Friday, January 12, 2018

Anak Itu Rejeki dari Allah, Hati-hati dengan Ucapanmu Bu



"Sudah dicopot KB-nya tapi masih belum hamil juga. Kemarin telat mensnya, sudah mau seneng eh nggak jadi. Sampai nangis-nangis suaminya," begitu cerita seseorang kepada saya tentang seseorang yang merindukan anak kedua setelah anak pertama berusia 10 tahun. 

Saya jadi ingat perkataan ibu yang ingin hamil kedua kalinya itu, 10 tahun lalu, saat saya sedang hamil anak kedua sewaktu anak pertama baru berusia 5 bulan. Dia pun baru memiliki bayi. Mungkin didorong oleh repotnya mengasuh bayi, jadi sembarang berucap, "Duh, harus cepat KB nih. Jangan sampai deh kebobolan juga. Kalau bisa mah mau punya satu anak aja. Repot ngurusnya. Belum nanti biaya sekolahnya mahal." 

Saya bergetar mendengar ucapannya itu yang begitu yakin hanya ingin memiliki satu anak. Ucapan itu juga ditambahi oleh ucapan suaminya yang meragukan kemampuan kami untuk menyekolahkan anak-anak. "Punya anak jarak usianya cuma setahun, gimana nanti nyekolahinnya? Baru masukin 1 ke sekolah, tahun depannya masukin 1 lagi. Hadeeh lieur euy." 


Alhamdulillah, saya dan suami sama sekali nggak lieur. Saya bersyukur dikasih suami yang selalu yakin kepada Allah. Suami selalu bilang, "Allah yang kasih rejeki, tinggal minta sama Allah." Terbukti, sekarang anak-anak berusia 10 dan 9 tahun, keduanya bersekolah di SDIT dengan biaya pendaftaran puluhan juta dan Allah mampukan kami untuk membayarnya. Kami bukannya riya atau takabur saat menyebutkan fakta ini, tapi ini untuk menjawab pertanyaan orang itu dulu. Gimana nyekolahin 2 anak dengan usia berdekatan? Gimana bayar uang pendaftarannya? Masya Allah. Mudah karena Allah yang membayarnya.

Kalau kita berpikir bahwa rejeki itu dari kita, tentu akan berat. Kita menghitung pendapatan kita dan merasa tidak mampu membiayai anak lebih dari dua, ya terjadilah. Kita bakal tidak mampu karena sudah merasa begitu. Tapi kalau kita berpikir bahwa rejeki itu dari Allah dan Allah akan memampukan, insya Allah itulah yang akan terjadi. Saya tidak tahu bagaimana, intinya ketika akan memasukkan anak ke SDIT, uangnya ada saja. Padahal, saya tidak bekerja. Suami juga masih usaha menyicil segala macam, ya rumah, mobil, dan lain-lain. 

Ketika saya hamil anak kedua yang disebut orang-orang sebagai kesundulan atau kebobolan itu, seorang ibu yang lain juga berucap. "Amit-amit hamil lagi pas masih punya anak kecil. Repot ngurusnya pasti," katanya sambil mengusap-usap perut. Sungguh saya terkejut mendengarnya sampai-sampai ucapan itu masih teringat di benak saya beserta ekspresi si ibu yang terkesan ngeri. Sekarang, anak pertama ibu itu sudah besar juga. Saya ingat percakapan kami di tukang sayur. 


"Gimana atuh ya pengen hamil lagi tapi nggak bisa-bisa. Udah lepas KB dari si Aa umur 4 tahun, kok nggak hamil-hamil ya. Padahal dulu hamil si Aa mah gampang. Sekali nempel langsung hamil. Ini mau punya anak kedua, nggak hamil-hamil," keluhnya sambil mengusap perut. 

Lho kok sama kasusnya? Setelah saya pikir-pikir, dua orang yang nyata-nyata pernah berucap tidak mau hamil lagi di depan saya itu benar-benar dikabulkan ucapannya. Mereka kesulitan hamil lagi setelah anak pertama berusia 10 tahun. KB sudah dilepas bertahun-tahun. Yang katanya "cuma nempel aja hamil" itu tidak terbukti. Kok aneh ya? Waktu hamil anak pertama mah gampang banget. Baru sebulan nikah, sudah hamil. Kenapa mau hamil anak kedua malah susah? 

Jawabannya gampang. Karena anak itu bukan kita yang bikin, tapi Allah. Sama halnya ketika saya kesundulan dulu. Saya bukannya nggak KB lho. Saya minum Pil KB untuk merencanakan jarak usia anak pertama dan kedua. Ternyata, Allah menghendaki saya punya anak dengan usia berdekatan ya terjadilah. Dulu memang repot banget. Mengasuh 2 bayi seperti punya bayi kembar. Alhamdulillah sekarang malah bersyukur. Ini memang jalan yang sudah digariskan oleh Allah. Mau diKB pun kalau Allah berkehendak ya hamil juga. 

Makanya saya sekarang sering menegur langsung ibu-ibu yang tanpa sadar berucap nggak mau punya anak lagi ah. Bukan apa-apa, hati kita mudah terbolak-balik. Dulu nggak mau punya anak lagi, setelah anak besar eh kangen momong bayi. Ucapan bisa menjadi doa. Bagaimana kalau Allah kabulkan? Dua kasus di atas itu nyata. Sampai hari ini mereka masih berusaha memiliki anak kedua, padahal dulu waktu punya anak pertama mah gampang. Lebih gampang dari saya malah. Kalau saya dulu harus menunggu 4 bulan, mereka baru nikah pun langsung hamil. 

Memiliki anak memang membahagiakan tapi juga merepotkan. Hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat anak adalah tugas yang berat. Allah katakan juga semua itu adalah jihadnya seorang wanita. Ibu yang meninggal saat melahirkan, disebutnya mati syahid. Kadang saking repotnya punya bayi, tanpa sadar kita berucap, "duh nggak mau punya anak lagi ah." 

Hati-hati juga dengan prasangka buruk yang menjurus ke syirik seperti: gimana nanti biayain kebutuhannya, gimana bayar sekolahnya, dll. Kenapa syirik? Karena ucapan itu meniadakan Allah dari hidup kita. Kita merasa kita lah yang membiayai kehidupan anak-anak. Jadi pasti tidak akan mampu. Maka itulah yang terjadi. Tidak mampu. Lain halnya kalau kita yakin bahwa Allah lah yang akan membayar semuanya. Pasti mampu. Allah kok dilawan. Allah punya segalanya. Masa bayarin dua anak masuk SDIT saja nggak mampu? Saya membuktikannya. Allah memberikan kami uang untuk mendaftar ke sekolah, padahal kami tidak punya uang sama sekali sebelumnya. 

Lalu, apakah itu berarti kita tidak boleh boleh berencana mau punya anak berapa? Tak mengapa merencanakan jarak anak, saya juga melakukannya. Setelah lahir anak kedua, saya ikut KB lagi. Setelah lahir anak ketiga, saya juga KB sampai sekarang. Tapi itu hanya rencana, keputusannya diserahkan kepada Allah. Maksudnya, saya nggak bisa mengklaim bahwa saya nggak mau punya anak lagi. Kalau ditanya apakah saya mau punya anak lagi, saya jawab, "untuk sekarang belum siap. Saya masih KB. Tapi kalau Allah menghendaki, ya saya terima karena KB apa pun bisa  saja gagal." 


Anak itu rejeki dari Allah, maka berhati-hatilah dengan ucapan kita Bu. Banyak sekali pasangan yang merindukan punya anak pertama. Barangkali justru dengan ujian itu mereka jadi yakin bahwa anak itu benar-benar rejeki dari Allah. Nggak bisa sekali nempel jadi. Mereka benar-benar ikhtiar dan berdoa agar Allah memberikan rejeki. Lain dengan kita yang begitu mudahnya hamil sampai yakin bahwa kita yang menciptakan anak. Lalu bagaimana jika sudah terlanjur berprasangka dan berkata buruk? Mari kita istighfar bersama-sama. 

Astaghfirullahaladzim. Semoga Allah mengampuni ucapan dan prasangka buruk kita di masa lalu. 

37 comments:

  1. Ya ampun omongannya kayak yang ga diayak dulu y mba dan sekarang apa yang diucapkan menjadi harapan yang terucapnya dulu..

    btw itu kata-kata "Allah yang kasih rejeki" sama selalu suami ucapkan ketika saya mulai galau hehehehe...tapi beneran rezeki itu Allah yang kasih y mba jadi yakin aja deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaan mbak ,, suamiku tipe yang semua memang ALLAH yang atur, ALLAH yang akan memberikan rezeki pada umatny.. ^_^

      Delete
  2. Bener Mbak, Allah yang punya kuasa dan memang harus hati-hati dengan ucapan ya, aku juga jadi waspada lagi nih.

    ReplyDelete
  3. Serem mbak el ya, sembarangan ngomong akhirnya kun fayakun. Aku juga takut salah ngomong, kalo mau hamil lagi apa ngga, gimana alloh aja. Yes bener rezeki anak mah ada aja, alloh yg kasih.

    ReplyDelete
  4. mendidik anak sebaik baiknya dan membuatnya cerdas secara agama adalah idaman orang tua.

    ReplyDelete
  5. Menahan diri, agar nggak bicara sembarangan

    ReplyDelete
  6. Selalu inspiratif cerita mbak leyla, tapi sadis banget ucapan emak2 tuh yaa, amit2x...macam apa aja...

    ReplyDelete
  7. Lidah tidak bertulang ya Mak.. makasih reminder nta, saya juga baru punya baby 1 ngurus sendiri emang repot tapi ini adalah rezeki terbesar, amanah terberat dunia akhirat ya dan buat 2 ibu tadi kayaknya engga usah nangis deh, mungkin dia lupa dulu ngomong apa dan mereka lebih baik sedekah ama anak asuh :)

    ReplyDelete
  8. Tulisan ini jadi "cambuk" buat aku nih Mba Leyla supaya makin berhati-hati kalau berucap, mengelola emosi lebih baik lagi. Karena ucapan adalah do'a ya.

    ReplyDelete
  9. Anak sekalipun tidak direncanakan tetap aja itu anugrah dari Yang Kuasa. Kalau sudah terlanjur dikasih ya diterima sebagai amanat, jangan sampai berucap nggak pengen punya anak lagi itu sama aja sudah berdoa. Bener juga manusia itu terkadang sering berubah-ubah pikiran, sekarang bilang nggak entah esok atau lusa bisa berubah. Terima kasih untuk remindernya ya.

    ReplyDelete
  10. Ucapan itu doa... Aku setuku Mbak... Karena ada sepupuku yg mau punya anak kalo sudah punya mobil, eh 5 tahun lbh, sudah punya mobil dan rumah tp blm dikasih. Kl sepupu suami, nikah krn mau pacaran dulu, sama, 6tahun nikah juga blm punya anak...


    Soal KB, aku malah gg KB, kalau hamil lagi ya gpp... Syukurin ajah, anak itu rejeki

    ReplyDelete
  11. Alhamdulilah ., inspiratif mba..., Jadi terus berpikiran positif..dan makin menjaga omongan...bahkan celetukan..

    ReplyDelete
  12. wah iya omongan bakal balik nih kalau gak baik-baik ya, peringatan banget buat aku

    ReplyDelete
  13. Ade sering membuktikan bahwa ucapan itu doa. Dulu wkt sblm nikah ade pernah berucap, "nanti kalau sudah nikah g mau punya anak dulu. Biar nikmatin kerja 2th baru punya anak. Jadi fokus urus anak" maksudnya sih baik, tapi langsung diomelin almh mama. Dan ternyata Allah kabulkan ucapan ade itu dan bukan 2th menungguelainkan 4th.. hiks..

    ReplyDelete
  14. Semogaaa bisa nyekolahin anak-anak di sekolah yang bagus juga kayak Mba Ela.. Semoga selalu dimampukan meski jarak anakku juga deketan.. Dulu sempet enggak pede mbak, tapi alhamdulillah suami selalu positif jadi aku kebawa rasa positif juga.. Bener ya ucapan itu bisa jadi doa, mesti dijaga betul..

    ReplyDelete
  15. Betul juga sih, segala ucapan kita harus dipikirkan terlebih dahulu. Terlebih harus bisa dipertanggung jawabkan.. Semoga ini bisa jadi pelajar bagi para ibu, terlebih semua orang yang baca..

    ReplyDelete
  16. Saya dulu juga hamil anak kedua dinyatakan keguguran bulan desember awal. dan sempat di kiret juga.
    tapi malah saya hamil lagi di bulan januari akhir. herannya kata dokter malah sudah 4 bulan pas di usg bulan februari awal.
    anak memang rezeki mbak, dan setiap orang punya cerita dan pengalaman sendiri tentang kehamilan anak kedua. ada yang dimudahkan dan ada yang dipersulit hingga bertahun-tahun. yang penting kita sudah berusaha kan, biar Allah yang menentukan

    ReplyDelete
  17. Saya sering sekali Denger bahwa setiap ank itu udah ada rejekinya masing-masing
    Itu sebab era dahulu para orang tua punya anak bisa lebih dari 5

    ReplyDelete
  18. Bener banget ya, kadang gak sadar ngucapin yang enggak semestinya heuu,

    ReplyDelete
  19. Punya anak lebih dari satu dalam jarak yg berdekatan emang bakalan repot, riweuh, pusing dan segambreng ungkapan lainnya... Tapiiii... Seru kok... Semua balik lagi ke mind set masing masing sih ya... Buatku yang juga merasakan apa yang mbak layla rasakan sih asik asik aja tuh...

    Bener kata mbak... Masing masing anak tuh punya rejeki yang akan dititipkan Allah ke kita sebagai orang tua nya... Inget kata orang tua jaman dulu ... Banyak anak banyak rejeki ( yang musti dicari dengan semangat )

    ReplyDelete
  20. Jadi renungan dan pelajaran untuk diri agar hati hati menjaga lisan. Kadang kalau lelah sudah memuncak, keceplosan bilang "udah bi ini the last ya
    " Hiks. Astaghfirullah
    Semakin tercerahkan dengan tulisan mbak. Terima kasih :)

    ReplyDelete
  21. Aku punya anak kedua ini yg namanya Fakhri... kata orang sih kebobolan. Awalnya ga ngeh karena kan aku masih pakai IUD. Eh pas lg cek ke dokter kandungan ternyata udah ada calon bayi 6 minggu. Disyukuri aja walaupun di awal kagetnya minta ampun. Alhamdulillaah kini 2 anak cukup..baik dan sholehah dan sholeh.

    ReplyDelete
  22. Nau'udzubillah ,, semoga ALLAH melindungi kita dari hal-hal yang buruk. Sepertinya itu juga banyak terjadi, karena ada tetangga yang setelah menikah mereka menunda untuk memiliki momongan dengan alasan

    "Nanti dulu, soalnya lagi repot sekarang. Apalagi kalau ada anak"
    "Punya anaknya ntar aja, yang penting punya rumah dulu"

    Karena setiap ucapan memang harus hati2,, Ada malaikat dimana-mana yang akan meng-Amin kan ,, dan jika ALLAH sudah berkehendak maka terjadilah.

    Anak adalah rezeki, amanah, aset, salah satu sumber kebahagiaan, salah satu sumber pahala, dll ^_^

    ReplyDelete
  23. Yang sudah adalah membangun energi ikhlas nya Bu.. saya juga hamil lagi setelah anak pertama 6 bulan dan sampai anak yg kedua usia 2 tahun hingga saat ini saya ngga Kb. Dinyinyirin Mulu sama tetangga termasuk bidan kenapa ngga Kb..ah punya anak 1 2 3 juga bukan mereka yg repot n nyariin nafkah heheh sering gemes aja dibilang kebobolan

    ReplyDelete
  24. Iya yg diucap tanpa sadar biasanya dikabulkan sama yang kuasa ya mbak. Ngga boleh asal ngomong...
    Jd inget cerita ibu-ibu di rs yg bilang mau punya anak setelah punya rumah. Padahal ngomongnya ga sengaja
    Ga boleh asal ceplas-ceplos emang ya

    ReplyDelete
  25. bicara soal anak memang selalu beda disetiap anak ya mba,, anak pertama saya malah waktu abis lahiran banyak banget yang kasih kado pas anak kedua berbeda ga ada kado dan ucapan, ehh pas dia sakit malah banjir pertolongan ucapan dan uang. Dari sanak saudara dan teman teman suami.

    ReplyDelete
  26. Terkadang sangat ngenesss liat tingkah laku orang yang tidak mensyukuri anugerah Tuhan. Itulah mungkin yang diberikan Tuhan supaya sang ibu bisa mengoreksi diri.

    ReplyDelete
  27. Jadi kesentil baca tulisan mba leyla. Karena sempat berucap seperti itu ��..

    ReplyDelete
  28. Kalau aku memang akan menjawab tidak mau punya anak lagi, klo boleh meminta sih spt itu. Karena ada bbrp alasan kuat tp bkn spt yg diatas. Trauma melahirkan anak kedua yg membuat aku hampir kehilangan nyawa, sdh msk ICU dan kritis. Bs dibilang keajaiban aku msh hidup sampai skrg. Alhamdulillah. Dan memang sgt tdk dianjurkan utk punya anak lagi klo secara medisnya.

    ReplyDelete
  29. "Anak itu rejeki dari Allah, maka berhati-hatilah dengan ucapan kita Bu."
    aku tertampar dengan kalimat itu, Ya allah, aku suka banget kecepplosan walau nggak berkata kasar. tapi suka marah marah huhuh

    ReplyDelete
  30. Benar sekali mba, banyak sekali contoh orang yang termakan oleh ucapannya sendiri. Ini jadi pengingat kita untuk berucap tidak hanya dalam lisan tapi dalam hati juga.

    ReplyDelete
  31. Kata-kata adalah doa, dan doa nya ibu adalah yang paling di kabulkan. Ada satnya saat kita lelah dan kesal mengeluarkan kata2 yang kurang baik.
    Semoga saya bisa meminimalisir perkataan buruk, terlebih kepada anak.

    ReplyDelete
  32. betul ya mbak, kadang mereka itu jago meniru dan kata2 yang mneyakiti itu akan membekas

    ReplyDelete
  33. Semoga segala ucapan baik itu yang selalu kita ucapkan ya mba :)

    ReplyDelete
  34. Trimakasih pencerahannya Mak Leyla, ngademin hati lg, anak emang takdir dan rezeki Alloh

    ReplyDelete
  35. Duh entah kalo udah pas nikah jangan sampai kejadian seperti itu mbak takut. Kalo aku sih punya anak berapa aja ku syukuri. Masalah rejeki sudah Allah yang ngatur. Jadi tinggal sabar dan ikhlas menjalaninya aja. Semoga amin

    ReplyDelete
  36. Manusia memang sering lupa kalau kata2 adalah doa ☹️

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...