![]() |
| Gerombolan ibu-ibu di grup curhat :D |
Dalam obrolan tentang kepenulisan
di radio MQ FM Bandung, beberapa waktu lalu, seorang rekan penulis, Aida MA
mengatakan bahwa menulis bisa dijadikan sarana untuk curhat, melampiaskan
kemarahan, kesedihan, kekesalan, dan sebagainya. Saya menambahkan, “boleh saja
menuliskan kekesalan, asal tidak dibagikan ke orang lain.” Aida pun ikut
menambahkan, “Iya, selesai ditulis, lalu buang kertasnya ke tong sampah.” Kalau
nulisnya langsung di laptop, ya berarti segera hapus tulisannya. Itu yang
disebut “menulis sebagai terapi jiwa.”






