| Ada Apa di Shanghai? |
Kalau kamu mendengar nama Shanghai, yang mungkin langsung terbayang adalah gedung-gedung tinggi yang memenuhi langit kota. Namun, Shanghai nggak hanya tentang kawasan modernnya. Di antara gedung pencakar langit itu, masih ada jalanan teduh, bangunan bersejarah, dan taman klasik yang menyimpan cerita panjang.
Mungkin itu juga yang membuat banyak orang penasaran,
sebenarnya ada apa di Shanghai?
Jawabannya cukup banyak. Ada kawasan modern dengan
gedung-gedung ikonik, tetapi ada juga tempat-tempat yang membawa kamu melihat
sisi lain kota ini. Mulai dari bangunan bergaya kolonial, kawasan tua dengan
jalanan yang lebih tenang, sampai taman klasik yang sudah bertahan selama
ratusan tahun.
Biar nggak bingung harus mulai dari mana, yuk kenalan dulu
dengan beberapa tempat di Shanghai yang bisa masuk dalam daftar perjalananmu
nanti.
8 Tempat di Shanghai yang Layak Masuk Itinerary
Begitu menjelajahi Shanghai, kamu bakal sadar setiap kawasan
punya cerita yang berbeda. Dalam satu perjalanan, kamu bisa melihat deretan
gedung pencakar langit di Pudong, lalu beberapa saat kemudian berjalan di Puxi
yang dipenuhi bangunan art deco, jalanan teduh, dan jejak sejarah yang masih
terasa.
Mungkin itu juga yang membuat banyak orang ingin kembali
lagi ke Shanghai. Selalu ada tempat baru yang bisa ditemukan, bahkan ketika
mengunjungi kota yang sama untuk kedua kalinya.
Nah, kalau masih bingung mau mulai dari mana, beberapa
tempat berikut bisa jadi titik awal yang pas.
1. Menikmati Sore di The Bund
| The Bund |
Kalau ada satu waktu yang paling pas datang ke The Bund,
jawabannya adalah menjelang sore. Langit mulai berubah warna, lampu-lampu
gedung lama perlahan menyala, sementara siluet kawasan Pudong terlihat jelas di
seberang Sungai Huangpu.
Deretan bangunan bergaya Eropa yang berjajar di kawasan ini
dulunya merupakan pusat perdagangan dan perbankan internasional. Sampai
sekarang, arsitekturnya masih dipertahankan sehingga The Bund tetap menjadi
salah satu ikon Shanghai yang paling mudah dikenali.
Nggak sedang buru-buru? Cari saja tempat duduk di salah satu
rooftop restaurant. Melihat gedung-gedung mulai menyala sambil menikmati
pemandangan sungai sering kali menjadi salah satu momen kecil yang paling
membekas sebelum melanjutkan perjalanan.
2. Melihat Pemandangan Shanghai dari Kawasan Lujiazui
| Kawasan Lujiazui |
Dari The Bund, cukup menyeberang Sungai Huangpu dan kamu
akan melihat sisi Shanghai yang benar-benar berbeda. Deretan gedung tinggi
memenuhi langit, mulai dari Shanghai Tower sampai Oriental Pearl Tower yang
bentuknya sudah menjadi ikon kota.
Shanghai Tower menjadi gedung tertinggi di Tiongkok dengan
dek observasi di lantai 118. Menariknya, lift menuju puncak hanya membutuhkan
waktu sekitar satu menit. Jadi, kamu nggak perlu menunggu lama untuk melihat
Shanghai dari ketinggian.
Kalau masih ingin menikmati panorama dari sudut lain,
mampirlah ke Oriental Pearl Tower. Koridor kaca transparannya masih menjadi
salah satu spot yang sering membuat pengunjung berhenti lebih lama untuk
menikmati pemandangan kota.
3. Nongkrong Santai di Xintiandi
Xintiandi termasuk kawasan yang membuat langkahmu otomatis
melambat. Baru berjalan beberapa meter, eh tahu-tahu sudah berhenti lagi karena
melihat cafe atau butik yang menarik perhatian.
Rumah-rumah bergaya shikumen yang dulunya menjadi kawasan
permukiman kini dihidupkan kembali sebagai restoran, galeri seni, dan toko-toko
menarik. Bentuk bangunannya tetap dipertahankan sehingga suasana Shanghai lama
masih terasa di sepanjang jalan.
Menjelang malam, kawasan ini semakin ramai. Ada yang datang
untuk makan malam, menikmati kopi, atau sekadar duduk santai sambil melihat
aktivitas kota berlalu.
4. Menyusuri French Concession
| (Source by: https://silverkris.singaporeair.com/) |
Nggak semua tempat di Shanghai harus dijelajahi dengan
itinerary yang padat. French Concession justru paling enak dinikmati tanpa
terburu-buru.
Deretan pohon rindang membuat kawasan ini terasa lebih teduh
dibanding pusat kota. Vila-vila bergaya Eropa berdiri berdampingan dengan kedai
kopi, toko kecil, dan galeri seni yang tersebar di berbagai sudut.
Coba saja ikuti langkahmu menuju Wukang Road. Mampir
sebentar ke Wukang Mansion, lalu cari bistro kecil untuk menikmati kopi atau
makan siang ringan. Awalnya mungkin cuma ingin berhenti sebentar, eh tahu-tahu
waktumu habis karena terlalu nyaman menjelajahi kawasan ini.
5. Rehat Sejenak di Yu Garden
| Yu Garden |
Begitu melewati gerbang Yu Garden, keramaian kota seperti
tertinggal di belakang. Di dalamnya, kamu akan menemukan kolam koi, paviliun
kayu, bebatuan, dan jembatan berkelok yang sudah menemani taman ini selama
ratusan tahun.
Yu Garden sendiri dibangun pada masa Dinasti Ming dan kini
menjadi salah satu taman klasik paling terkenal di Shanghai. Meski area pasar
tradisional di luar taman tetap ramai dipenuhi pengunjung, bagian dalamnya
terasa jauh lebih tenang.
Kadang nggak perlu buru-buru berkeliling. Duduk sebentar
sambil melihat ikan koi berenang juga sudah cukup untuk menikmati suasananya.
6. Menyempatkan Mampir ke West Bund
Kalau suka mampir ke museum atau galeri seni setiap liburan,
jangan lewatkan West Bund.
Kawasan di tepi sungai ini dulunya dipenuhi gudang dan
kawasan industri. Kini tempat tersebut berubah menjadi distrik seni yang diisi
museum, ruang pamer, dan berbagai instalasi kontemporer. Long Museum maupun
West Bund Museum sama-sama menjadi tujuan favorit untuk melihat karya seniman
lokal maupun internasional.
Setelah selesai berkeliling, duduk sebentar di kafe pinggir
sungai juga nggak kalah menyenangkan. Kadang justru instalasi seni di ruang
terbuka lebih dulu menarik perhatian dibanding koleksi di dalam museum.
7. Menyusuri Kanal di Zhujiajiao
Begitu perahu kayunya mulai bergerak, hiruk-pikuk Shanghai
rasanya ikut tertinggal.
Rumah-rumah tradisional peninggalan Dinasti Ming dan Qing
berdiri di sepanjang kanal, sementara jembatan batu menghubungkan setiap sisi
desa. Air yang mengalir pelan membuat kawasan ini terasa jauh berbeda dibanding
pusat kota.
Nggak banyak yang perlu dilakukan di sini. Duduk saja
menikmati perjalanan sampai perahunya kembali bersandar sambil melihat
aktivitas warga di sekitar kanal.
8. Belanja dan Kulineran di Nanjing Road
Begitu matahari mulai turun, Nanjing Road semakin ramai.
Lampu-lampu toko mulai menyala, orang berlalu-lalang tanpa henti, dan
suasananya berubah menjadi jauh lebih hidup.
Jalan sepanjang lebih dari lima kilometer ini dipenuhi pusat
perbelanjaan, butik, sampai restoran yang silih berganti menarik perhatian.
Area timurnya dikhususkan untuk pejalan kaki, sedangkan bagian barat dipenuhi
mal dan toko-toko premium.
Sebelum pulang, sempatkan mampir ke salah satu restoran
legendaris untuk menikmati semangkuk xiaolongbao hangat. Kadang, penutup hari
yang paling sederhana justru datang dari makanan yang enak setelah seharian
berjalan kaki.
Saatnya Menjelajahi Shanghai dengan Caramu Sendiri
Setelah melihat berbagai sudut Shanghai, rasanya kota ini
memang lebih seru dinikmati pelan-pelan. Hari ini mungkin kamu menghabiskan
waktu melihat gedung-gedung tinggi di Lujiazui, lalu keesokan harinya berjalan
santai di French Concession atau menikmati lampu kota dari The Bund. Setiap
kawasan punya cerita yang berbeda.
Ada sisi Shanghai yang terlihat modern lewat gedung-gedung
tingginya, tetapi ada juga kawasan lama yang tetap mempertahankan suasana khas
kota ini. Perpaduan inilah yang membuat perjalanan ke Shanghai terasa lebih
menarik karena kamu bisa menemukan banyak pengalaman berbeda dalam satu kota.
Sebelum berangkat, pastikan perjalanan menuju Shanghai juga
sudah dipersiapkan dengan baik. Pilih tiket ke Shanghai yang sesuai dengan kebutuhanmu, mulai dari jadwal penerbangan,
kenyamanan selama perjalanan, hingga kapasitas bagasi untuk membawa pulang
oleh-oleh favorit. Dengan persiapan yang matang, kamu bisa tiba dengan kondisi
lebih siap dan langsung menikmati perjalanan sejak hari pertama.
No comments:
Post a Comment
Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....