Tuesday, September 1, 2026

Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026

Kongres Kemandirian 2026 Dompet Dhuafa diadakan hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2026 dibuka dengan video napak tilas berdirinya Dompet Dhuafa tahun 1993 melalui koran Republika. Sampai hari ini Dompet Dhuafa masih berdiri sebagai lembaga filantropi yang amanah dan terpercaya mengelola dana zakat, infak, dan sedekah untuk memberdayakan kaumS dhuafa sehingga bisa lepas dari jurang kemiskinan. Yayasan Dompet Dhuafa Republika diresmikan pada tahun 1994 dengan para pengurusnya: Parni Hadi, Haidar Bagir, Eri Sudewo, dan Sutiono S Ecip. Kegiatan Dompet Dhuafa difokuskan pada 5 pilar: pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, dakwah dan budaya, dan ekonomi.  Dompet Dhuafa mampu mentransformasikan pengelolaan sumbangan menjadi pemberdayaan sehingga berhasil mengangkat penerima zakat menjadi pembayar zakat. 

Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa


Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026

Sambutan dari Bapak Ahmad Juwaini selaku Ketua Pengurus Dompet Dhuafa memaparkan perlunya membuat forum untuk berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan bangsa ini dan memperkuat jejaring para alumni penerima beasiswa pendidikan Dompet Dhuafa yang sudah tersebar luas dan memiliki posisi penting di masyarakat. Tujuan itu pun tercapai dengan terselenggaranya Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026. Harapannya kita sebagai bangsa bisa terus meningkatkan kemandirian bangsa Indonesia sesuai cita-cita kemerdekaan dan menghadapi tantangan yang sangat besar. Kita harus memberikan kontribusi sebesar apa pun untuk menggapai cita-cita itu. Selain itu juga semoga jaringan alumni beasiswa Dompet Dhuafa dapat berkontribusi dalam perbaikan bangsa dan memberi masukan-masukan penting untuk kegiatan-kegiatan Dompet Dhuafa. 

Bapak Yudi Latif, Ph.D selaku pembina Dompet Dhuafa menyebutkan tujuan berdirinya Dompet Dhuafa adalah untuk mewujudkan janji kemerdekaan seperti yang diucapkan Bung Karno: tidak ada orang miskin. Kenyataannya sampai sekarang jumlah orang miskin justru terus bertambah. Dompet Dhuafa hadir sebagai salah satu elemen bangsa ini untuk mengentaskan kemiskinan. Mengapa janji kemerdekaan sulit dipenuhi? Jawabannya karena tidak didukung oleh kaki-kaki kemandirian yang kuat. Pendidikan kita masih melanjutkan tradisi kolonial yaitu mencetak buruh dan kuli, bukan mencetak kemampuan wirausaha mandiri. Hal itulah yang ingin didobrak oleh pilar pendidikan Dompet Dhuafa yaitu menciptakan pemberdayaan dan kemandirian. 

Untuk membuktikan komitmennya dalam pendidikan, Dompet Dhuafa memberikan beasiswa Dana Pendidikan Merdeka UKT kepada perwakilan dari 56 mahasiswa dengan beasiswa sebesar 135 juta per mahasiswa. Harapannya para mahasiswa ini bisa keluar dari kemiskinan melalui pendidikan tanpa terkendala biaya UKT yang mencekik. Sebagaimana kita ketahui biaya UKT sangat tinggi meskipun kuliah di Perguruan Tinggi Negeri karena anggaran pendidikan yang berkurang. Sehingga dibutuhkan peran serta masyarakat untuk membantu para mahasiswa yang terkendala biaya UKT. 



Panel Diskusi Kesehatan dan Sosial 

Bagaimana kemandirian dapat dibangun melalui masyarakat yang sehat, terlindungi, berdaya, dan memiliki akses dan kesempatan yang  lebih baik untuk meningkatkan kualitas hidup? Masyarakat masih takut berobat saat sakit karena kekhawatiran akan biaya, terlebih lagi dengan kebijakan pencabutan BPJS PBI bagi kaum miskin. Kesehatan dan perlindungan sosial sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang produktif dan berdaya saing tinggi. 

Pada narasumber di cluster kesehatan diantaranya: dr. Sumarjaya SKM, M.M. MFP. CFA selaku Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan dari Direktorat Jenderal Penganggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI dan M. Atatul Muktadir selaku dokter gigi dan influencer. Sedangkan narasumber di cluster pendidikan diantaranya: Ivan Ahda selaku Strategy and Advisory Director of KTM Solution dan Salahuddin Yahya selaku Direktur Potensi dan Sumber Daya Sosial Kemensos RI.  



Dalam ucapan pembukanya, dr. Sumarjaya menjelaskan tentang membangun sistem ketahanan kesehatan oleh Kemenkes RI. Salah satunya adalah koordinasi dengan lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa. Di daerah bencana, tim Kemenkes selalu bertemu dengan tim relawan Dompet Dhuafa sehingga bisa bekerjasama mempercepat pemulihan bencana. Sedangkan M. Atatul memaparkan tentang kemandirian kesehatan yaitu mengupayakan bagaimana orang-orang bisa bertahan selama mungkin dalam kondisi sehat. Orang-orang yang produktif menjadi tidak produktif karena masalah kesehatan seperti diabetes, hipertensi, dll. Lembaga filantropi dapat menjadi partner dalam mengisi celah ini. 

Bapak Salahuddin dari Kemensos memaparkan keinginan membuka jarak pada penanganan bantuan sosial. Anggaran Kemensos sebagian besar didistribusikan untuk masyarakat sehingga diperlukan kreativitas dalam pemanfaaatannya. Diperlukan juga bantuan dari lembaga filantropi untuk menurunkan kemiskinan. Termasuk dalam penentuan desil yang saat ini bermasalah. Ternyata masih banyak desil yang belum terdata. Hanya masyarakat dalam desil 1-4 yang bisa diberikan bantuan. Sedangkan bantuan yang diberikan hanya bersifat sementara. Ketika desil 4 naik ke desil 5, sifatnya hanya sementara. Mereka masih rentan dan bisa jatuh lagi ke desil 4. 

Ivan Ardha menceritakan pengalamannya sebagai alumni Etos angkatan pertama yang disupport Dompet Dhuafa. Hal yang sulit dilakukan dalam penyaluran bantuan bila tidak disertai kemampuan leadership maka akan memicu konflik baru. Apa sebenarnya yang didapatkan masyarakat ketika diberikan dana stimulus usaha per 6 bulan? Adakah perilaku yang berubah? Sayangnya, pertanyaan itu jarang ditemukan. Perlunya membangun sistem kesadaran yang lebih baik. Pengalamannya sebagai alumni Etos sangat membekas. Salah satu doktrin yang membekas adalah keluar dari kemiskinan dengan mengajak orang lain dan membuat pemberdayaan. 

Tantangan di bidang kesehatan adalah perlunya edukasi mengenai penyakit-penyakit yang bisa menjadi ancaman global seperti penyakit menular yang bersumber dari binatang dan manusia. Penyakit itu bisa menyebabkan Kejadian Luar Biasa, misalnya penularan Covid-19 yang bisa menyebabkan krisis. Hanya bersumber dari penyakit, ekonomi negara bisa lumpuh, sehingga perlu memperkuat upaya pencegahan penularan penyakit. Dompet Dhuafa memiliki program Rumah Singgah untuk para pasien yang berobat agar bisa meminimalisir biaya pengobatan.  

Tantangan di bidang sosial adalah seringnya terjebak dalam melihat disabilitas dan lansia sebagai perkara domestik padahal seharusnya perkara publik. Perlu dilakukan proses transformasi kesadaran dengan tidak lagi menganggap persoalan itu sebagai masalah domestik. Kemensos memiliki rehabilitas sosial penyandang disabilitas dan menawarkan kolaborasi untuk berbagi tugas. Pemerintah membawa data, standar, regulasi, dan arah kebijakan nasional. Kemudian dunia usaha membawa modal investasi sosial, jaringan pasar, dan kapasitas pengembangan kewirausahaan. Sedangkan lembaga filantropi membantu menjangkau hal yang belum tersentuh pemerintah. Salah satu tugas Kemensos yang sedang dikerjakan saat ini adalah Sekolah Rakyat yaitu sekolah gratis untuk anak-anak dari desil 1 dan 2.  

Berbicara mengenai desil, saat ini desil 1-4 saja yang bisa mendapatkan bantuan sosial. Padahal desil 5-8 itu masih sangat rentan. Saat ada satu saja anak yang kuliah, keluarganya bisa menjadi miskin lagi. Sehingga diperlukan data yang lebih akurat dan menyalurkan bantuan dengan pemberdayaan. Jangan ada lagi bantuan yang disalurkan hanya sekali pakai. Di lapangan ada hal yang kontradiktif. Ada orang yang menerima bantuan PKH hingga 15 tahun. Artinya tidak ada perubahan dalam hidupnya meskipun sudah mendapatkan bantuan bertahun-tahun.  Saat ini bantuan PKH hanya sampai 5 tahun. 

Panel Diskusi Pendidikan dan Ekonomi

Narasumber di bidang pendidikan adalah dr. Banu Muhammad SE, M.SE selaku dosen FEB UI dan penerima beasiswa Dompet Dhuafa dan Falasifah S.Si selaku Direktur PT Agla Bioteknologi Indonesia dan penerima manfaat beasiswa Dompet Dhuafa. Sedangkan di bidang Ekonomi ada Dr. Hj. Kurniawati Mufidawati, M.Si selaku Wakil Ketua DPR RI dan Prof. Dr. Rernat Agustino Zulis, M.Sc, M.Si selaku guru besar FMIPA UI dan penerima beasiswa prestasi Dompet Dhuafa. Ternyata penerima beasiswa manfaat Dompet Dhuafa sudah banyak yang menjadi orang sukses dan mengangkat ekonomi keluarganya dari jurang kemiskinan. Itulah mengapa perlunya membantu anak-anak cerdas  yang kekurangan ekonomi melalui beasiswa pendidikan Dompet Dhuafa ini.



Dr. Banu memamparkan soal kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan karena jumlah investasi yang masuk hanya sedikit dan berakibat sulitnya mengurangi pengangguran. Indonesia sudah jauh tertinggal dari Cina sehingga perlu meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan. Sedangkan Falasifa sebagai sarjana pertama di keluarganya melihat kondisi pendidikan di Indonesia sudah lebih baik, tetapi sayangnya para sarjana masih banyak yang belum bisa beradaptasi dengan dunia kerja dan menciptakan lapangan kerja. Perlu adanya pendidikan yang diserta enterpreneurship.

Tantangan di dunia pendidikan menurut Dr. Hj. Kurniawati kesenjangan antara pendidikan dan dunia kerja. Menurut BPS, sekitar 70% jumlah pengangguran termasuk lulusan universitas. Perlunya dorongan program prioritas nasional berupa peningkatan kualitas lulusan SMA, SMK, Vokasi, dan Perguruan Tinggi, agar kita bisa menghadapi perubahan dunia. Dikdasmen dan Diktisaintek telah melakukan berbagai upaya disertai riset dari BRIN ditambah anggaran pendidikan dan ketepatan penyalurannya untuk mengatasi tantangan tersebut. 

Lalu, menurut Prof Zulis pendidikan adalah upaya sistematis untuk meningkatkan SDM. Akan tetapi, bagaimana pendidikan itu bisa memberikan impact ke pekerjaan? Kebutuhan dunia usaha tidak hanya terkait dengan hard skill tapi juga soft skill yaitu kemampuan bernegosiasi dan memecahkan permasalahan yang ada di lingkungan. Jadi, IPK tinggi harus disertai dengan soft skill yang bermanfaat untuk industri.   

Jadi, penting sekali memiliki pendidikan berdampak, salah satunya peran pendidikan bisa menciptakan lapangan kerja. Selain itu juga perlu apresiasi tinggi untuk para pendidik yaitu guru dan dosen. Gaji mereka harus ditingkatkan agar bisa menjadikan pekerjaannya sebagai profesi. Peranan lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa juga sangat penting untuk intervensi di dunia pendidikan ini, misalnya dengan memberikan apresiasi kepada para guru dan dosen terutama di sekolah dan kampus swasta yang bergaji kecil. 


 


No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...