Kupandangi wajahnya yang lelap
tidur. Rambutnya ikal, tak mirip rambut ayah dan mamanya yang lurus. Ia memang
lebih mirip kakeknya dari pihak ibu, alias mirip ayahku. Lahir 4,5 tahun lalu,
pada tanggal 11 Desember 2007. Masih kuingat betapa sakitnya melahirkan putra
pertamaku itu, yang diberi nama oleh ayahnya; Ahmad Ismail Haniya. Malam itu,
aku hanya merasa kontraksi sedikit-sedikit. Neneknya sudah khawatir bukan main
dan segera mengantarku ke bidan. Kata bidan, baru pembukaan satu. Untuk
mempercepat kontraksi, aku diinfus mulas. Andai saja dulu aku tahu sakitnya
diinfus daripada mulas alami, tak akan kusetujui saran bidan. Aku benar-benar
buta soal hamil dan melahirkan. Hanya berbekal informasi dari bidan dan
pengalaman ibu mertua, karena ibu kandungku sudah meninggal.