Nama gue Sekar. Dua puluh sembilan tahun.
Dan gue baru menyadari tiga bulan lalu bahwa seluruh hidup gue, setiap keputusan, setiap jalan yang gue ambil, setiap orang yang gue kenal, mungkin bukan milik gue sepenuhnya.
Mungkin itu sudah diatur jauh sebelum gue lahir.
Oleh perempuan yang bahkan tidak sempat gue kenal.
Tentang Ibu Gue dan Pasar Malam Selodono
Ibu gue meninggal waktu gue berusia empat tahun.
Yang gue tahu tentang dia sebagian besar berasal dari cerita Budhe Warsih, kakak perempuan ibu gue yang membesarkan gue setelah Ibu pergi. Dari foto-foto yang jumlahnya tidak banyak. Dari beberapa benda yang ditinggalkan di lemari kayu tua yang sampai sekarang masih ada di sudut kamar Budhe.
Yang gue tahu: ibu gue bernama Rahayu. Cantik. Pendiam. Bekerja sebagai penjual jamu keliling sebelum akhirnya dia punya lapak tetap di Pasar Malam Selodono, pasar malam tradisional yang buka setiap malam Minggu di alun-alun kecamatan, sekitar dua kilometer dari rumah Budhe.
Ibu gue meninggal di sana.
Di pasar itu.
Ditemukan pagi hari setelah pasar bubar, di sudut lapaknya, duduk dengan posisi yang menurut orang yang menemukannya terlihat seperti sedang tidur. Tapi tidak bangun.
Sebab kematiannya tidak pernah jelas.
Gue empat tahun waktu itu. Gue tidak mengerti. Dan Budhe tidak pernah mau cerita lebih dari yang diperlukan.
"Ibumu pergi dengan tenang," itu saja yang selalu Budhe bilang. "Sudah. Jangan ditanya lagi."
Gue tidak pernah kembali ke Pasar Malam Selodono sejak saat itu.
Sampai tiga bulan lalu.
Surat di Bawah Lantai
Tiga bulan lalu, Budhe Warsih sakit keras.
Gue pulang ke kampung. Gue rawat Budhe selama dua minggu. Di hari ke tiga belas, ketika kondisinya mulai membaik dan dokter bilang sudah tidak perlu rawat inap, Budhe memanggil gue ke kamarnya.
Dia minta gue ambilkan kotak dari bawah lemari kayu tua di sudut kamar.
Kotak kecil dari kayu jati. Terkunci. Budhe kasih anak kuncinya dari bawah bantalnya seperti dia sudah menyiapkannya sejak lama.
"Ini punya ibumu," kata Budhe pelan. "Budhe simpan sejak dia meninggal. Budhe tidak pernah buka. Kuncinya ada karena ibumu titipkan sebelum malam itu."
"Malam apa, Budhe?"
Budhe tidak menjawab langsung. Matanya menerawang ke arah jendela.
"Ibumu pernah bilang ke Budhe, kalau suatu hari kotak ini harus diberikan ke kamu. Waktu kamu sudah cukup umur. Waktu kamu sudah siap."
"Siap untuk apa?"
Budhe menatap gue dengan ekspresi yang gue tidak bisa baca sepenuhnya, antara kasihan, bersalah, dan sesuatu yang lebih dalam dari keduanya.
"Budhe tidak tahu, Nduk. Itu yang Budhe tidak tahu."
Gue bawa kotak itu ke kamar gue malam itu.
Gue buka.
Di dalamnya ada tiga benda.
Pertama, selembar kain jarik kecil yang dilipat rapi, baunya kemenyan dan sesuatu yang lebih tua dari itu.
Kedua, sebuah gelang rambut. Bukan gelang dari bahan elastis atau karet. Gelang yang dianyam dari rambut hitam panjang dipilin dan diikat menjadi lingkaran yang ukurannya pas untuk pergelangan tangan.
Ketiga, sepucuk surat. Tulisan tangan. Tinta yang sudah memudar tapi masih bisa dibaca.
Gue kenal tulisannya dari foto-foto lama.
Tulisan ibu gue.
Isi Surat Ibu
Gue baca surat itu tiga kali sebelum gue bisa mulai mencerna isinya.
Ibu menulis dengan tenang. Tidak ada ketakutan di antara kata-katanya. Tidak ada penyesalan yang berlebihan. Hanya penjelasan panjang, detail, seperti seseorang yang menuliskan instruksi kerja untuk penggantinya.
Ibu menulis bahwa kemampuan ini kemampuan yang dia sebut dengan frasa "merawat Rambut Sewu" sudah ada di keluarga kami selama tiga generasi.
Buyut perempuan gue yang pertama kali membawanya. Dari sebuah desa di lereng Gunung Merapi yang sekarang sudah tidak ada, hilang diterjang lahar pada tahun yang ibu tidak sebutkan dengan pasti. Buyut gue adalah satu-satunya yang selamat dari desa itu. Dan yang dia bawa keluar dari desa itu, selain nyawanya, adalah pengetahuan tentang Ritual Rambut Sewu.
Pengetahuan itu turun ke nenek gue.
Dari nenek gue turun ke ibu gue.
Dan sekarang menurut surat yang ditulis ibu gue sebelum dia meninggal dua puluh lima tahun lalu pengetahuan itu harus turun ke gue.
Ibu menulis :
"Sekar, ini bukan kutukan. Ini bukan hadiah. Ini tanggung jawab. Perempuan pertama di garis kita membuat perjanjian yang tidak bisa diputus oleh satu generasi saja. Perjanjian itu masih berlaku. Dan sesuatu yang menjaga perjanjian itu — dia tahu namamu. Dia sudah tahu sejak kamu lahir."
"Gelang rambut di kotak ini adalah milikmu. Dianyam dari rambut buyutmu, nenekmu, dan rambutku sendiri. Kalau kamu memakainya, kamu akan mulai bisa melihat apa yang selama ini tidak bisa kamu lihat. Kalau kamu tidak memakainya — tidak ada yang bisa gue janjikan."
"Tapi, Sekar, dengarkan ini baik-baik, Ritual Rambut Sewu yang kita warisi bukan untuk menyakiti orang. Kita adalah penjaganya, bukan pelakunya. Perbedaan itu sangat tipis. Jangan sampai kamu melewati garis itu."
Surat berhenti di situ.
Tidak ada penutup. Tidak ada tanda tangan.
Seperti ibu berhenti menulis di tengah kalimat.
Atau seperti ada kalimat terakhir yang dia pilih untuk tidak selesaikan.
Gue Tidak Memakai Gelangnya
Tiga hari gue simpan kotak itu di bawah kasur.
Tiga hari gue tidak bisa tidur nyenyak.
Bukan karena takut. Tapi karena setiap malam, tepat di antara tidur dan bangun di celah kesadaran yang paling tipis itu gue merasa ada sesuatu yang berdiri di sudut kamar.
Tidak bergerak. Tidak bersuara. Hanya ada.
Gue tidak bisa melihatnya dengan jelas. Hanya tahu keberadaannya seperti tahu ada seseorang di ruangan gelap bukan karena melihat tapi karena merasakan perpindahan udara.
Di hari keempat, gue ambil kotak itu dari bawah kasur.
Gue duduk di tepi kasur. Gue pegang gelang rambut itu di tangan.
Anyamannya rapi. Halus. Rambut hitam yang dipilin dengan sangat presisi — tiga helai besar yang masing-masing terdiri dari puluhan helai lebih kecil, dianyam satu sama lain seperti tali yang sangat kuat.
Gue pikir lama.
Lalu gue taruh gelangnya kembali ke kotak.
Gue tutup kotaknya.
Dan gue putuskan untuk pergi ke Pasar Malam Selodono.
Bukan karena ada yang menyuruh. Bukan karena ada instruksi di surat ibu.
Hanya karena gue merasa dengan cara yang tidak bisa gue jelaskan secara rasional bahwa jawaban yang gue butuhkan ada di sana.
Pasar Malam Selodono Kunjungan Pertama
Pasar Malam Selodono masih ada.
Dua puluh lima tahun berlalu dan pasar itu masih buka setiap malam Minggu. Masih di tempat yang sama. Masih dengan lapak-lapak yang sama jenisnya mainan plastik, pakaian murah, makanan gorengan, permainan ketangkasan, dan di sudut-sudut tertentu, penjual jamu dan rempah yang wajah-wajahnya tampak terlalu tua untuk usia tubuh mereka.
Gue datang malam Minggu pertama setelah gue membaca surat ibu.
Gue tidak tahu apa yang gue cari.
Gue berjalan menyusuri lapak-lapak itu. Mengamati. Mencium bau minyak goreng dan asap rokok dan sesuatu yang lebih manis entah dari lapak penjual buah atau dari tempat yang gue tidak bisa identifikasi.
Dan di sudut paling ujung pasar, di tempat yang pencahayaannya lebih remang dari bagian lain, di mana lapak-lapaknya lebih jarang dan pengunjungnya lebih sedikit, gue menemukan sesuatu yang membuat langkah gue berhenti.
Sebuah lapak kecil.
Penjualnya perempuan tua. Duduk di balik meja yang di atasnya ada bermacam-macam benda botol-botol kecil berisi cairan berwarna, kain-kain yang dilipat rapi, sesuatu yang dibungkus daun pisang kering.
Dan di depan lapak itu, digantung seperti dekorasi....
Anyaman rambut.
Persis seperti gelang di kotak ibu gue. Tapi ukurannya lebih besar, panjang seperti kalung, beberapa seperti gelang, beberapa hanya potongan pendek yang diikat jadi satu.
Penjual tua itu mengangkat kepalanya.
Menatap gue.
Dan sebelum gue sempat bilang apapun, dia berkata dalam bahasa Jawa halus :
"Putrine Rahayu. Wis suwe gue ngenteni."
*Putrinya Rahayu. Sudah lama gue menunggu.*
Perempuan Tua di Lapak Ujung
Namanya, atau setidaknya nama yang dia berikan ke gue adalah Mbok Sumi.
Gue duduk di kursi kecil di depan lapaknya. Di sekeliling kami pasar masih ramai, tapi di sudut ini seperti ada lapisan udara yang berbeda. Lebih tenang. Lebih berat.
Mbok Sumi tahu nama ibu gue. Tahu nama budhe gue. Tahu bahwa ibu gue meninggal di pasar ini dua puluh lima tahun lalu dan di lapak mana tepatnya.
Gue tidak tanya bagaimana dia bisa tahu. Gue hanya dengarkan.
Mbok Sumi menjelaskan dengan cara yang berbeda dari surat ibu lebih langsung, lebih tidak menyisakan ruang untuk interpretasi.
Katanya keluarga gue memang penjaga Ritual Rambut Sewu di wilayah ini. Bukan pelaku. Penjaga. Artinya, setiap kali ada orang yang datang dan menjalankan ritual itu tanpa pengetahuan yang benar, ada konsekuensi yang tidak seimbang. Dan tugas penjaga adalah menyeimbangkan kembali.
"Ibu kamu meninggal karena dia menyeimbangkan sesuatu yang terlalu berat," kata Mbok Sumi pelan. "Ada orang yang menjalankan Rambut Sewu dengan niat yang sangat gelap. Sangat besar. Dan ibumu menanggung bebannya sendirian. Tanpa membagi ke kamu. Karena kamu masih terlalu kecil."
Gue diam.
"Sekarang kamu sudah dewasa. Dan ada yang sedang berjalan sekarang di daerah ini, Rambut Sewu yang baru. Yang pelakunya belum kamu kenal tapi sudah kamu rasakan."
Gue teringat keberadaan di sudut kamar yang gue rasakan setiap malam.
"Apa yang harus gue lakukan?" tanya gue.
Mbok Sumi menatap gue lama.
"Pakai gelangnya. Gelang dari ibumu. Setelah itu kamu akan bisa melihat. Dan setelah bisa melihat, kamu baru bisa mulai."
"Mulai apa?"
"Tugas yang belum ibumu selesaikan."
Malam Minggu Kedua Gue Memakai Gelangnya
Gue pulang ke rumah Budhe malam itu. Gue ambil kotak dari bawah kasur. Gue keluarkan gelangnya.
Gue pasang di pergelangan tangan kiri gue.
Rasanya... tidak ada. Tidak ada sensasi panas, tidak ada getaran, tidak ada hal dramatis yang gue harapkan atau takutkan.
Gue tidur dengan gelang itu di tangan.
Dan di pagi harinya, waktu gue buka mata....
Gue lihat sesuatu di sudut kamar yang selama ini hanya gue rasakan keberadaannya.
Bukan bayangan.
Bukan siluet.
Sosok yang sangat jelas.
Perempuan. Tua. Rambutnya putih semua dan panjang sampai lantai. Wajahnya seperti wajah seseorang yang sudah sangat lelah, bukan lelah fisik, tapi lelah dalam arti yang lebih dalam dari itu. Lelah menunggu.
Gue tidak berteriak. Gue tidak bergerak.
Perempuan tua itu menatap gue.
Lalu dia berbicara, bukan dengan suara yang keluar dari mulutnya, tapi dengan cara yang langsung masuk ke kepala gue seperti pikiran yang tiba-tiba muncul tapi bukan pikiran gue sendiri.
Akhirnya.
Hanya itu.
Satu kata.
Dan kemudian dia menghilang.
Spiral: Minggu Pertama Setelah Gelang
Hari pertama setelah memakai gelang, gue mulai bisa melihat hal-hal yang sebelumnya tidak ada.
Bukan penampakan dramatis. Lebih seperti noda. Seperti bekas yang ditinggalkan sesuatu di ruang dan benda dan orang-orang tertentu. Beberapa orang yang gue lewati di jalan punya noda itu di sekitar mereka di bahu, di tangan, di rambut mereka. Warnanya berbeda-beda. Sebagian abu-abu. Sebagian kecoklatan tua. Satu orang yang gue lihat di pasar pagi memiliki noda yang sangat gelap hampir hitam di sekitar kepalanya.
Gue tidak berani mendekati orang itu.
Hari ketiga, gue balik ke Pasar Malam Selodono. Gue cari Mbok Sumi.
Mbok Sumi melihat tangan gue, melihat gelang rambut yang gue pakai, dan ekspresinya berubah menjadi sesuatu antara lega dan waspada.
Gue ceritakan apa yang gue lihat. Tentang noda-noda itu.
Mbok Sumi mengangguk. Dia bilang itu normal. Itu adalah cara gue mulai membaca.
"Yang noda hitam pekat itu," kata Mbok Sumi, "itu yang harus kamu perhatikan. Itu tanda bahwa seseorang sudah sangat dalam terlibat dengan Rambut Sewu. Entah sebagai pelaku. Entah sebagai target. Entah sebagai... sesuatu yang lain."
"Sesuatu yang lain artinya apa?"
Mbok Sumi tidak langsung menjawab.
"Datang lagi minggu depan," katanya akhirnya. "Kamu perlu belajar dulu sebelum Mbok bisa jawab pertanyaan itu."
Spiral: Minggu Kedua
Minggu kedua gue belajar sesuatu yang Mbok Sumi sebut sebagai "membaca rambut."
Bukan membaca dalam arti melihat rambut dan langsung tahu informasi. Lebih seperti merasakan. Kalau ada rambut yang sudah digunakan dalam ritual sudah dibakar, sudah dijadikan media dan ada sisanya yang masih tertinggal di suatu tempat, gue bisa merasakannya kalau cukup dekat.
Panas yang sangat spesifik di telapak tangan kiri.
Minggu itu gue merasakannya dua kali.
Pertama di rumah tetangga Budhe yang baru pindah sebulan lalu panas di telapak tangan gue waktu gue lewat depan rumahnya sangat kuat sampai gue harus berhenti berjalan.
Kedua, dan ini yang lebih mengkhawatirkan, di lapak salah satu penjual di Pasar Malam Selodono sendiri.
Lapak penjual aksesori rambut. Karet rambut, jepit, bando.
Panas di tangan gue saat melewati lapak itu terasa berbeda dari yang pertama. Lebih baru. Lebih aktif.
Seperti sesuatu yang masih berjalan.
Gue ceritakan ke Mbok Sumi.
Wajahnya berubah.
"Lapak aksesori rambut itu baru ada dua bulan ini," kata Mbok Sumi pelan. "Gue sudah curiga dari pertama."
Spiral: Minggu Ketiga
Gue mulai datang ke pasar bukan hanya malam Minggu.
Gue datang hampir setiap malam. Duduk di lapak Mbok Sumi. Belajar. Mengamati.
Dan makin lama gue mengamati, makin banyak yang gue lihat.
Penjual aksesori rambut itu perempuan. Usianya mungkin empat puluhan. Wajahnya biasa. Rambutnya, ironisnya, pendek. Selalu pakai topi.
Tapi di sekitar pergelangan tangannya ada noda yang gue kenal sekarang, noda coklat tua yang artinya dia sudah lama bersentuhan dengan Ritual Rambut Sewu. Bukan bulan. Mungkin bertahun-tahun.
Gue mulai perhatikan siapa yang membeli dari lapaknya.
Banyak orang. Berbagai usia. Sebagian besar perempuan.
Tapi beberapa pembeli, setelah membeli, setelah pergi, meninggalkan noda baru di sekitar kepala mereka. Seperti sesuatu dari lapak itu menempel ke mereka.
Gue ceritakan ke Mbok Sumi.
"Dia menjual lebih dari aksesori," kata Mbok Sumi dengan nada yang gue tidak suka. "Dia menggunakan lapaknya sebagai cara mengumpulkan."
"Mengumpulkan apa?"
"Rambut. Dari pembeli-pembelinya. Karet rambut yang dia jual — sebagian dipakai dulu oleh orang lain sebelum dia jual. Rambut yang tertinggal di karet itu dia simpan."
Gue diam mencerna.
"Dia sedang mengumpulkan seribu helai," kata Mbok Sumi. "Dan dia hampir selesai."
Spiral: Minggu Keempat
Gue tidak tidur dengan baik selama seminggu.
Bukan karena takut, atau mungkin iya, tapi gue tidak mau mengakuinya dengan kata itu.
Gue takut bukan pada perempuan penjual aksesori itu. Gue takut pada sesuatu yang lebih fundamental, gue takut pada kenyataan bahwa gue sudah terlalu dalam masuk ke dalam semua ini dan gue tidak tahu lagi di mana garis yang memisahkan pilihan gue sendiri dan warisan yang tidak pernah gue minta.
Gue tanya ke Mbok Sumi di minggu keempat, pertanyaan yang sudah lama gue tahan.
"Mbok, kalau gue lepas gelang ini dan gue pergi dari sini, kembali ke Jakarta, kembali ke hidup gue yang biasa, apa yang akan terjadi?"
Mbok Sumi tidak menjawab langsung.
Dia menatap tangan gue. Tepatnya gelang di pergelangan tangan kiri gue.
"Coba lepas," katanya akhirnya.
Gue pegang gelang itu. Gue coba tarik.
Tidak bergerak.
Gue tarik lebih keras.
Tetap tidak bergerak.
Bukan karena ukurannya terlalu kecil. Bukan karena tersangkut. Gelang itu bergerak bebas di pergelangan tangan gue longgar bahkan tapi tidak bisa dilepas. Seperti ada yang menahan dari dalam kulit gue.
Gue tatap Mbok Sumi.
Perempuan tua itu mengangguk pelan. Ekspresinya tidak berubah.
"Itu jawaban dari pertanyaanmu," katanya.
Spiral: Malam Kelima Minggu Keempat
Gue pergi ke pasar sendirian malam itu. Bukan untuk ketemu Mbok Sumi. Bukan untuk belajar.
Gue pergi untuk lihat lapak aksesori rambut itu dari dekat.
Dari jauh gue sudah bisa rasakan panasnya. Di tangan kiri. Sangat kuat. Seperti menaruh tangan di dekat kompor yang tidak kelihatan apinya.
Gue berjalan mendekati.
Penjualnya sedang melayani pembeli. Tidak melihat ke arah gue.
Gue berhenti tiga lapak sebelum lapaknya. Pura-pura melihat dagangan lapak lain.
Dan dari jarak itu, dengan kemampuan yang selama sebulan ini gue pelajari....
Gue lihat sesuatu yang sebelumnya tidak gue perhatikan.
Di bawah meja lapaknya, tersembunyi di balik kain penutup yang menjuntai sampai tanah, ada sesuatu yang berpendar dengan warna yang gue tidak bisa deskripsikan dengan tepat. Bukan cahaya. Bukan api.
Tapi ada.
Dan di sekeliling lapaknya, menjalar keluar seperti benang tak terlihat, ada jalur-jalur tipis yang mengarah ke berbagai arah. Ke berbagai orang di pasar. Ke lapak-lapak lain. Bahkan, dan ini yang membuat perut gue keram, ke arah rumah-rumah di luar pasar.
Benang-benang tak terlihat itu berakhir di kepala orang-orang.
Di rambut mereka.
Gue mundur.
Gue hampir menabrak seseorang.
Gue minta maaf tanpa melihat siapa yang gue tabrak dan gue berjalan cepat ke lapak Mbok Sumi.
Mbok Sumi sudah melihat ke arah gue dari kejauhan. Wajahnya membaca gue bahkan sebelum gue tiba.
"Kamu lihat benang-benangnya," katanya. Bukan pertanyaan.
"Iya."
"Berapa banyak?"
Gue pikir sebentar.
"Banyak, Mbok. Sangat banyak."
Mbok Sumi menarik napas panjang.
"Dia hampir selesai, Sekar. Mungkin tinggal beberapa hari."
"Kalau dia selesai, apa yang akan terjadi?"
Mbok Sumi menatap gue langsung.
"Inilah yang ibumu tidak sempat ceritakan di surat itu."
Yang Tidak Diceritakan Ibu di Surat
Mbok Sumi cerita panjang malam itu.
Lebih panjang dari semua sesi belajar sebelumnya.
Intinya, ketika seseorang menyelesaikan Ritual Rambut Sewu dan ritualnya berhasil, ada semacam "gelombang" yang dilepaskan. Gelombang itu tidak terlihat, tidak terasa oleh orang biasa. Tapi gelombang itu membawa serta sebagian dari setiap orang yang rambutnya digunakan dalam ritual.
Sebagian kecil. Hampir tidak terasa.
Tapi cukup untuk membuat perubahan yang permanen.
Dan tugas penjaga, tugas yang diwarisi dari generasi ke generasi di keluarga gue adalah memotong gelombang itu sebelum menyebar. Menyerap dampaknya sebelum mengenai orang-orang yang rambutnya dipakai tanpa izin.
"Itulah yang ibu kamu lakukan dua puluh lima tahun lalu," kata Mbok Sumi pelan. "Seseorang menyelesaikan ritual yang sangat besar di pasar ini. Dan ibumu menyerap gelombangnya sendirian. Seorang diri. Tanpa warisan, tanpa bantuan, tanpa persiapan yang cukup."
"Dan itu membunuhnya."
Bukan pertanyaan. Gue sudah tahu jawabannya.
Mbok Sumi mengangguk.
"Gelang yang kamu pakai," lanjut Mbok Sumi, "dibuat bukan hanya dari rambut ibumu dan nenekmu dan buyutmu. Dibuat dari apa yang tersisa dari mereka setelah masing-masing menjalankan tugasnya. Setiap perempuan di garis keluargamu meninggalkan sebagian dirinya di gelang itu."
Gue lihat gelang di tangan gue dengan cara yang berbeda.
"Dan sekarang giliran kamu menambahkan bagian darimu ke gelang itu," kata Mbok Sumi. Tapi nada suaranya tidak membuat kalimat itu terdengar mengerikan. Terdengar lebih seperti... pernyataan fakta yang sudah lama menjadi kenyataan.
Gue diam lama.
"Mbok," kata gue akhirnya. "Perempuan di lapak aksesori itu, dia akan menyelesaikan ritualnya kapan?"
"Malam Jumat Kliwon," kata Mbok Sumi. "Tiga hari lagi."
Tiga Hari Terakhir
Gue tidak tidur nyenyak selama tiga hari itu.
Bukan karena sesuatu mengganggu gue dari luar. Tapi karena sesuatu bergolak dari dalam, pertarungan antara bagian gue yang masih ingin lari dan bagian gue yang semakin hari semakin menerima bahwa lari bukan pilihan yang tersedia.
Gue habiskan tiga hari itu dengan Mbok Sumi.
Belajar cara memotong benang. Belajar cara menyerap gelombang tanpa membiarkannya menghancurkan gue seperti yang terjadi pada ibu. Belajar cara mendistribusikannya, ke tanah, ke air, ke udara, bukan menahannya di dalam tubuh sendiri.
"Ibumu tidak tahu cara mendistribusikan," kata Mbok Sumi. "Tidak ada yang mengajarinya. Dia menanggung seorang diri."
"Siapa yang mengajari Mbok?"
Mbok Sumi tersenyum kecil.
"Ibumu. Setelah dia meninggal."
Gue tidak tanya lebih lanjut soal itu.
Malam Jumat Kliwon
Gue datang ke Pasar Malam Selodono dua jam sebelum pasar tutup.
Mbok Sumi ada di lapaknya. Menatap gue waktu gue datang dengan ekspresi yang sudah gue kenal sekarang, bukan semangat, bukan ketakutan. Hanya kesadaran penuh dari seseorang yang sudah sangat lama hidup dengan kenyataan-kenyataan yang tidak bisa dipilih.
"Kamu sudah siap?" tanya Mbok Sumi.
"Tidak," kata gue jujur. "Tapi gue tetap akan melakukannya."
Mbok Sumi mengangguk.
"Itu jawaban yang paling benar yang bisa seseorang berikan."
Gue berjalan ke lapak aksesori rambut.
Dari jauh sudah gue rasakan panasnya. Lebih kuat dari sebelumnya. Tangan kiri gue terasa seperti menyentuh bara, tapi tidak sakit. Lebih seperti... sinyal. Peringatan. Atau panduan.
Benang-benang tak terlihat itu sekarang lebih banyak dan lebih terang dalam persepsi gue. Menjalar ke segala arah. Bergetar. Seperti sesuatu yang sedang menunggu momen untuk dilepaskan.
Gue berdiri tepat di depan lapaknya.
Penjualnya menatap gue.
Gue menatap dia kembali.
Dan untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya sejak sebulan ini gue belajar membaca, gue bisa melihat dengan sangat jelas apa yang ada di balik wajahnya.
Bukan kejahatan.
Bukan kegilaan.
Hanya kesedihan yang sangat dalam. Kebutuhan yang sudah begitu lama tidak terpenuhi sampai mengambil bentuk yang tidak lagi bisa dikenali sebagai kesedihan biasa.
Seperti melihat cermin.
Gue tarik napas dalam.
Gue letakkan tangan kiri gue, tangan dengan gelang rambut itu di atas meja lapaknya.
Dan gue rasakan gelombang itu.
Sesudah Malam Itu
Gue tidak akan mendeskripsikan apa yang gue rasakan saat gelombang itu mengalir melalui gue.
Bukan karena terlalu mengerikan. Tapi karena bahasa tidak punya kata yang cukup tepat untuk sesuatu yang bergerak bukan di tubuh tapi di tempat yang lebih dalam dari tubuh.
Yang gue tahu adalah gue berhasil mendistribusikannya.
Ke tanah di bawah pasar. Ke udara. Ke air yang mengalir di selokan kecil di tepi pasar yang menuju ke sungai yang menuju ke laut.
Orang-orang di pasar tidak merasakan apa-apa.
Penjual aksesori rambut itu terlihat bingung sebentar, seperti seseorang yang baru tersadar dari tidur dan tidak ingat di mana dia berada. Lalu dia duduk. Lalu dia menangis pelan.
Gue tidak memeluknya. Gue tidak menyentuhnya.
Gue hanya berdiri sampai tangisannya berhenti.
Lalu gue pergi.
Epilog
Gue masih di kampung.
Gue sudah bilang ke kantor bahwa gue butuh cuti panjang. Mereka tidak terlalu senang tapi gue tidak punya pilihan yang lebih mudah untuk dijelaskan.
Gelang di tangan kiri gue masih ada.
Gue sudah berhenti mencoba melepasnya.
Mbok Sumi masih ada di lapak ujung pasar setiap malam Minggu. Kadang kami hanya duduk dan tidak bicara. Itu sudah cukup.
Budhe Warsih semakin sehat. Dia tidak pernah tanya soal kotak atau gelang atau surat ibu. Mungkin dia sudah tahu bahwa ada hal-hal yang lebih baik tidak dibicarakan secara langsung.
Dan setiap malam sebelum tidur, gue lihat gelang ini dalam cahaya lampu kamar, tiga anyaman rambut dari tiga perempuan yang belum pernah gue kenal tapi yang darahnya mengalir di tubuh gue dan gue pikir tentang apa yang ibu tulis di surat.
Ini bukan kutukan. Ini bukan hadiah. Ini tanggung jawab.
Gue masih belum tahu apakah gue setuju dengan framing itu.
Tapi gue tahu satu hal yang sekarang gue yakini sepenuhnya, sesuatu yang tidak ada di surat ibu, tidak ada di semua yang Mbok Sumi ajarkan, tapi datang dari dalam diri gue sendiri setelah semua yang gue lewati :
Ritual Rambut Sewu tidak dimulai dari rambut yang dikumpulkan.
Tidak dimulai dari malam di sawah atau di pasar atau di manapun.
Ritual Rambut Sewu dimulai dari saat seseorang memutuskan bahwa kehilangan yang mereka rasakan terlalu besar untuk ditanggung sendirian.
Dan selama ada manusia yang bisa merasakan kehilangan sebesar itu....
Ritual ini tidak akan pernah benar-benar selesai.
Dan penjaganya...
Tidak akan pernah benar-benar bisa pergi.
Sekar masih tinggal di kampung budhenya.
Gelang di pergelangan tangan kirinya bertambah satu anyaman baru....
Dari rambutnya sendiri.
Dianyam sendiri.
Tanpa ada yang memintanya.
Tanpa dia menyadari kapan mulai melakukannya.

No comments:
Post a Comment
Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....