Saturday, September 16, 2017

Ibu Rumah Tangga Rentan Stres dan Depresi, Ini Cara Saya untuk Bahagia



Kurangnya apresiasi terhadap pekerjaan ibu rumah tangga, di tengah banyaknya tekanan dan pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari, membuat ibu rumah tangga rentan stres dan depresi. 

Di sebuah berita yang memuat perselingkuhan antara ibu rumah tangga dan lelaki lain, ada satu komentar dari seorang lelaki yang entah apakah sudah menikah atau belum. Sayang, saya lupa menskrinsyut komentarnya. Komentar itu populer karena dibalas oleh komentar-komentar lain yang marah, sebagian besar komentar dari ibu rumah tangga. 


Kira-kira isi komentarnya begini: "Makanya perempuan itu harus kerja. Di Indonesia ini masih banyak sih perempuan yang nggak kerja. Di rumah aja, jadi bosan kan dia. Nggak ada pekerjaan. Selingkuh deh. Suami capek-capek kerja eh dia enak-enak selingkuh....." Komentarnya masih panjang, saya cuma mengutip sebagian. Komentar itu sudah pasti lah memancing kemarahan ibu rumah tangga. 

Ibu rumah tangga yang sehari-hari hanya di rumah masih banyak yang menganggapnya "tidak bekerja." Lah wong di rumah aja ngapain toh? Paling nonton teve, tidur, BLA BLA BLA. Jadi, pekerjaan mencuci baju, piring, menyetrika, masak, mengasuh anak, itu tidak dianggap pekerjaan secapek apa pun. 

Dulu saat masih kuliah di fakultas ekonomi, saya juga belajar tentang jenis-jenis pekerjaan dan Ibu Rumah Tangga tidak termasuk pekerjaan karena tidak menghasilkan GAJI. Beda dengan asisten rumah tangga yang digaji setiap bulan, masih termasuk pekerjaan. Jadi, ibu rumah tangga itu semacam sukarelawan ya yang bekerja tanpa gaji. 
Anggapan semacam itulah yang menjadi salah satu penyumbang stress dan depresi pada ibu rumah tangga. Setidaknya saya punya 3 orang teman yang terindikasi stress dan depresi (semuanya ibu rumah tangga) dan tidak ada satu pun teman saya yang bekerja kantoran mengalami stres dan depresi. Kalaupun mereka (ibu bekerja) itu stres dan depresi, tidak ada yang diumbar di media sosial sehingga semua orang tahu.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya juga pernah berada pada level stres yang cukup tinggi, walaupun Alhamdulillah tidak sampai depresi. Tepatnya saat anak-anak masih kecil sekali dan saya belum bisa melakukan pekerjaan lain selain mengurus rumah tangga. Saya pernah membanting alat pel sampai patah karena capek dan kesal. Saya pernah menendang mobil-mobilan besar yang bisa dinaiki si kecil dari lantai atas ke bawah sampai pecah karena lelah mengurus rumah. Dan saya menangis saat sedang mencuci piring sambil menggerutu, "Mengapa saya harus melakukan semua ini? Saya ingin berhenti dari semua ini? Ya Allah, kapan semua ini berakhir? Kalau saja aku bisa berhenti menjadi ibu....." 

Kalau Anda membaca cerita itu sepertinya tidak percaya. Seberat apa sih pekerjaan ibu rumah tangga? Itu kan cuma yeaaah... Pekerjaan begitu saja. Masa begitu saja bikin stres? Tentu saja tidak ada seorang ibu yang ingin sungguh-sungguh berhenti menjadi ibu. Yang benar adalah, berhenti sejenak dari melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak yang memberikan tekanan ganda: fisik & psikis tanpa imbalan dalam bentuk materi. Bagaimanapun, penghargaan dalam bentuk materi itu memberikan kepuasan batin dan penghiburan. 

Coba saja Anda yang bekerja di kantor. Segalak dan sesulit apa pun pekerjaan Anda, pasti akan tersenyum saat hari gajian tiba. Nah, ibu rumah tangga tidak mengalami itu. Apalagi kalau kondisi ekonomi suaminya kembang kempis. Suami memberikan uang belanja hanya cukup untuk makan sekadarnya. Kadang mie instan sebungkus dimakan sekeluarga. Saya sih Alhamdulillah belum mengalami kondisi ekonomis seperti itu, tapi banyak ibu depresi yang mengalaminya sehingga kita sering membaca di berita tentang ibu yang membunuh anaknya, sampai ibu yang bunuh diri. 

Dalam kondisi yang melelahkan tanpa imbalan materi seperti itu, masih ada yang berkomentar bahwa ibu rumah tangga tidak bekerja? Mari kita rebus dia ke dalam panci sop. Mengurus anak juga bukan hal yang sepele. Anak-anak lebih "mengerikan" daripada bos di kantor Anda. Tentu hanya ibu yang 24 jam bersama anak yang bisa merasakannya. Anak tantrum, rewel, tidak jelas apa maunya, anak mengekori ibu ke mana pun termasuk ke kamar mandi, anak yang tak memberikan sedikit waktu pun untuk ibunya sendiri, anak-anak terus.


Anak-anak itu lucu, ibu mana yang tidak menyayangi anaknya. Tapi percayalah, jika Anda bersama anak-anak bayi yang sering rewel dan minta ini itu sepanjang hari, Anda akan merasakan, "oh jadi begini susahnya mengurus anak?" Sudah dikasih anak kok nggak bersyukur? Ini bukan soal bersyukur, tapi soal perlunya ibu beristirahat sejenak dari mengurus anak. 

Lain dengan ibu yang bekerja di kantor, karena saat di kantor mereka lepas dari anak-anak. Mereka bisa beristirahat sejenak dari anak-anak. Belum lagi setiap bulan menerima uang tambahan dari kantor. Bisa bertemu dengan teman-teman kantor dan berbagi cerita. Apalagi kalau dari kantornya ada acara dinas ke luar kota (atau ke luar negeri) yang rutin. Jadi, perbedaannya ada pada waktu yang dimiliki untuk sejenak lepas dari rutinitas rumah tangga dan apresiasi terhadap pekerjaan. Kedua hal itu yang tidak didapatkan oleh ibu rumah tangga sehingga rentan stres dan depresi. 

Alhamdulillah, suami memahami bahwa istrinya perlu hiburan. Sehingga kini saya mendapatkan kehidupan yang relatif lebih tenang walaupun sudah tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Ya, dulu suami akhirnya memberikan saya asisten atau pembantu rumah tangga agar saya tidak stres. Tapi sudah hampir 3 tahun saya berhenti menggunakan jasanya, dan Alhamdulillah saya sudah tidak rentan stres. Pekerjaan rumah tangga tetap banyak, apalagi anak tiga. Ini dia cara saya untuk bahagia: 

Jangan Lupakan Hubungan dengan Allah 
Percaya nggak sih, memiliki anak-anak kecil itu ternyata bisa melalaikan kita dari beribadah. Saat ibu mau salat eh anak menangis atau anak minta buang air besar. Dulu malah saya sering salat eh si kecil pipis di sajadah. Ya salam. Kalau udah begitu kan kita jadinya malas ya mau salat? Ya tapi jangan malas juga sih, karena Allah satu-satunya penjaga kita dari depresi. 

Ketika si kecil bangun di malam hari minta nenen, saya manfaatkan juga untuk salat tahajud. Alhamdulillah, kesempatan itu juga ternyata bisa saya manfaatkan untuk menulis. Jadi sebenarnya kita masih punya sedikit waktu luang sejam dua jam. Menjalin kontak dengan Allah yang lebih serius (karena kalau siang diganggu tangisan anak), kemudian menyenangkan diri sendiri. 

Tak Perlu Sempurna Melakukan Pekerjaan IRT 
Saya kagum melihat rumah teman yang rapi jali. Rumah saya jauh dari rapi. Selesai dirapikan, dalam 5 menit sudah hancur lagi. Syukurnya, suami memahami istrinya. Walaupun dia pasti sebal melihat ruang berantakan, tapi dia tidak pernah menuntut, membentak, memarahi saya supaya membereskan saat itu juga. Dia rela menunggu sampai saya punya waktu untuk membereskannya. Kadang dia yang membereskan, kalau sedang rajin. 

Sesantai apa pun melakukan pekerjaan RT, tetap akan terasa capek kok. Apalagi kalau kita terlalu serius melakukannya. Tidak usah terlalu dibawa pusing dengan tumpukan cucian piring, tumpukan setrikaan, masak apa hari ini, dan lain-lain. Saya mencuci piring kalau sudah tidak ada piring, saya akan membeli masakan di luar kalau sedang malas masak, dan saya mengepel rumah hanya seminggu sekali. 

Kita tidak dibayar untuk melakukan semua itu, jadi lakukanlah dengan ikhlas dan sesuka hati apalagi kalau anak-anak masih kecil. Kalau suami komplain, komunikasikan dengan suami. Jangan takut bilang kalau kita stres, capek, dll. Kalau perlu, ceritakan saja tentang ibu-ibu yang membunuh anaknya karena stres. Lho, kejadian itu bisa terjadi pada siapa saja. Terbukalah kepada suami bahwa kita ingin dibantu. Kalau suami tidak sempat membantu, carikan pembantu rumah tangga.

"Me Time" (Waktu untuk Sendiri) 
Berikan waktu untuk sendiri meskipun hanya sejam dua jam sehari. Kapan? Kalau masih punya anak bayi, memang agak susah karena si bayi menempel terus. Tapi masih bisa diusahakan kok. Ya seperti saya dulu, bangun tengah malam saat si bayi minta nenen, tapi tidak tidur lagi. Saya "me time" dengan menulis atau membaca buku.

Setelah anak-anak agak besar, suami kasih izin untuk saya sesekali mengikuti kegiatan di luar tentunya saat suami libur kerja. Suami ganti mengasuh anak di rumah, sedangkan saya jalan-jalan sendirian. Kalau ada yang nyinyirin kita sebagai ibu yang tidak bertanggung jawab, acuhkan saja. Kita berhak untuk bahagia dan bukan orang-orang itu yang menentukan kebahagiaan kita.

Ikut event sekaligus me time

Lagipula, membuat anaknya kan berdua, mengasuhnya juga berdua dong. Kalau dalam 5 hari kerja, suami jarang bersama anak. Maka di hari libur, berikan kesempatan suami bersama anak. Gunanya untuk mendekatkan hubungan suami dan anak-anak juga, karena banyak ayah yang tidak dekat dengan anaknya akibat semua urusan anak dipegang oleh ibunya.

Bertemu Teman
Banyak ibu rumah tangga yang depresi itu merasa kesepian karena terkurung di rumah dan tidak bergaul. Saya sendiri juga pernah ada pada situasi itu karena sampai sekarang saya masih belum punya tetangga. Kondisi perumahan di tempat tinggal saya masih sepi. Ada tetangga tapi di gang depan.


Biasanya saya ketemu teman-teman saat ada kegiatan bareng, minimal seminggu sekali. Bertemu dengan teman yang punya profesi sama itu akan mengurangi rasa kesepian, karena tidak semua bahan obrolan bisa dibagi bersama suami loh. Kita perlu teman dari gender yang sama, alias sama-sama perempuan. Ada beberapa hal yang lebih asyik dibicarakan dengan sesama perempuan.

Merawat Diri
Saking sibuknya mengurus rumah, kita susah punya waktu untuk ke salon. Tapi bukan berarti tidak bisa merawat diri. Di rumah juga bisa, entah dengan memanggil salon keliling, entah dengan melakukan perawatan sendiri.

Baca Juga: Masker dan Lulur untuk Perawatan secara Alami.

Contohnya, luluran, maskeran, dan creambath bisa dilakukan sendiri. Kulit dan kepala jadi terasa lebih segar. Jangan lupa juga perawatan organ kewanitaan supaya hubungan dengan suami selalu mesra. Seringkali nih penyebab depresi adalah hubungan dengan suami yang kurang dekat. 

Terbukalah kepada Suami
Suami adalah partner hidup kita yang semestinya kita jadikan tempat curhat paling dekat. Tapi masih banyak istri yang tidak bisa terbuka kepada suaminya. Merasa sungkan dan segan untuk mengungkapkan perasaannya. Takut suaminya marah.

Jadikan suami sebagai teman hidup yang sesungguhnya

Sejak awal memilih suami sih mestinya kita pilih lelaki yang enak diajak bicara. Setelah itu, lanjutkan komunikasi yang hangat di dalam rumah tangga. Jika sudah terlanjur punya suami pendiam dan bikin segan untuk bicara, coba tulis surat cinta saja. Seringkali mengungkapkan perasaan melalui tulisan itu lebih lancar dan gampang. Termasuk saat meminta bantuan suami untuk membantu urusan rumah tangga.

Suami yang soleh insya Allah bisa diingatkan dengan teladan Rasulullah. Di dalam surat cinta, bisa kita masukkan kisah-kisah nabi bersama istrinya dulu. Nabi tidak sungkan membantu pekerjaan istri. Nabi suka merayu istri. Dan sebagainya. Jika seorang istri masih saja belum bisa terbuka kepada suaminya meskipun sudah bertahun-tahun menikah, yang ada tekanan batin. Yang saya lihat dari beberapa sosok istri bahagia, hubungan dengan suaminya memang harmonis.

Berikan Penghargaan untuk Diri Sendiri
Mestinya sih suami ya yang kasih penghargaan ke istri. Tapi kalau suami tidak bisa, kita juga bisa sendiri. Caranya coba menabung sedikit demi sedikit. Kalau sudah cukup uangnya, belikan barang yang kita mau. Bisa baju, hijab, dan lain-lain. Atau sekadar makan mie ayam dan bakso.

Saya mah kalau lagi capek dan stres, tinggal melipir ke warung mie ayam. Makan deh mie ayam dan minum es jeruk. Udah deh seger lagi. What a happy life. Itu cara bahagia yang sederhana. Kalau mie ayam kemahalan, seduh mie instan dengan cabai rawit yang banyak dan secangkir kopi.

Itu kenapa berat badan saya susah turun walaupun melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Suami bilang, "Mama gendut berarti bahagia ya nikah denganku?" Hehehe.... Jelas bahagia, karena kalau stres kan larinya ke makanan. Ya daripada depresi, mending sedikit gendut lah nggak apa-apa.

Traveling
Jalan-jalan bersama keluarga juga bisa memberikan penyegaran dan tidak perlu jauh-jauh kalau terbatas dananya. Kalau sering membaca laman Traveling di blog ini, pasti tahu kalau saya dan keluarga seringnya jalan-jalan ke Bandung, Garut, Bogor, dan sekitar Depok saja. Itu sudah cukup membuat saya lepas dari sangkar rumah.


Sering-seringlah Pandangi si Kecil 
Apa sih yang membuat kita stres? Anak-anak? Sering-seringlah memandangi mereka saat sedang tidur atau sedang anteng. Memang tadinya mereka rewel, tapi ada saatnya tenang dan menyenangkan. Alhamdulillah, Allah sudah mengamanahkan mereka kepada kita di saat banyak perempuan lain yang belum hamil.

Lihatlah wajah lucu mereka. Anak-anak yang kelak menjadi tabungan di akhirat dan amal yang tak terputus karena doa-doa mereka. Anak-anak yang akan bahagia bila dirawat oleh ibu yang bahagia.

Itu dia cara saya untuk bahagia di antara setumpuk beban pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak. Seorang teman dekat saya, Eni Martini, juga punya cara membahagiakan dirinya. Doi juga sama dengan saya, ibu rumah tangga tanpa asisten plus beban pekerjaan lain yang luar biasa. Ditambah dengan pengalaman pernah kehilangan putra ketiganya. Kalau dipikir-pikir sanggup membuatnya depresi. Tapi saya mengenalnya sebagai ibu yang bahagia, karena hampir tidak pernah mengeluh dengan semua beban itu. Mau tau ceritanya? Baca di sini:

Mengapa Ibu Menjadi Monster? 

Jangan lupa berkomentar di tulisan kami dan follow Instagram @LeylaHana dan @DuniaEni karena ada hadiah satu tas cantik untuk komentar yang beruntung. Disponsori oleh www.yukero.com. Follow juga IG @whatsyukero dan @dzulkulaifah.


38 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Pos ringan mba menyuarakan aspirasi para IRT mba. Aku pernah mengalami juga. Paling males klo disepelekan..padahal pekerjaan rumah kan hilang satu tumbuh sribu

    ReplyDelete
  3. Ada orang bijak bilang. Bahagiakan dirimu lebih dahulu baru orang lain, keluarga atau lingkungan sekitarnya. Jadi perempuan itu perlu mengenal betul siapa dirinya. Karena ini akan membuat nyaman dalam melangkah dan mengambil keputusan sekecil apapun. Kadang banyak wanita yang justru pesimis duluan dengan perannya sebagai IRT. contohnya dalam satu diskusi kadang memperkenalkan diri dengan " Saya ibu rumah tangga biasa2 aja". Pertanyaannya adalah yang biasa2 aja yang bagaimana. Harusnya kan ini branding " Saya adalah ibu rumah tangga dengan tiga anak yang manis2 ditengah kesibukan saya mengurus keluarga saya masih bertemu teman2 sebulan sekali dalam arisan dan pengajian. Juga menikmati me time di salon. Karena bertemu dengan teman adalah hal menyenangkan untuk menambah wawasan. Jadi tahu siapa kita, mau apa dan bagaimana itu penting.

    ReplyDelete
  4. Saya juga suka melakukan kegiatan ini, ini sangat membantu kita dari rasa kejenuhan agar kita terhindar dari stress...keren mba....

    ReplyDelete
  5. Penting ya buat IRT. Harus pinter-pinter kelola keadaan pikiran dan kegiatan.

    ReplyDelete
  6. Mbak aku padamuuuuu.


    Pernah aku juga stress ngurus anak2, barang jadi korban, emosi gak stabil dan merasa gak percaya diri.

    Tapi lambat laun, aku istigfar dan introspeksi diri, dan mulai menerima peran sebagai ibu di rumah, tidak bekeja bukan akhir dunia, karena kebahagiaan bisa didapat dari mana saja termasuk dari dalam rumah.


    Karena ibu itu hatinya rumah, kalau ibunya stress dan gak bahagia, otomatis seisi rumah berasa neraka. Sebaliknya, kalau ibunya bahagia, otomatis rumah pun berasa seperti di syurga.

    ReplyDelete
  7. Mengelola stress sangat penting ya mbak buat ibu rumah tangga. Sekarang aku juga mulai melonggarkan diri dan tidak menuntut diri untuk menjadi ibu yg perfecsionis karena semua itu justru membuat tingkat depresi semakin parah.

    ReplyDelete
  8. Stress pda ibu terjadi krn lingkungan yg selalu menyudutkan si ibu. Anak jatuh salah ibu, anak sakit salah ibu, rumah berantakan salah ibu.

    Rasa bersalah termasuk emosi lingkungan yg menyudutkan si ibu adalah hasutan syetan. Karena memang sangat mudah menghancurkan umat manusia ini. Hanya dengan menghancurkan akhlak dan hati seorang ibu. Jika seorang ibu sudah hancur dan rusak maka tidak ada lagi kebaikan yg keluar darinya. Dan rusaklah akhlak keluarganya.

    Jika kita pahami utk menghargai dan memuliakan ibu atau istri ga akan ada ibu2 yg depresi.

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Bener ibu rumah tangga stress banget, capek, nggak punya uang, nggak bisa kemana-mana.
    Kalau ngantor, stress bisa shopping. hihi.. Kalau bisa bekerjasama dengan suami buat nyambil berkarya, stressnya bisa hilang..:p

    ReplyDelete
  11. postingan panjang + dalem dan berfaedah :)

    realitas ibu rumah tangga di indonesia banget ini, PR buat para ibu dan ayah yg punya anak laki2 untuk memberi contoh bahwa pekerjaan ibu rumah tangga "gak segitu doang", supaya sikap merendahkan seperti itu enggak terulang

    hal ini yg bikin aku belum tertarik nambah anak, meskipun banyak orang nyuruh nambah anak demi banyak rezeki endebrah endebreh ... yg banyak anak cukup mamahku, karena mamahku punya banyak anak tetapi support systemnya banyak

    ReplyDelete
  12. Senangnya baca artikel ini, stress pasti akan dialami oleh siapapun ya mba. Alhamdulillah dengan iman dan imam yang baik kita tidak akan membuat stress menjadi penghalang untuk menemukan kebahagiaan.

    ReplyDelete
  13. Menjadi ibu pun memang tak mudah ya. Tapi aku pernah berada dalam posisi tak ada ART, anak dititipkan di daycare. Pulang kerja jemput anak dan masih beresin rumah serta masak. Capek dan kesal jadi satu.

    Tapi balik lagi bahwa kehidupan ini harus dijalani dengan baik serta penuh syukur

    ReplyDelete
  14. aaak, aku juga pernah ngerasain begini mbaa, nangis2 sambil ngepel, teriak2 dan shalat selalu kilat karena udah ditangisin anak2.

    Alhamdulillah sekarang lebih lapang karena ada pekerjaan lain sebagai apresiasi diri

    ReplyDelete
  15. Hmmmm mungkin kondisi spt ini bnyk dialami oleh ibu-ibu rmh tangga diluar sana ya. Stress krn mengurus rumah tangga terutama anak2. Tp Alhamdulillah sejak memutuskan utk menikah dan memilih menjadi pribadi yg bahagia, semua kerepotan itu, aku bawa santai saja. Mungkin krn menikah diusia matang ya...(ngga mau dibilang tua) dan selalu ada yg menghandle urusan domestik termasuk jarak usia anak yg jauh, jd selama menikah belasan thn ini, ya santai aja sih bawaannya.

    ReplyDelete
  16. Iyaa Mbak..makasih sudah menuliskan suara hati para ibu rumah tangga.

    ReplyDelete
  17. I feel you mba lelya,

    Jadi ibu beban dan tanggung jawabnya itu luar biasa. Sampai ada pepatah, kalau mau rumahmu seperti surga, perlakukan ibu seperti ratu, jika mau rumahmu seperti neraka maka perlakukan ia sebaliknya.

    Kadang ibu seolah nggak boleh sakit, karena kerjaan rumah ga ada yg urus, udh gitu kalo suami jg sibuk sama kerjaannya haduhhhh bagai jatuh tertimpa tangga deh.

    Tapi, sambil terus belajar jadi ibu yang baik dan melakukan beberapa cara di atas insya allah kedepannya ga akan ada masalah ya mba.

    Makasih sharingnya 😊

    ReplyDelete
  18. Rutinitas kdng memang kdng jadi penjara kalau terus diulang tanpa jeda. Saya setuju mbak me time penting, sharing sama suami juga sama pentingnya.

    ReplyDelete
  19. Siapa sih...yg bilang yg selingkuh itu IRT, bahkan yg banyak selingkuh yg bekerja diluar rumah punya teman pria yg banyak campur baur justru membuka pintu perselingkuhan...

    Ntar ujung2nya juga ada komentar...

    Makanya punya istri di rumah aja jangan kerja biar ga selingkuh...

    Setan gak pandang bulu..he2

    ReplyDelete
  20. I feel you...tahun pertama resign 4 tahun an lalu adalah tahun terberat jd irt ternyata jd irt tdk semanis bayangan sy haha. Pas kerja rindu anak pas d rumah shock d kintilin anak terus smp ke kamar mandi pun d tangisin. Penghasilan pribadi menyusut drastis wkwkwk. Biasa abis bulan malling beli baju diskonan kini cuma belanja bulanan. Alhamdulillah seiring waktu bisa menyesuaikan, stres dikit ada tp masih wajarlah klo capek doank atau kalah kontes padahal udah usaha maksimal hahaha. Tapi sy masih sering denger ibu ibu irt yg menolak dikatakan pernah mengalami stres atau butuh piknik atau butuh me time krn menurutnya pekerjaan irt mulia , salut deh buat ibu yg seperti itu...sy sih ngaku masih butuh me time dan piknik hehehe

    ReplyDelete
  21. tipsnya semua oke banget, tapi masih banyak yg belum dilaksanakan nih..

    ReplyDelete
  22. Betul Mba Leyla, aku pun yang bekerja suka merasa kalau kerja di kantor itu me time banget buat aku. Setelah kerja, sampai rumah langsung megang anak-anak.. Aku selalu salut sama ibu rumah tangga. Sabtu Minggu kalo cuma di rumah pun kayaknya tingkat stres aku lebih tinggi daripada saat hari kerja.. :D Eh, tapi mba aku sebentar lagi enggak ngantor, semoga bisa menjalankan aktivitas di rumah dengan happy juga.. :) Maaciii tips-tipsnya ya mba..

    ReplyDelete
  23. Ah Mbak engkau menyuarakan isi hati ku.
    Kadang kalo lagi stress dengan urusan rumah tangga yg tak ada selesainya, rasanya pengen kembali bekerja. Etapi memikirkan baik buruknya lebih baik saya dirumah saja..

    ReplyDelete
  24. Bener mbak... everybody needs a break. Baik ibu rumah tangga maupun ibu bekerja. Ibu bekerjapun sepulang bekerja di kantor, bekerja lagi di rumah :).

    Tetapi memang, ibu bekerja lebih banyak kesempatan to break a while dari rutinitas anak, suami, dan rumah. Jadi, ya, keluar sesaat dari rutinitas itu penting untuk kesehatan jiwa. toh kalau Ibu-sebagai pusat kehidupan di rumah-bahagia seisi rumah akan bahagia.

    Selain itu, kita semua butuh sesuatu yang besar, rather than a shoulder to cry on. Kita butuh Yang Maha Besar. Ya, Alloh lagi, selalu Alloh, dan pasti Alloh. Aman hidup lo :)

    ReplyDelete
  25. Saat seseorang udah menikah menurutku "sahabat dekatnya" mestinya adalah pasangannya ya. Jadi kalau ada apa2, capek urus anak, lelah, curhatnya ke suami aja. Andai suami ternyata bukan seseorang yg bisa diajak diskusi dengan baik ya datangi saudara atau tmn terdekat. Kalau menurutku sih gak perlu sampai larinya ke medsos, sebab kadang hanya memperburuk situasi. Bener tu, sering2 ketemu tmn atau traveling melihat dan ketemu org baru akan sangat membantu banget, terutama kalau pas ketemu sesuatu yang "aha moment" yg bisa kita liat dr org di luar sana, misal liat pengemis, liat janda jualan dll jd malah bikin kita makin bersyukur dan lupa beban hidup sendiri.

    ReplyDelete
  26. Duh, itu koq ya laki-laki ada ya komen begitu di status facebook orang, curiga, beneran laki apa bukan hahaha..pencerahan banget nih mba, rumah tangga bahagia tercipta dari ibu yang bahagia.

    ReplyDelete
  27. Kebetulan tempo hari aku jg nulis tentang ini :D

    ReplyDelete
  28. Kaget aku kalau mamak salim bisa stress juga *eeh...
    Tapi jujur juga deh saya kalo capek juga rentan stres, marah-marah nda jelas, kesel, udah kayak bayi kecil yang tantrum haha. Solusinya emang kudu dimanja-manja sama suami tercinta, dipeluk aja udah nenangin apalagi ditambah dibeliin rujak or dimasakin hehe.

    Karena wanita kadang-kadang susah dimengerti juga sih ya, jadi emnag kudu saling mengerti dan memahami. Berbagi tugas beberes rumah juga mengasuh anak juga penting dilakukan agar bonding antara anak dan ayah itu ada.
    Tipsnya kece dan makasih udah diingatkan akan banyak hal, Smoga kita bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk anak-anak kita :)

    ReplyDelete
  29. Mengapa aku berkaca-kaca baca tulisanmu Mba. Aku padamuuu.

    Meski ibu bekerja, pernah juga dilanda stress dan depresi, urusan kerja mah udah tak terpikirkan di rumah. Yaitu tadi, menghadapi lingkungan keluarga yang belum bisa menerima sepenuhnya kondisi anakku yg pertama.

    Stress kalau udah ngadepin dia kalau sehari nangis berkali-kali kalau ada hal yg ku tak penuhi atau suka nangis gak jelas juntrungannya, tahu-tahu nangis.

    Jadi malah ikutan emosi kalau pikiran lagi gak sehat. Cuma istighfar dalam dalam dan nangis (seringnya) karena merasa belum jadi ibu yg baik.

    Tips-tipsnya membantu banget, apalagi no.1. Harus dieratkan lagi hubungan sm Allah. Sedihnya tuh malah udah wudhu sholat malam, eh bayi mendusin, eladalah malah bablas ketiduran lagi pas ngelonin. Ya Allah...

    Makasi mba el *elap aer mata*

    ReplyDelete
  30. Bener bngt tips no 1 ny.... Serahkan semua urisan sm Allah krn DIA yg maha dr segalanya, intinya klau sdh kita smua serahkn sm Allah apapun mslh jd relax ngadepinnya

    ReplyDelete
  31. Setuju. Me time saya ya nulis. Kalau nggak, bisa stres dan uring2an trs dirumah.

    ReplyDelete
  32. What an idea. Terimakasih banget mbak sudah menulis sesuatu yang menjadi suara hati emak-emak rumahan. Pas banget beberapa hari belakangan ikut deg-degan baca status teman yang notabene IRT dan menumpahkan isi hati bahwa dia sedang depresi. Padahal dia mengaku sudah rajin mengikuti taklim, ibadahnya juga pol-polan. Banyak yang mengatakan depresi terjadi karena kurang dekat dengan Tuhan...hmmm soal kedekatan dengan Tuhan hanya Tuhan dan pribadi sendiri yang tahu. Tetapi penyebab depresi banyak sekali dan membaca tulisan ini sungguh mencerahkan (pengen share ke beliaunya yang mengaku sedang depresi berat tapi aku kurang begitu kenal, barangkali mbak Ela bersedia ngomong dari hati ke beliaunya yang dulu pernah satu grup kepenulisan) Atau mudah-mudahan beliau pas BW mampir ke sini dan mendapat solusi terbaik aamiin. tfs mbak

    ReplyDelete
  33. setuju bgt dg tulisan mbak leyla hana ini deh
    kita jg hrs pinter memanage diri sendiri ya

    ReplyDelete
  34. saya hanya bisa tertawa pas mak leyla bilang "mari kita rebus di dalam panco sopp" wkwkwkwk.. saat baca ini, saya habis mencak-mencak dengan anak-anak yang diam - diam keluar rumah lalu main hujan.. yaa .. ngurus anak memang tidak ada habisnya

    ReplyDelete
  35. Sama kayak aq, klo lagi stress malah bawaan nya makan terus. Klo urus rumah tangga n urus anak harus punya kekuatan super ya. Apalagi klo harus menghadapi anak yg tantrum. Hidup mak mak

    ReplyDelete
  36. Menjadi ibu dan mengurus rumah tangga tanpa bantuan memang rentan kelelahan fisik maupun mentalnya. Stress biasanya kalau orang terdekat justru menuntut kita sempurna dalam mengurus segalanya. Beruntunglah seorang Istri yang punya suami memahami kondisi sebenarnya tanpa menyalahkan.

    ReplyDelete
  37. Memang Mbak kalau bekerja itu bisa lepas sejenak dari rutinitas. Saya merasakan itu waktu masih ngajar, pas berangkat ke sekolah rasanya langkah ringan banget terayun, bebas sejenak dari lendotan anak-anak.

    ReplyDelete
  38. Saya tidak pernah menyangka, ternyata menjadi ibu rumah tangga juga bisa menyebabkan stres. Saya paling tidak setuju, bila ada orang yang menyebut pekerjaan ibu rumah tangga itu nyantai-nyantai atau nonton tv saja, karena sebenarnya pekerjaan ibu rumah tangga itu sangat mulia, tidak trrbatas waktu dan mereka mengerjakannya tanpa digaji. Saya suka dengan tips-tips nya, yup ibu rumah tangga juga butuh me time, butuh ngumpul sama teman-temannya, butuh perawatan dan jalan-jalan.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...