Friday, July 31, 2015

Semarak Warna-warni Kemenangan dalam Idulfitri 2015



“Ngapain sih bela-belain mudik sampai rela kena macet berjam-jam?” 

Pernah terpikir hal seperti itu setiap menjelang hari raya Idulfitri? Mudik adalah fenomena khas Idulfitri di Indonesia. Penyebabnya sudah tentu karena arus urbanisasi dari desa ke kota, yang lazim terjadi di Indonesia. Banyak pemuda dari desa yang tinggal, bekerja, dan beranakpinak di kota, tapi masih memiliki keluarga di desa (biasanya para orang tua).  


Nah, menjelang hari raya, para pemuda itu sudah tentu pulang ke rumah orang tua di desa untuk berlebaran bersama orang tua. Kalau mereka sudah menikah, pulangnya dengan membawa keluarga baru. Cucu-cucu juga biasanya senang dengan perjalanan pulang ke desa, sehingga bisa bertemu dengan kakek dan neneknya.  

Kebiasaan itulah yang disebut dengan mudik. Berhubung banyak orang yang mudik, kemacetan memang tidak bisa dihindari. Pemerintah sudah membangun banyak infrastruktur untuk mengurai kemacetan, nyatanya, kemacetan tetap saja ada. Ya wajarlah macet, hari raya Idulfitri kan hanya ada setahun sekali. Kalau ada yang mengatakan, “minta maaf kan bisa kapan saja, tidak harus pas hari raya.” Iya betul, tapi masih banyak orang yang tidak mau melewatkan momen hari raya itu untuk kumpul keluarga, sehingga macet-macet pun tak masalah. 

Saya termasuk salah satu dari mereka  yang mudik ke rumah orang tua di desa. Sebenarnya, orang tua saya sendiri kampungnya ya di Jakarta. Ayah saya asli orang Jakarta, ibu saya orang Solo. Dulu waktu saya masih kecil, saya biasa mudik ke Solo, tapi kebiasaan itu berhenti setelah Mbah Kung dan Mbah Putri meninggal dunia. Keluarga besar dari Ibu masih banyak yang tinggal di Solo, tapi sepertinya kewajiban mudik sudah gugur setelah Mbah Kung dan Mbah Putri meninggal dunia. Sebaliknya, saya lebih wajib mudik ke kampung suami, karena ada orang tua suami saya di sana.
Mudik demi bisa sungkeman dengan orang tua

Kampung suami saya di Garut, juga menjadi salah satu tujuan mudik banyak orang. Tak hanya yang tinggal di Garut lho, yang mau mudik ke daerah Jawa Tengah pun banyak yang lewat Nagrek, salah satu jalan menuju ke Garut, Tasikmalaya, dan sekitarnya. Yap, Nagrek adalah salah satu titik kemacetan saat mudik. Bila biasanya perjalanan ke Garut hanya memakan waktu 5 jam. Saat lebaran bisa makan waktu 12 jam! Buat kami, itu lamaaa sekali. Harus bisa menahan emosi menghadapi kemacetan. Iya kalau macetnya masih padat merayap. Kalau berhenti di tengah jalan? Bawa anak-anak kecil pula. Belum rewelnya, belum yang mau buang air kecil atau besar, belum yang lapar dan haus, dan lain-lain.  

Itulah mudik. Biarpun susah seperti apa, tetap dijalani dengan riang gembira. Malah sudah disiapkan seminggu menjelang hari raya. Sebab, bagi saya sendiri, mudik menyimpan warna-warni kemenangan Idulfitri.  Ada banyak warna-warni kemenangan Idulfitri yang tersimpan dalam sebuah kata “mudik.” Berikut ini adalah warna kemenangan versi saya.

Ibadah
Salat sunah Idulfitri seolah menjadi penutup dari seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadan. Salat ini lebih afdal diadakan di lapangan terbuka. Suasananya terasa syahdu sekali, manakala semua orang rukuk dan sujud bersama-sama merayakan hari kemenangan. Kemarin, saya salat bersama ibu mertua dan salah satu adik ipar. Adik ipar lainnya berlebaran di rumah mertua.
Salat Ied bersama ibu mertua dan adik ipar

Kumpul Keluarga
Kumpul keluarga besar dari suami saya menurut saya sangatlah menakjubkan. Saya baru mengalaminya setelah menikah dengan suami. Kumpul keluarga besar itu bukan hanya di antara keluarga inti suami, tapi semua keluarga yang jumlahnya mencapai ratusan. Iya, ratusan! Keluarga dari ibu mertua dan bapak mertua rutin mengadakan halal bi halal keluarga besar dari satu generasi Abah Buyut yang sudah meninggal dunia. Abah Buyut dari ibu mertua dan bapak mertua sama-sama punya 10 orang anak (zaman dulu kan anaknya banyak-banyak). 

Kumpul keluarga, lebaran hari pertama
Kesepuluh anaknya itu rutin mengadakan halal bi halal yang mengundang seluruh anak keturunannya. Walaupun kesepuluh anaknya itu sudah ada yang meninggal dunia (termasuk ibu dari ibu mertua saya dan bapak dari bapak mertua saya), acara itu masih rutin diadakan. Bayangkan saja, berapa orang yang menghadiri acara halal bi halal itu? Semua anak, cucu, cicitnya hadir di acara tersebut, sudah mirip dengan acara resepsi pernikahan saja jadinya. Bedanya, semua orang yang ada di sana itu memiliki hubungan saudara. Sering kejadian, adik-adik ipar saya bertemu di acara tersebut dengan teman-temannya di sekolah yang ternyata masih bersaudara. “Eh, ternyata kita sodaraan, ya?” begitu ekspresi mereka, sambil tertawa-tawa. 

Kumpul keluarga, lebaran hari kedua
Ada juga yang berjodoh, lho. Di keluarga suami saya, ada dua adik ibu mertua yang berjodoh dengan adik dan saudara dari bapak mertua. Untung jodoh suami saya itu orang jauh, alias saya, hehe…. Kebahagiaan saat kumpul keluarga besar ini tak bisa dituliskan dengan kata-kata. Saya selalu bersemangat menghadiri acara kumpul keluarga dari keluarga suami saya ini. Agenda tahunan yang mengeratkan hubungan di antara seluruh keluarga besar, karena acara semacam ini tidak bisa langsung jadi. Harus ada perencanaan dan panitianya juga, seperti halnya resepsi pernikahan. Itu berarti, hubungan keluarga terus terjalin demi kesuksesan acara. 

Kumpul keluarga, lebaran hari ketiga, mirip resepsi pernikahan euuuy....


Silaturahim
Silaturahim artinya menyambung hubungan kasih sayang. Mengapa Idulfitri lekat dengan kata “Mohon maaf lahir batin”? Ini ada kaitannya dengan makna Idulfitri itu sendiri, yaitu kembali fitri (suci). Kesucian di hadapan Allah sudah kita tempuh melalui ibadah di bulan puasa. Ibadah itu sendiri ada dua: habluminallah (hubungan ke Allah) dan habluminannas (hubungan ke manusia). Silaturahim berkaitan dengan habluminannas. Dalam kurun waktu satu tahun sebelumnya, kita pasti melakukan kesalahan kepada orang lain, baik itu disengaja maupun tidak disengaja, terlebih kepada saudara sendiri. Jadi, sudah selayaknya kita  saling memaafkan dan meminta maaf, agar suci lahir dan batin. 

Masalahnya, meminta maaf dan memaafkan itu ternyata tidak selamanya mudah. Ada kalanya menjadi sangat susah bila kita memiliki masalah yang pelik dengan seseorang. Itu mengapa silaturahim itu penting. Silaturahim bertujuan untuk menyambung hubungan kasih sayang agar tidak terputus. Allah Swt tidak senang jika kita memutuskan hubungan silaturahim karena permusuhan, pertengkaran, dan sebagainya. Salah satu warna kemenangan Idulfitri adalah saat kita bisa bersilaturahim dengan keluarga dan saudara, saling memaafkan dan meminta maaf, meskipun pernah dirundung masalah. 

Wisata Mudik
Setelah acara kumpul keluarga dan silaturahim selesai, saya dan suami masih ada waktu beberapa hari lagi untuk  berlibur karena suami mengambil cuti 10 hari. Hari keempat lebaran, kami berwisata ke Gunung Papandayan. Di Garut memang ada banyak gunung, sehingga udaranya segar dan airnya dingin sekali. Setelah delapan tahun menikah dengan suami, baru kemarin itu saya diajak ke Gunung Papandayan, hehe…. Tidak tanggung-tanggung, semua keluarga ikut serta: Kakek, Nenek, dan keluarga dari adik-adik ipar. Seru juga berwisata mudik bersama seluruh keluarga besar. 

Wisata mudik
Warna-warni kemenangan Idulfitri itu saya abadikan dalam photo competition warna kemenangan Dulux di www.warnawarnikemenangan.com. Lumayan lho, kalau menang, bisa dapat furniture baru dan gadget canggih dari Dulux. Ayo, ikutan juga. Berikut ini foto-foto yang sudah saya ikutsertakan dalam warna-warni kemenangan 2015, berikut cerita singkatnya. Gampang kok ikutannya. Tinggal buka webnya, dan upload foto-fotonya sesuai kategori dan warna kemenangan Dulux. Saya sampai kirim tiga foto. Mudah-mudahan ada yang nyangkut ya, hehe… 





Silaturahim


Wisata mudik

Kumpul keluarga
Di hari raya, saat kumpul keluarga, rumah akan menjadi tempat favorit. Kita pasti senang kalau ada banyak orang yang datang ke rumah kita saat lebaran.  Untuk mempercantik penampilan rumah, kita bisa mengecat tembok bagian dalam dan luar dengan menggunakan Dulux.  Dulux Weathershield dengan teknologi Keep Cool dapat memantulkan cahaya panas dari matahari yang diserap dinding, sehingga mengurangi suhu permukaan dinding rumah kita hingga 5 derajat celsius dibandingkan dengan merek lain. Berguna untuk mempercantik muka rumah kita. Dulux Weathershield PowerFlexx dengan teknologi PowerFlexx sehingga lateks dapat meregang 3x dibandingkan cat premium eksterior biasa. Memberikan perlindungan dari retak rambut, serangan garam alkali, panas matahari, hujan, dan kotoran. Dinding eksterior rumah pun tampak indah dan cerah lebih lama. Dulux Pentalite menghadirkan sentuhan maksimal dengan kualitas ProCover Technology, cat berbahan dasar air yang bermutu tinggi, dapat memberikan hasil akhir menawan dan warna tahan lama untuk interior rumah.

Pada momen Iduliftri ini, Dulux memberikan potongan harga untuk setiap pembelian cat Dulux senilai Rp 1 juta. Caranya gampang. Tinggal daftar saja melalui sms, kirim ke 2000 dengan format DULUX (spasi) Nama #No.Telepon. 


Ada konsultasi gratis juga lho untuk layanan simulasi warna yang bisa diaplikasikan pada dinding interior dan eksterior rumah kita, supaya lebih cantik, yaitu melalui Dulux Preview Consultant. Caranya gampang. Tinggal kirim aja foto dinding foto rumah kita ke www.dulux.co.id dan tim Dulux akan mengirimkan hasil simulasi warna tersebut ke email kita. Wiih... dinding rumah kita bisa lebih keren deh. 


http://emak2blogger.web.id/2015/07/03/warna-warni-kemenangan/



3 comments:

  1. Wah ke papandayan,kyknya asyik sejuk ya mb

    ReplyDelete
  2. lebarannya seruuu ya :)..paling asyik memang di tanah air..heboh :)

    ReplyDelete
  3. Aku blm pwrnah ke Garut, mba....Dingin ya daerahnya?

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...