Hari ini saya mendapatkan kejutan. Dimention sama Mba Arin Murtiyarini dan Windi Teguh yang sama-sama jawara lomba blog, deg-degan pas lihat ternyata saya dimention karena jadi pemenang hiburan lomba blog "Ceritaku Bersama Miyako." Walopun cuma pemenang hiburan yang hadiahnya "paling-paling" merchandise, saya bersyukur banget karena nulisnya dekat deadline. Cuma SATU JAM menjelang deadline!
Sunday, July 14, 2013
Saturday, July 13, 2013
Lima N untuk Resolusi Ramadan 1434 H
Beberapa minggu menjelang Ramadan
tahun ini, saya sudah merasa tidak yakin akan bisa menjalani ibadah puasa sambil
menyusui. Padahal, dulu juga saya sukses berpuasa sambil menyusui anak kedua. Lalu,
mengapa sekarang malah tidak yakin? Yang namanya iman itu bisa naik dan turun. Kelihatannya
sekarang ini saya sedang mengalami penurunan iman. Sebelum puasa Ramadan, saya
sudah berpuasa qada Ramadan tahun lalu yang batal 12 hari karena bed rest hamil
anak ketiga. Selama qada itu saya rasakan berat sekali berpuasa sambil menyusui
dan mengurus dua kakaknya yang juga masih balita, ditambah mengurus rumah
tangga. Saya tidak punya asisten rumah tangga, otomatis semua pekerjaan rumah
tangga pun dilakukan sendiri.
Friday, July 12, 2013
Antologi "BIRU" Mengharubiru dari Sejak Penulisan Hingga Terbitnya
Alhamdulillah, kabar baik lagi di awal bulan Ramadan. Setelah dua novel dikabarkan akan terbit dan mengisi toko buku di bulan suci ini, ternyata buku antologi "BIRU: Sabar Hingga Akhir Waktu" malah sudah terbit sejak akhir Juni dan sudah bisa dipesan. Saya baru tahu tadi siang pas kurir JNE mengantarkan paket. Agak ragu juga menerimanya, karena seingat saya gak ada paket yang akan datang. Paket hadiah dari kuis dan giveaway, sudah datang semua. Kayaknya saya belum memenangkan lomba apa-apa dan tidak sedang memesan barang di toko online. Waaah, siapa yang nganterin hadiah ya?
Tuesday, July 9, 2013
Kover Novel Frankfurt to Jakarta
Alhamdulillah, menjelang Ramadan ini, rezeki berlimpah. Barusan dapat imel dari editor saya yang isinya kover novel Frankfurt To Jakarta. Sudah sampai tahap kover ini rasanya bahagiaa.. meskipun perjuangan belum selesai. Bahkan setelah bukunya terbit pun, penulis masih punya PR. Semoga saja Allah memberikan kemudahan agar novel ini sehat, selamat, sejahtera dari awal penerbitan sampai mendarat ke tangan pembaca. Aamiin.....
Monday, July 8, 2013
Risiko Gonta-Ganti Nama Pena
Eh, hari ini ada yang nyariin saya di Twitter. Untung dihubungin sama Rhein Fathiya. Dia nyariin Leyla Imtichanah. Memang saya gak punya twitter dengan nama Leyla Imtichanah, adanya Leyla Hana. Di awal karir menulis, saya memang pakai nama asli. Trus, tiga tahun belakangan, saya ringkas jadi Leyla Hana. Maksudnya supaya lebih gampang aja nyebutnya dan lebih diingat, seperti nama Rhein Fathiya, Asma Nadia, dan sebagainya. Rasanya bersyukur masih ada yang ingat dengan Leyla Imtichanah, padahal nama itu sudah gak nerbitin buku sejak tiga tahun lalu. Lebih banyak didaftarin untuk lomba blog dan kuis, hihihi.... Risiko ganti nama pena, jadi pembaca kebingungan kali ya. Padahal, saya ada rencana pakai nama pena lain lho....
Tuesday, July 2, 2013
Kendala Menulis #1: Mood
Dulu pernah ada yang tanya, gimana mau nulis kalo gak mood? Well, saya juga sering banget gak mood nulis, apalagi setelah punya anak-anak. Badan capek dan pikiran ruwet Kemarin itu, saya gak jadi nulis (padahal ada waktu banyak), gara-gara habis ngomelin anak-anak. Duh, jadi merasa bersalah. Akhirnya, malah nemenin mereka tidur. Mandangin wajah mereka yang sudah terlelap, dan ikut tidur. Besoknya baru nyesel, kenapa gak dipaksain nulis aja, toh anak-anak udah tidur? Ya, itulah mood. Bikin runyam urusan. Apalagi saya tipe nyantai juga. Kalau bukan deadline yang mengikat, saya gak mau ngoyo. Maksudnya, kalau deadline itu dikasih oleh pihak yang sudah mengikat saya dengan kontrak, mau gak mau harus saya kerjakan. Tapi kalo cuma deadline-deadlinenan semacam ikutan lomba yang belum tentu menang, kadang saya mengalah saja klo moodnya gak bagus.
Monday, July 1, 2013
Dari Dulu Sampai Sekarang, Tetap Miyako Rice Cookernya
Pertama kali saya punya rice cooker itu sewaktu masih kerja di sebuah penerbitan. Saya menginap di kantor dan pulang ke rumah setiap akhir pekan. Tadinya saya beli makan di warung dekat kantor, tapi setelah ada teman yang ikut menginap di kantor, kami memutuskan untuk memasak sendiri. Selain lebih hemat, tentu juga lebih sehat. Nah, supaya masak nasinya lebih cepat, pas gajian saya sisihkan uang untuk membeli rice cooker. Saya beli produk yang sudah terkenal sejak dulu. Eh, baru sebulan, rice cooker itu sudah menunjukkan tanda-tanda tidak benar. Nasi jadi kuning dan kering, padahal belum seharian. Mana enak dimakan? Hfff... saya jadi kapok beli rice cooker. Ibu saya juga gonta-ganti merk terus dan kendalanya selalu sama. Akhirnya malah ibu saya memilih masak nasi di kukusan, manasinnya di magic warmer. Tapi buat saya yang "anak zaman sekarang" dan gak mau ribet, pengennya sih pakai rice cooker saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)