Saturday, September 22, 2018

Journey to Syari: Bersabar Mengenakan Pakaian Syari




"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi alkitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak, yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan."(Al Quran Surat Ali Imran: 186)


Bagi seorang muslim, hidup ini adalah ujian. Semua perintah Allah adalah ujian untuk keimanan kita. Salah satunya, mengenakan pakaian yang sesuai syariat agama Islam. Bagi seorang muslimah, pakaian syari itu adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Apa sih susahnya menutup aurat? Toh, hanya memakai pakaian yang menutup dari rambut sampai kaki. 

Ternyata memakai pakaian syari itu tidak mudah. Terlebih jika kita dibesarkan dalam lingkungan yang umum, di mana para perempuan terlihat biasa saja jika tidak mengenakan pakaian syari. Tadi pagi saya bercermin dan memandang wajah saya yang tanpa memakai jilbab. Saya bergumam, "Ah, saya terlihat lebih muda tanpa jilbab." 

Seorang teman perempuan juga pernah melihat saya tanpa jilbab dan kacamata. Dia juga berkata bahwa wajah saya terlihat lebih muda. Dipikir-pikir, memang jilbab dan kacamata membuat penampilan saya jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Astaghfirullah.... ternyata setelah belasan tahun berjilbab yaitu sejak kelas 3 SMA, saya masih saja tergoda untuk melepas jilbab.

Itulah ujian keimanan. Di luar sana banyak orang berceloteh bahwa jilbab itu tidak wajib. Ditampilkan pula sosok perempuan keturunan Arab dari keluarga Kiai yang tidak memakai jilbab. Seolah ingin mengatakan bahwa, "tuh, anak Kiai aja nggak pakai jilbab. Jilbab itu nggak wajib. Yang penting, jilbabin hatinya dulu. Ngapain pake jilbab, tapi hatinya masih hitam." 

Kalau kita tidak bersabar dan bertakwa, tentulah kita akan mengikuti mereka yang melepas jilbabnya. Keimanan dan ketakwaan itu harus terus dipupuk karena dia bisa mengering dan layu. Kita harus terus berdoa agar Allah menguatkan keimanan dan ketakwaan di dalam diri kita. 

Tentang jilbab syari. Saya pun sudah mengetahui aturan-aturannya yaitu menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, tidak membentuk tubuh, dan tidak menerawang. Model pakaian syari yang mendekati aturan tersebut adalah gamis yang longgar. Bisa dikatakan bahwa saya belum 100% rutin mengenakan gamis. Hanya sesekali saja. 

Salah satu koleksi gamis saya

Saya masih suka pakai celana panjang dan atasan potongan. Saya memakai jilbab sejak duduk kelas 3 SMA dan bukan atas paksaan siapa pun. Hidayah datang setelah membaca buku panduan muslimah yang di dalamnya disebutkan perintah berjilbab. Alhamdulillah Allah begitu mudah menggerakkan hati saya karena saya langsung berjilbab setelah membaca buku itu.

Apakah ada gangguannya sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas? Oh sudah tentu ada. Teman-teman menyebut saya culun, ninja, dan sebagainya. Hampir setiap hari saya memandang diri di cermin, bertanya apakah saya akan berjilbab selamanya? Sering saya merasa repot dan gerah karena mengenakan jilbab. 

"Haduh, repot banget deh. Kenapa sih perempuan muslimah itu harus berjilbab," gerutu saya saat meraih jilbab dan memakainya karena ada tamu laki-laki yang datang ke rumah.

Bayangkan. Kita harus selalu siap dengan pakaian yang menutup aurat jika ada tamu yang datang. Sering sekali saya sedang memakai pakaian tidur yang pendek, lalu ada petugas pengantar barang yang datang. Saya harus cepat-cepat memakai pakaian syari, dan petugas itu terus berteriak memanggil saya.

Barangkali gangguan yang menimpa saya itu tak seberapa. Banyak teman muslimah yang melepas jilbab karena gangguan hati yang sangat besar sehingga memupus keimanannya kepada Allah. Misalnya, bercerai dari suami. Rasa kecewa terhadap suami akhirnya membawanya pada pemberontakan kepada Allah.

Ada juga yang melepas jilbab karena pergaulan dengan teman-teman liberal yang berpendapat bahwa jilbab itu tidak wajib, jilbab adalah penjara bagi seorang wanita, jilbab membuat wanita terlihat seperti monster yang harus ditutup.

Jika sudah begitu, maka kita harus mendekatkan diri kepada Allah. Ingatlah bahwa semua perintah Allah itu ujian. Tidak ada yang gampang untuk dilaksanakan. Setan tidak akan berhenti menggoda kita.

Tips Memilih Gamis Syari
Nah, seperti yang saya sebutkan di atas bahwa saya sesekali memakai gamis. Pakaian model gamis ini termasuk pakaian yang memenuhi ketentuan syariat karena tidak membentuk tubuh. Saya masih terus berproses untuk konsisten mengenakan pakaian yang sesuai syariat. Berikut ini tips saya memilih pakaian gamis yang nyaman dan tak memberatkan saat dipakai:

  1. Model sederhana dan tak berlebihan. Salah satu syarat pakaian syari adalah tidak berlebihan dan mewah sehingga membuat semua mata memandang. Tujuan mengenakan pakaian syari justru untuk meredam pandangan nakal. Jika pakaian kita terlihat sangat menarik dan mewah, semua mata akan memandang kita sehingga tujuan berbusana syari tidak tercapai. 
  2. Bahan menyerap keringat dan tidak membuat gerah. Agar kita merasa nyaman saat mengenakan gamis, pilihlah gamis dari bahan katun yang menyerap keringat. 
  3. Tidak tipis dan menerawang. Pakaian gamis juga harus tebal dan tidak menerawang. 
  4. Tidak menyulitkan gerak. Pilihlah gamis dengan potongan yang longgar agar kita tetap bebas bergerak. 
  5. Harga terjangkau. Di dalam Islam, kita harus menghindari perbuatan boros seperti menghambur-hamburkan uang. Termasuk saat membeli pakaian, pilihlah yang harganya terjangkau. 
Di mana membeli gamis? Saya lebih sering membelinya secara online karena lebih praktis dan bisa menimbang-nimbang harga yang ditawarkan. Saya tak khawatir tertipu karena selalu memperhatikan benar di mana membeli gamis tersebut dan membaca deskripsi produk dengan teliti seperti ukuran gamis dan bahan yang digunakan.

Doakan ke depannya saya bisa konsisten bergamis yaaa....



10 comments:

  1. Iya mbak..aq lbh setuju ke syarat2 nya krn lbh jelas dan fleksibel trhadap zaman yaitu: menutup aurat, tidak menerawang, tidak membentuk tubuh, tidak tabarruj dan tidak tasyabbuh... Entah gamis, potongan, tunik, kulot, tinggal disesuaikan... Tp opini ini pasti banyak yg kontra­čśé

    ReplyDelete
  2. Ingat saudara saya yg sekamar berdua dg non muslim di Rumah Sakit. Dia kagum lihat sudara saya yg sll siap berjilbab sebelum dokter datang atau pun saat tirai pemisah mau dibuka utk sekedar ngobrol.
    Dia lihat islam itu patuh, disiplin krn ihlas.
    Soal cantik? Allah yg bikin cantik.

    ReplyDelete
  3. Saya baru 3 tahun berhijab, insya Allah gak akan buka tutup. Tapi pakai busana syari saya bwlum pede, krn gak tinggi takut kelelep hiks, tapi pelan2 mau belajar deh, makasih infonya mba

    ReplyDelete
  4. Selama ini mpo memakai pakain syari saat ikutan maulid. Mudah-mudahan lanjut untuk pakaian sehari hari

    ReplyDelete
  5. Mempertahankan hidayah untuk selalu hadir dalam keseharian memang lebih sulit dibanding mendapatkan hidayah itu sendiri ya mbak... Tetap semangat dan Istiqomah ya mbak...

    ReplyDelete
  6. Ujiannya ketika berusaha dekat dengan Allah selalu ada saja, semoga tetap istikomah mba

    ReplyDelete
  7. Aku pun masih belajar meninggalkan koleksi pakaian masa lalu yang udah ketat >,<
    Lebih enak sih pakai gamis, longgar dan cakep buat difoto :))

    ReplyDelete
  8. Bener banget. Konsisten dengan pakaian syari itu berat.
    Alhamdulillah setelah nikah apalagi setelah punya anak saya lebih merasa nyaman dengan gamis. Mulai risih kalau pakai celana. Tapi ya balik lagi ke diri kita masing2 nyamannya gimana. Yang penting masih sesuai syariat yang diajarkan.

    Btw itu harganya lumayan terjangkau ya. Apalagi kwalitasnya yang terbilang bagus.

    ReplyDelete
  9. Cantik memang kalau kaum muslimah menggunakan baju syari. Apalagi pakai makeup natural cantik bingits

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...