Wednesday, August 26, 2026

Menjawab Rasa Penasaran Tentang Ada Apa di Shanghai Lewat Panduan Wisata Ini


Panduan Wisata Shanghai
Ada Apa di Shanghai?

Kalau kamu mendengar nama Shanghai, yang mungkin langsung terbayang adalah gedung-gedung tinggi yang memenuhi langit kota. Namun, Shanghai nggak hanya tentang kawasan modernnya. Di antara gedung pencakar langit itu, masih ada jalanan teduh, bangunan bersejarah, dan taman klasik yang menyimpan cerita panjang.

Mungkin itu juga yang membuat banyak orang penasaran, sebenarnya ada apa di Shanghai?

Jawabannya cukup banyak. Ada kawasan modern dengan gedung-gedung ikonik, tetapi ada juga tempat-tempat yang membawa kamu melihat sisi lain kota ini. Mulai dari bangunan bergaya kolonial, kawasan tua dengan jalanan yang lebih tenang, sampai taman klasik yang sudah bertahan selama ratusan tahun.

Biar nggak bingung harus mulai dari mana, yuk kenalan dulu dengan beberapa tempat di Shanghai yang bisa masuk dalam daftar perjalananmu nanti.

8 Tempat di Shanghai yang Layak Masuk Itinerary

Begitu menjelajahi Shanghai, kamu bakal sadar setiap kawasan punya cerita yang berbeda. Dalam satu perjalanan, kamu bisa melihat deretan gedung pencakar langit di Pudong, lalu beberapa saat kemudian berjalan di Puxi yang dipenuhi bangunan art deco, jalanan teduh, dan jejak sejarah yang masih terasa.

Mungkin itu juga yang membuat banyak orang ingin kembali lagi ke Shanghai. Selalu ada tempat baru yang bisa ditemukan, bahkan ketika mengunjungi kota yang sama untuk kedua kalinya.

Nah, kalau masih bingung mau mulai dari mana, beberapa tempat berikut bisa jadi titik awal yang pas.

1. Menikmati Sore di The Bund

The Bund

Kalau ada satu waktu yang paling pas datang ke The Bund, jawabannya adalah menjelang sore. Langit mulai berubah warna, lampu-lampu gedung lama perlahan menyala, sementara siluet kawasan Pudong terlihat jelas di seberang Sungai Huangpu.

Deretan bangunan bergaya Eropa yang berjajar di kawasan ini dulunya merupakan pusat perdagangan dan perbankan internasional. Sampai sekarang, arsitekturnya masih dipertahankan sehingga The Bund tetap menjadi salah satu ikon Shanghai yang paling mudah dikenali.

Nggak sedang buru-buru? Cari saja tempat duduk di salah satu rooftop restaurant. Melihat gedung-gedung mulai menyala sambil menikmati pemandangan sungai sering kali menjadi salah satu momen kecil yang paling membekas sebelum melanjutkan perjalanan.

2. Melihat Pemandangan Shanghai dari Kawasan Lujiazui

Kawasan Lujiazui

Dari The Bund, cukup menyeberang Sungai Huangpu dan kamu akan melihat sisi Shanghai yang benar-benar berbeda. Deretan gedung tinggi memenuhi langit, mulai dari Shanghai Tower sampai Oriental Pearl Tower yang bentuknya sudah menjadi ikon kota.

Shanghai Tower menjadi gedung tertinggi di Tiongkok dengan dek observasi di lantai 118. Menariknya, lift menuju puncak hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit. Jadi, kamu nggak perlu menunggu lama untuk melihat Shanghai dari ketinggian.

Kalau masih ingin menikmati panorama dari sudut lain, mampirlah ke Oriental Pearl Tower. Koridor kaca transparannya masih menjadi salah satu spot yang sering membuat pengunjung berhenti lebih lama untuk menikmati pemandangan kota.

3. Nongkrong Santai di Xintiandi

Xintiandi termasuk kawasan yang membuat langkahmu otomatis melambat. Baru berjalan beberapa meter, eh tahu-tahu sudah berhenti lagi karena melihat cafe atau butik yang menarik perhatian.

Rumah-rumah bergaya shikumen yang dulunya menjadi kawasan permukiman kini dihidupkan kembali sebagai restoran, galeri seni, dan toko-toko menarik. Bentuk bangunannya tetap dipertahankan sehingga suasana Shanghai lama masih terasa di sepanjang jalan.

Menjelang malam, kawasan ini semakin ramai. Ada yang datang untuk makan malam, menikmati kopi, atau sekadar duduk santai sambil melihat aktivitas kota berlalu.

4. Menyusuri French Concession

(Source by: https://silverkris.singaporeair.com/)


Nggak semua tempat di Shanghai harus dijelajahi dengan itinerary yang padat. French Concession justru paling enak dinikmati tanpa terburu-buru.

Deretan pohon rindang membuat kawasan ini terasa lebih teduh dibanding pusat kota. Vila-vila bergaya Eropa berdiri berdampingan dengan kedai kopi, toko kecil, dan galeri seni yang tersebar di berbagai sudut.

Coba saja ikuti langkahmu menuju Wukang Road. Mampir sebentar ke Wukang Mansion, lalu cari bistro kecil untuk menikmati kopi atau makan siang ringan. Awalnya mungkin cuma ingin berhenti sebentar, eh tahu-tahu waktumu habis karena terlalu nyaman menjelajahi kawasan ini.

5. Rehat Sejenak di Yu Garden

Yu Garden

Begitu melewati gerbang Yu Garden, keramaian kota seperti tertinggal di belakang. Di dalamnya, kamu akan menemukan kolam koi, paviliun kayu, bebatuan, dan jembatan berkelok yang sudah menemani taman ini selama ratusan tahun.

Yu Garden sendiri dibangun pada masa Dinasti Ming dan kini menjadi salah satu taman klasik paling terkenal di Shanghai. Meski area pasar tradisional di luar taman tetap ramai dipenuhi pengunjung, bagian dalamnya terasa jauh lebih tenang.

Kadang nggak perlu buru-buru berkeliling. Duduk sebentar sambil melihat ikan koi berenang juga sudah cukup untuk menikmati suasananya.

6. Menyempatkan Mampir ke West Bund

Kalau suka mampir ke museum atau galeri seni setiap liburan, jangan lewatkan West Bund.

Kawasan di tepi sungai ini dulunya dipenuhi gudang dan kawasan industri. Kini tempat tersebut berubah menjadi distrik seni yang diisi museum, ruang pamer, dan berbagai instalasi kontemporer. Long Museum maupun West Bund Museum sama-sama menjadi tujuan favorit untuk melihat karya seniman lokal maupun internasional.

Setelah selesai berkeliling, duduk sebentar di kafe pinggir sungai juga nggak kalah menyenangkan. Kadang justru instalasi seni di ruang terbuka lebih dulu menarik perhatian dibanding koleksi di dalam museum.

7. Menyusuri Kanal di Zhujiajiao

Begitu perahu kayunya mulai bergerak, hiruk-pikuk Shanghai rasanya ikut tertinggal.

Rumah-rumah tradisional peninggalan Dinasti Ming dan Qing berdiri di sepanjang kanal, sementara jembatan batu menghubungkan setiap sisi desa. Air yang mengalir pelan membuat kawasan ini terasa jauh berbeda dibanding pusat kota.

Nggak banyak yang perlu dilakukan di sini. Duduk saja menikmati perjalanan sampai perahunya kembali bersandar sambil melihat aktivitas warga di sekitar kanal.

8. Belanja dan Kulineran di Nanjing Road

Begitu matahari mulai turun, Nanjing Road semakin ramai. Lampu-lampu toko mulai menyala, orang berlalu-lalang tanpa henti, dan suasananya berubah menjadi jauh lebih hidup.

Jalan sepanjang lebih dari lima kilometer ini dipenuhi pusat perbelanjaan, butik, sampai restoran yang silih berganti menarik perhatian. Area timurnya dikhususkan untuk pejalan kaki, sedangkan bagian barat dipenuhi mal dan toko-toko premium.

Sebelum pulang, sempatkan mampir ke salah satu restoran legendaris untuk menikmati semangkuk xiaolongbao hangat. Kadang, penutup hari yang paling sederhana justru datang dari makanan yang enak setelah seharian berjalan kaki.

Saatnya Menjelajahi Shanghai dengan Caramu Sendiri  

Setelah melihat berbagai sudut Shanghai, rasanya kota ini memang lebih seru dinikmati pelan-pelan. Hari ini mungkin kamu menghabiskan waktu melihat gedung-gedung tinggi di Lujiazui, lalu keesokan harinya berjalan santai di French Concession atau menikmati lampu kota dari The Bund. Setiap kawasan punya cerita yang berbeda.

Ada sisi Shanghai yang terlihat modern lewat gedung-gedung tingginya, tetapi ada juga kawasan lama yang tetap mempertahankan suasana khas kota ini. Perpaduan inilah yang membuat perjalanan ke Shanghai terasa lebih menarik karena kamu bisa menemukan banyak pengalaman berbeda dalam satu kota.

Sebelum berangkat, pastikan perjalanan menuju Shanghai juga sudah dipersiapkan dengan baik. Pilih tiket ke Shanghai yang sesuai dengan kebutuhanmu, mulai dari jadwal penerbangan, kenyamanan selama perjalanan, hingga kapasitas bagasi untuk membawa pulang oleh-oleh favorit. Dengan persiapan yang matang, kamu bisa tiba dengan kondisi lebih siap dan langsung menikmati perjalanan sejak hari pertama.

 


No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...