Wednesday, May 23, 2012

Motivasi Menulis: Apa yang Akan Kuwariskan untuk Anak-anakku?


Setiap kali ada buku bukti terbit yang datang, anak-anakku langsung berebutan ingin membukanya. Mulut mereka sudah berceloteh duluan, “ini buku Mamah… ini buku Mamah….” Ya, memang sering kali paket-paket yang datang ke rumahku itu berisi buku bukti terbit atau buku yang kubeli dari toko buku online. Anak-anakku sudah tahu bentuk khasnya, meskipun paketnya belum dibuka. Di usia empat tahun dan tiga tahun, kedua putraku sudah akrab dengan buku. Selain karena mamanya seorang penulis dan pembaca buku, buku-buku begitu mudah ditemukan di dalam rumahku, menjadi mainan bahkan bacaan anak-anakku. Anak-anakku sudah membaca kah? Ya, belum. Mereka belum bisa membaca sama sekali, tapi sudah bisa menebak-nebak isi buku dari gambar-gambar yang disajikan. Contohnya ketika mereka membuka buku Panduan Kehamilan koleksiku, ada gambar ibu yang sedang mengandung. Aku juga sedang mengandung. Anak-anakku pun tahu dengan sendirinya bahwa di perut mamanya sedang ada seorang bayi, dari melihat gambar di buku itu. Bahkan mereka bisa menceritakan proses kelahiran bayi! Mereka menerjemahkannya dari gambar-gambar di buku panduan kehamilan itu.



Aku juga rutin membelikan buku anak-anak untuk mereka, dan membacakannya setiap waktu luang. Menjelang tidur dan di pertengahan bermain, sampai mereka hapal isi ceritanya. Aku suka keduanya begitu tertarik dengan buku. Tanpa ada pemaksaan, hanya pembiasaan. Mereka menyukai buku sebagaimana menyukai mainan. Keduanya sangat gembira kalau diajak ke toko buku, lalu sibuk memilih buku-buku kesukaan mereka berdasarkan gambar kovernya. Buku itu akan dijaga sampai habis dibaca, lalu digunting-gunting kalau mamanya lengah, hehehe… Ya, namanya juga anak-anak. Tapi mereka tahu lho mana buku yang bisa digunting, mana yang tidak. Kalau buku keterampilan belajar menulis dan membaca, tak lama hanya akan menjadi sampah karena digunting-gunting. Tapi kalau buku cerita, akan disimpan di dalam rak buku.

Buku. Ya, lagipula, apa yang bisa kuwariskan kepada anak-anakku kelak kalau bukan buku? Aku tak punya harta berlimpah untuk diwariskan. Hanya buku dan buku. Buku-buku koleksiku kalau dijual mungkin bisa menghasilkan uang, mengingat buku bekas pun diburu oleh penikmat buku. Tetapi, memang hanya buku yang bisa kuwariskan. Honor menulisku selama ini entah buat apa saja, tidak ada property berharga yang dibeli dari honor menulis. Setidaknya untuk saat ini. Namun, buku-buku itu, buku-buku karanganku sendiri, hasil tulisanku, tersimpan rapi di rak bukuku sebagai warisan untuk anak-anakku kelak. Beberapa dari buku itu juga memuat kisah mereka. Aku menceritakan perihal kehebatan putra-putraku di dalam buku antologi “Balita Hebat,” terbitan Zikrul Hakim. Lalu, kuceritakan pula suka duka ketika merawat mereka saat sedang sakit di dalam buku antologi “Ketika Buah Hati Sakit,” terbitan Indie Pro. Dan yang terbaru adalah di dalam buku antologi “Anak Nakal atau Banyak Akal,” terbitan Elex Media, ada cerita Sidiq yang super kreatif. Sidiq adalah anakku yang kedua, usianya baru tiga tahun.

Dan tentu saja buku yang mengabadikan suka dukaku sebagai ibu, di dalam “Catatan Hati Ibu Bahagia,” terbitan Jendela, Zikrul Hakim. Mengingatkanku kembali di awal menjadi ibu dan mengasuh kedua putraku. Terutama ketika aku sedang kesal dengan putra-putraku, kubaca lagi buku tulisanku sendiri itu, dan seketika menciumi kedua putraku, sebagai rasa syukurku karena telah diamanahkan untuk mengasuh mereka. Buku-buku itulah yang bisa Mama wariskan untukmu, Nak… semoga kalian bisa terus belajar dari buku-buku itu. Buku adalah warisan yang paling berharga, tak akan pernah lekang dimakan waktu. Mari menulis untuk anak-anak kita, dan ajarkan mereka untuk cinta membaca dan menulis.


12 comments:

  1. Aku juga tak punya harta banyak untuk kuwariskan untuk anakku kelak. Akan kuwariskan semua buku-buku yang kumiliki sekarang untuk anakku. Semoga bisa seperti mbak Ela deh, bisa mewariskan buku yang ditulis sendiri, hehee

    ReplyDelete
  2. tapi saya sukanya nulis fiksi gimana, mba --"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga awalnya nulis fiksi dulu, mba Icha.... :D

      Delete
  3. Kalau aku... berarti plus harus serius ngajarin Nadine bahasa Indonesia ya mbak. Biar bisa ngerti kalau baca buku2 mamanya.*Tsaaah buku2...hihihi ... berawal dr mimpi dulu ajalah ;)*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah.. Nadine gak bisa bahasa Indonesia yah???? Masa sih, mba Bella??

      Delete
  4. Warisan yang bermakna mbak :)
    Kayaknya aku jadi follower deh urusan kayak gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiin... mba Amalia... Follower apa, maksudnya?

      Delete
  5. Subhanallah...kebiasaan membaca memang harus digiatkan sejak dini, ya, Mbak ley :)
    bangga sekali ketika menjadi seorang ibu teladan seperti itu :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... Iya, Aina... dari sekarang kumpulin buku buat anak-anak kelak :D

      Delete
  6. anakku juga mulai gitu mba ela, tiap ada kiriman buku pasti nanya dulu, buku bun2 bukan? heuheuheu, alhamdulillah Nazira juga suka buku, ya...Semoga kumpulan buku bun2nya bisa jadi warisan yang berharga buatnya kelak...salut buat mba ela, tabungan warisannya udah banyak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, mba Aie... anak-anak kan ngikutin orang tuanya, apalagi bundanya yg tiap hari di rumah. Klo kita suka baca buku, insya Allah anak-anak jg suka.

      Delete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...