Saturday, July 9, 2011

Novel: Cinta Buat Chira (3)

3

Hai, teman-teman! Cira lagi, nih! Gue kasih tahu, ya. Ini hari pertama Cira punya pacar! Cira seneng banget! Bayangin, Cira punya pacar! Pacar Cira juga nggak sembarangan. Derry tinggi, tegap, pinter (kan Ketua Kelas) en tentunya berdoku, dong.  Seharusnya semua orang tahu ini. Biar semua orang yang meragukan Cira bisa koit! Cira, bisa juga punya pacar. Sayang, Derry belum siap bilang-bilang sih. Sebenarnya Cira sedih. Mungkin aja dia nggak mau bilang-bilang karena malu punya pacar Cira. Hiks! But, Cira tetap senang. Setidaknya Derry tulus mencintai Cira. Cihuiii!
“Cira?” kening Putty berkerut melihat penampilan Cira hari ini. Cira tersenyum. Maniiis sekaley.
“Bagus, nggak?” tanya Cira sambil memegangi rambut chaggy-nya. Untuk menyambut hari pertamanya BERPACARAN dengan Derry, ia bela-belain ke salon biar rambutnya yang kemarin biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Dichaggy, dong….
“Bagus sih, tapi….”
“Cira! Lu potong rambut, ya?!” teriak Milly, Fera dan June, tiba-tiba. Ugh! Cira nggak mau dengar komentarnya. Pasti….
“Jelek tau! Lu kan gendut. Kalo dipotong pendek, pipi lu jadi tambah tembem!” seru Milly. Tuh, kan…. Wajah Cira langsung berubah keruh.
 “Ngapain sih lu potong rambut? Hasil nggak bagus, yang ada malah buang-buang duit!” tambah Fera.
“Hus! Kalian!” Putty melotot.
“Eh, Cira. Rambutnya baru, yah?” tanya June. Cira mengangguk. Apakah June punya komentar yang menyakitkan juga?
“Em…kalo mau potong rambut, baiknya konsultasi dulu ke kita-kita. Siapa tahu kita bisa ngasih masukan. Katanya sih, orang yang pipinya tembem itu harusnya berambut agak panjang biar ketutupan.” Urai June. Tuh, kan….
“Bener, kan Cira! Lu nggak cocok sama potongannya, nih!” cerocos Milly. Fera ikut mencibir.
“Heh! Cocok atau enggak, itu urusan Cira. Kalian ikut campur banget, sih!” lagi-lagi Putty membela Cira.  Itu yang bikin seiri apapun Cira sama Putty, tetap aja Cira nggak bisa membencinya.
“Ah, elu sih temen yang membunuh, Put. Temen yang baik itu harusnya ngasih saran yang terbaik buat temennya dong. Bukan malah mematikan!” tukas Milly.
“Iya, Mil. Muji sih boleh, tapi harus lihat dulu. Pantes nggak dipuji.” Fera manggut-manggut.
“Ada apa sih ini? Pagi-pagi kok udah berisik?” tanya Farhan, tiba-tiba.
“Tuh, Cira. Potongan rambutnya nggak cocok banget sama mukanya. Iya, kan, Far?” Milly, Fera dan June mencari dukungan. Farhan tersenyum.
“Yah, tidak apa-apa. Kok jadi kalian yang ribut.” Ujarnya. Putty mentertawakan ketiga gadis itu.
“Tuh, kan. Kalian aja sih yang rese!” serunya. Cira yang merasa dibela, jadi malu-malu kucing.
“Eh, Farhan, gue kan cuma ngasih saran. Menurut gue sih, mukanya Cira jadi tambah tembem dengan potongan rambut pendek itu.” Cerocos Milly. Farhan senyum-senyum lagi. Gimana cewek-cewek nggak bergelimpangan melihatnya?
“Beberapa bulan lagi juga panjang lagi. Kalau sudah nggak sabar, pakai jilbab saja.” Katanya, ringan. Semua yang hadir di sana jelas aja terkejut.
“Pakai jilbab?!”
“Iya. Kalau kita bisa memakai strategi yang jitu, jilbab bisa mengoreksi kekurangan wajah kita.” Jelas Farhan sambil masih senyum-senyum. Semua bertatapan.
“Wah, lu tau juga soal itu.” Putty geleng-geleng kepala.
“Iya lah. Orang yang pakai jilbab kan nggak kelihatan apakah dia kurus atau gendut. Bisa disiasati. Tapi tentunya memakai jilbab bukan cuma untuk kelihatan lebih kurus atau gendut aja, lho. Persiapan hatinya juga penting.” Jelas Farhan. Semua berpandangan.
“Maksudnya apa, Far?” tanya Putty, antusias. Maklum, dia kan memang sudah berniat memakai jilbab.
“Yah, ibadah dan akhlaknya meningkat.” Jelas Farhan.
“Oh…gitu.” Semua manggut-manggut.
“Yang penting adalah niatnya. Niatnya hanya Allah semata. Oke, Cira. Supaya kamu nggak dipusingin soal rambut, sebaiknya kan pakai jilbab. Sudah dulu, ya. Bel masuk sudah bunyi, tuh!” kata Farhan sambil meninggalkan kumpulan gadis-gadis itu. Cira dan Putty berpandangan lagi.
“Sst…Cira. Kayaknya Farhan perhatian banget ya sama elu. Tadi aja belain elu banget. Sampai mati rasa tuh tiga Ratu Gosip!” bisik Putty. Cira jadi GR mendengarnya. Mungkin wajahnya jadi merah.
“Ah, enggak, kok….”
“Eh, bisa aja lagi Farhan naksir elu. Kan kalian pernah duduk berdua.” Putty malah terus mengompori.
“Udah ah, Put. Kalau pun dia naksir, gue nggak mau, ah.” Cira geleng-geleng kepala. Kening Putty berkerut.
“Kenapa? Bukannya dulu lu pernah naksir dia. Dia juga keren abis.” Putty heran. Cira nyengir.
“Habis dia suka ceramah, sih!” serunya membuat Putty melongo.
***
Bener nggak sih Farhan naksir gue? Tuh, kan gue jadi GR lagi. Nggak pa-pa, dong. Cewek kan feelingnya kuat. Mungkin Farhan emang naksir gue, tapi…gue udah punya Derry, tuh! Gue sengaja potong rambut biar kelihatan lebih fresh. Biar Derry makin naksir sama gue. Gitu! Gue tahu, di mata orang-orang, apapun yang gue lakuin pasti salah. Tapi gue nggak peduli. Yang gue peduliin cuma komentar dari Derry. Sayang, Derry belum sempat ngasih komentar. Habis tadi dia dateng telat, sih.
“Hai, Cira!” sapa Derry yang tiba-tiba saja sudah duduk di bangku depan Cira. Penghuninya, Milly dan June memang sedang kabur ke kantin. Guru Ekonomi nggak datang sih. Cira jadi deg-deggan melihat pangeran kesayangannya itu datang.
“Eh, Derry….”
“Lu potong rambut, ya?” tanya Derry. Cira mengangguk malu-malu. “Bagus, lho.” Puji Derry. Cira jadi makin malu. Yes! Komentar yang mematikan, gue nggak peduli. Yang penting pujian dari Derry! Batin Cira berseru.
“Eh, Putty, lu nggak potong rambut juga?” tanya Derry pada Putty yang masih menyalin PR Ekonomi sebagai ganti absennya guru. Putty tersenyum.
“Em…belum kepikiran.” Jawabnya dengan senyum yang bikin cowok mana pun terkesima. Pantas saja mata Derry tak mau pindah.
“Serius amat, sih? Gurunya juga nggak ada.” Kata Derry sambil usil menutup buku catatan Putty. Putty melotot. Melotot begitu juga dia tetap cantik.
“Eit! Ngapain sih lu? Ganggu aja!” omelnya. Derry mesem-mesem. Cira yang melihat adegan itu jadi gerah sendiri. Kok perhatian Derry jadi ke Putty, sih?
“Udah nggak usah dikerjain, Put. Liat punya gue aja nanti.” Kata Derry lagi. Putty tersenyum.
“Kalau gitu namanya gue nggak berusaha. Udah deh, sana balik! Nih udah masuk jamnya pak Roni!” katanya sambil melihat jam tangannya.
“Enggak ah, gue mau di sini. Gue kan mau ngobrol sama Cira. Ya nggak, Ra?” kata Derry sambil mengerlingkan mata ke Cira. Cira manyun. Ngobrol sama gue? Bukannya dari tadi perhatiannya ke Putty mulu? Gue jadi khawatir, nih. Gumamnya dalam hati.
“Oke deh. Ngobrol, ngobrol. Tapi ngomong-ngomong, pak Roni udah masuk, tuh!” kata Putty. Derry terkejut. Buru-buru ia kembali ke tempat duduknya meninggalkan Cira yang masih manyun.
“Eh, ngapain tuh si Mike Tyson kemari?” tanya Milly, Fera dan June yang baru balik dari kantin. Putty melirik Cira.
“Biasa….”
“Deu…Cira….” Ketiga gadis itu mengerjapkan mata. Cira jadi nggak enak.
***
Bel pulang berbunyi. Cira buru-buru memasukkan semua bukunya ke dalam tas.
“Cira! Tungguin gue! Lu jangan ngabur lagi kayak kemaren, lho!” seru Fera, teman seperjalanan Cira.
“Iya, iya.” Cira melengos. Sebenarnya ia malas banget pulang bareng Fera. Kalau pas pulang aja, baik-baikin. Tapi kalau sudah di kelas? Mulai deh ribut bareng gengnya. Eit! Kok lupa, ya? Sekarang kan dia sudah punya pacar. So pasti Derry bakalan nganterin dia pulang, dong!
“Cira, ayo!” ajak Derry yang tiba-tiba sudah ada di depan muka Cira. Tuh, kan! Cira mengangguk cepat. Derry tersenyum manis, tapi…bukan untuk Cira, melainkan Putty.
“Gue balik dulu ya, Put.” Katanya.
“Balik deh.” Putty menjawab asal.
“Ayo, Ra!” Derry menarik tangan Cira.
“Aduh! Jangan cepat-cepat, dong!” jerit Cira.
“Gue perlu ngomong sama elu, nih! Musti cepat sebelum ketahuan kakak gue.” seru Derry.
“Iya, iya. Ngomong apa, sih?” tanya Cira, sebal.
“Gimana? Apa yang bisa elu ceritain ke gue?” tanya Derry. Kening Cira berkerut.
“Cerita apa?”
“Apa aja!”
“Yah…apa?” Cira makin tak mengerti. Otaknya benar-benar nggak jalan saat ini.
“Ayo dong, Cira. Katanya elu mau bantuin gue.” Derry mendesak. Cira benar-benar tak mengerti.
“Bantu apa sih?” tanyanya, bingung. Dari jauh kelihatan kakaknya Derry melambai-lambai di atas sepeda motornya.
“Derry! Cepat!” serunya. Derry melengos.
“Yah…dia udah datang lagi. Besok aja lagi, ya, Ra.”
“Emangnya lu nggak bisa pulang sendirian?” tanya Cira.
“Nggak dibolehin. Dia takut ntar gue nggak pulang tepat waktu. Sorry ya, Ra! Bye!” Derry meninggalkan Cira yang terpaku. Yah…kok begini, sih? Pacaran model apa, nih? Tau, ah! Cira berjalan menuju tempat pemberhentian angkot dengan langkah gontai. Rasanya seperti tak punya pacar. Masa’ dia nggak diantar pulang, sih? Katanya pacaran?
“Cira? Bengong saja?” tegur Farhan, tiba-tiba. Cira terkejut.
“Eh, iya, iya.”
“Tadi kamu ditungguin Fera, lho. Dia marah-marah. Katanya kamu ninggalin dia.” Kata Farhan. Cira menepuk jidat.
“Iya. Gue emang ada janji sama dia.”
“Sudah sholat Dzuhur?” tanya Farhan. Cira melengos. Ini…lagi!
“Belum.”
“Eh, sholat dulu. Sepertinya angkotnya bakal lama.” Farhan mengingatkan. Ugh! Cira bete! Orang lagi kesel diceramahin!
“Iya! Iya! Lu sendiri emangnya udah sholat?!” bentaknya. Farhan istighfar.
“Maaf, Cira kalau kamu jadi marah. Saya sih sudah tadi. Pas bel bunyi saya langsung ke musholla. Maaf, kamu ada masalah? Saya mau kok menampung ceritamu.” Katanya, menyejukkan. Cerita? Emangnya lu siapa gue? Maki Cira dalam hati. Cerita? Dia baru sadar sekarang. Jadi itu maksud Derry tadi. Cerita! Yup! Benar!Orang yang pacaran kan harus saling terbuka. Harus saling menceritakan masalahnya masing-masing, begitu! Jadi tadi maksud Derry baik. Cihui! Cira jadi seneng lagi.
“Makasih, deh. Ntar gue cerita sama orang lain aja. Gue sholat dulu, ya, Far!” katanya sambil meninggalkan Farhan yang termangu sendirian. Perempuan memang membingungkan. Kelihatannya sedang bersedih, eh tiba-tiba tertawa lebar. Aneh!
***
Sekarang gue nggak sedih lagi. semuanya memang harus dijalanin bertahap. Nggak bisa langsung. Derry mungkin belum bisa nunjukin ke orang-orang kalau dia udah punya pacar yaitu gue. Tapi suatu hari nanti, dia pasti bakal ngomong ke orang-orang kalau dai udah punya pacar yaitu gue. Gue nggak perlu nungguin kapan itu terjadi. Yang penting udah jelas, Derry sangat perhatian sama gue. Itu aja seharusnya udah cukup. Kapan lagi sih gue diperhatiin sama cowok kayak gitu? Nah, Cira. Lu bisa tidur nyenyak sekarang. Eh, belum ding. Kalo gue liat-liat, kayaknya Farhan juga naksir gue deh. Udah keliatan dari sikapnya yang…gitu deh. Lu-lu udah tau, kan? Tapi selama Derry masih sama gue, gue nggak bakalan berpaling ke lain hati. Ya, nggak? Nah, sekarang gue bener-bener udah bisa tidur. 


------------------------


Klik di sini untuk baca kelanjutannya yaa





Info Penerbit: DIva Press

Info dari saya: Penerbit Diva Press adalah penerbit yang cukup besar di Yogyakarta. Jika melihat novel-novel yang telah diterbitkan, Diva Press agaknya menerima novel yang agamis, setipe dengan novel Ayat-Ayat Cinta, dengan jumlah halaman yang tebal, 200 halaman. Naskah bisa dikirimkan via imel (ada di bawah), dan akan mendapatkan jawaban kurang lebih satu bulan ke depan. Menggunakan sistem kontrak per jumlah eksemplar tertentu, misalnya, Rp 2 Juta/ 3000 eksemplar. 


Info dari penerbit, www.divapress-online.com


Persyaratan Naskah:

>>> Naskah Fiksi (Tema bebas) <<<

- Menyertakan sinopsis cerita dan biodata lengkap (termasuk nomor yang dapat dihubungi)
- Naskah minimal 250 halaman, kertas A4, spasi 2, font Times New Roman ukuran 12, batas margin kanan 4, kiri 3, atas 4, dan bawah 3


>>> Naskah Nonfiksi (tema bebas) <<<

- Menyertakan ringkasan dan daftar isi
- Naskah minimal 200 halaman kertas A4, spasi 2, font Times New Roman ukuran 12, batas margin kanan 4, kiri 3, atas 4, dan bawah 3                                                         

Naskah dapat dikirimkan melalui e-mail ke alamat: redaksi_divapress@yahoo.com. Atau, dapat dikirimkan maupun diantar langsung ke kantor redaksi kami dalam bentuk print-out beserta soft file.

Konfirmasi penerimaan naskah akah diberikan maksimal 1 bulan setelah naskah sampai ke meja redaksi.

Naskah yang telah diterima hanya akan diedit oleh staf redaksi DIVA Press yang berwenang.

Alamat Redaksi DIVA Press
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno, Banguntapan Yogyakarta
Telp: (0274) 4353776, 7418727
Fax: (0274) 4353776
SMS: 081804374879

Kantor Perwakilan Jakarta
Jl. Kramat Buntu No. 4,
Kel. Keramat Kec. Senen
Jakarta Pusat
Telp/Fax. (021) 3159733, (021) 33745793

Kantor Perwakilan Surabaya
Jl. Medokan Semampir
AWS I No. 21
Surabaya, Jawa Timur
Telp. (031) 5965910, 081931098310


Novelku, Jean Sofia, yang diterbitkan oleh Diva Press


Sekilas tentang isi buku:

Cinta memang aneh! Ia selalu datang di saat yang tak terduga. Dan, menghampiri siapa pun tanpa melihat usia, golongan, status sosial, latar belakang pendidikan, tempat tinggal, hingga agama seseorang! Termasuk saat ia menimpa dua tokoh utama dalam novel ini: Jean dan Sofia!

Memangnya ada apa dengan kedua anak muda tersebut? 
Inilah masalahnya, Jean adalah seorang non-muslim dan Sofia adalah seorang muslim! Jean sangat tergila-gila sama Sofia dan Sofia pun tak memiliki alasan kuat untuk mengatakan “tidak” kepadanya.

Sebuah gejolak perasaan yang sama-sama berat untuk diredam. Tapi, sayang, tatkala Jean hendak menyatakan cintanya, Sofia berubah. Dia justru menjauh darinya. Jean pun merasa tersakiti karena sikap tersebut. Ia lalu berusaha melupakan Sofia sebagaimana Sofia yang telah berusaha melupakannya. Namun, ternyata rasa cinta tak dapat dilenyapkan hingga bertahun-tahun lamanya.

Lantas, apa yang terjadi kemudian?
Tentu saja sebuah cerita seru, di luar dugaan, dan menarik bakal Anda hadapi. Dengan gaya yang cerdas dan penuh tuturan lembut, novel ini sangat layak untuk Anda simak dan renungkan!
Ada banyak nilai spiritual yang terselubung dalam cerita ini!

Sekalipun aku sudah siap menikah, sanggupkah aku menepis bayangan Jean dan mengalihkan cintaku kepada suamiku? Bagaimana jika tidak bisa? Tentu aku akan jadi sangat berdosa kepada suamiku karena telah menduakannya di dalam hati. Aku menikah dengan lelaki lain, tapi pikiranku masih terpaku kepada Jean.

Tips Menulis: Menulislah dengan EYD

Menulislah dengan EYD

Oleh Sakti Wibowo


PEMAKAIAN HURUF BESAR


Huruf besar (kapital) dipakai sebagai:

1.       Huruf pertama pada awal kalimat.

Misalnya:

-Dia mengamuk.

-Bagaimana keadaanmu?

-Pergilah dari sini!

Novel: Cinta Buat Chira (2)

2

Kali ini Cira datang lebih pagi. Tumben. Soalnya dia nggak disibukkan lagi dengan urusan dandan dan nimbang berat badan dulu. Dia lagi malas lihat wajahnya yang tidak menunjukkan perubahan dan  syukurnya, timbangan badannya pun jebol gara-gara keseringan dibuat nimbang. Lumayan, dia jadi ngirit waktu.
“CIRA!” seru Derry, tiba-tiba. Cira menatap si ketua kelas itu. Phiuh! Ternyata kelas masih kosong.
“Tiap hari lu datang pagi, Ry?” tanyanya sambil memasukkan tas punggungnya ke dalam laci.
“Yah, begitulah. Namanya juga ketua kelas.”
“Cie….”
“Ada yang mau gue omongin ke elu.”
“Ngomong, ngomong aja.”
“Tapi ini rahasia, ya.” Bisik Derry. Wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Cira dan tatapan matanya yang tajam membuat jantung Cira berdetak lebih kencang. Cira berharap semoga wajahnya tak jadi merah.
“Apa, sih?” tanyanya dengan bibir bergetar. Duh, Cira ge-er, nih.
“Em….” Derry makin mendekatkan wajahnya ke wajah Cira. “Gue….”
“CIRA! Tumben lu dateng pagi!” teriak Putty, tiba-tiba. Derry segera menjauhkan wajahnya dari wajah Cira dan senyam-senyum. Cira juga nyengir.
“Wah, wah, wah. Ngapain nih kalian berduaan?” selidik Putty sambil menatap Derry dan Cira bergantian.
“Enggak, kok….” Cira bingung menjawabnya.
“Gue cuma mau nyontek PR bahasa Inggrisnya Cira!” jawab Derry, cepat disertai anggukan kepala Cira. Putty manggut-manggut.
“Oh….” Katanya sambil membuka tasnya.
“Mau ngapain kamu, Put?” tanya Cira.
“Mau meriksa jadwal. Jangan-jangan gue salah lagi. Perasaan sih hari ini nggak ada bahasa Inggris.” Katanya sambil membuka bukunya. Cira dan Derry bertatapan.
“Bener, kok. Ini hari Rabu, kan? Nggak ada bahasa Inggris, kan?” tanya Putty, culun. Cira dan Derry berbarengan mengangguk.
“Maksudnya buat besok. Besok kan ada pelajaran bahasa Inggris.” Jawab Derry yang lagi-lagi disertai anggukan kepala Cira.
“Oh….” Katanya sambil masih sibuk berpikir. “Tapi kayaknya bahasa Inggris nggak ada PR deh.” Gumamnya membuat Cira dan Derry lagi-lagi bertatapan.
“Udahlah, Put. Mendingan lu liat tuh jadwal piket hari ini. Lu piket tuh. Buruan kerjain!” suruh Derry sambil meninggalkan Putty dan Cira.
“Huh! Mentang-mentang ketua kelas!” sungut Putty, sebal. Cira tersenyum lega. Akhirnya ia bebas dari prasangka Putty.
“Eh, Ra. Ngapain ya Derry minjem PR elu. Bukannya dia tau lu nggak bisa bahasa Inggris? Lagi pula dia kan lebih pintar.” Tanya Putty tiba-tiba membuat Cira terbengong-bengong.
***
Apa yang mau dikatakan Derry tadi, ya? Kok sikapnya mencurigakan banget. Gue jadi nggak enak, nih. Apakah Derry…ah, enggak, ah. Gue nggak mau kege-eran. Kege-eran itu nggak enak. Nyakitin banget. Pasti nggak ada apa-apa. Tapi…kalian juga lihat kan tadi. Sikap Derry benar-benar hampir bikin jantung gue mau copot. Kalo dinilai dari kriteria cowok yang bakalan gue taksir, dia memang sedikit masuk sih. Yang pasti dia pinter, tinggi, atletis, but…gue nggak suka sama kulitnya yang rada item itu. Gue kan sukanya cowok yang kulitnya putih. Ah, Cira. Lu dapet Derry aja udah untung lu. Aduh…gue jadi nggak enak. Seandainya Derry benar-benar nembak gue…pasti nggak bakal gue tolak. Apalagi sekarang…dia ngeliatin gue! Dia berkali-kali menoleh ke arah gue. Gue yakin, tatapan mata dan senyumannya itu benar-benar buat gue. Sungguh!
“Hei! Cira!” seru Putty, tepat di telinga Cira.
“Apaan, sih?”
“Lu bengong aja. Mikirin cowok, ya? Jangan-jangan bener kata Milly, lu lagi jatuh cinta.” Tebak Putty.
“Enggak! Enak aja!”
“Ya nggak pa-pa. Apa salahnya jatuh cinta?”
“Ya…emang….”
“Siapa sih? Gue boleh tau, nggak?” Putty merajuk. Wajah Cira pucat.
“Putty! Gimana pedekate lu?!” tanya Milly, tiba-tiba, disertai anggukan kepala Fera dan June. Putty dan Cira bertatapan. Sebel. Mereka selalu ikut campur urusan orang!
“Apa-apaan sih lu? Nyambung aja!” omel Putty.
“Yah…boleh, dong. Gue pengen tau perkembangan lu ama Doni. Udah sejauh mana perjuangan lu?” tanya Milly.
“Gue nggak berjuang apa-apa. Gue nggak akan pernah berjuang. Ngapain gue nembak cowok duluan.”
“Berarti elu emang nggak jatuh cinta sama dia. Tuh, Cira, denger. Putty tuh udah ngebo’ongin elu.” Cibir Fera. Cira menatap Putty, Putty jadi nggak enak.
“Ah, udahlah. Bodo’!” serunya, sebal sambil kembali mengerjakan LKS Akuntansinya. Ketiga gadis itu pun menghentikan interogasinya. Cira menatap Putty, dalam, lalu menghela napas panjang.
“Elu…emang nggak jatuh cinta sama Kak Doni, kan?” tanyanya, pelan. Putty menghentikan kegiatan menulisnya, lalu menatap Cira.
“Gue jatuh cinta sama dia, kok.” Elaknya.
“Tapi kok lu nggak punya semangat itu?”
“Semangat apa?”
“Mencintai.” Suara Cira terdengar pelan. Putty tertawa sambil membekap mulutnya agar suara tawanya tak terdengar kencang.
“Gue pusing, ah! Gitu aja dipikirin! Udah, ah!” katanya sambil kembali mengerjakan LKS Akuntansinya. Cira menghela napas sekali lagi. Mungkin…memang dia satu-satunya cewek yang gampang jatuh cinta. Di hari pertama MOS, dia jatuh cinta pada Rasya, senior bermata elang itu. Terus, dia duduk semeja dengan Farhan selama seminggu dan dia jatuh cinta juga. Terus sekarang dia jatuh cinta sama Derry. Terus…. Duuuuh!
***
Bel pulang berbunyi tepat pukul satu siang. Semua siswa di kelas satu tiga ini segera membereskan buku-bukunya bersiap-siap untuk pulang.
“Beri salam!” seru Derry.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” seru semua siswa. Setelah guru yang mengajar menjawab salam dan ke luar kelas, para siswa pun bubaran.
“Gue pulang duluan ya, Put!” kata Cira.
“Lu nggak sholat Dzuhur dulu, Ra?” tanya Putty.
“Ntar di rumah juga sempet.” Jawab Cira, cuek sambil melenggang meninggalkan Putty.
“Put, mau sholat ya? Bareng, yuk!” ajak Juli. Putty mengangguk.
“Tumben lu sholat di sekolah?” tanya Putty pada gadis bertubuh mungil itu.
“Iya sih. Biasanya gue sholat di rumah aja. Tapi…telat mulu.” Jawab Juli.
“Telat?”
“Jalanan kan macet, biasa, anak-anak sekolah kan baru pada pulang semua. Sampe rumah setengah tiga. Nggak sreg rasanya sholat nanggung gitu. Bentar lagi Ashar. Pernah gue nggak dapet sholat Dzuhur.” Jelas Juli.
“Oh…berarti Cira….”
“Yah sama aja. Rumah gue kan searah ama dia. Apalagi Cira lebih jauh lagi.”
“Hem…payah tuh anak. Apa susahnya sih sholat dulu di sekolah?” Putty geleng-geleng kepala. Juli angkat bahu.
“Gue pikir elu noni, Put.” Katanya, tiba-tiba. Kening Putty berkerut.
“Noni?”
“Non Islam. Habis wajah lu Cina gitu.”
“Gue emang keturunan Cina, sedikit. Tapi suer, Kakek, nenek, nyokap, bokap gue Islam semua.” Jawab Putty membuat Juli manggut-manggut.
“Hebat, ya?”
“Nggak juga. Sebenarnya gue sebel juga sih banyak yang beranggapan gue non Islam. Gue musti pakai cara apa ya biar orang-orang tau kalau gue muslim?”
“Iya. Gue juga baru tahu lu muslim pas liat lu sholat dan ngaji. Tadinya gue heran, kok pas pelajaran Agama Islam, elu nggak ke luar kelas kayak teman-teman kita yang noni. Apalagi pas elu disuruh baca Al-Qur’an, gue tambah kaget karena bacaan lu bagus banget.”
“Ah, elu.”  Putty jadi nggak enak. Juli tersenyum.
“Pakai jilbab aja, Put. Dijamin orang-orang nggak ragu bilang elu muslim. Elu kan udah jago ngajinya. Kalo gue mah masih terbata-bata. Malu kalau pakai jilbab.”
“Pakai jilbab?” Putty bengong.
“Iya.”
“Emang harus bisa ngaji dulu kalau mau pakai jilbab?”
“Ya iyalah. Kan malu. Masa’ pakai jilbab nggak bisa ngaji. Pokoknya kalo elu mah udah pantes deh pake jilbab.” Kata Juli membuat Putty terpaku. Pakai jilbab? Sungguh ia tak pernah memikirkannya.
“Lagian, Put. Cowok-cowok Rohis kan maunya sama cewek yang pakai jilbab.” Kata Juli, mengejutkan. Kedua mata Putty langsusng berbinar.
“Cowok-cowok Rohis?”
“Iya. Lu kenal Kak Adrian, nggak?” Juli balik nanya. Kedua bola mata Putty makin berbinar. Adrian…siapa yang nggak kenal.
“Ya, tentu aja gue kenal. Dia kan terkenal banget pas MOS.”
“Iya lah. Jelas. Dia keren banget, kan? Kabarnya dia yang paling banyak dapat surat cinta.” Juli tersenyum.
“Kok jadi ngomongin dia, sih?” Putty heran. Juli tersenyum.
“Dia itu kan sekarang ketua Rohis.” Jawabnya membuat Putty terbelalak.
“Yang bener?!”
“Iya. Kan baru kemaren pemilihannya. Lu pasti tahu dong, banyak banget cewek-cewek yang udah berusaha ngedeketin dia.” Juli melirik Putty.
“Gue denger sih begitu. Gue denger juga, nggak ada satu pun dari cewek-cewek itu yang berhasil ngedapetin dia, padahal mereka cantik-cantik.”
“Yup! Bahkan sampai sekarang katanya dia nggak punya pacar.” Lanjut Juli. Putty terbeliak.
“Ah, masa’ sih?”
“Iya. Soalnya kan cowok Rohis kayak dia pasti sukanya sama cewek yang pakai jilbab.” Jelas Juli. Kening Putty berkerut.
“Oh…begitu, ya.”
“Iya lah. Liatin aja. Cewek-cewek Rohis kan kebanyakan pakai jilbab.” Juli tersenyum. Putty manggut-manggut. “Artinya kalo elu pake jilbab, elu punya kesempatan ngedeketin Adrian.” Jelas Juli. Putty terkejut mendengarnya.
“Emangnya lu pikir gue juga tertarik sama dia? Udah, ah. Sekarang kita sholat.” Katanya sebelum meninggalkan Juli yang terpana.
***
Cira menghapus peluh yang bercucuran di wajahnya. Panasnya matahari Jakarta membakar tubuhnya. Bener-bener, deh. Begini kali yang dirasakan ayam sewaktu dipanggang. Menderita! Mana macet lagi! Kedua matanya terbelalak saat seseorang menaiki angkot yang dinaikinya.
“Farhan?”
“Eh, Cira.” Kata Farhan sambil tersenyum. Duh…senyumnya itu, lho. Nggak nahan….
“Kok pindah angkot?” tanya Cira, heran. Soalnya ia tadi melihat Farhan menaiki angkot yang lain.
“Iya. Sopirnya mau pulang. Nggak bertanggung jawab ya.” Jawab Farhan sambil mengeluarkan hobinya yang membuat Cira jadi nggak enak. Menundukkan wajah, bow!
“Berarti lu bayar dua kali, dong?”
“Enggak. Uangnya dibalikin lagi.”
“Oh…syukur deh.” Kata Cira. Ia bingung mau bicara apa lagi. Yah, namanya juga sedang berhadapan dengan salah satu cowok yang ditaksirnya. Matanya melotot melihat Farhan mengeluarkan Al-Qur’an dari sakunya dan…membacanya! Oo…ow! Cira jadi sangat, sangat, malu.
“Eh, Farhan, kamu udah sholat Dzuhur?” tanya Cira setelah Farhan menyelesaikan ngajinya. Kening Farhan berkerut.
“Lho? Ya sudahlah. Ini kan macetnya nggak nanggung-nanggung. Bisa sampe di rumah jam tiga. Nggak kebagian sholat Dzuhur lah.” Jawabnya membuat  Cira semakin malu. Saking malunya, tanpa sadar ia menggigiti jari telunjuknya. Sholat Dzuhur? Meskipun masih ada waktu sholat Dzuhur sesampainya di rumah nanti, belum tentu ia menunaikannya. Dia kan capek, lapar, ngantuk! Ah, Cira!
“Memangnya…kamu belum sholat, ya, Ra?” tanya Farhan membuat Cira tak berkutik. Ia pun mengangguk malu-malu.
Masya’Allah…kalo ketinggalan bagaimana?” tanya Farhan sambil geleng-geleng kepala.
“Yah…terpaksa deh, nggak sholat.” Jawab Cira, pelan, tapi Farhan bisa mendengarnya. Kedua alis mata Farhan naik ke atas.
“Kamu kan sudah baligh, Ra.” Ucapnya.
“Emang kenapa?”
“Ya dosa kalau udah baligh ninggalin sholat.”
“Habis….” Cira tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba bersama Farhan menjadi tidak menyenangkan.
***
Putty menatap wajahnya di cermin. Ada yang beda di sana.  Jelas saja. Ia ngaca sambil memakai mukena! Ia ingin tahu, seperti apa wajahnya kalau sedang memakai mukena. Kalau terlihat lebih cantik, mungkin ia akan mempertimbangkan kata-kata Juli untuk memakai…jilbab! Tapi…Putty mencubit pipi chubby-nya.
“Kalau gue pakai jilbab, gue jadi keliatan gendut. Ntar nggak ada bedanya sama Cira lagi.” gerutunya.
“Ntar aja deh pakai jilbabnya. Kalo pipi gue udah nggak tembem.” Katanya sambil melepas mukena.
***
Gue mokal banget sama Farhan hari ini. Ketauan deh kalau gue jarang sholat Dzuhur. Bukan cuma shalat Dzuhur aja seeeh…. Gue juga udah lupa kapan terakhir gue shalat Shubuh. Habis, gue bangun kesiangan mulu. Tau-tau udah jam enam. Padahal gue kan harus buru-buru berangkat ke sekolah. Kadang-kadang gue juga kelupaan sholat Ashar kalo ketiduran. Ah, sebodo teuing, lah! Gue nggak pacaran sama Farhan ini. Kayaknya dia emang ketinggian buat gue. Terlalu alim! Nggak kuku….
Hem…gue rasa…baiknya gue ama Derry aja kali ya. Soalnya dia tuh nggak terlalu alim. Gue juga jarang liat dia sholat. Cocoklah sama gue. But, sebenarnya gue lebih suka sama yang rajin sholat. Tapi gue sendiri aja nggak sholat, ntar gue diceramahin mulu lagi. Kayak si Farhan tadi. Emang enak?! Baiknya gue jalanin aja hubungan gue ama si Derry, oke?! Mungkin besok dia akan menyatakan cintanya sama gue. Kan tadi pagi tertunda.
***
Pagi ini Cira berangkat ke sekolah lebih awal lagi. Satu-satunya yang memotivasinya adalah…ketemu Derry. Siapa tahu Derry telah menunggunya untuk mengatakan sesuatu. Siapa tahu itu adalah…ah, Cira jadi malu membayangkannya.
Cira menghela napas panjang sebelum memasuki kelas. Kelas masih kosong. Ia memang kepagian. Ia berharap Derry telah menunggunya. Dilangkahkan kakinya satu-persatu. Ternyata benar! Derry telah menunggunya!
“Hai, Cira! Gue tungguin lu dari tadi!” seru Derry, senang. Cira nyengir. Tuh, kan, bener. Ia tak sadar wajahnya kini bersemu merah.
“Ada apa?” tanyanya, manja. Kening Derry berkerut.
“Gue mau omongin soal yang kemaren.”
“Oh….”
“Em…begini. Gue…naksir….” Derry menggantung kalimatnya. Ditatapnya Cira yang jantungnya sedang berdetak kencang ini.
“Elu….” Cira menunggu kalimat Derry selanjutnya.
“Ah, enggak, ah!” Derry tak jadi melanjutkan kalimatnya. Cira melengos.
“Apa sih?”
“Lu bisa jaga rahasia, nggak?” tanya Derry membuat kening Cira berkerut.
“Memangnya apa yang  harus dirahasiain?”
“Ini memang rahasia.”
“Tapi kenapa?” Cira tak mengerti.
“Soalnya….”
Assalamu’alaikuum…!” seru Putty, tiba-tiba. Wajah Derry dan Cira langsung pucat. Lagi-lagi Putty yang memergoki mereka.
“Kalian…berdua lagi….” Putty berprasangka.
“Ya. Gue pengen pinjem PR bahasa Inggris!” jawab Derry, sedikit marah. Kening Putty berkerut.
“Bukannya kemaren udah?”
“Kan nggak jadi karena elu masuk.”
“Oh…sorry deh. Ya udah. Silahkan…silahkan…dilanjutkan transaksinya. Maaf, mengganggu.” Putty segera meninggalkan kedua manusia itu. Derry dan Cira menghela napas lega. Sesaat kemudian mereka bertatapan. Cira tertunduk malu.
“Em…janji ya lu bisa pegang rahasia?” tanya Derry. Kening Cira berkerut lagi.
“Emang kenapa?”
“Gue nggak mau ketahuan orang dulu, soalnya gue belum boleh pacaran sedangkan kakak gue juga sekolah di sini. Kalau dia ngadu sama orangtua gue kan gawat.” Jelas Derry membuat Cira terpana. Tuh, kan bener! Derry naksir dia! Mereka akan jadian!!!
“Jadi…elu…naksir….”
“Elu udah tahu?” tanya Derry, bingung. Cira mengangguk manja. Derry garuk-garuk kepala.
“Gue kan belum ngomong ke siapa-siapa.”
“Nggak usah ngomong juga udah ketauan kok dari sikap lu.”
“Jadi elu sering merhatiin gue?!” tanya Derry, antusias. Cira mengangguk cepat. Tanpa sadar, Derry menggenggam tangan Cira…
“Cira!!! Berarti lu bisa dong….” Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Milly datang dan menatap mereka, bingung.
“Kalian sedang apa?” tanyanya. Derry dan Cira bertatapan
***
“Derry dan Cira ada affair!!!” jerit Milly, senang. Semua siswi di kelas satu tiga yang mendengar jeritannya ikut tertawa menggoda. Cira malu. Ia menutupi wajahnya dengan buku terus.
“Eh, Milly! Elu ember banget, sih!” omel Derry.
“Tapi kan bener. Ternyata elu naksir Cira, Der. Ternyata elu….” Milly tertawa lebar. Fera dan June yang selalu berada di sampingnya ikut tertawa lebar.
“Hei! Kalian kan cewek! Masa’ cewek ketawa ngakak gitu!” cibir Derry.
“Emang kenapa? Emangnya cewek nggak boleh ketawa?” balas Milly.
“Tau, luh! Reseh aja!” Fera menambahkan.
“Lu nggak bisa ketawa juga kali!” seru June.
“Ya boleh. Tapi harus tahu etika.” Derry membela diri.
“Biarin! Suka-suka kita dong!” Milly, Fera dan June memonyongkan bibirnya. Sementara itu, Putty hanya bisa menatap Cira.
“Jadi benar kalian ada kasus….” Ucapnya, pelan. Cira tak mau mengangkat wajahnya.
“Maafin gue karena nggak pernah bilang-bilang.”
“Yah…mungkin gue emang belum jadi sahabat lu….”
“Ah, Putty….” Cira segera menarik tangan Putty dan menggenggamnya.
“Kalian udah jadian?” tanya Putty, tiba-tiba. Cira tak bisa menjawab. Udah belum, sih? Selanjutnya, ia menggeleng. Putty melongo dibuatnya.
Gue nggak tau deh. Perasaan gue malah jadi nggak enak. Kenapa semua orang seakan meragukan cinta Derry ama gue? Emangnya gue nggak pantas dicintai? Gue sebel. Gue kan juga ingin dicintai. Kenapa sih semua orang memojokkan gue? Mendingan urus deh diri mereka sendiri.  Sebel!
“Cira…istirahat nanti, gue pengen ngomong sama elu.” Kata Derry tiba-tiba. Cira melongo. Benarkah?!
Cira menatap sosok tinggi besar di sana. Derry. Apa yang mau diomongin dia, ya? Cira jadi deg-deggan, nih. Apakah sekarang juga Derry akan mengucapkan cinta padanya? Cira jadi GR. Pasti wajahnya saat ini sedang bersemu merah. Oh, Tuhan Mahabaik. Ia mau mendengar doa Cira. Terima kasih, Tuhan. Akhirnya Cira punya pacar juga. Yes!
“Cira. Akhirnya elu dateng juga. Lama amat sih?” tanya Derry dengan wajah  yang sukar dideskripsikan. Derry itu marah atau senang, sih?
“Ada apa, Der?” tanya Cira dengan wajah malu-malu.
“Belum apa-apa kok udah ketahuan. Gue jadi nggak enak, nih.” Kata Derry sambil menghela napas. Cira terkejut mendengarnya. Jadi masalah itu yang mau dibicarakan.
“Ini semua gara-gara tiga Ratu Gosip itu.” Ucapnya.
“Iya. Mereka, tuh. Padahal kan….”
“Memangnya kenapa sih kalau ketahuan?” tanya Cira, memotong ucapan Derry.
“Ya gue malu lah. Orang belum jelas.”
“Belum jelas bagaimana? Terus terang aja. Biar semua orang tahu.”
“Ya nggak bisa, Cira. Udah deh, sekarang yang penting elu mau kan?” tanya Derry yang bikin jantung Cira berdetak tak terkendali. Cira mengangguk cepat.
“Iya lah!” Duh, tak ada satu pun kanvas yang bisa melukiskan perasaannya saat ini.
“Kalo gitu langsung aja kita jalankan misi ini. Kapan lu siap?” tanya Derry, antusias. Cira tak mampu menatap wajah kukuh itu.
“Kapan pun gue siap.” Ujarnya malu-malu.
Thanks Cira! Ini kebahagiaan buat gue!” seru Derry sambil menepuk-nepuk bahu Cira, erat. Cira serasa di awan! Bener, lho!
***
Klik di sini untuk baca kelanjutannya yaaa








Friday, July 8, 2011

Cerpen: JO

JO

Yosi berlari cepat menuju ruang B302, tempat kuliah Pengantar Manajemennya diadakan. Sudah liam belas menit yang lalu kuliah dimulai. Dasar mental ngaret! Walaupun kuliah dimulai pukul dua belas siang, tetap saja ia pasti telat. Yosi….
Yosi sebenarnya agak malas mengambil mata kuliah ini. Habis, perbaikan! Nilainya kemarin C. C, sodara-sodara! Padahal Pengantar Manajemen (Pengamen) katanya gampang. Gampang apaan? Buat seorang Yosi, mata kuliah hapalan adalah momok.
Yosi duduk di depan. Telat, sih! Pak Syaiful, dosen Pengamen telah datang. Untung doi pengertian. Asal telatnya nggak sejam aja! Ya sudah selesai dong kuliahnya!
“Yongki Kusuma!” Pak Syaiful mulai mengabsen. Inilah salah satu sebabnya Yosi bela-belain kuliah jam setengah tujuh pagi. Pak Syaiful Absen Minded, bo!
“Saya…, Pak….” Suara di belakangnya membuat Yosi terhenyak. Ia menoleh. Terkejut. Itukah Yongki?
“Kamu jarang masuk ya, Ki?” tanya Pak Sayiful. Yongki tersenyum genit. Yosi yang melihatnya melongo lagi.
“Panggil saya, Jo, Pak. Yach…saya maklum, lah. Bapak kan dosen baru. Jadi…agak-agak nggak ngerti, gitchu…!” kata Yongki membuat semua yang mendengarnya terpingkal-pingkal. Banci tulen? Dahi Yosi berkerut. Ada-ada saja!
Kuliah Pengamen telah usai. Pandangan Yosi tak mau beralih dari Yongki, eh, Jo. Ia tahu, ia akhwat jadi harus Ghodul Bashor. Soalnya, Jo kan laki-laki. Tapi seru juga memerhatikan “ikhwan” yang satu ini. Jalannya, gaya bicaranya, genit-genitnya, kedipan matanya, tak mencerminkan kalau ia laki-laki! Yosi tak habis pikir. Kok bisa ya di lingkungan intelektual begini ada makhluk yang persis sama dengan salah satu model klip grup band Naif yang terkenal itu?
***
“Oh itu, Yos. Iya, dia itu memang begitu. Dia seangkatan sama Mbak. Dia juga lagi skripsi. Makanya kamu nggak pernah melihatnya sebelumnya. Dulu waktu kita masih jadi mahasiswa baru, wih, hebohnya. Habis, ya begitu itu. Tapi meskipun begitu, dia rajin sholat, lho. Suka puasa sunah juga,” jelas Mbak Fina, senior Yosi di Undip, pas Yosi cerita tentang Yongki yang waria itu.
“Dia…bener-bener banci, Mbak?” Yosi masih tak percaya. Mbak Fina mengangguk.
“Memang berat mengatakan ini. Dia sendiri yang bilang.”
“Nggak cuma akting?”
“Tadinya temen-temen pikir begitu. Tapi beneran, kok.”
“Ya Allah. Jaman memang sudah gila. Bahkan di lingkungan intelektual begini…Mbak, buat apa dia sholat dan puasa? Bukannya ibadah itu hanya untuk orang yang…beneran laki-laki dan perempuan? Bukan gabungan keduanya.” Yosi tak habis pikir.
“Wallahu ‘alam, ya. Kita serahkan saja sama Allah.”
“Memangnya nggak ada tindakan dari Rohis?” Yosi menyelidik. Fina menghela napas.
“Ada. Kita udah berusaha menasehati dia, tapi dia selalu bilang bahwa apa yang dialaminya sekarang pun adalah karena takdir Allah.”
“Wah! Kalau gitu dia menyalahkan takdir dong! Paadahal kalau dia mau berusaha, pasti bisa deh. Yosi pernah denger ada waria yang akhirnya bisa menjadi laki-laki beneran. Malah dia sekarang udah nikah dan punya anak,” kata Yosi berapi-api. Fina tersenyum.
“Mbak juga pernah denger itu. Tapi semuanya memang tergantung pribadi orang tersebut,” gumamnya. Yosi manggut-manggut. Sebuah ide besar terancang di kepalanya.
“Hallow…!” teriakan Yongki menghentikan diskusi Yosi dan Fina. Wah, panjang umur Yongki! Baru diomongin, muncul. Yosi dan Fina termangu melihat Yongki dan teman perempuannya berpelukan dan cium pipi kiri kanan.
“Mbak…bagaimana pun kan mereka non muhrim…” Yosi tercekat. Fina pun hanya bisa nyengir.
“Yosi memang laki-laki, tapi dia kan selalu menganggap dirinya perempuan.”
“Memangnya dia benar-benar nggak ada hasrat sama perempuan?”
“Nggak. Katanya enggak sama sekali.” Fina menggeleng lemah. Yosi melongo. Ia benar-benar tak mengerti dunia yang satu ini.
“Ternyata benar kata guru biologiku dulu. Di dalam tubuh manusia ada dua sel, laki-laki dan perempuan. Sel yang lebih dominan itulah yang akan menentukan kepribadian manusia itu, laki-laki atau perempuan. Tetapi kasus seperti Yongki ini adalah pengecualian. Dia memang berfisik laki-laki, tapi sel yang dominan dalam dirinya adalah perempuan,” urainya.
“Pinter kamu.” Fina tersenyum.
“Pokoknya, hal yang seperti ini nggak boleh dibiarkan!” Yosi menguatkan tekad.
***
Kampus FE gempar. Sebuah artikel yang dipasang di mading Rohis seakan menyudutkan eksistensi banci eh waria. Semua mata tentu saja terpusat kepada Yongki karena dialah satu-satunya waria (yang kelihatan) di kampus FE ini. Yongki terkenal, Yosi juga. Jelas, dia kan yang menulis artikel itu.
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempaun yang menyerupai laki-laki.” Begitu kalimat pembuka artikel tersebut yang dikutip dari sebuah hadis nabi.
“Seorang laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya tidak akan masuk surga. Bahkan mencium bau wanginya pun tidak.” Kalimat berikutnya semakin menohok. Apa lagi Yosi membumbuinya dengan kata-kata yang menambah panas.
“Sudah lupakah kita kepada kaum Nabi Luth yang homo dan lesbian? Yang laki-laki menyukai sesama laki-laki dan begitu juga yang perempuan. Allah menimpakan kepada mereka azab yang pedih karena mereka telah melampaui batas.” Begitu kata Yosi selanjutnya.
“Jika kita memiliki kecenderungan seperti itu sesungguhnya itu adalah ujian bagi Allah dan jalan untuk mencapai surgaNya. Jika kita bertahan dengan ujian itu serta tidak menyimpang dari ketentuan itu, maka Ia akan menganugerahi kita surga. Bukankah surga tidak kita dapat dengan cuma-cuma?”
Yongki tertegun membacanya. Seorang yuniornya, berani menasehatinya sedemikian rupa? Nggak tanggung-tanggung, langsung di depan umum! Kalau begini kan sama saja di depan umum karena isi artikel itu memang bikin heboh. Wajah Yongki merah padam. Baru kali ini ia merasakan malu. Biasanya ia selalu pede, seperti para waria yang tergabung dalam The Silver Boy itu. Tapi sekarang...?!
Ups! Yosi membuang wajah. Sejak artikel itu dimuat, entah kenapa ia selalu berpapasan dengan Jo, eh Yongki. Mereka sama-sama membuang muka. Untung Yosi nggak dituntut karena telah mencemarkan nama baik. Nama baik siapa yang dicemarkan? Ia tidak menyebut nama, kok!
“Wah, Mbak Fina nggak nyangka lho kamu bisa senekat itu, Yos! Padahal kita yang di Rohis udah patah arang.” Fina terkagum-kagum artikel yang ditulis Yosi. Yosi mesem-mesem.
“Dunia harus disadarkan, Mbak. Orang-orang berpikir bahwa waria juga punya hak asasi mengekspresikan diri. Ya, aku juga dukung asal itu sejalan dengan aturan Allah. Nyatanya, televisi menayangkan para waria yang berekspresi dengan menggunakan make-up wanita, pakaian wanita dan bertingkah seperti wanita. Semua seakan membenarkan perilaku para waria itu. Padahal, Allah murka!” seru Yosi. Fina tersenyum.
“Iya, Yos. Jaman memang sudah gila. Semoga kita bisa bertahan di jaman edan ini, ya? Jaman dimana yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar.”
“Iya, Mbak!”
“Hai, Jo!” teriakan seseorang membuat Yosi dan Fina barengan menoleh. Yosi melongo melihat gadis berjilbab yang mendatanginya itu. Dia kan….
“Jo! Nggak nyangka lu jadi begini sekarang!” seru Adel sambil memeluk Yosi yang tertegun. Berkali-kali ditatapnya Yosi yang anggun dengan jilbab lebar dan gamis biru mudanya.
“Adel? Bagaimana kamu bisa sampai di sini?” tanyanya, bingung. Jelas saja. Adel itu kan teman SMU-nya dulu di Jakarta yang sekarang kuliah di IPB!
“Payah luh, Jo! Masa’ elu nggak tau? Kita kan lagi ada studi banding di auditorium. Kesempatan, gue cari elu. Katanya kan elu di Ekonomi Undip. Sorry ya sebelumnya gue nggak ngasih tahu mau dateng. Niatnya emang mau bikin surprise. Subhanallah! Elu bener-bener berubah!” jerit Adel tertahan. Fina dan Yosi bertatapan.
“Jo?” tanya Fina tak mengerti. Setahunya, Jo adalah nama lain Yongki.
“Iya, Mbak. Dulu itu Yosi suka dipanggil “Jo”. Abis, dulu tuh Yosi tomboi banget. Rambutnya cepak, jalannya kayak ABRI, ngomongnya keras. Pokoknya kayak cowok banget deh! Saya aja sampai ketularan. Makanya tadi saya tuh bingung nyariin Jo eh, Yosi. Saya pikir dia bakalan pakai jeans belel dengan kalung preman di leher. Ternyata…pakai jilbab dan…gamis!”  jelas Adel membuat Yosi dan Fina saling bertatapan. Yosi melongo. Benarkah dulu dia seperti itu? Rasanya tak percaya.
***
Untuk banyak Jo di muka bumi ini: Bersabarlah dengan ketentuan Allah.
Dimuat di Annida No. 23 Th. XII 1-15 September 2003
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...