamar petak ini tak mampu mendinginkan ruangan.  Beginilah akibatnya jika menginap di penginapan seharga Rp 250 ribu per malam. Tak ada Air Conditioner yang dapat menyejukkan suhu tubuh. Rupanya, meskipun di beberapa tempat di Indonesia sudah sering turun hujan, wilayah Garut-Jawa Barat dan sekitarnya masih bersabar menanti kemurahan Tuhan. Terlebih lagi di pinggiran pantai, hawa panas dan nyamuk yang berkeliaran membuat kami kesulitan tidur nyenyak.


Anak-anakku pun terbangun beberapa kali, minta dikipasi. Untung aku membawa kipas angin dari rumah, itupun hanya sedikit membantu. Kamar penginapan yang seadanya ini terpaksa diambil karena belum ada kamar sekelas hotel di pinggiran Pantai Sayang Heulang, wilayah Pamengpeuk Garut Selatan. Itu kali kedua kami datang dan menginap di kamar yang sama. Seolah kamar itu selalu dipersiapkan untuk kami. Tak ada tamu lain yang datang menginap, meskipun masih dalam suasana liburan Natal dan Tahun Baru. Seakan-akan kawasan wisata di Pantai Sayang Heulang ini tak menarik untuk menjadi tempat tujuan wisata. Justru karena itulah kami kembali lagi ke sini, karena tak harus berebut pasir pantai bersama ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara, sebagaimana yang terjadi di obyek wisata pantai terkenal lainnya. 

Aku berjalan gelisah ke arah jendela kamar yang tak bertirai. Memandang ke luar dan menyaksikan lampu berkerlap-kerlip dari tengah laut. Sementara itu, ombak tengah mengganas, menyapu hingga ke tepi pantai. Deburannya terdengar keras di telinga, karena rumah penginapan kami tepat berada di sisi pantai. Cahaya itu… dari mana datangnya? Lamat-lamat dapat kutangkap sebuah perahu kecil tengah berjuang di tengah laut. Perahu nelayan Pantai Santolo yang baru mulai berlayar. Pantai Santolo terletak kurang lebih dua kilometer dari Pantai Sayang Heulang. Pada hari kedua, sebelum pulang ke Kota Garut, kami menyambangi pantai itu sekadar membeli buah tangan. 

Pantai Santolo, lebih ramai daripada Pantai Sayang Heulang. Wisatawan lokal terlihat lebih banyak menyewa penginapan di sekitar Pantai Santolo. Warung-warung Seafood bertebaran, menyajikan hidangan utama hasil laut berupa Mata Lembu, sejenis kerang yang tubuhnya menyerupai mata sapi. Perahu-perahu nelayan merapat di dermaga yang airnya tenang. Mengagumkan bila mengingat perahu-perahu kecil itu nantinya berjuang mengarungi ombak yang ganas di tengah laut. Pagi hari adalah waktunya para nelayan kembali dari laut, membawa hasil tangkapannya yang langsung dijual di Pusat Pelelangan Ikan, seratus meter dari pinggir Pantai Santolo. 


Ah, kubayangkan perjuangan para nelayan yang melaut menjelang tengah malam, lalu kembali pulang menjelang dini hari. Tengah malam tadi hujan cukup deras meskipun tetap tak mampu mendinginkan udara. Mereka bermalam di atas perahu kecil dengan penutup seadanya. Ngeri aku mengingat kembali saat perahu itu terombang-ambing oleh air laut yang tengah mengganas, disertai hujan deras. Entah berapa banyak hasil tangkapan yang mereka peroleh, itupun masih harus dijual dulu oleh para pedagang yang berjajar di depan Pusat Pelelangan Ikan.  Mereka menanti wisatawan yang tak seberapa banyak, untuk membeli hasil tangkapan nelayan. Obyek wisata bahari semestinya menjanjikan penghasilan yang berlebih, bila dikelola secara optimal. Hasil tangkapan laut yang bisa dibeli mentah maupun masak (di warung-warung Seafood), tempat penginapan yang lebih layak, dan souvenir-suvenir khas pesisir pantai. Seandainya bisa dikembangkan seperti Pantai Kuta, tentu akan menjadi sumber pemasukan baru bagi para penduduk pantai. 

Itulah tujuan kami mendatangi Pantai Santolo. Untuk menginap, kami memilih penginapan di pinggir Pantai Sayang Heulang, karena relatif belum ramai pengunjung. Kami bisa menikmati pantai seperti di rumah sendiri. Sedangkan untuk membeli hasil laut, kami mendatangi Pusat Pelelangan Ikan di Pantai Santolo. Para pedagang telah bersiap dengan hasil jualannya. Cumi-cumi berukuran besar, kepiting, ikan tongkol, dan beraneka jenis ikan laut lainnya. Cumi-cumi dihargai Rp 20.000/ kilo, sedangkan ikan tongkol Rp 18.000/ kilo. Tentu saja harganya jauh lebih murah daripada harga yang dijual di kota. Seingatku, aku harus mengeluarkan uang Rp 15.000 untuk mendapatkan seperempat kilogram cumi-cumi segar di tukang sayur dekat rumahku. 

Kawasan wisata bahari ini seyogyanya dapat menjadi kawasan wisata yang dibanggakan. Setidaknya, aku sudah mengunjungi tiga pantai yang terletak di Pamengpeuk. Pantai Sayang Heulang, Pantai Santolo, dan Pantai Cijeruk Indah. Sayangnya, sangat terlihat kurangnya pengelolaan dari pemerintah setempat. Di Cijeruk, tak terlihat seperti sebuah kawasan wisata meskipun dikenai tarif masuk yang lumayan. Untuk memasuki pantai yang tak dikelola dengan baik tersebut, kami harus membayar Rp 15.000/ enam orang dan Rp 5.000 untuk parkir mobil. Sedangkan dulu aku tak perlu membayar sepeser pun untuk masuk ke Pantai Kuta. 

Sampah-sampah bertebaran di atas pasir pantai, menodai keindahan pantai.  Sampah dedaunan kering, botol minuman keras, mangkuk Styrofoam mie instan, dan berbagai sampah plastik benar-benar membuat mataku membelalak. Belum lagi ditambah dengan kedatangan peternak kerbau yang memandikan puluhan ekor kerbaunya di laut dangkal. Syukurlah, Pantai Cijeruk Indah ini masih menyisakan keindahan berupa laut dangkal dengan pasir yang lembut diiringi sentuhan ombak kecil yang sesekali datang. Anak-anakku asyik menggoda ombak, sambil menyelap di air yang dalamnya hanya setinggi dada mereka. Di kejauhan, air laut terlihat biru dan bening. Indah sekali, tak sepadan bila disandingkan dengan pinggiran pantainya yang penuh sampah dan eceng gondok. 

Di Pantai Sayang Heulang, tempat kami menginap, begitu pula adanya. Kaki harus berhati-hati melangkah, karena pecahan beling dari botol-botol miras ada di mana-mana. Sampah mengumpul di beberapa tempat, entah kapan dibersihkan. Tiket masuknya Rp 20.000 untuk empat orang. Anehnya, kami hanya diberi tiga potongan tiket seharga Rp 3.000. Jadi, sisanya? Suami menganggapnya sebagai biaya mobil, meskipun tak ada tiket untuk mobil. Tidak ada hiburan dari televisi ataupun internet, karena kawasan ini belum disentuh sinyal telekomunikasi.  Para penduduk yang mampu, memasang parabola di depan rumah masing-masing dan membayar televisi berlangganan. Hanya ada dua operator seluler yang beroperasi, itupun hanya untuk layanan telepon dan sms. Tak bisa kubayangkan tinggal lama di sini tanpa internet.

Itulah kenapa aku tak bisa langsung memamerkan keindahan pantai ini di sosial media. Aku harus menunggu sampai kembali masuk ke arah Kota Garut, agar bisa mendapatkan sinyal internet. Kurasa, wisatawan lainnya pun begitu. Mereka harus bersabar dan hanya mengumpulkan foto-foto, sampai kemudian nantiya dibagikan ke seluruh dunia. Tentunya, itu menjadi kekurangan dari tempat ini jika ingin dijadikan obyek wisata nasional. Para wisatawan membutuhkan hiburan tambahan berupa televisi dan internet ketika beristirahat di kamar.

Hm, mari kita belajar bersabar sebagaimana para nelayan Pantai Santolo yang bersabar menjalani pekerjaannya, menjaring ikan di tengah ombak yang ganas demi penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari dan membeli bahan bakar untuk perahu kecil mereka. 

 

21 comments:

  1. Di Garut banyak juga pantai2 yang indah ya Mbak... Makin seru wisata baharinya ya Mba bisa beli2 aneka seafood ya..

    ReplyDelete
  2. cumi2nya murah ya mbak, mauuik, dikrispy enak tuh , nyam nyam *gagal fokus

    ReplyDelete
  3. indah, beberapa kali ke Garut belum pernah ke pantainya

    ReplyDelete
  4. Bisa jadi potensi wisata yg bagus, tapi mungkin pengelolaan sampah itu paling penting diurus, g baik kalau dibiarin terus banyak sampah gitu. Bisa jadi kebiasaan buang sampah sembarangan gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. Minusnya ada di pengelolaan sampah :(

      Delete
  5. Pantainya indah sekali ya. Jadi pingin liburan ke pantai bareng keluarga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuk maak.. Pantai tempat refreshing murah meriah

      Delete
  6. Wah... perjalanan yang menarik Mbak Leyla

    ReplyDelete
  7. Mba Leyla, pemandangan indah dan harga jual ikan serta cumi yang murah ya mba. Di tempatku ya harga ikannya mahal. Makasih sudah berbagi, mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya murah mbak, karena langsung dari nelayannya.

      Delete
  8. Subhanallah pantainya luar biasa. Ikan dan cuminya juga muraaah. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Kekayaan laut Indonesia yg tak boleh disia-siakan mak.

      Delete
  9. Jadi ingat kalo di Karimunjawa, sebanyak-banyaknya dulu mengabadikan;setelah dari sana baru bsai posting *efek kadang nggak ada sinyal :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh di Karimunjawa juga begitu yaa.. Sayang sekali ya.

      Delete
  10. Wah ikan2nya itu. Coba dibikin warung2 bakar ikan disitu ya, pasti tambah asik.

    ReplyDelete
  11. Mari kita jaga lingkungan kita agar tidak lagi banyak sampah yang bertebaran. Bantu kami mewujudkan Indonesia yang hijau. Kunjungi kami di http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete
  12. Mampir ya ..ibu ibu bapak bapak ke tempat kami...ada tempat untuk berteduh ..penginapan karanglaut.com #082129705000#

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...