Tuesday, January 13, 2026

Menerapkan Pola Pengasuhan Attachment Parenting

Akhir tahun ini banyak orangtua yang dikejutkan dengan gerakan ayah ambil raport anak. Suara sumbang pun terdengar nggak cuma dari ayah yang mengaku sibuk dan nggak sempat ambil raport, tapi juga para ibu yang membesarkan anak tanpa ayah. Tanpa bermaksud mengecilkan suara mereka, saya termasuk ibu yang mendukung gerakan tersebut. Menurut saya, gerakan itu bagian dari pendidikan anak. Tidak cuma ibu yang bertanggungjawab mendidik anak. Ayahnya juga. Kecuali kalau ayahnya sudah meninggal dunia. 

Attachment Parenting



Selama ini kan kita berteriak-teriak anti patriarki. Tapi begitu ada gerakan ayah ambil raport, mengapa banyak yang protes? Justru dengan adanya gerakan itu, ayah ikut dilibatkan dalam proses pendidikan anak. Ayah jadi tahu progress anaknya di sekolah. Alhamdulillah, saya dan suami sudah bekerjasama dalam hal itu sejak anak baru masuk sekolah. Saya dan suami selalu ambil raport anak-anak berdua, kecuali jamnya bentrok. Baru deh dibagi dua. Misalnya, suami ambil raport anak sulung, saya ambil raport anak bungsu. 

Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu, ternyata memang banyak ayah yang nggak mau ambil raport anaknya karena malu. Kalau karena ada jam kerja, bisa dimaklumi. Tapi kalau karena malu? Kenapa malu? Ya karena terbiasa ibunya saja yang mengambil. Sedangkan di sekolah anak saya, saya lihat sudah banyak sih ayah yang ikut mengambil raport. Bukan cuma ambil raport ya. Bahkan di acara-acara sekolah, para ayah juga banyak yang suka ikut. Itu menunjukkan kepedulian para ayah terhadap pendidikan anak-anaknya. 

Ayah ambil raport anak itu menurut saya bagian dari Attachment Parenting. Pola asuh berdasarkan kedekatan. Saya juga baru saja mengenal istilah itu. Jadi, Attachment Parenting itu bertujuan membangun kedekatan dengan anak secara fisik dan emosional sejak anak masih bayi. Saat masih bayi, contohnya dengan menggendong, menyusui, tidur dengan bayi, dan merespon tangisan bayi. Ternyata saya harus bersyukur karena dulu anak-anak saya itu tipenya suka digendong atau disebutnya juga "bau tangan." Memang rasanya melelahkan, tapi rupanya itu salah satu bagian dari Attachment Parenting. Bahkan box bayi yang sudah dibuat oleh suami saya menggunakan kayu jati berkualitas tinggi, pada akhirnya nggak dipakai, karena bayinya terus tidur bersama kami. 

Katanya tujuan dari Attachment Parenting itu bisa membangun rasa aman, percaya diri, kemandirian, bahkan meningkatkan nilai IQ anak.  Yah, semoga saja memang bermanfaat untuk masa depan anak-anak kami. Setidaknya kami memberikan perhatian yang semestinya kepada anak-anak. Sebab, dari beragam kasus anak bermasalah, sebagian besar karena kurangnya kedekatan dengan orangtua. Bahkan ada yang berbulan-bulan memutus hubungan dengan orangtua dan orangtuanya sampai tidak tahu di mana anaknya itu tinggal dan baru tahu kabar anaknya setelah muncul kasus kriminal mengerikan. 

Sungguh miris ya melihat dan membaca kasus-kasus demikian yang insya Allah bisa dicegah dengan hubungan yang baik antara orangtua dan anak-anaknya. Saya dan suami juga bukan orangtua yang sempurna, masih ada saja kesalahan dalam mendidik anak, karena memang menjadi orangtua itu bukan hal yang mudah. Semangat terus untuk para orangtua. Masa depan ada di tangan kita. 

Oya, baca juga pengalaman saya ngopi cantik di The Flag Coffee ya. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...