Friday, July 8, 2011

Cerpen: BIDADARI TELAH DATANG

BIDADARI TELAH DATANG
 BIDADARI TELAH DATANG

“Dengarlah…kicau burung-burung bernyanyi…menyambut mentari pagi…indah dan berseri!” suara Iwan yang sedang menyenandungkan Pagi Ramadhan-nya Snada di kamar mandi terdengar memekakkan telinga. Meski sudah berkali-kali dinasehati agar jangan  bernasyid di dalam kamar mandi, tetap saja ia membandel. Maklum, baru jadi ikhwan. Untung nasyidnya bukan shalawatan. Sementara itu, di sudut wisma Mujahid lainnya, Fikri dan Firman sedang mendiskusikan tentang Ekonomi Islam. Keduanya memang pengurus Kelompok Studi Ekonomi Islam di Fakultas Ekonomi Undip. Meskipun diskusinya hanya berdua, tapi kedengarannya seperti  10 orang atau lebih. Habis bicaranya saling berebut dan sama-sama keras. Bikin pusing!
“Woi! Woi! Ikhwan-ikhwan! Ane cabut dulu ya!!!” seru Imron, tiba-tiba yang melesat ke luar sambil meraih sepeda jengkinya. Ikhwan yang satu itu memang tergolong pede memarkirkan sepedanya di antara deretan sepeda motor keren (kadang jadi bahan tertawaan para akhwat dan non akhwat juga!) di kampus. Kalau kata Imron, sih, zuhud!
“Yah. Pergi sana!” suruh Fikri dan Firman berbarengan. Di tengah ramainya suasana pagi ini, telpon di meja berdering.
“Sebentar!!!” seru Dayat, kencang. Bikin tertawa siapa pun yang mendengar.
Assalamu’alaikum!” ucap Dayat dengan suara diwibawakan. Dipikirnya yang menelpon itu Nadia, ketua Annisa di Fakultas Hukum tempatnya bernaung. Soalnya dari tadi ia memang sedang menunggu telpon itu.
“Adriannya ada?” tanya si penelpon, perempuan tapi bukan Nadia. Suaranya membuat bulu kuduk Dayat merinding. Merdu, bow! Atau dimerdu-merdukan?
“Ad…rian?” Ia malah balik bertanya.
“Iya. Adriannya ada, Sayang?” tanya si penelpon. Dayat melotot mendengarnya. Serasa mau pingsan. Baru sekali ini ia dipanggil “sayang”!
“Ee…ini dari siapa ya?” tanyanya terbata-bata.
“Bilang saja dari Valeri,” jawab gadis itu, lembut. Dayat sibuk berpikir. Valeri? Gadis yang mana lagi, nih?!
“Adrian!!!” panggilnya, kencang. Ia kecewa tak jadi ditelpon Nadia. Adrian yang merasa namanya disebut segera menghampiri. Dayat menyerahkan gagang telpon kepadanya.
“Penggemar!” sungutnya. Adrian tersenyum malu-malu. Dayat mencibir. Sambil menyingkir, ia mencuri pandang ke arah Adrian. Adrian memang keren. Tinggi, berkulit putih dan tegap. Baru tiga bulan  lalu ditarik ikut Rohis dan dipaksa masuk wisma.  Selama di wisma, tak terhitung lagi telpon masuk dari gadis yang berbeda mencarinya. Adrian hanya tersenyum sambil minta maaf. Memang bukan kesalahannya menjadi idola para gadis. Sudah syukur ia tak menanggapi godaan para gadis itu.
“Gagal ngomong sama Nadia, ya?” goda Iwan yang baru keluar dari kamar mandi. Dayat melotot melihat penampilan Iwan yang sangar. Hanya berbalut handuk!
“Masuk sana!!!” teriaknya. Iwan lari terbirit-birit masuk kamar. Siapa yang sangka kalau Dayat di kampus terkenal lembut dan berwibawa!
“A...pa?!!!” teriak Adrian, tiba-tiba. Teriakannya mengalahkan teriakan-teriakan sebelumnya. Sampai-sampai Fikri dan Firman yang sedang berdebat pun menghentikan aktivitas mereka.
“Ada apa? Ada apa?” tanya keduanya, bareng sambil berlarian menghampiri Adrian. Mereka bersungut-sungut mendapati Adrian hanya tersenyum. Kirain kenapa!
“Nggak pa-pa kok, Akh!”
“Ye! Jangan teriak-teriak begitu dong! Malu kan kalau kedengeran wisma sebelah.” Fikri bersungut-sungut.
“Malu atau pengen? Nggak bakal kedengeran tau! Wisma sebelah itu sepuluh rumah dari sini!” seru Dayat. Fikri dan Firman cengar-cengir. Wisma yang dimaksud adalah wisma Bidadari, wisma akhwat.
“Ada apa sih, Dri? Buruan dong nelponnya! Ane juga lagi tunggu telpon nih! Penting!” omel Dayat. Adrian menghela napas.
“Iya, sebentar lagi juga selesai. Maaf! Maaf!” jawabnya, takut-takut. Dayat, Fikri dan Firman meninggalkan Adrian dengan kesal. Mengganggu saja! Adrian kembali meneruskan menerima telponnya. Wajahnya pucat dan suaranya terdenga rmemelas. Usai ia menutup telpon, telpon berdering lagi.
“Tuh, bidadarimu!” seru Iwan sambil menyemprotlkan parfum ketubuhnya. Ya ampun nih ikhwan dandy amat sih!!!
Assalamu’alaikum…oh…Nadia. Gimana rencana seminar itu? Pembicaranya sudah fix?” tanya Dayat, dan bla bla lagi. Kehidupan di wisma ikhwan dan setengah ikhwan ini terus berjalan.
***
Adrian terlihat murung. Kelihatannya ia murung sejak menerima telpon itu. Penasaran ya ia mendapat telpon dari siapa…? Ya, ia mendapat telpon dari valeri. Valeri. Tapi…siapa Valeri???
Subhanallah! Subhanallah! Maha Suci Allah yang tidak tidur ketika menciptakan makhluk itu!” kata Imron sepulangnya dari kampus.
Ente kenapa sih? Masuk rumah itu ngucap “Assalamu’alaikum”. Bukan Subhanallah!” cetus Fikri yang tidak ke kampus hari ini.
“Bidadari telah datang!” seru Imron, cepat. Karuan saja yang mendengarnya jadi heran.
“Bidadari apa?”
“Bidadari! Bidadari berkulit bening, berambut merah, dengan mata jeli! Subhanallah!!!”
“Heh! Ente tadi nggak ghodul bashar ya?!”
Afwan! Afwan! Astaghfirullah! Ane udah ghodul bashor, tapi bayangan itu terus menghantui. Padahal ane lihatnya sekilas!”
“Siapa sih?” Fikri penasaran.
“Makanya ente ke kampus dong! Ngerjain skripsi mulu sih! Bidadari telah datang. Baru kali ini ane ngeliat hawa secantik itu.” Ucapan Imron makin tidak benar.
“Sekarang ane ngerti kenapa Iman Syafii sampai kehilangan sebagian hafalannya setelah melihat betis wanita.” Fikri geleng-geleng kepala.
“Bukan cuma betis. Dasar Hawa! Kapan mereka bisa mengerti kalau mereka memiliki keindahan yang bisa membuat para cowok bergelimpangan?” Imron bersungut-sungut.
“Iya, Ron. Gue juga liat!” kata Iwan, tiba-tiba dengan logat Jakarta-nya yang kental. Ia juga baru pulang dari kampus.
“Lihat apa, sih?!” Fikri geregetan.
“Bidadari, Fik! Wah! Rugi deh nggak liat!” sahut Iwan.
Masya Allah!!!” seru Fikri, terkejut mendengar ucapan calon ikhwan yang satu itu. Iwan menutup mulutnya.
“Sorry! Eh, afwan!” sahutnya, cepat.
“Ceritain dong apa yang terjadi. Yang jelas gitu!” omel Fikri. Dan cerita itu pun mengalir. Tadi di kampus, para ikhwan dan para cowok dikejutkan dengan hadirnya seorang gadis yang berpenampilan seperti artis. Roknya satu jengkal di atas lutut, bajunya terbuka di bagian punggung. Dandanannya menor dan parfumnya tercium dari jarak 300 meter. Penampilannya? Subhanallah! Begitu kata para ikhwan yang tak sempat ghadul bashar. Seperti kata Imron tadi, seperti bidadari yang turun dari langit. Kulitnya putih bening, rambut dicat merah (atau memang merah?) dan matanya bulat indah. Ia bukan dosen baru, apalagi mahasiswa baru. Ia hanya terlihat mondar-mandir di kampus. Wah…siapa ya dia?
“Ck, ck, ck. Ane kok malah kasihan ya sama tuh akhwat.” Firman bergumam. Obrolan ini memang terus berlanjut sampai malam harinya.
“Kasihan kenapa?” semua bertanya-tanya. Kecuali Adrian yang tak ikut nimburung. Ikhwan yang satu itu masih mengurung diri di kamar.
“Dia sudah dilebihkan oleh Allah atas nikmat fisik, seharusnya ia mensyukuri nikmat itu dengan mentaati perintah Allah.”
“Menutup aurat?” tanya Iwan.
“Iya, lah!”
“Kalau bukan muslim?” Dayat bertanya.
“Yah seharusnya dia memakai pakaian yang sopan. Apa lagi ini masuk ke kampus. Kok tidak menghargai lingkungan intelektual.” Firman geleng-geleng kepala.
“Sudahlah. Tapi kalian bersyukur kan bisa melihatnya?” cibir Iwan.
Masya Allah!” seru semuanya, bareng. Iwan tutup mulut. Salah lagi dia!
“Bukankah bidadari surga itu lebih baik?” tanya Firman, bijak.
“Yap! Betul! Ini ujian buat kita! Bagaimana kita bisa tahan dengan bidadari dunia ini. Balasannya, bidadari surga,” kata Dayat, optimis. Iwan mencibir. Tadi pagi ribut soal Nadia? Bukannya Nadia juga  bidadari dunia?
“Itu artinya dakwah kita masih panjang. Pornografi ternyata tak hanya kita lihat di TV, tapi juga di sekitar kita. Makanya kita harus terus berjuang di jalan dakwah ini. Tolak pornografi!” seru Firman, semangat. Pornografi memang sedang menjadi momok bagi sebagian orang yang masih waras, sedangkan sebagian besar yang lain menikmati tanpa merasa berdosa.
Hei, Adrian mana?” tanya Firman, baru menyadari kalau kelompoknya ada yang kurang.
“Tau tuh! Ngurung diri di kamar aja!” jawab Iwan, cuek.
“Wah! Kalian gimana sih? Dia itukan baru di wisma kita. Harusnya diperhatikan dong! Apa lagi dia selalu mendapat godaaan!” kata Firman sambil berjalan menghampiri kamar Adrian. Godaan apa lagi kalau bukan dari para bidadari surga yang kerap mengejar-ngejar Adrian? Tak perduli Adrian sedang berproses menjadi ikhwan.
Adrian tertunduk. Ia malu menghadapi sorot mata Firman yang bijak. Firman mengusap-usap bahunya.
“Kalau ada masalah, tolong ceritakan pada kami,” pintanya, lembut. Adrian diam. Ia tak tahu harus mulai dari mana.
“Ada yang mengejar kamu lagi?” tanya Firman. Adrian menggeleng.
“Terus?”
“Mama saya mau datang,” jawab Adrian, hampir tak terdengar.
“Ma…ma?” Adrian mengangguk.
Subhanallah! Bagus itu! Kenapa ente jadi murung?” Firman tak mengerti. Adrian diam lagi. Memang harus sabar menghadapi anak ini!
“Bingung mencari penginapan? Titipkan saja di wisma Bidadari.” Adrian menggeleng.
“Saya malu.”
“Malu kenapa? Kok sama ibu sendiri malu? Beliau pasti sangat menridukan ente sampai bela-belain datang kesini. Padahal beliau single parents, kan?” tanya Firman. Adrina mengangguk. Orangtuanya memang sudah lama bercerai. Kini hanya ibunya yang mengasuhnya.
“Mamaku….”
TEEEEETTT!!!! Obrolan mereka terganggu dengan suara bel di luar.
Akh, Firman! There’s someone looking for you!” teriak Imron, cempreng. Firman meninggalkan Adrian menuju ruang tamu.
“Ada apa?” tanya Firman. Imron menunjuk keluar. Bayangan seorang akhwat membuat Firman menundukkan kepala.
Assalamua’alaikum!” ucap Nadia yang tinggal di wisma Bidadari.
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa ya, Ukh?” tanya Firman.
“Em…sebenarnya saya mencari Adrian,” jawab Nadia. Wajah Firman langsung merah. Ia berbalik ke belakang.
“Nyari Adrian juga!” omelnya, tertahan pada Imron. Imron dan yang lain tertawa-tawa. Firman memanggil Adrian. Adrian segera keluar menemui Nadia. Pintu yang sedikit terbuka menyebabkan yang di dalam bisa sedikit mendengar.
Afwan, akh. Ini Ummi antum tadi pagi seharian mencari antum, tapi antum nggak keampus. Beliau bingung mencari alamat antum…,” kalimat Nadia terpotong dengan teriakan orang di belakangnya yang tadi bersembunyi dalam kegelapan.
“Rian!!! Kamu gimana  sih?! Mama capek nyari alamat kamu! Kamu kok nggak jemput Mama siiih?” kata orang itu sambil memeluk Adrian, erat. Adrian kaget. Malu campur kaget. Semua ikhwan yang mendengar teriakan itu berhamburan keluar. Semua terkejut melihat bidadari surga yang jadi pembicaraan barusan memeluk Adrian. Kontras dengan Nadia yang berjilbab lebar.
“Halo!!! Teman-temannya Adrian, ya? Kenalkan saya Valeri. Mamanya Adrian!!” kata Bidadari itu dengan suara merdunya.
***

Dimuat di Annida No. 14/ XIII/ 16-30 April 2004

Cerpen: RAMALAN BINTANG

RAMALAN BINTANG

Apa yang kamu impikan akhirnya tercapai.
 Walaupun berbeda dari apa yang kamu inginkan,
tapi kan kamu senang.
Kesehatan: Fit banget.
Asmara : Don’t worry be happy.
Keuangan : Boros banget sih kamu.
Alma tersenyum saat membaca ramalan bintang di majalah remaja kesayangannya itu. Wajahnya sumringah, penuh harap. Ramalan bintang minggu ini tak mengecewakan. Apa lagi ramalan asmaranya. Don’t worry be happy? Apakah maksudnya ia akan mendapatkan pangeran yang ditunggunya selama ini? Entahlah, tapi ia harap begitu. Selain majalah, di tempat tidurnya juga ada gaun pesta yang baru dibelinya tadi sore. Gaun pesta biru muda yang sedikit mewah dengan banyak renda sebagai hiasannya. Ia rela mengeluarkan uang tabungannya selama ini demi pesta nanti malam. Pesta ulang tahun Isma, teman dekatnya. Seperti banyak gadis remaja yang merayakan ulang tahun sweet seventeennya. Begitu juga Isma. Pesta yang meriah, katanya. Itulah sebabnya Alma tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia harus tampil sebaik-baiknya. Mungkin di pesta itu ia akan bertemu Farid, kecengannya selama ini? Katanya ia akan datang. Siapa tahu maksud ramalan itu adalah ia dan Farid. Don’t worry be happy, begitu!
Alma terlihat sangat cantik sore ini. Berbeda dari biasanya. Jelaslah. Sapuan lipstik warna merah jambu mewarnai bibirnya. Bedaknya pun sedikit tebal dari biasanya. Rambutnya yang sebahu dijepit dengan jepit biru muda, senada dengan warna gaunnya. Itulah sebabnya ia begitu percaya diri. Ia ingin datang lebih awal, acaranya sih masih nanti malam. Hitung-hitung bantu-bantulah! Tapi baru saja kakinya dilangkahkan keluar, Risma, kakak perempuan satu-satunya memanggil.
“Mau ke mana, Al?” tanya Risma sambil meletakkan teh hangat pesanan ayah di atas meja tamu. Ia terkejut melihat dandanan Alma yang berlebihan. Alma melirik sinis. Ia tahu, kakaknya pasti ngoceh.
“Cuma mau main ke rumah Isma, kok!” jawabnya, bohong. Kening Risma berkerut.
“Main? Nggak salah? Kok rapi amat?” Ia menatap Alma dari atas ke bawah.
“Ya, nggak pa-pa, dong. Suka-suka!” Alma menukas, masih dengan wajah sinisnya. Ia paling sebal kalau Risma mulai tanya-tanya. Mau tahu saja urusan orang! Risma senyum. Ia maklum dengan sikap adiknya itu.
“Ya udah deh kalo gitu. Eh, kakak ada Annida baru tuh, kalo mau baca.” Ia menawarkan. Alma menelan ludah. Annida? Sekali saja baca majalah itu, ia langsung muak. Majalah kayak begitu dibaca. Isinya kebanyakan menyindir. Sebel!
“Nanti aja deh, Kak. Alma udah buru-buru nih.”
“Iya deh. Hati-hati ya.” Risma ngalah. Alma bergegas pergi. Kelamaan di sini bisa dikomentarin panjang lebar.
“Alma!” panggil Risma. Alma melengos. Tuh, kan. Jangan-jangan mau ngoceh lagi.
Assalamu’alaikumnya mana?” tanya Risma, menyindir.
Assalamu’alaikum!” seru Alma, cepat lalu kabur.
***
Belum banyak orang yang datang ketika Alma sampai di rumah Isma. Ia langsung mengambil tempat di pojok. Rencananya tadi ingin bantu-bantu, tapi ternyata semua telah tertata rapi. Ia kagum melihat tata ruang rumah ini. Kursi-kursinya disusun seperti restoran mewah. Satu meja dengan dua kursi berwarna-warni. Di tengah meja diletakkan lilin hias yang cantik. Cocok dengan tema pestanya: Candle Light Dinner. Ia mulai berkhayal kalau-kalau ada cowok yang menghampirinya dan mengajaknya ngobrol berdua saja. Apalagi kalau cowok itu Farid.  Ah, romantisnya….
“Al! Ngelamun aja!” seru Isma, tiba-tiba.
“Aduh… lu bikin gue jantungan aja. Wow! Surprise, Is. Pesta lu belum ada yang nyamain, deh.”  Alma memuji. Isma bangga.
“Iya, dong. Eh, lu mau minum, nggak?”
“Enggak deh. Em… gimana?”
“Gimana apanya?” Isma bingung. Alma malu menjawabnya. Padahal Isma sudah tahu semua isi hatinya.
“Itu, lho. Farid! “ jawabnya agak berbisik. Isma diam.
“Kenapa? Kok lu diam sih? Lu udah ngundang Farid kan?” tanya Alma lagi. Isma menghela napas.
Sorry deh, Al. Kayaknya dia nggak datang. Lu kan tau sendiri dia itu gimana. Sok alim, sok suci. Mana mau dia gabung sama kita-kita,” jawabnya. Alma terkejut.
“Ya… kok gitu? Sia-sia dong pengorbanan gue hari ini.”
“Udah deh. Ntar juga banyak cowok-cowok keren. Lebih keren dari Farid malah! Dunia lu kan belum terbuka. Taunya cuma Farid… aja. Padahal cowok kayak Farid itu banyak stoknya.” Isma menghibur. Alma melengos. Mau bagaimana lagi? Mungkin ramalan itu salah, seperti biasanya. Ia melirik jam tangannya. Sudah waktunya shalat maghrib.
“Eh, Is, numpang shalat, dong.”
“Shalat? Udah rapi gitu juga. Entar make-up lu luntur lho. Lagian acaranya mau dimulai nih. Kan bisa diganti nanti.” Isma menukas. Alma pasrah. Terpaksa tidak shalat dulu, walaupun ia merasa tak enak hati. Orangtuanya selalu menekankan agar tidak melalaikan shalat. Akhirnya sekarang bolong juga.
***
Pukul 18.00 acara dimulai. Ruangan telah penuh. Suara house music telah diperdengarkan. Alma mencari-cari, siapa tahu Farid datang. Sudah lama ia naksir cowok itu. Bukan hanya tampangnya yang oke, Farid juga bintang kelas dan baik hati. Orangnya lembut dan so cool. Bukan hanya Alma yang merindukan perhatiannya, cewek-cewek lain juga. Farid memang cuek. Makanya kalau sekarang harapan Alma pudar, wajar saja, tapi tetap saja ia kecewa. Ia melengos kesal. Benar, ramalan itu bohong. Sebenarnya ia juga tak sepenuhnya percaya, tapi ramalan itu memang bagus. Membuat ia berbunga-bunga. Herannya, pas yang jelek-jelek beneran terjadi.
Alma makin kesal karena ia merasa sendiri di tempat seramai itu! Tidak ada yang mengajaknya bicara. Semua asyik berjoget. Mereka sepertinya fit benar, tidak seperti dirinya. Lesu!
“Al!” seru Isma, kencang, menyamai suara musik yang hingar-bingar. Alma terkejut. Wuih! Siapa cowok keren di samping Isma?!
“Lu sendirian aja sih! Kayak nggak menikmati pesta gua. Makanya gua bawain lu temen. Kenalin nih. Ronny,” kata Isma. Alma tersenyum. Eh, tuh cowok malah tertawa.
“Jadi ini namanya Alma? Dari tadi gue liatin bengong aja. Nggak niat ikut pesta ya ?” tanyanya. Alma tersipu. Berarti dari tadi cowok itu memperhatikannya? Jadi ge-er.
“Emang ada bagian hatinya yang hilang, tapi kayaknya sekarang udah ketemu. Gua tinggal dulu, ya” Isma tahu diri.
“Eh, Is, temenin dong !” seru Alma. Ditinggal berdua sama cowok yang belum dikenal siapa coba yang nggak grogi. Apa lagi cowok ini emang bikin grogi.
“Tamu gue kan bukan elu aja, Al. Ronny nggak galak kok,” kata Isma sambil pergi. Yah… terpaksa deh. Ronny duduk di sebelah Alma.
“Katanya lu teman sekelas Isma, ya?” tanyanya memulai obrolan. Alma tersenyum.
“Udah tahu nanya.”
“Eh, ternyata bisa bercanda juga.” Ronny surprise.
“Bisa dong. Emangnya gue patung. ”
“Ya, nggak nyangka aja. Habis dari tadi bengong sih. Kirain pendiam.” Ronny tersenyum.
“Emang gue mau ngomong sama siapa?” tanya Alma, bercanda. Ronny tertawa.
“Ya… gabung sama kita-kita dong. Lagi be-te ya, yang ditunggu nggak datang?” tanyanya. Alma diam.
“Gua nggak nunggu siapa-siapa, kok!” elaknya kemudian.
“Yang bener, nih….
“Terserah mau percaya apa enggak!” sahut Alma, cuek. Ronny tersenyum.
“Masa’ cewek secantik lu nggak punya pacar?”
Dibilang “cantik”, perasaan Alma langsung melayang. Ia segera menetralisir perasaannya.
“Ya nggak sekarang.”
“Terus kapan?” tanya Ronny. Alma melirik. Ia mengerti arah pembicaraan cowok itu.
“Ya nggak tau, ya. Sedapetnya aja.”
“Kalo sekarang?” pancing Ronny. Alma makin GR.
“Nggak tahu deh.”
Ronny tertawa.
“Emang lu suka cowok yang kayak apa sih?” tanyanya. Alma tersenyum. Sekilas ia melihat pelayan pria yang membawa makanan.
“Yang bisa masak !” jawabnya, spontan. Ronny melongo.
“Lho? Kenapa? Kok seleranya aneh, sih?” tanyanya. Alma jadi bingung sendiri. Kenapa pula dia ngomong begitu.
“Yaaa karena gue nggak bisa masak,” jawabnya, polos. Ronny tertawa.
“Zaman sekarang aneh, ya. Cewek malah nggak bisa masak. Gue bisa masak, lho!” katanya. Deg! Alma tersentak. Apa sih maunya cowok ini? Perasaan dari tadi mancing terus. Jangan-jangan…ah, ia jadi makin ge-er. Ia tersenyum. Sekarang ia mengerti maksud ramalan bintang itu. Jadi maksudnya, Ronny-lah cowok yang bikin dia Don’t worry be happy. Duuh, ia senang sekali. Ronny kan lebih keren dari Farid dan mungkin lebih mudah didapat. Daripada dicuekin sama Farid, mendingan sama Ronny saja.
“Al! Kok bengong?!” tegur Ronny. Alma gagap. Ia tersenyum. “Kayaknya lu hobi bengong, ya?” tanya Ronny.
Sorry!” ucap Alma, cepat. Lagi, angannya melambung. Kalau bisa pacaran sama Ronny… asyik kali, ya? Bisa bikin teman-teman ngiri. Dapet  Thomas Jorghi di mana, Al!
“Eh, si Isma happy  banget, tuh!” seru Ronny, mengalihkan pembicaraan. Alma melihat ke arah Isma. Ya ampun! Beneran, deh. Apa nggak sadar dia kalau goyangannya terlalu bersemangat?
“Isma kok bisa gitu, ya?” tanyanya. Ronny tersenyum. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. 
“Lu  juga bisa. Nih, Al, yang bikin Isma happy,” katanya sambil menyodorkan sesuatu. Alma terkejut. Sebutir pil merah jambu disodorkan padanya.
“Apaan, nih? Gua nggak sakit kok.” Alma mengelak.
“Bukan. Ini bukan obat sakit, tapi ini obat yang bisa bikin lu tahan goyang semalaman.”
Wajah Alma pias. Jangan-jangan ini… ekstasi? 
“Ayo, Ma!” Ronny mulai memaksa. Alma menghindar. Ia takut. Tiba-tiba saja di matanya wajah Ronny yang tampan berubah menjadi monster.
Sorry, deh. Gue nggak minat!” tolaknya. Ronny terus memaksa.
“Ya Allah! Tidak!” Tanpa sadar Alma berteriak. Bergegas ia meninggalkan tempat itu. Ia menangis dan terus istighfar.
***
Alma menangis di pangkuan Risma. Kejadian di pesta Isma tadi membuatnya shock. Ia benar-benar tak menyangka. Extacy? Ia disodorkan barang haram itu? Obat yang membuat hampir semua teman seumurnya di negeri ini terpuruk? Sesuatu yang hanya ia lihat di televisi? Ia tahu sekali bahaya obat itu.Ternyata Isma… Ronny… dan hampir semua orang yang datang ke pesta itu? Ia benar-benar tak percaya. Risma yang telah mengetahui semuanya hanya diam sambil menepuk-nepuk bahu Alma. Ia membiarkan adiknya menuntaskan isaknya dulu.
“Maafin Alma, Kak. Alma kapok. Alma salah milih teman. Mana Alma nggak sholat Maghrib lagi,” kata Alma, lirih. Risma mengelus rambut adiknya.
“Ya, sudah. Lain kali jangan diulangi, ya. Jangan minta maaf sama kakak, tapi sama Allah. Kamu udah shalat taubat belum?” tanyanya, halus. Alma menghapus air matanya.
“Udah, Kak. Alma nyesel banget. Alma pikir Ronny orang baik.” Alma mengeluh. Risma tersenyum.
“Kalo mau cari yang baik ya bukan di sana,” katanya. Alma mengerti maksud kakaknya. Risma terkejut melihat majalah remaja di meja Alma.
“Lho, Al! Kamu masih suka baca majalah seperti itu?” tanyanya agak kaget. Alma langsung meraih majalah di meja itu.
“Gara-gara ramalan bintang di majalah ini makanya Alma jadi terobsesi pengen dateng ke pestanya Isma. Habis, ramalan asmaranya bilang, Don’t worry be happy,sih!” tukasnya. Kening Risma berkerut.
“Maksudnya apa?” tanyanya. Alma nyengir. Malu.
“Mungkin Alma bisa dapet pacar di pesta itu.”
“Ya Allah! Jadi begitu? Memangnya apa sih yang kamu harapkan dari pacaran? Kakak kan udah bilang kalo itu lebih banyak jeleknya daripada baiknya? Sekarang, apa ramalannya terbukti?”  tanya Risma. Alma menggeleng lemah.
“Jadinya ya seperti ini.”
“Ya sudah. Besok-besok nggak usah baca majalah seperti itu lagi, ya. Lagian isinya nggak bagus. Hanya mengajarkan hedonisme dan konsumerisme saja. Belum ramalan bintangnya yang dibuat-buat. Udah syirik, nggak bener lagi. Mendingan baca Annida aja.. Lebih berhikmah, lho!” Risma menasehati dengan sedikit promosi. Alma nyengir.
“Oke deh kakak…!” ucapnya, bercanda.
***
Dimuat di Majalah Annida No. 18/X 23 Juni 2001

Tips Menulis: Menulis Novel Itu Sangat Gampang

Menulis Novel Itu Sangat Gampang
Leyla Hana

Setiap orang harus menjadi penulis, meskipun sudah memiliki profesi lain. Kenapa? Banyak sekali alasannya. Seorang dokter sebaiknya juga seorang penulis, sehingga bisa mengabadikan segala hal yang berkaitan dengan profesinya itu dalam tulisan. Begitu juga dengan seorang presiden, menteri, anggota DPR, sampai buruh nelayan sekalipun, sebaiknya juga bisa menulis. Menulis membuat kita semakin hidup. Menulis membuat kita semakin kaya. Bukan hanya kaya secara materi, tapi juga kaya oleh ilmu. Sebab, untuk menjadi penulis kita memang harus banyak membaca.

Cinta Buat Chira (1)


1


“CIRA!!! Buruan!!!” teriakan menggema barusan keluar dari bibir Rana, adik Cira yang merasa sudah lumutan menunggu si lelet Cira di mobil pick up milik tetangga mereka. Cira sendiri malah cuek bebek. Dia masih saja berdiri di atas timbangan badan yang selalu dinaikinya setiap hari itu.
“Enam puluh tiga?! Kok naik lagi, sih?!!” teriak Cira, nggak kalah nyaring sama suara adiknya tadi.
“Cira! Buruan! Kalo enggak gue tinggal, lho!” teriak Rana, lagi. Cira merengut.
“Reseh banget sih lu! Bentar lagi ngapa?!” teriak Cira, tak mau kalah. Ditatapnya cermin sekali lagi. Jerawat-jerawat besar masih setia nongol di wajahnya meskipun ia sudah rajin memakai obat jerawat. Malah sepertinya ada dua pendatang baru. Duh, sebel! Cira jadi malas lihat cermin.
“Buruan, Cira! Kan nggak enak sama bang Romi. Kita udah numpang juga masih ngerepotin!” gerutu Rana pas Cira sudah ada di depannya. Cira malah senyam-senyum ke bang Romi yang lagi pasang tampang judes.
“Maaf ya, bang.” Katanya, santai. Wajah bang Romi tambah judes lagi.
“Ntar deh, bang. Kalo Cira udah berani naik motor ke sekolah, Cira nggak numpang mobil bang Romi lagi.” Kata Cira, mencoba menyenangkan hati bang Romi.
“Nggak! Nggak boleh! Selamanya lu nggak boleh bawa motor ke sekolah! Ntar tuh motor keberatan eh lu jatuh lagi! Lu kan selalu ketiban sial. Gue sih nggak khawatirin elunya, tapi motornya!” protes Rana. Cira melotot.
“Apaan sih lu!! Suka-suka gue, dong!”
“Udah! Udah! Kakak-adek juga berantem mulu. Abang sih nggak keberatan kalian numpang terus di mobil abang. Tapi tahu diri, dong. Abang kan juga mesti cepet-cepet ke pasar.” Sela bang Romi.
“Cira nih yang nggak tahu diri! Dandan aja dilamain! Mending kalo lu nambah cantik!” sungut Rana.
“Heh! Enak aja! Bang Romi yang kepagian!” Cira tak mau kalah.
“Eh, kok bang Romi malah yang disalahin?!”
“Maap, bang, maap!!!”
***
Cira menghela napas lega. Akhirnya sampai juga ia di sekolahnya tercinta. Untung dia nggak telat. Kalau telat, bisa jadi bahan tertawaan di kelas.
“CIRA!!!” teriak seseorang, tiba-tiba. Kali ini teriakan itu datang dari teman sekelasnya yang cerewet dan…PLOK!
“Apa kabar?! Gue liat lu makin gendut aja!” cetus Milly, kasar. Habis pake acara main teplok segala sih! Cira melotot.
“Lu yang kalem dikit kenapa, Mil?” Protes Cira sambil mengelus punggungnya yang sakit.
“Eh, kayaknya jerawat nambah lagi, tuh!”celetuk Milly tanpa mengindahkan protes Cira barusan. Cira mengelus-elus wajahnya.
“Biarin. Yang penting gue tetep cantik.” Katanya, pede.
“APA?!”
“YANG PENTING GUE TETEP CANTIK!!!” teriak Cira sambil berlari pergi menjauhi Milly. Ia tak mau mendengar tawa Milly yang menggelegar.
BRUK!!!
“Heh! Kalo jalan hati-hati, dong!” omel Fera yang barusan tubuhnya hampir jatuh akibat ditabrak Cira. 
Sorry, sorry, Fer!” pinta Cira, berkali-kali. Fera menatapnya, sinis.
“Kalo elu nggak gendut sih nggak pa-pa. Tapi lu pikir-pikir dong kalo nabrak orang! Lu tuh bisa bikin orang terjungkal!” maki Fera, sadis. Beberapa detik kemudian, ia menjerit histeris.
“AUOU!!”
“Lu juga hati-hati kalau  ngomong!” kata seseorang yang barusan menginjak kaki Fera dengan kejamnya. Cira yang sedianya akan menitikkan airmata karena makian Fera barusan jadi tersenyum riang. Teman sebangkunya, Putty, telah menyelamatkannya. Gadis bermata sipit itu memang yang paling baik pada Cira di kelas ini. Maklum, namanya juga temen sebangku sekaligus sahabatnya.
“Huh! Dasar!” gerutu Fera yang tak mau memperpanjang masalah dengan Putty. Ia tak mau pagi yang indah ini jadi muram gara-gara bertengkar dengan gadis keturunan Cina itu.
“Putty, lu udah ngerjain PR bahasa Inggris belum?” tanya Cira, setelah meletakkan di tasnya di laci meja.
“Bilang makasih dulu dong sama gue. Gue kan udah belain lu barusan.” Kata Putty sambil menyisir rambutnya yang menurut Cira sudah rapi itu.
“Iya deh. Makasih banyak, Putty.” Kata Cira. Ia mengerti betul. Sahabatnya yang satu ini memang selalu pamrih. Setidaknya kita bilang makasih gitu kalo udah ditolongin dia.
“Oke deh. Kembali kasih. Gue udah ngerjain PR bahasa Inggris.” Kata Putty yang kali ini merapikan bandananya yang menurut Cira-lagi-lagi-sudah sangat rapih itu.
Please dong, Put. Gue nyontek….” Mohon Cira.
“Ah, elu. Ngomong sok-sok-an pake bahasa Inggris, tapi PR nyontek.  Sekali-sekali lu usaha kenapa.” Cibir Putty.
“Gue udah usaha. Gue lagi berusaha nyari tempat les bahasa Inggris yang oke, tapi belum nemu-nemu juga.”
“Ye! Bukan itu. Usaha sendiri, dong. BELAJAR! Gue juga nggak ikut les-lessan segala, tapi gue tetep bisa, kan?” kata Putty sambil mengibas-ngibaskan kipas ke tubuhnya. Bibir Cira maju lima senti. Ia sebel banget dengar omongan Putty barusan. Putty yang merasa Cira mulai naik darah, langsung pasang senyum.
“Oke deh. Nih, gue pinjemin. Tapi besok-besok lu harus usaha dulu, kalau nggak bisa baru nanya ke gue. Ntar gue ajarin.” Katanya sambil mengangsurkan buku PR-nya. Wajah Cira langsung berubah ceria.
“Makasih ya, Putty!!!” serunya, ceria. Putty tersenyum diramah-ramahin.
***
Hai! Nama gue Cira. Gue masih kelas satu SMU di SMU deket rumah gue, eh sebenarnya nggak deket sih. Satu jam dari rumah gue kalo nebeng mobil pick up-nya bang Romi, tetangga gue yang punya kios di pasar deket sekolah gue. Lumayan, kan? Bisa ngirit ongkos.
Gue tahu. Gue emang…nggak cantik. Berat gue sekarang enam puluh tiga kilo gram, dengan tinggi 160 senti. Sebenarnya gue nggak terlalu gendut, iya nggak sih? Tapi entah kenapa banyak orang yang ngatain gue gendut. Mungkin karena pipi gue yang tembem ini kali. Padahal kalo gue itung-itung, berat 63 kilo itu ideal dengan tinggi 160 senti. Yah, kelebihan dikit nggak pa-pa, kan? Cuma entah kenapa orang-orang nggak mau nyadar. Emang hobi mereka aja kali ya menghina orang. Yang paling hobi nyakitin hati gue ya trio cerewet, Milly, Fera dan June. Ugh, sebel deh gue ama mereka. Sukanya ngurusin orang lain melulu. Urus tuh diri mereka sendiri!
Bukan gue nggak berusaha diet. Semua obat diet udah gue minum, tapi nggak ada hasilnya.  Nggak turun-turun juga nih berat! Gue maklum, kok. Orang gue nggak gendut. Orang-orang aja tuh yang sirik tapi…selain agak gendut, gue jerawatan. Jerawatnya nggak tanggung-tanggung. Sampai sudah nggak ada tempat lagi buat nyapuin bedak ke wajah gue! Mungkin itu yang bikin gue nggak menarik. Hiks! Gue sedih. Bukan gue nggak pernah usaha buat ngilangin nih jerawat, tapi emang nih jerawat yang nggak mau ilang-ilang. Padahal udah berbagai macam obat jerawat gue coba. Sebel, kan?
Selain fisik gue yang nggak mendukung, otak gue juga nggak encer-encer banget. Yah, mungkin karena gue kabanyakan makan, jadi gue nggak bisa mikir yang berat-berat. Walhasil gue jadi bergantung mulu sama Putty. Gue jadi makin sebel deh. Kok nggak ada ya yang bisa dibanggain dari diri gue.
Kadang, eh sering, gue iri sama Putty, temen sebangku gue itu. Wajahnya mulus…banget. Pokoknya nggak ada jerawatnya sedikit pun. Udah gitu badannya langsing, padahal dia makannya nggak kalah banyak sama gue. Gue tahu, sebenarnya banyak cowok di kelas ini yang naksir dia. Tapi Putty pura-pura nggak peka. Ah, Putty. Coba gue kayak elu. Cantik, pinter lagi!
“Hei! Gendut! Lu jangan ngalangin gue, dong!” suara bass Robert memecah kesunyian kelas. Semua anak yang barusan sibuk menyalin PR dari papan tulis langsung tertawa mendengarnya. Cira tertunduk. Ia tahu, seruan itu ditujukan untuknya.
“Hei, item! Lu kalau mau ngatain orang, ngaca dulu dong!” lagi-lagi Putty membela Cira.
“Ye! Putty! Ngapain lu ikut-ikutan?! Diem, ganjen!” balas Robert.
“Tapi lu suka, kan…?” Putty mengerjapkan matanya, genit. Robert jadi salah tingkah. Kelas kembali ramai. Untung sedang tidak ada guru di kelas ini.
“Hei, sudah-sudah. Kalian jangan saling menghina begitu. Dosa.” Kata Farhan, teman sebangku Robert.
“Cie…Farhan. Kesempatan nih lu bilang ke Putty kalau elu naksir dia!” goda Robert. Wajah Farhan langsung merah.
“Apaan sih kamu?” gumamnya, malu. Melihat wajah Farhan yang kemerah-merahan, anak-anak sekelas jadi makin heboh.
“Cie…Farhan…! Baru nyaho nih kita!” seru mereka. Sedangkan Putty sendiri malah mengibas-ngibaskan rambutnya, genit.
“Heh, Robert. Kalo Farhan naksir gue itu normal namanya.” Katanya, centil.
“Kalo gitu, mending kalian jadian aja sekarang!” seru Robert.
“Boleh. Gue sih tinggal menunggu pernyataan dari Farhan.” Sahut Putty, santai. Anak-anak sekelas makin heboh mendengarnya.
Astaghfirullah! Apa-apaan sih kalian?!” Farhan geleng-geleng kepala.
“Alah, elu jangan muna!” Robert mencibir. Farhan sibuk mengelus dada.
“Sudah! Sudah! Kok kalian jadi bertengkar begitu!” sela Cira.
“Iya nih. Sudah diam!” seru Farhan.
“Oh, Farhan pindah ke lain hati, nih, sekarang jadi Cira, ya?!” goda Robert. Gantian Cira yang wajahnya memerah.
“Tuh, Cira ge-er, Han!” cetus Robert.
“Apaan, sih? Sudahlah. Saya nggak naksir siapa-siapa, kok!” Farhan tertunduk. Cira jadi patah hati dibuatnya.
“Tau, nih! Bilang aja lu yang naksir!” sungut Putty.
“Ye!! Sorry, ya!” seru Robert membuat hati Cira semakin  panas. Kelas kembali sunyi tatkala pak Asep, guru Fisika kembali memasuki kelas.
***
Namanya Farhan. Yah, boleh dibilang dia adalah salah satu cowok yang gue taksir. Tapi…sepertinya dia nggak naksir gue. Gue emang suka kege-eran liat sikapnya yang suka malu-malu itu. Tapi itu memang karena dia pemalu. Sama semua cewek sikapnya memang begitu. Dulu gue pernah seminggu duduk sama dia. Itu semua kerjaannya senior-senior yang ngerjain kita pas MOS (Masa Orientasi Siswa). Kita semua dituker-tuker bangkunya dan dipasang-pasangangin. Nah, gue dapet deh duduk sama Farhan. Waktu itu hati gue rada kebat-kebit juga. Abis doi ganteng sih. But, gue jadi nggak enak liat sikap doi yang hobi nunduk itu. Nggak pernah sekali pun dia natap gue pas kita lagi ngobrol. Pertama, gue merasa diceukin sih. Tapi habis itu biasa. Mungkin dia emang udah dari sononya begitu. Yang gue suka darinya, dia sama sekali nggak ngerendahin gue. Nggak kayak cowok-cowok lain di kelas ini. Dia nggak pernah menghina gue. Kata-katanya lembut, mana orangnya rajin sholat lagi. Bikin gue tambah simpati aja. Tapi sayang, sekali lagi pasti di hati Farhan nggak ada tempat sedikit pun buat gue.
“Cira! Lu bengong aja seeh…!” seru Putty dengan nada suara yang dibuat-buat.
“Tau nih Cira. Lu jatuh cinta lagi, ya?”  Milly ikut-ikutan. Cira melengos. Sebel. Lagi asyik-asyiknya melamun diganggu. Emang enak?!
“Ra, emang lu jatuh cinta sama siapa lagi, seeh?” tanya Putty sambil menyapukan bedak ke wajahnya. Ya Ampun…nih orang bener-bener ganjen!
“Enggak. Milly aja tuh. Dasar tukang gosip!” sungut Cira.
“Eit! Enak aja! Kan udah keliatan dari muka lu. Lu pasti lagi naksir seseorang, kan?” desak Milly.
“Enggak! Sok tahu! Lagian kalo gue naksir, apa urusan lu? Suka-suka gue, dong!” sungut Cira.
“Emang gue nggak ada urusannya. Cuma gue bilangin, ya. Kalo elu naksir cowok itu lu ngaca dulu. Sesuai nggak sama tampang lu. Jangan naksir cowok yang kelewat TINGGI! Kenyataannya kan elu kalo naksir nggak tanggung-tanggung. Cowoknya favorit semua. Hasilnya kan, hati lu yang sakit.” Cerocos Milly, to the point. Cira dan Putty sampai melongo dibuatnya.
“Eh, Milly. Bukannya elu tuh yang barusan bikin sakit hati Cira?” sindir Putty.
“Eh, gue bukannya mau menyakiti hati Cira. Gue cuma mau ngasih tahu supaya dia jangan banyak BERMIMPI.” Tegas Milly.
“Yah, suka-suka dia dong mau naksir siapa.” Tukas Putty.
“Sudah-sudah. Ngapain sih kalian berantem? Gue mau naksir siapa, terserah gue dong. Lagian gue cuma naksir. Gue nggak berharap banyak, kok.” Sela Cira.
“Ya…tapi kan….” Milly hendak bersuara lagi sebelum dipotong oleh Cira,
“Dan elu, Mil. Lu tuh nggak usah deh ngurusin orang lain. Urus tuh diri lu sendiri. Bibir lu tuh jadi makin doer, tau.” Katanya, pelan tapi DALEM. Milly melongo dibuatnya.  Putty tersenyum sambil mencibir.
“Bener kata dia, Mil. Lu cerewet banget sih.” Kata June, teman sebangku Milly. Milly jadi melongo dua kali. Bisa-bisanya June memihak Cira. Biasanya kan mereka CS-an.
***
Terserah orang mau bilang apa. Gue mau jatuh cinta sama siapa kek, itu terserah gue. Emangnya jatuh cinta itu dosa? Kan cinta datangnya dari Tuhan juga. Apa salah gue kalau gue jatuh cinta? Gue tahu. Gue emang jatuh cinta nggak sama orang yang tepat. Gue selalu mencintai cowok yang lebih tinggi dari gue. Bukan cuma tinggi badannya, tapi juga wajahnya, otaknya, kayanya, dan lain-lainnya. Pokoknya lebih tinggi dari gue. Trus…gue mesti jatuh cinta sama siapa, dong?
“Putty….”
“Apa?”
“Lu pernah jatuh cinta, nggak?”
What?!”
“Lu pernah jatuh cinta, nggak? Kayaknya lu nggak pernah ngomongin cowok yang lu taksir, deh.”
“Ha ha ha ha!” Cira jadi takut mendengar suara tawa Putty. Untung guru bahasa Indonesia belum datang.
“Ayo dong jawab!” desak Cira.
“Gue….” Putty menggantung kalimatnya seraya berpikir. Cira menunggu-nunggu. “Ya jelas aja sering jatuh cinta!” lanjut Putty membuat Cira terbelalak.
“Sering?”
“Iya lah. Gue kan bukan cewek pingitan yang tinggal terus di dalam rumah. Gue kan juga ketemu orang-orang dan tentu aja ada di antara orang tersebut yang gue sukai.” Jelas Putty.
“Tapi kok lu nggak pernah cerita?”
“Ngapain? Gue nggak serius, kok. Pas gue liat, gue emang suka sih. Tapi abis itu gue lupa.”
“Yah…itu sih namanya bukan jatuh cinta. Namanya lu cuma suka doang.”
“Emang…kalo jatuh cinta, gimana?”
“Lu…nggak bakal lupa sama dia. Lu bakal terus mikirin dia, lu pengen ketemu dia. Pokoknya cuma dia yang ada dalam pikiran lu.” Jelas Cira sambil menerawang. Putty terbengong-bengong dibuatnya.
“Lu pernah nggak merasakan hal itu?!” tanya Cira, tiba-tiba. Putty terkaget-kaget dibuatnya.
“Nggak!” jawabnya, cepat.
“Enggak?”
“Kayaknya sih…enggak.”
“Masa’?”
“Iya.”
“Masa’ sih lu belum pernah jatuh cinta?”
“Em….” Putty berpikir keras. “Mungkin.” Jawabnya, bikin penasaran.
“Siapa? Siapa orang yang ‘mungkin’ itu?”
“Kenapa sih elu penasaran banget?” tanya Putty, menyelidik. Cira menghela napas.
“Biar gue ada temennya. Habis gue merasa gue tuh gampang banget jatuh cinta.” Katanya, pelan. Putty tertawa.
“Oh…nggak pa-pa lagi. Gitu aja dipikirin. Oke deh, gue juga pernah jatuh cinta.”
“Sama siapa?” tanya Cira, antusias.  Kening Putty berkerut.
“Lu pengen tau aja. Pokoknya yang penting gue pernah jatuh cinta, jadi elu nggak perlu berkecil hati karena merasa elu terlalu sering jatuh cinta.”
“Iya…tapi gue perlu tahu siapa orangnya biar gue yakin kalau omongan elu tuh bener.” Desak Cira. Putty menatap kedua bola mata Cira yang terlihat penuh harap.
“Yah…oke deh. Dia…senior kita pas MOS dulu. Kak Doni.” Jawabnya, pelan. Cira bengong.
“Jadi…elu naksir Kak Doni?”
“Yah, gitu deh.”
“Lu masih mikirin dia?”
“Yah, dikit-dikit. Kan sekarang kita udah jarang ketemu lagi.”
“Lu kangen sama dia?”
“Mang kenapa sih?”
“Kalo lu kangen, berarti lu benar-benar cinta. Lu pedekate aja, Put. Kalo elu, gue yakin deh berhasil. Soalnya kan lu sepadan sama Doni.” Celoteh  Milly, tiba-tiba. Fera dan June yang ada di sampingnya ikut senyum-senyum. Cira dan Putty bertatapan.
“Kalian nguping, ya?!” jerit Putty, sebal. Bagaimana pun ia malu juga rahasianya terbongkar. Apalagi ini tiga Ratu Gosip yang tahu. Bisa berabe dia!
“Kita nggak nguping. Salah kalian sendiri ngobrolnya kencang-kencang. Jadi, Put, elu naksir Doni?” tanya Milly sekali lagi. Diikuti anggukan kepala June dan Fera. Putty memalingkan wajah. Ia tak mau wajahnya yang merah ketahuan ketiga cewek reseh itu.
“Nggak.”
“Alah…barusan lu ngomong gitu. Pokoknya gue udah tahu kok kalo elu naksir Putty. Nah, sekarang tinggal gimana elu mewujudkan mimpi elu.” Cerocos Fera.
“Mimpi apa?”
“Ya jadi pacar Doni, dong!” seru Milly. Putty buru-buru menutup mulut ember Milly.
“Aduh! Jangan kenceng-kenceng, dong! Reseh!” omel Putty.
“Tau nih, kalian. Ikut-ikutan aja!” seru Cira.
“Heh, kalian. Denger, ya. Emangnya kalo orang jatuh cinta harus pacaran? Nggak, kan? Lagian gue nggak kepikiran buat pacaran.” Tegas Putty.
“Kalo gitu, elu nggak bener-bener jatuh cinta.” Balas Milly. June dan Fera mengangguk-angguk.
“Ye! Lu tau apa tentang cinta?” cibir Putty.
“Tanya tuh Cira. Kalo orang jatuh cinta itu pasti berharap. Kalo elu nggak berharap jadi pacarnya berarti elu nggak bener-bener jatuh cinta.” Tukas June. Putty menatap Cira yang menggeleng.
“Enggak…gue nggak selalu berharap, kok.” Kata Cira.
“Bohong! Itu namanya elu muna. Sekarang buktiin, Put. Kalo elu bener-bener mencintai Doni berarti elu mau pedekate buat mengambil hatinya. Kalo enggak mau, berarti elu bohong. Elu nggak bener-bener jatuh cinta.” Tegas Fera. Putty melongo dibuatnya. Sesaat kemudian ia menatap Cira.
“Ini bukan soal gue jatuh cinta atau enggak. Tapi soal kehormatan. Emangnya bagus cewek nembak cowok duluan? Gengsi, tau!” sungutnya pada ketiga gadis itu.
“Ye…tapi, kan….” Milly, Fera dan June mulai nyerocos lagi.
“Kalo mau, kalian aja sono yang nembak cowok duluan. Ntar kalo kalian berhasil, baru deh gue.” Putty mencibir.
“Kok kita, sih? Kalo kita nggak mungkin lah ya.” Sahut Milly. Putty dan Cira bertatapan.
“Kenapa enggak?” tanya Cira.
“Karena kita nggak jatuh cinta sama siapa pun!” jawab ketiga gadis itu serempak. Putty dan Cira tertawa.
“Masa’ sih kalian nggak jatuh cinta sama satu pun cowok di sekolah ini?” sindir Putty. Ketiga gadis itu bertatapan.
“Jatuh cinta emang enggak.” Kata June.
“Tapi kalau ngecengin….” Fera menggantung kalimatnya.
“Tiap hari lah, ya!” sambung Milly. Setelah itu mereka pergi meninggalkan Cira dan Putty.
“Alhamdulillah…akhirnya mereka pergi juga.” Ucap Putty sambil mengelus dada. Cira mengacungkan dua jempol. Dia juga sudah pusing mendengar suara ketiga gadis itu dari tadi. Tapi…lho kok mereka balik lagi?
“Bu Nurma udah datang tuh!” seru Putty sambil menyiapkan buku LKS bahasa Indonesianya. Mulut Cira membentuk huruf O. Pantas….
***
Benarkah Putty jatuh cinta pada Kak Doni? Kok Putty nggak pernah bilang-bilang, ya? Apa Putty bohong? Apa dia cuma mau nyenengin hati gue aja? Ah, nggak tahu deh. Selama ini Putty emang tertutup banget sama gue. Meskipun gue sahabatnya, tapi dia nggak pernah banyak cerita sama gue. Malahan gue yang sering curhat. Mungkin Putty memang cuma pengen nyenengin hati gue aja. Sebenarnya dia memang nggak jatuh cinta sama siapa pun. Putty nggak seperti gue yang gampang jatuh cinta. Gue nggak bisa lihat cowok tinggi sedikit. Pasti deh gue langsung jatuh cinta tanpa ngaca dulu. Gue tahu, gue nggak pantes dapetin cowok yang lebih tinggi dari gue karena gue nggak cantik. Gue bukan cuma nggak cantik. Tapi gue…. Cira menatap cermin yang berbalik menatapnya. Cermin itu memantulkan wajah seorang gadis yang wajahnya bak bulan dilihat dari dekat dan tubuhnya seperti bola dengan berat….
“Enam puluh lima kilo gram! Naik lagi!!!” jerit Cira sambil melahap es krim ketiganya.
***

Klik di sini untuk baca kisah selanjutnya yaaa

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...