Tuesday, January 2, 2018

Cara Mengatasi Anak yang Tantrum



"Mama adalah ibu yang terbaik." 

Ucapan itu keluar dari bibir anak bungsu saya, Salim, yang usianya 5 tahun. Saya sedikit terkejut, walaupun sudah beberapa kali mendengar kalimat itu dari anak-anak. Saya tanya kenapa kali ini dia memuji saya? Salim hanya senyum-senyum. Lalu saya jawab sendiri, "apa karena tadi Mama nyuapin Salim?" Dia kembali menjawab dengan senyum-senyum. Saya pun memeluk dan menciuminya, sambil memeriksa suhu tubuhnya karena sejak kemarin sakit panas. 


Menjadi ibu adalah momen paling indah dalam hidup saya. Akhirnya saya memiliki fans setia yang setiap hari memanggil nama saya, memeluk, dan bergelayutan di tubuh saya. Walaupun hal itu harus dibayar dengan kesabaran menghadapi tingkah laku mereka, salah satunya adalah tantrum. Beberapa kali saya membaca curhatan para ibu yang kesulitan menghadapi anak tantrum. 

Teori parenting yang pernah saya baca mengatakan bahwa tantrum pada anak disebabkan karena cara asuh yang berbeda-beda dari orang-orang yang mengasuh anak tersebut. Artinya, anak yang tantrum biasanya diasuh oleh lebih dari satu orang dan mereka menerapkan pola asuh yang berbeda. Misalnya, nenek dan ibu. Nenek cenderung memanjakan anak, sedangkan ibunya tidak. Ketika anak tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, maka dia akan tantrum. 

Cara mengatasi anak yang tantrum adalah dengan membiarkannya berteriak, menangis, asalkan mereka tidak melukai tubuhnya, ibu cukup memperhatikannya saja dari dekat. Setelah tangis anak reda, barulah ibu memeluk anak. Anak pun tahu bahwa setantrum apa pun dia, ibu tidak akan menuruti keinginannya. Ibu harus konsisten dengan keputusannya. 

Suami saya bilang, yang namanya teori parenting itu fleksibel. Tidak ada satu teori pun yang mutlak dijadikan pegangan. Saya setuju sih. Pada akhirnya itu dikembalikan kepada kita sendiri mau mengasuh anak dengan cara bagaimana. Ismail pernah diasuh neneknya selama 2 bulan karena saya hamil anak kedua. Nah, saya ingat sekali saat kami kembali berkumpul dan saya belum punya asisten rumah tangga. Perhatian saya lebih banyak ke bayi daripada ke Ismail. 

Sekarang mereka sudah besar & tidak pernah tantrum

Pada satu kesempatan, Ismail menangis sambil menendang-nendang. Anak menangis itu biasa, tapi kalau sampai menendang-nendang dan marah besar? Ismail anak yang pendiam, jadi momen itu saya anggap luar biasa. Memang sebelumnya dia minta digendong tapi saya sibuk menyusui bayi. Rupanya itu membuat dia marah yang usianya hanya terpaut setahun saja dengan si bayi. Saya langsung menggendongnya, memberinya susu, dan memeluknya. Sejak itu, saya selalu memeluk kedua anak dengan kedua tangan. Tak mengabaikan salah satunya. Ismail pun tak pernah tantrum lagi. 

Lain dengan Ismail yang kalem dan tak tertarik saat ada tukang mainan. Sidiq, adiknya, setelah usia 2 tahun, tertarik melihat tukang mainan dan pasti minta mainan. Inilah drama tantrum yang sebenarnya. Sidiq akan menangis dan meraung saat keinginannya tak terpenuhi. Padahal dia hanya diasuh oleh saya tapi bisa tantrum juga. Lama-lama tak hanya menangis karena minta mainan tapi juga hal-hal lain. Pada awalnya saya emosi. Saya marah dan mengomel, tapi tangisnya tak berhenti malah makin mengamuk. 

Saya melakukan saran pakar parenting itu dengan membiarkan Sidiq menangis. Sidiq malah memukul-mukul saya. Lain waktu, saya tinggalkan dia dan mengunci diri di kamar tapi dia memukul-mukul pintu. Hm, sepertinya tidak bisa dengan cara itu. Akhirnya saya peluk dia setiap kali menangis. Saya tanya maunya apa lalu bernegosiasi. Saya bisikkan juga zikir ke telinganya sambil mengusap kepalanya. Ternyata... berhasil. Yup. Setelah saya konsisten melakukannya, Sidiq tidak pernah tantrum lagi. 

Memang saya harus menyingkirkan emosi saya sendiri dan sabar menghadapi anak. Jadi buat saya, kunci menghadapi anak tantrum adalah memeluk, berbicara pelan, mengusap kepala, dan membisikkan zikir. Itu saja. Sejak itu saya yakin bahwa tantrum hanyalah cara seorang anak untuk mendapatkan perhatian dari ibunya. Anak-anak itu cukup didengarkan, diberi sentuhan dan pelukan. Dan jangan lupa untuk terus membisikkan kalimat tayyibah ke telinga mereka. Sebut nama Allah agar Allah membantu melembutkan hati anak-anak kita. Karena sebetulnya anak yang tantrum membutuhkan perhatian dari ibunya dan itulah cara saya mengungkapkan cinta kepada anak-anak.

Jadi, ini langkah-langkah yang saya lakukan saat anak tantrum:

Segera Peluk Anak 
Peluk anak yang tantrum dengan lembut. Barangkali mereka akan berontak pada awalnya, tapi tetaplah memeluk. Paling tidak, pelukan bisa sedikit meredakan emosinya.

Gendong Anak 
Bila anak masih usia di bawah 5 tahun dan tubuhnya tidak berat, Ibu masih bisa menggendongnya saat anak tantrum. Menggendong juga akan sedikit meredakan emosinya.

Usap Punggung dan Kepala Anak 
Dalam kondisi memeluk atau menggendong, usaplah punggung dan kepala anak dengan lembut. Tindakan itu juga bisa meredakan emosinya.

Tatap Matanya dengan Lembut 
Langkah berikutnya adalah menatap mata anak dan berikan perhatian secara penuh. Yakinkan anak bahwa kita mengetahui aksinya dan kita memperhatikannya.

Tanyakan Apa Keinginannya
Selanjutnya, tanyakan apa yang anak inginkan. Apakah dia mau mainan, makanan, minuman?

Bernegosiasi
Bila ternyata anak kita mau mainan yang harganya mahal, lakukan negosiasi dengan sabar. Ingat, sabar ya Bu Ibu saat bernegosiasi. Ucapkan dengan lembut. Kalau saya jujur saja saya katakan bahwa harga mainan itu sangat mahal dan Mama tidak membawa uang. Kalau membeli mainan itu, nanti tidak bisa pulang karena uangnya habis. Alhamdulillah sekarang anak-anak selalu tanya kalau minta mainan apakah harganya mahal? Berikan alternatif mainan lain yang harganya murah.

Bisikkan Zikir 
Sebagai muslim, saya yakin kalimat-kalimat zikir dapat meredakan emosi anak seperti "astaghfirullah " Ucapkan berulang-ulang di telinga anak.

Tetap Beri Perhatian 
Menurut saya, tantrum itu hanya cara anak untuk mencari perhatian orangtua. Jadi, walaupun sedang tidak tantrum, orangtua harus tetap memberikan perhatian. Perhatian bukan sekadar kondisi fisik Ibu ada di samping anak tapi mata ke pekerjaan. Fisik, hati, dan mata Ibu harus fokus ke anak. Ketika anak mengajak Ibu bicara, segera perhatikan. Jangan tunggu sampai anak tantrum. Karena kalau mereka tahu bahwa hanya dengan tantrumlah mereka bisa mendapatkan perhatian Ibu, maka mereka akan sering melakukannya.

Kesabaran lain yang harus dimiliki ibu adalah saat anak sakit. Seperti kemarin Salim sakit panas dan diare akibat kelelahan liburan. Kami pulang ke kampung ayahnya, lalu rekreasi ke tempat-tempat wisata di sana.  Mungkin Salim masuk angin dan demam. Saya merawatnya dan yang paling penting adalah selalu ada di sisinya karena obat terbaik yaitu pelukan ibu. 

Salim dan Mama

Salim dan Mama

Ketika panasnya tinggi, saya kompres dahinya dan berikan obat penurun panas. Andalan saya adalah Tempra Syrup yang aman di lambung, tidak perlu dikocok, dan larut 100%. Saya berikan sesuai dosis yang tertera di kemasan karena dosisnya tepat. Alhamdulillah, dapat menurunkan demam dengan cepat. 

Menyuapi makan sambil main mobilan

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra. 

38 comments:

  1. Saya belum paham mengenai tantrum, alhamdulillah jadi tau di artikel ini plus cara mengatasi nya. Terimakasih ya bunsay :)

    ReplyDelete
  2. Anak tantrum atau demam, yang paling utama adalah ibunya tenang ya Mbak. Kalau tenang, penanganan ke anak lebih baik lagi.
    TFS Mba

    ReplyDelete
  3. Ibu cerdas tahu cara mengatasi tantrum dan demam anak.
    Semangat selalu membersamai anak, Mbak

    ReplyDelete
  4. Anak saya masih bayi jadi belum bisa tantrum.. Tapi kalo ngamuk peenah gara2 ada yang gak dia suka.. ^^: yang sabar ya bun..

    ReplyDelete
  5. jadi nggak sabar meluk anak sendiri :*

    ReplyDelete
  6. Saya setuju mba, teori parenting itu flexible. Satu keluarga dan keluarga lain tentu beda. Anak satu dan lainnya juga beda. Semua unik

    ReplyDelete
  7. Aku sering lihat anak kecil ngamuk di mall. Kalau udah gitu cuma berharap orang tuanya sabar aja. :)

    ReplyDelete
  8. Selalu sedia Tempra betapa penting ya, Mbak...

    ReplyDelete
  9. Aku mengamati, memang tak semua ibu mampu mengatasai anak saat tantrum

    ReplyDelete
  10. Suka bikin malu kalau anak tantrum apalagi kalau gak di kasih es, permen, jalanan. Nangis nya di depan semua orang. Banyak yg masih karena gak mau malu, gak berisik , beliin yg murah aja kaya gak punya uang sampai anak nangis. Et dah omongan tetangga bikin pegeng

    ReplyDelete
  11. Sedia tempra karena anak suka panas tiba tiba panas. Kotak p3k

    ReplyDelete
  12. Kalo kita punya aturan, trus anak tantrum di area publik, mesti siap2 tutup kuping, hehe..

    ReplyDelete
  13. Sebenernya aku blm prnh ngerasain anak tantrum sampe yg jejeritan. Si kaka dan si adek pernah marah, tp biasanya mereka hanya melempar barang, trs ngambek di pojokan hahahaha.. Ntah harus bersyukur, ato malah PR untuk ngilangin cepet ngambeknya itu mba :D

    Tp biasanya akupun slalu biarin aja sih sampe anaknya paham, mau gimanapun aku dan papinya ga bakal ngabulin apa yg diminta.

    ReplyDelete
  14. Salim memang terlihat aktif. Tapi memang masing-masing anak memiliki karakter yang berbeda beda ya mba. Btw, aku juga menyediakan tempra untuk anakku, mba

    ReplyDelete
  15. Anak tantrum memang kadang bikin geregetan, apalagi kalau di tempat umum. Semoga kita semja diberi kesabaran dan jadi orang tua yang baik untuk anak-anak

    Urusan panas, tempra-in aja

    ReplyDelete
  16. Kunci mengatasi anak tantrum itu memang konsisten & tegas. Lama2 anak tahu, kapan saatnya orang tua bisa diminta, kapan saatnya dia harus tahu diri *ehh. Yang penting orang tua ga boleh kalah sama tangisan anak.

    Sekali anak melihat celah, orang tua/orang dewasa bisa diperdaya dengan amukan dan tangisannya, dari sana ia belajar bahwa ada "celah" utk bisa meloloskan permintaannya :).

    Kuncinya cuma konsisten, kalau ngga, ya ngga, jangan sekali ngga, kapan hari terpaksa iya karena ga tega.

    Jiaaah, komenku panjang amat yaaak. Udah jadi blog post sendiri ini sih

    ReplyDelete
  17. Ibu selalu tahu, apa yang terbaik buat anak-anaknya

    ReplyDelete
  18. Tapi yang paling penting kalau anak tantrum itu ortunya gk boleh ikutan tantrum ya mbak, hihi.. Ortu tantrum bubar deh semua cara ��

    ReplyDelete
  19. Indahnya masa ana masih kanak kanak...apalagi kalo tantrum...heudeuh, kesel tapj percayalah kelah dewasa tak tantrum lagi

    ReplyDelete
  20. Anak kedua ku, nara juga suka tantrum mbak... Tapi alhamdulillah setelah lewat lima tahun sudah tidak terlalu sering tantrum nya... Mungkin ada kaitannya juga kali ya pertambahan usia dengan tingkat tantrum itu sendiri...

    ReplyDelete
  21. Kalo aku anak tantrum aku diemin, kudu sabar sama ga gampang kepicu nangis anak. Jadi kifah skrg ga pernah maksa kalo minta mainan di mini market atau super market

    ReplyDelete
  22. Betul...Kalau minta bantuan Allah dg membisikan kalimat toyyibah, insya Allah membantu diri ibu juga agar tetap sabar.

    ReplyDelete
  23. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  24. Pelukan ibu itu punya sejuta arti ya

    ReplyDelete
  25. Anak pertamaku suka sekali nangis dan marah-marah kalau ada hal-hal yang tidak sesuai keinginannya. Apa itu bisa disebut tantrum ya? Kalau pas lagi suntuk ya malah balik kumarahi, tapi sebisa mungkin menahan diri untuk tidak terbawa emosi. Jadinya kalau dia sedang begitu kugendong, padahal udah kelas 2 SD ya hahaha. Memang orang tua kudu sabar kalau menghadapi anak yang seperti ini. Kalau ikutan marah bisa bubar semuanya.

    ReplyDelete
  26. Toss yuk...mb Leyla. Anak2ku juga cocok minum Tempra pas lg demam/panas. Oh ya anak tantrum itu terkadang bingung sama pola asuh orangtua dan nenek kakeknya yg berbeda ya.

    ReplyDelete
  27. Hihihi samaa akhirnya aku punya fans setia juga.. Dinikmatin ya mba digelayutin tiap hari, mumpung masih pada kecil.. :D Kalo anak rewel gal jelas biasanya aku diemin dulu berapa saat abis itu aku peluk, trus dipukpuk.. :)

    ReplyDelete
  28. Tips parentingnya bisa dicoba nih, anakku belakangan ini suka tantrum kalau ada yang nggak sesuai dengan kehendak hatinya. Semoga bisa efektif mengatasi tantrum anak.

    ReplyDelete
  29. Waaah ilmu banget nih. Waktu Abang sih alhamdulillah ga ada tantrum. Si Adek juga belum kelihatan. Mudah2an nggak ada. Tapi bisa jadi bekal buat saya. Memang cuma ibu yang tahu bagaimana cara menghadapi sikap tantrum anak2nya ya.

    ReplyDelete
  30. paling akward ketika melihat anak tantrum apalagi klo sudah ditempat umum. Ga bisa diam malah jadi tontonan orang-orang. sekarang tinggal sabar orang tua menghandle anak biar tenang

    ReplyDelete
  31. Sangat bermanfaat artikelnya :D Saya kurang begitu faham dengan tantrum anak ^^ Jadi tahu deh sekarang :D

    ReplyDelete
  32. Beberapa kali saya juga sering lihat anak tantrum, ternyata nggak mesti ya dituruti keinginan anak ketika ngamuk. Pelukan dan belaian bisa meredakn rasa emosi yang meluap pada anak-anak.

    ReplyDelete
  33. Anak saya baru setahun tapi bakat tantrumnya sudah terlihat, semogaaa aja kami ortunya bisa sabar. Wah mba Leyla apalagi ya stok sabarnya mesti banyak karena anaknya tiga dan usianya berdekatan

    ReplyDelete
  34. Duh, ga ada rasa yg lebih bahagia denger bahwa anak sayang sama kita, semua rasa lelah pasti rontok seketika. pun kalau anak sehat, rasanya happy banget

    ReplyDelete
  35. Mwahaaa, anakku nih Mba Ela, yg pertama suka tantrum kalau aku lagi nyusui adeknya, emang sih jaraknya kurleb 2th, si kakak jd kaya cemburu gitu ya. Sedih kadang lihatnya begitu.

    ReplyDelete
  36. klo anak lagi demam itu peer banget buat ibunya, karena pasti ada aja rewel:( untung ada tempra syrup yg bisa atasi demam anak dan insya allah rewelnya wussss pergi juga karena anak udah feeling much better

    ReplyDelete
  37. kuncinya sabar ya, dan mengerti apa yang dimauinnya dan bisa ajak berkomunikasi

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...