Tahun 2025 lalu, banyak orang yang merasakan kesulitan ekonomi karena terjadi gelombang PHK massal akibat banyaknya perusahaan yang gulung tikar. Inflasi meroket, harga emas pun naik tinggi. Daya beli masyarakat ikut menurun karena ketiadaan penghasilan. Lapangan kerja sangat sedikit, menambah jumlah pengangguran. Mau membuka usaha sendiri pun sulit, karena tidak ada modal. Meskipun secara data BPS per bulan Maret 2025 terjadi penurunan persentase penduduk dalam kategori miskin, kenyataannya jumlah orang miskin baru justru bertambah.
Sebagai umat muslim, kita diwajibkan membayar zakat dan disunahkan menyumbang dalam bentuk infak dan sedekah. Tujuannya untuk membantu orang-orang yang kondisi ekonominya sangat sulit dan termasuk kategori kaum dhuafa atau fakir miskin. Sebenarnya dalam pasal 34 ayat 1 UUD 45, fakir miskin ditanggung oleh negara. Memang beberapa program pemerintah sudah membantu fakir miskin, seperti Bansos BLT, dana BOS, PBI BPJS Kesehatan, Makanan Bergizi Gratis, dan lain-lain. Akan tetapi, masih banyak rakyat miskin yang belum tersentuh bantuan tersebut.
Ditambah lagi dengan banyaknya bencana alam yang menelan kerugian materi tak terhingga, sehingga ada kemungkinan menimbulkan munculnya rakyat miskin baru. Itulah mengapa kita yang masih diberikan kelapangan rezeki, sebaiknya menunaikan kewajiban berzakat dan menambah pahala dengan infak dan sedekah. Salah satu lembaga zakat dan filantropi yang sudah berdiri sejak tahun 1993 dan dipercaya untuk mengelola zakat, infak, sedekah, dan wakaf adalah Dompet Dhuafa.
Dompet Dhuafa telah terbukti terpercaya mengelola donasi umat, sebab Dompet Dhuafa selalu memberikan laporan transparansi kinerja setiap tahunnya dalam kegiatan Indonesia Humanitarian Summit. Kemairn tanggal 15 Januari 2026, saya menghadiri acara Indonesia Humanitarian Summit 2025 & Philanthropy Report "Empowerment to the Next Level." Dompet Dhuafa juga berkomitmen mengentaskan kemiskinan melalui program-program pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah dan budaya yang dilakukan secara terukur, berdampak, dan berkelanjutan.
Jadi, Dompet Dhuafa itu memberikan donasi tak hanya dalam bentuk "ikan" tapi juga "kail"nya. Donasi yang diberikan dalam bentuk pemberdayaan, sehingga orang yang mendapatkan bantuan itu nantinya bisa menjadi mandiri finansial. Acara Indonesia Humanitarian Summit 2025 ini bekerjasama dengan Nusantara TV dan diselenggarakan di Nusantara TV Ballroom, NT Tower lt.5. Diramaikan oleh pameran program dan produk pemberdayaan Dompet Dhuafa dan pentas seni dan budaya.
Sebelum masuk ke dalam acara, kita bisa mampir ke booth-booth pameran program dan produk pemberdayaan Dompet Dhuafa. Selain bisa membeli produk-produk pemberdayaan, kita juga mendapatkan informasi lebih jelas mengenai program pemberdayaan Dompet Dhuafa, cek kesehatan gratis, dan ikut games berhadiah.
Selanjutnya acara dibuka oleh pentas seni dan budaya oleh anak-anak disabilitas dari SLB di Cibinong. Sambutan oleh Bapak Rahmad Riyadi, Anggota Pembina Dompet Dhuafa menyebutkan makna Empowerment to The Next Level yaitu dari bantuan menjadi kemandirian untuk memastikan masyarakat agar mampu berdiri di atas kaki sendiri, inovasi dan digitalisasi untuk memperkuat akuntabilitas agar amanah donatur dikelola dengan teknologi mutakhir, dan dampak yang terukur dibuktikan dengan laporan yang dirilis menunjukkan dampak manfaat lebih luas. Kepercayaan publik terhadap Dompet Dhuafa tercermin dari berbagai penghargaan yang telah diterima. Melalui 5 pilar utama, Dompet Dhuafa menyediakan akses untuk masyarakat yang sulit mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Selanjutnya ada Keynote Speaker dari Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag selaku Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Tingkat kemiskinan di Indonesia yang cukup tinggi membutuhkan kolaborasi dari semua pihak untuk membantu menguranginya, salah satunya Dompet Dhuafa. Lembaga filantropi Dompet Dhuafa bisa menjadi referensi bagi lembaga filantropi lainnya yang baru bermunculan karena telah serius mendidik kadernya sehingga dapat mengelola dana umat secara amanah. Negara membutuhkan orang-orang dan lembaga yang memiliki concern untuk memajukan masyarakat.
Bapak Anis Matta selaku Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia memberikan pernyataan mengenai pentingnya lembaga filantropi membantu negara dalam mengentaskan kemiskinan dengan membuat orang kaya begitu mudahnya memberikan bantuan dan orang miskin tidak merasa rendah diri saat menerima bantuan.
Bapak Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus Dompet Dhuafa menyampaikan Indonesia Philanthropy Report 2025. Dana yang dihimpun Dompet Dhuafa tahun 2025 sebesar 426.331.894.665 telah disalurkan sebesar 425.994.275.009. Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2024. Penerima manfaat juga mengalami kenaikan terutama di daerah bencana. Para pengusaha UMKM juga mendapatkan manfaat sebesar 6,6 juta per tahun untuk pemberdayaan. Contohnya ada anak buruh pabrik yang berhasil dibina dan kini menjadi dosen.
Dompet Dhuafa juga ikut melakukan pembangunan dan pemberdayaan di Indonesia Timur. Selain itu, Dompet Dhuafa juga memberikan bantuan untuk negara lain seperti Palestina. Relawan-relawan Dompet Dhuafa sebagian besar adalah mahasiswa dengan total 19 ribuan di semua provinsi. The Next Level maksudnya adalah memberi bantuan dari level terbawah yaitu biaya hidup sampai ke pemberdayaan. Sehingga bantuan tidak sekadar dinikmati sekali, tapi juga bisa dinikmati selamanya.
Acara ini juga dipadatkan dengan dua diskusi panel bersama para ahli. Diskusi panel pertama menghadirkan narasumber Agung Pardini (Direktur Institute for Development of Economics and Finance - IDEAS), Yudi Latif (Anggota Dewan Pembina Dompet Dhuafa), Dr. Eko Muliansyah (Ketua Bidang Inovasi dan Literasi Forum Zakat), dan KH. Dr. Wahfiudin Sakkam, MBA (Dewan Pengawas Syariah Dompet Dhuafa Republika).
Diskusi panel kedua menghadirkan narasumber Sally Giovanny (Owner Batik Trusmi) yang menyebutkan pentingnya lembaga filantropi untuk mendukung bisnisnya dan menunjukkan bahwa bisnis bukan sekadar untung tapi manfaat untuk tumbuh bersama. Lalu ada juga Sandiaga Uno (Entrepreneur) yang pasti sudah kita kenal. Bapak Sandi mengatakan bahwa entrepreneurship adalah mindset. Dengan pola pikir itu kita bisa memberi manfaat kepada sesama. Lembaga filantropi harus bisa naik kelas agar bisa memberdayakan masyarakat dhuafa. Penciptaan lapangan kerja harus bisa membuka ekonomi produktif. Kuncinya ada di anak-anak muda.
Semoga kita semua memiliki semangat entrepreneur untuk menuju Indonesia Emas. Lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa sangat dibutuhkan bantuannya untuk ikut melakukan pemberdayaan dan membantu para entrepreneur UMKM agar naik kelas. Dengan begitu, lapangan kerja pun terbuka lebar dan kemiskinan dapat dientaskan.




No comments:
Post a Comment
Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....