Liburan kemarin tiba-tiba suami mengajak kami rafting di Cisadane. Biasanya tiap liburan semesteran, kami memang berlibur ke tempat-tempat wisata di Indonesia saja. Maklum, budgetnya masih berkejaran dengan kebutuhan lain yang lebih penting. Berhubung Ismail baru saja lulus SNBT di IPB University, kami hampir tak memikirkan soal liburan ini karena Ismail dapat UKT Rata Kanan yang tertinggi yaitu 11 juta. Belum lagi kebutuhan bayar kos buat 6 bulan dan beli laptop dengan spesifikasi tinggi untuk anak Sains Data. Ditambah harus bayar bimbel untuk anak kedua yang tahun depan juga mau ikut SNBT. Ya sudah deh, budget liburannya dipangkas dulu.
Tahun lalu masih bisa staycation di hotel, tahun ini hanya rafting dengan budget sejuta lebih. Yup, rafting di Cisadane ini budgetnya per orang Rp 215.000 sudah dengan makan siang. Anak-anak memang minta wisata yang seru. Kalau di pikiran kami sebelumnya, rafting ini bakalan seru banget karena kami akan naik perahu karet di sungai dan melewati beberapa turunan curam. Apakah akan seseru itu? Baca pengalaman kami di sini.
Mencari Tempat Rafting di Cisadane
Langkah pertama tentu saja mencari tempat rafting yang oke. Kami mencarinya di google, lalu membaca review-reviewnya. Ada banyak pilihan tempat rafting dengan harga bervariasi. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pilihannya ke Grand Titik Kumpul PT Rafting Cisadane Bogor. Biaya per orang 180 ribu, ditambah makan siang per orang 35 ribu. Kami membayar DP dulu 200 ribu. Untuk nomor kontaknya langsung menghubungi nomor yang tertera di website.
Alhamdulillah, kami dapat harga lebih murah daripada yang tertera di website. Mungkin karena bukan hari libur atau tanggal merah. Suami saya memang mengambil cuti di hari kerja. Saya baca reviewnya kalau hari libur atau tanggal merah itu biasanya banyak pengunjunganya sehingga harus antri lama untuk rafting. Sampai berjam-jam menunggu giliran rafting. Makanya saya putuskan berangkat di hari kerja dengan harapan tempatnya tidak terlalu banyak pengunjung.
Fasilitas yang kami dapatkan dengan harga segitu adalah rafting sepanjang 11 km, gratis panahan dan flying fox, dapat snack gorengan dan kelapa muda, transportasi kembali ke tempat rafting. dokumentasi video dan foto pakai ponsel, guide, team rescue, tempat bilas, dan saung untuk bersantai. Kelihatannya akan menyenangkan nih pengalaman rafting pertama kami.
Pengalaman Rafting di Cisadane
Rumah kami di Depok butuh waktu dua jam untuk sampai ke lokasi rafting. Kami berangkat pagi-pagi supaya bisa dapat antrian pagi. Ternyata benar prediksi kami. Kami sampai di lokasi sekitar jam 9 pagi, tempatnya saja baru buka. Jadi kami tidak perlu mengantri. Begitu sampai, langsung bisa naik ke perahu. Deg-degan dong? Ya, karena kalau melihat video yang berdebar itu kelihatannya menakutkan ya. Suami saya yang memang sudah punya penyakit jantung, agak khawatir juga.
Untuk pakaian rafting, pakai baju olahraga biasa saja. Anak-anak saya juga cuma pakai kaus dan celana panjang. Setelah itu kami disuruh memakai rompi dan helm kalau-kalau terlempar ke sungai. Seorang pemandu menemai kami mengayuh perahu. Malah kami jarang disuruh mengayuh. Kami hanya mengayuh saat arusnya tenang. Kalau sudah berbelok-belok, pemandu yang akan mengayuh sendiri. Wow, luar biasa besar tenaganya.
Ada empat jeram yang menantang, dan tentu saja yang paling mendebarkan adalah jeram keempat. Pada jeram satu dan dua, masih biasa saja. Kami disuruh mengangkat dayung saat akan memasuki jeram. Arus tenang lebih banyak, sampai-sampai pakaian kami hanya sedikit saja yang basah. Rupanya karena kami mengambil jadwal rafting di musim kemarau yang jarang hujan. Jadi air sungainya tidak terlalu dalam.
Setiap kali memasuki jeram, selain harus mengangkat dayung, kami juga harus berjongkok di perahu sehingga hanya kepala yang terlihat. Agak sulit ya karena perahunya kecil dan orangnya ada lima. Ya dipaksa masuk saja. Tujuannya supaya kami tak terlempar ke sungai. Alhamdulillah menyenangkan, anak-anak pun mulai keluar suara dan senyumnya. Arus yang tenang kurang begitu membuat mereka tertarik. Maunya yang bisa bikin jejeritan ya.
Foto dan video baru dilakukan saat jeram ketiga dan keempat. Kami tidak bisa membawa ponsel sendiri karena takut jatuh dan basah. Ponsel dititipkan di dalam loker yang disediakan. Tapi sebenarnya kita masih bisa bawa ponsel, asal menggunakan dompet plastik yang dikalungkan di leher itu lho. Ada peserta lain yang membawanya. Sayang, kami baru tahu. Padahal saat arus tenang, kami bisa mengambil foto dan video sendiri.
Tim dokumentasi sudah berdiri di batu besar dekat jeram dan mengambil foto dan video kami. Hasil foto dan videonya lumayan bagus meskipun hanya pakai ponsel. Rupanya ada tim dokumentasi berbayar yang ikut mengambil foto pakai kamera resoluti tinggi. Saya kira itu dari tim rafting. Selepas rafting, saya diminta melihat foto-fotonya dan ternyata harus bayar lagi 150 ribu. Ya sudahlah saya bayar saja. Hasil fotonya memang bagus karena pakai kamera profesional.
Puas sekali saat turun di jeram keempat. Terlihat guide kami sudah kelelahan menahan perahu. Lalu, perahu kami pun dilepas dan terdengarlah teriakan anak-anak. Alhamdulillah sampai di bawah dengan selamat. Sandal Salim sempat copot dan terbawa arus, tapi dikejar oleh guidenya. Sungguh sangat berdedikasi. Kami kembali ke titik awal naik mobil pick up. Perjalanan yang menyenangkan lho dengan angin yang menampar wajah kami yang basah oleh air dan keringat.
Setelah itu kami beristirahat di saung. Sambil menunggu satu per satu masuk ke kamar bilas dan berganti pakaian, pelayan membawakan makan siang dengan menu tradisional Sunda. Ayam goreng, tahu, lalapan, dan sayur asem. Pakaian kami basah saat turun di jeram keempat. Saung kami didatangi para pedagang yang masuk. Saya pun membeli mochi berukuran besar-besar dan ikan kecil-kecil, semuanya dihargai 35 ribu per kotak. Seperti sudah janjian saja. Tapi untuk mochinya ya worth it sih. Enak dan besar. Lebih murah daripada di toko oleh-oleh.
Kemudian kami menikmati makan siang, salat, dan pulang. Oya sebelum pulang, anak-anak memanfaatkan dulu gratisannya yaitu flying fox. Sayang, tempat panahannya sedang direnovasi, jadi tidak bisa main. Sidiq harus menelan rasa kecewa sudah membayangkan bisa main panahan. Alhamdulilah ya, apa yang ditakutkan tak terjadi. Jantungnya masih aman selama rafting di Cisadane ini.





No comments:
Post a Comment
Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....